Jumat, 02 Oktober 2026
19:31 WIB
TERKINI
Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang

Dehidrogenase

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Dehidrogenasi.

Dehidrogenase adalah enzim yang termasuk dalam kelompok oksidoreduktase yang mengoksidasi substrat dengan mereduksi akseptor elektron, biasanya NAD+/NADP+[1] atau koenzim flavin seperti FAD atau FMN. Seperti halnya semua katalis, enzim ini mengkatalisis reaksi baik ke arah maju maupun balik, dan dalam beberapa kasus hal ini memiliki signifikansi fisiologis: misalnya, dehidrogenase alkohol mengkatalisis oksidasi etanol menjadi asetaldehida pada manusia dan hewan, namun pada khamir, enzim ini mengkatalisis pembentukan etanol dari asetaldehida.

Klasifikasi IUBMB

Oksidoreduktase, yaitu enzim yang mengkatalisis reaksi oksidasi-reduksi, merupakan Kelas EC 1 dalam klasifikasi reaksi yang dikatalisis enzim menurut IUBMB.[2] Enzim-enzim ini dapat disebut sebagai "dehidrogenase", terutama yang menggunakan NAD+ sebagai akseptor elektron (oksidan); namun, istilah reduktase juga digunakan jika penekanan fisiologisnya terletak pada reduksi substrat, sedangkan istilah oksidase "hanya" digunakan jika O2 bertindak sebagai akseptor elektron.[3] Nama sistematis untuk oksidoreduktase adalah "donor:akseptor oksidoreduktase", namun jika memungkinkan, penamaan yang lebih praktis adalah "donor dehidrogenase".

Reaksi yang dikatalisis

250px-Sulcatone_reductase_reaction.PNG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Reaksi yang dikatalisis oleh enzim reduktase

Dehidrogenase mengoksidasi substrat dengan mentransfer hidrogen ke akseptor elektron, akseptor elektron yang umum digunakan adalah NAD+ atau FAD. Proses ini dianggap sebagai oksidasi substrat, di mana substrat kehilangan atom hidrogen atau memperoleh atom oksigen (dari air).[4] Nama "dehidrogenase" didasarkan pada gagasan bahwa enzim ini memfasilitasi pelepasan ("de-") hidrogen ("-hidrogen-") dan merupakan suatu enzim ("-ase"). Reaksi dehidrogenase umumnya terjadi dalam dua bentuk: transfer hidrida dan pelepasan proton (sering kali dengan air sebagai reaktan kedua), serta transfer dua atom hidrogen.

Transfer hidrida dan pelepasan proton

Terkadang, reaksi yang dikatalisis oleh dehidrogenase tampak seperti ini: AH + B+ ↔ A+ + BH saat hidrida ditransfer.

500px-Alcohol_dehydrogenase.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dehidrogenase alkohol mengoksidasi etanol dengan bantuan pembawa elektron NAD+, menghasilkan asetaldehida

A mewakili substrat yang akan dioksidasi, sedangkan B adalah akseptor hidrida. Perhatikan bahwa ketika hidrida ditransfer dari A ke B, A memperoleh muatan positif; hal ini terjadi karena enzim mengambil dua elektron dari substrat untuk mereduksi akseptor menjadi BH.

Hasil dari reaksi yang dikatalisis oleh dehidrogenase tidak selalu berupa perolehan muatan positif. Terkadang, substrat kehilangan proton. Hal ini dapat menyisakan elektron bebas pada substrat yang kemudian berpindah membentuk ikatan ganda. Kejadian ini sering terjadi ketika alkohol menjadi substratnya; saat proton pada oksigen lepas, elektron bebas pada oksigen akan digunakan untuk membentuk ikatan ganda, sebagaimana terlihat pada oksidasi etanol menjadi asetaldehida oleh dehidrogenase alkohol pada gambar di sebelah kanan.[2]

Kemungkinan lainnya adalah masuknya molekul air ke dalam reaksi, yang menyumbangkan ion hidroksida ke substrat dan proton ke lingkungan sekitar. Hasil akhirnya pada substrat adalah penambahan satu atom oksigen. Hal ini terlihat, misalnya, pada oksidasi asetaldehida menjadi asam asetat oleh dehidrogenase asetaldehida, sebuah tahapan dalam metabolisme etanol dan produksi cuka.

Transfer dua atom hidrogen

250px-Krebs_cycle_6_succinate_to_fumarate.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Reaksi yang dikatalisis oleh dehidrogenase suksinat, perhatikan ikatan ganda yang terbentuk di antara dua atom karbon pusat saat dua atom hidrogen dilepaskan.

Pada kasus di atas, dehidrogenase mentransfer ion hidrida sembari melepaskan proton (H+), namun dehidrogenase juga dapat mentransfer dua atom hidrogen dengan menggunakan FAD sebagai akseptor elektron. Proses ini dapat digambarkan sebagai AH2 + B ↔ A + BH2. Ikatan ganda biasanya terbentuk di antara dua atom tempat hidrogen tersebut diambil, seperti pada kasus dehidrogenase suksinat. Kedua atom hidrogen tersebut telah ditransfer beserta elektronnya ke molekul pembawa atau produk lainnya.

Mengidentifikasi reaksi dehidrogenase

Perbedaan antara subkelas oksidoreduktase yang mengkatalisis reaksi oksidasi terletak pada akseptor elektronnya.[5]

250px-Vanillyl-alcohol_oxidase_reaction.PNG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Reaksi yang dikatalisis oleh oksidase, perhatikan reduksi oksigen sebagai akseptor elektron.

Dehidrogenase dan oksidase dapat dibedakan dengan mudah jika kita memperhatikan akseptor elektronnya. Oksidase juga mengambil elektron dari substrat, namun hanya menggunakan oksigen sebagai akseptor elektronnya. Salah satu contoh reaksinya adalah: AH2 + O2 ↔ A + H2O2.

Terkadang, reaksi oksidase tampak seperti ini: 4A + 4H+ + O2 ↔ 4A+ + 2H2O. Dalam hal ini, enzim mengambil elektron dari substrat dan menggunakan proton bebas untuk mereduksi oksigen, sehingga substrat menjadi bermuatan positif. Produk yang dihasilkan adalah air, bukan hidrogen peroksida seperti pada contoh sebelumnya. Contoh oksidase yang bekerja dengan cara ini adalah kompleks IV dalam rantai transpor elektron (ETC).[6]

Perlu dicatat bahwa oksidase umumnya mentransfer ekuivalen dihidrogen (H2), dan akseptornya adalah dioksigen. Demikian pula, peroksidase (subkelas oksidoreduktase lainnya) menggunakan peroksida (H2O2) sebagai akseptor elektron, bukan oksigen.[2]

Akseptor elektron

Enzim dehidrogenase mentransfer elektron dari substrat ke pembawa elektron; pembawa yang digunakan bergantung pada reaksi yang sedang berlangsung. Akseptor elektron umum yang digunakan oleh subkelas ini adalah NAD+, FAD, dan NADP+. Pembawa elektron mengalami reduksi dalam proses ini dan dianggap sebagai oksidator bagi substrat tersebut. Pembawa elektron merupakan koenzim yang sering disebut sebagai "kofaktor redoks."[5]

NAD+

120px-NAD%2B_phys_alt.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
nikotinamida adenina dinukleotida

NAD+ (nikotinamida adenina dinukleotida) adalah suatu dinukleotida yang terdiri dari dua nukleotida. Salah satu nukleotida yang dikandungnya adalah gugus adenina, sedangkan yang lainnya adalah nikotinamida. Untuk mereduksi molekul ini, satu atom hidrogen dan dua elektron harus ditambahkan ke cincin karbon beranggota enam pada nikotinamida; satu elektron ditambahkan ke atom karbon yang berseberangan dengan nitrogen bermuatan positif, yang menyebabkan penataan ulang ikatan di dalam cincin sehingga nitrogen menerima lebih banyak elektron, akibatnya nitrogen kehilangan muatan positifnya. Elektron lainnya "diambil" dari atom hidrogen tambahan, sehingga menyisakan ion hidrogen di dalam larutan.[5][7]

Reduksi NAD+: NAD+ + 2H+ + 2e− ↔ NADH + H+

NAD+ sebagian besar digunakan dalam jalur katabolik seperti glikolisis, yang menguraikan molekul penghasil energi untuk memproduksi ATP. Rasio NAD+ terhadap NADH dijaga agar tetap sangat tinggi di dalam sel, sehingga NAD+ selalu tersedia untuk bertindak sebagai oksidator.[7][8]

NADP+

120px-NADP%2B_phys_alt.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat

NADP+ berbeda dari NAD+ hanya pada penambahan gugus fosfat ke cincin karbon beranggota lima pada bagian adenosina. Penambahan fosfat tersebut tidak mengubah kemampuan pembawa dalam mentransfer elektron. Gugus fosfat menciptakan perbedaan yang cukup signifikan di antara kedua molekul tersebut sehingga keduanya berikatan dengan sisi aktif enzim yang berbeda, yang umumnya mengkatalisis jenis reaksi yang berbeda pula.[8][9]

Kedua pembawa elektron ini dapat dibedakan dengan mudah oleh enzim dan terlibat dalam reaksi yang sangat berbeda. NADP+ terutama berfungsi bersama enzim yang mengkatalisis jalur anabolik, atau biosintetik.[9] Secara khusus, NADPH akan bertindak sebagai agen pereduksi dalam reaksi-reaksi ini, yang menghasilkan NADP+. Ini adalah jalur-jalur yang mengubah substrat menjadi produk yang lebih kompleks dengan menggunakan ATP. Alasan di balik penggunaan dua pembawa elektron yang terpisah untuk jalur anabolik dan katabolik berkaitan dengan pengaturan metabolisme.[7] Rasio NADP+ terhadap NADPH di dalam sel dijaga agar tetap rendah, sehingga NADPH senantiasa tersedia sebagai agen pereduksi; senyawa ini lebih sering digunakan sebagai agen pereduksi dibandingkan penggunaan NADP+ sebagai agen pengoksidasi.[8]

FAD

250px-FAD.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Flavin adenina dinukleotida

FAD, atau flavin adenina dinukleotida, adalah gugus prostetik (unit non-polipeptida yang terikat pada protein dan diperlukan agar protein tersebut dapat berfungsi) yang terdiri dari nukleotida adenina dan flavin mononukleotida.[10] FAD merupakan akseptor elektron yang unik. Bentuk tereduksi sepenuhnya adalah FADH2 (dikenal sebagai "bentuk hidrokuinon"), namun FAD juga dapat teroksidasi sebagian menjadi FADH, baik melalui reduksi FAD maupun oksidasi FADH2.[11] Enzim dehidrogenase biasanya mereduksi FAD sepenuhnya menjadi FADH2. Pembentukan FADH jarang terjadi.

Atom nitrogen yang berikatan rangkap dalam FAD menjadikannya akseptor yang baik dalam mengambil dua atom hidrogen dari substrat. Karena mengambil dua atom dan bukan satu, FAD sering terlibat dalam proses pembentukan ikatan ganda pada substrat yang baru saja teroksidasi.[12] FAD bersifat unik karena direduksi oleh dua elektron dan dua proton, berbeda dengan NAD+ dan NADP yang hanya mengambil satu proton.

Contoh

Implikasi biologis

960px-Aldehyde_dehydrogenase_mechanism.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mekanisme kerja aldehida dehidrogenase, perhatikan penggunaan NAD+ sebagai akseptor elektron.

Aldehida merupakan produk sampingan alami dari berbagai proses fisiologis sekaligus hasil dari banyak proses industri yang dilepaskan ke lingkungan dalam bentuk kabut asap dan gas buang kendaraan bermotor. Penumpukan aldehida di otak dan perikardium dapat membahayakan kesehatan seseorang karena senyawa ini dapat membentuk aduk (ikatan kimia) dengan molekul-molekul penting dan menyebabkan inaktivasi molekul-molekul tersebut.[13]

Mengingat betapa umumnya keberadaan aldehida, tentu terdapat enzim yang memfasilitasi oksidasinya menjadi senyawa yang kurang volatil (mudah menguap). Dehidrogenase aldehida (ALDH) adalah enzim yang bergantung pada NAD+ dan berfungsi menyingkirkan aldehida beracun dari tubuh, terutama bekerja di dalam mitokondria sel. Enzim-enzim ini berperan besar dalam detoksifikasi asetaldehida, yaitu senyawa antara dalam metabolisme etanol. Telah terbukti bahwa mutasi pada gen ALDH2 (salah satu dari 19 gen dehidrogenase aldehida) merupakan penyebab fenomena umum pada populasi Asia Timur, yakni wajah memerah setelah mengonsumsi alkohol akibat penumpukan asetaldehida.[14] Penumpukan asetaldehida ini juga menyebabkan sakit kepala dan muntah (gejala pengar) jika tidak segera diurai, hal ini menjadi alasan lain mengapa individu dengan defisiensi enzim dehidrogenase aldehida mengalami reaksi buruk terhadap alkohol.[15] Yang tak kalah penting, kekurangan enzim ini dikaitkan dengan peningkatan risiko infark miokard, sementara aktivasi enzim ini terbukti mampu mengurangi kerusakan akibat iskemia.[13]

Inaktivasi aldehida dehidrogenase terbukti berperan penting dalam mekanisme berbagai jenis kanker. ALDH berfungsi dalam diferensiasi sel, proliferasi, oksidasi, dan resistensi obat.[16] Enzim-enzim ini hanyalah satu contoh dari beragam jenis dehidrogenase dalam tubuh manusia; berbagai fungsi yang dimilikinya, serta dampak inaktivasi atau mutasinya terhadap proses seluler yang krusial, menegaskan betapa pentingnya peran seluruh enzim dehidrogenase dalam menjaga homeostasis tubuh.

Contoh lainnya

Contoh siklus asam sitrat:

  • dehidrogenase isositrat (menggunakan NAD+, juga memiliki isoenzim yang menggunakan NADP)
  • dehidrogenase ketoglutarat alfa (menggunakan NAD+)
  • dehidrogenase suksinat (menggunakan FAD)
  • dehidrogenase malat (menggunakan NAD+)

Referensi

  1. ↑ An IUPAC panel on biochemical thermodynamics convened by Robert Alberty pointed out that the oxidized form of NAD is negatively charged, and that NAD+ is an inappropriate symbol for an anion [Alberty, R.A. (1994). "Recommendations for Nomenclature and Tables in Biochemical Thermodynamics (IUPAC Recommendations 1994)". Pure and Applied Chemistry. 66 (8): 1641–1666. doi:10.1351/pac199466081641. S2CID 96307963.] However, NAD+ and, similarly, NADP+ remain in almost universal use and alternatives such as NADoxidized have been very little adopted.
  2. 1 2 3 "Enzyme Nomenclature: Recommendations of the Nomenclature Committee of the International Union of Biochemistry and Molecular Biology on the Nomenclature and Classification of Enzymes by the Reactions they Catalyse". Diakses tanggal 29 Maret 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Classification and Nomenclature of Enzymes by the Reactions they Catalyse". Diakses tanggal 30 Maret 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Clark, Jim (2002). "Definitions of Oxidation and Reduction (Redox)". Chemguide. Diakses tanggal Februari 14, 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 3 Voet, Donald; Voet, Judith G.; Pratt, Charlotte W. (2016). Fundamentals of Biochemistry: Life at the Molecular Level (Edisi 5th). New York: Wiley. ISBN 9781118918401.
  6. ↑ Yoshikawa, Shinya; Shimada, Atsuhiro (2015-01-20). "Reaction Mechanism of Cytochrome c Oxidase". Chemical Reviews (dalam bahasa Inggris). 115 (4): 1936–1989. doi:10.1021/cr500266a. PMID 25603498.
  7. 1 2 3 Alberts, B; Johnson, A; et al. (2002). Molecular Biology of the Cell. New York: Garland Science. ISBN 978-0-8153-3218-3.
  8. 1 2 3 Ying, Weihai (2008-02-01). "NAD+/NADH and NADP+/NADPH in cellular functions and cell death: regulation and biological consequences". Antioxidants & Redox Signaling. 10 (2): 179–206. doi:10.1089/ars.2007.1672. ISSN 1523-0864. PMID 18020963. S2CID 42000527.
  9. 1 2 "The physiological role of NADPH". watcut.uwaterloo.ca. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-06. Diakses tanggal 2016-03-06.
  10. ↑ Dym, Orly; Eisenberg, David (2001-09-01). "Sequence-structure analysis of FAD-containing proteins". Protein Science (dalam bahasa Inggris). 10 (9): 1712–1728. doi:10.1110/ps.12801. ISSN 1469-896X. PMC 2253189. PMID 11514662.
  11. ↑ Rivlin, Richard S. (1970-08-27). "Riboflavin Metabolism". New England Journal of Medicine. 283 (9): 463–472. doi:10.1056/NEJM197008272830906. ISSN 0028-4793. PMID 4915004.
  12. ↑ "blobs.org - Metabolism". www.blobs.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-02-01. Diakses tanggal 2016-03-01.
  13. 1 2 Chen, Che-Hong; Sun, Lihan; Mochly-Rosen, Daria (2010-10-01). "Mitochondrial aldehyde dehydrogenase and cardiac diseases". Cardiovascular Research (dalam bahasa Inggris). 88 (1): 51–57. doi:10.1093/cvr/cvq192. ISSN 0008-6363. PMC 2936126. PMID 20558439.
  14. ↑ Goedde, HW; Agarwal, DP (1983). "Population genetic studies on aldehyde dehydrogenase isozyme deficiency and alcohol sensitivity". Am J Hum Genet. 35 (4): 769–72. PMC 1685745. PMID 6881146.
  15. ↑ "How Hangovers Work". HowStuffWorks. 2004-10-12. Diakses tanggal 2016-03-06.
  16. ↑ van den Hoogen, Christel; van der Horst, Geertje; Cheung, Henry; Buijs, Jeroen T.; Lippitt, Jenny M.; Guzmán-Ramírez, Natalia; Hamdy, Freddie C.; Eaton, Colby L.; Thalmann, George N. (2010-06-15). "High aldehyde dehydrogenase activity identifies tumor-initiating and metastasis-initiating cells in human prostate cancer". Cancer Research. 70 (12): 5163–5173. doi:10.1158/0008-5472.CAN-09-3806. ISSN 1538-7445. PMID 20516116.

Templat:Enzymes

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan