Senin, 19 Oktober 2026
21:52 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Bulan Pejeng

Bulan Pejeng

Bagikan:
250px-Moon_of_Pejeng%2C_Pura_Penataran_Sasih_1463.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bulan Pejeng yang tersimpan di Pura Penataran Sasih, Gianyar, Bali.

Bulan Pejeng adalah sebutan terhadap sebuah genderang (nekara[1]) perunggu purbakala yang terdapat di Desa Pejeng, Pulau Bali. Nekara ini diyakini sebagai yang terbesar ukurannya di dunia,[2] dan juga merupakan artefak tinggalan Zaman Perunggu yang terbesar yang masih ada.[3]

Nekara ini tersimpan di Pura Penataran Sasih di Desa Pejeng, Tampak Siring, Gianyar dan dipercaya orang Bali memiliki kekuatan supranatural. Nekara ini dianggap suci dan diceritakan bahwa genderang ini bukan dibuat oleh manusia melainkan jatuh dari langit. Diperkirakan bahwa dahulunya nekara ini dipergunakan dalam upacara meminta hujan. Sejak November 2019, Bulan Pejeng telah berstatus Benda Cagar Budaya.

Bentuk dan ukuran

250px-MET_2001_433_93_O1_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nekara yang sejenis dengan Bulan Pejeng (500 SM – 300 SM), kini menjadi salah satu koleksi Metropolitan Museum of Art, New York, AS.

"Bulan Pejeng" ini memiliki ukuran dan pola hiasan yang unik. Bentuknya mirip dandang, dengan pinggang yang agak sempit, tetapi dengan bagian yang terbuka di sebelah bawah. Hanya saja ukurannya luar biasa, tinggi 186,5 cm dan garis tengah bidang pukulnya 160 cm.[4]: 64–71 

Nekara Pejeng dan yang setipe, memiliki perbedaan dengan nekara hasil kebudayaan Dongson. Nekara tipe Pejeng cenderung ramping, dengan lempengan bidang pukul melebar, lebih lebar lk. 25 cm daripada dinding penyangganya. Kadang-kadang, antara tubuh nekara dengan lempengan bidang pukul dituang terpisah, baru kemudian dilekatkan.[5]

Nekara tipe Pejeng diduga dibuat di Indonesia. Bekas-bekas cetakan tuang-logam dari batu, dengan pola yang mirip dengan pola hias nekara Pejeng, telah ditemukan di Manuaba, Desa Kenderan (dan juga di Sembiran), yang tidak terlampau jauh letaknya dari Pejeng.[4] Nekara tipe Pejeng, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil, juga ditemukan di beberapa tempat yang lain seperti di Pacung, Buleleng, serta di Pulau Jawa (misalnya Lamongan, dan Semarang).[6]: 405–8 

Sejarah

lossy-page1-250px-Bronzen_keteldrum_op_Bali%2C_KITLV_9456.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kondisi Bulan Pejeng sebelum dibuatkan gedung, dalam foto historis koleksi Universitas Leiden, Belanda.

"Bulan dari Pejeng" pertama kali diberitakan keberadaannya oleh Rumphius, seorang naturalis terkenal abad XVII yang berdiam di Ambon. Ia menyebutkan artefak ini ketika menguraikan logam perunggu di Hindia Timur dalam bukunya "D'Amboinsche Rariteitkamer", yang selesai ditulis pada 1699. Disebutkan bahwa di Pedjing, Baly terdapat suatu barang logam serupa yang berukuran besar, yang dipercaya penduduk setempat [dahulunya] sebagai roda kereta yang dikendarai "Bulan", yang terjatuh dari langit.[7]

Nekara Pejeng (dan yang setipe) kemungkinan berperan penting dalam upacara-upacara terkait penanaman padi sawah pada abad-abad awal Masehi di Bali. Temuan-temuan nekara ini kebanyakan didapat dari lokasi di dekat sumber air untuk pengairan seperti halnya danau, mata air, atau bendungan.[8]

Legenda

Banyak legenda tentang nekara ini, salah satunya adalah bahwa nekara ini dahulu merupakan roda dari kereta langit yang menyebarkan sinar terang, sehingga dahulu malam hari selalu terang benderang. Legenda lain mengatakan bahwa nekara ini adalah perhiasan telinga dari Dewi Ratih (Dewi Bulan dalam mitologi Bali).

Menurut penuturan kuno diceritakan juga bahwa dahulu kala ada 13 bulan di atas bumi. Pada suatu hari salah satu bulan ini jatuh ke atas bumi dan tersangkut di ranting pohon. Sinar yang dipancarkan bulan ini sangatlah terang sehingga tidak ada pencuri yang berani mencuri di malam hari. Namun pada suatu ketika para pencuri itu berunding dan mereka bersepakat untuk memadamkan bulan itu, salah satu dari mereka memanjat pohon itu dan dengan air seninya ia berusaha memadamkan bulan tersebut yang diliputi lidah-lidah api. Seketika juga bulan itu meledak dan salah satu pecahan bulan itu menjadi nekara bulan Pejeng tersebut. Kerusakan yang ada di balik nekara itu diceritakan berasal dari ledakan itu.

Konservasi

250px-Moon_of_Pejeng%2C_Pura_Penataran_Sasih_1462.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gedung penyimpanan Bulan Pejeng di Pura Penataran Sasih.

Untuk melindungi benda prasejarah yang sangat berharga ini, Pemerintah Indonesia melalui Bupati Gianyar Made Mahayastra pada Sabtu (30/XI/2019) telah menetapkan Nekara Pejeng Pura Penataran Sasih sebagai Benda Cagar Budaya. Ketetapan ini dituangkan dalam Surat Keputusan Bupati Gianyar nomor 1345/E-01/HK/2019 tertanggal 13 November 2019, yang melindungi empat objek cagar budaya, yakni Nekara Pejeng (Pura Penataran Sasih), Arca Bhairawa (Pura Kebo Edan), serta Pura Pegulingan dan Pura Mengening sebagai Struktur Cagar Budaya. Penetapan ini dilakukan setelah melewati beberapa tahapan kajian sejak bulan Juni s/d September 2019 oleh Tim Registrasi Cagar Budaya Kabupaten Gianyar bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali-NTB-NTT.[9]

Galeri

  • Gedung penyimpanan Bulan Pejeng.
    Gedung penyimpanan Bulan Pejeng.
  • Bulan Pejeng tampak dari samping.
    Bulan Pejeng tampak dari samping.
  • Bulan Pejeng tampak dari depan
    Bulan Pejeng tampak dari depan

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ↑ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 53
  2. ↑ Stewart, I. and Ryan Ver Berkmoes. (2007). "Bali & Lombok", Lonely Planet's Country Guides (Lonely Planet, 2007). 203
  3. ↑ Widiadana, Rita A. (2002). "Get in touch with Bali's cultural heritage Diarsipkan 2009-07-05 di Wayback Machine," The Jakarta Post (06/06/2002).
  4. 1 2 Bernet Kempers, A.J. (1956). Bali Purbakala. Jakarta: Penerbitan dan Balai Buku Indonesia.
  5. ↑ Ardika, I Wayan (2001). "Late Prehistoric Bali". Dalam Miksic, John (ed.). Ancient History. Indonesian Heritage. Archipelago Press. ISBN 9813018267.
  6. ↑ Peter Bellwood (2000). Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia (ed. rev.) Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  7. ↑ Rumpf, G.E. (1705). D'Amboinsche Rariteitkamer ... : behelzende eene beschryvinge van allerhande zoo weeke als harde Schaalvisschen, te weeten raare Krabben, Kreeften, en diergelyke Zeedieren ... p. 207. T'Amsterdam :Gedrukt by François Halma, 1705.
  8. ↑ Ambra Calo (2008). "Pejeng Type Bronze Drums and their Possible Role in Early Rice Cults in Bali" (PDF). Fas.nus.edu.sg (Wednesday, 15 October 2008). Diakses tanggal 05-12-2019.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  9. ↑ Patroli Post: Empat Situs di Gianyar Ditetapkan sebagai Cagar Budaya, berita 1 Desember 2019; diakses pada 07/XII/2019

8°30′50″S 115°17′36″E / 8.513761°S 115.293472°E / -8.513761; 115.293472

Mitologi di Indonesia
Aceh
Sumatera
Kepulauan Riau
Jawa
Bali
Kalimantan
Sulawesi
Nusa Tenggara
Maluku
Papua
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan