Senin, 09 November 2026
04:33 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Nekara

Nekara

gendang besar terbuat dari perunggu, peninggalan dari Zaman Perunggu

Bagikan:
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Zandlopervormige_trom_met_4_uitstekende_oren_en_ingegraveerde_mensenkoppen_TMnr_1772-518.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Suatu nekara koleksi Tropenmuseum, Belanda.

Nekara, disebut pula kobah atau nobat, adalah gendang perunggu berbentuk seperti dandang berpinggang pada bagian tengahnya dengan selaput suara berupa logam atau perunggu.[1] Nekara merupakan benda peninggalan peradaban Zaman Perunggu[2][3] (contohnya Kebudayaan Dongson) di kawasan Asia Tenggara.

Diperkirakan penemuan alat musik ini berasal dari masa 500 SM.[4]

Etimologi

Kata "nekara" dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Persia نقاره (naqāra) yang berarti "gendang besar" (drum ketel, timpani).[5][6][7] Nekara disebut juga kobah dan nobat, berasal dari bahasa Persia کوبه (koba) dan نوبت (nobat), mengacu kepada drum yang sangat besar, dipukul pada jam-jam tertentu.[5][7]

Jenis

Ada 4 (empat) penggolongan nekara yang masing-masing penamaannya diambil dari nama penelitinya.[2]

  • Tipe Heger 1, dengan ciri-ciri bidang pukul lebih panjang dibanding tingginya, terdapat 4 buah patung katak yang berlawanan arah dengan jarum jam pada bidang pukul, serta hiasan yang dominan berupa pola-pola geometris.[2]
  • Tipe Heger 2 berbentuk sedikit lebih ramping dari tipe 1, memiliki 6 buah patung katak dengan pola hias yang lebih halus dari tipe 1.
  • Tipe Heger 3 yang berukuran sedang, memiliki 8 buah patung katak dan disebut juga sebagai tipe karen (karena banyak didapatkan dalam suku Karen di Birma).
  • Tipe Heger 4, yang sama sekali tidak memiliki patung katak, tidak memiliki pinggang, dan disebut juga sebagai tipe Tiongkok karena banyak ditemukan di Tiongkok.[2]

Bentuk dan kegunaan

Nekara diberi bermacam-macam hiasan dengan motif binatang, seperti katak, gajah, kuda, rusa, harimau, burung, dan merak.[1] Benda budaya ini berasal dari zaman perunggu atau zaman logam.[1] Pada zamannya, nekara dianggap benda suci yang berfungsi sebagai benda upacara, maskawin.[1][3] Sebuah nekara yang menjadi koleksi di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, digunakan sebagai alat upacara pemanggil hujan pada masanya.[2] Pada masa Pra-India, Nekara juga digunakan dalam ritual pemujaan arwah leluhur maupun upacara kematian di Indonesia Barat Daya.[4]

Tempat penemuan

Tempat penemuan nekara di pulau Jawa, Bali, Sumatra, Roti, Selayar, Gorom, hingga Kepulauan Kei. Nekara yang kecil diberi nama Moko atau Mako (Ditemukan di Alor).[3] Salah satu koleksi Nekara yang tersimpan di Museum Mpu Tantular ditemukan di Gresik, Jawa Timur. Nekara juga merupakan peninggalan sejarah yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Dongson, Vietnam.[4]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 Ensiklopedi Nasional Indonesia. 2004. Bekasi: Delta Pamungkas. ISBN 979-9327-00-8. Hal 74
  2. 1 2 3 4 5 Dewi, Ni Luh Putu Chandra; Estudiantin, Nusi Lisabilla; Yogaswara, Wawan; Yulita, Ita; Moerdianti, Retno (2008). Informasi Koleksi Musik Tradisional Indonesia (PDF). Jakarta: Museum Nasional.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 3 Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 53
  4. 1 2 3 Raditya, Michael H.B.; Surahman, Sigit; Rahmah, Mamluatur; Baihaqi, Mohamad; Arifin, Samsul; Setodewo, Resa; Adha, Yasril; Listya, Agastya Rahma (2024). MUSIK DI INDONESIA; Sejarah dan Perkembangan Kontemporer (PDF). Semarang: eLSA Press.{{cite book}}: |first= tidak memiliki |last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 Russell Jones (2008), Loan-words in Indonesian and Malay, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
  6. ↑ Francis Joseph Steingass (1892), Comprehensive Persian-English Dictionary, London: Routledge & K. Paul
  7. 1 2 Dekhodā, Aliakbar (1998), Loghatnāme Dekhodā, Tehran: Tehran University Publication
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan