Sabtu, 07 November 2026
05:27 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Asu panting

Bagikan:

Asu Panting atau Asu Patting adalah makhluk halus yang muncul dalam cerita rakyat dan mitos masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan.[1][2] Menurut tradisi lisan yang beredar, Asu Panting digambarkan sebagai makhluk gaib berbentuk mirip serigala atau anjing buas yang memiliki sejumlah ciri fisik dan perilaku unik. Walaupun tidak ada bukti ilmiah mengenai keberadaannya, legenda ini terus hidup dalam tradisi lisan dan cerita masyarakat setempat.

Istilah

Nama Asu Panting berasal dari bahasa Bugis, di mana asu berarti anjing dan panting berarti banting atau ganas, sehingga secara harfiah makhluk ini diartikan sebagai anjing ganas atau anjing banting. Dalam narasi tradisional, mahluk ini digambarkan berbentuk seperti serigala atau anjing buas kecil dengan ciri-ciri fisik yang tidak biasa. Kaki depannya lebih pendek dibandingkan kaki belakangnya, sehingga gerakannya sangat cepat dan lincah. Tubuh makhluk ini ditutupi bulu lembut yang tajam dan dianggap beracun. Bulu yang gugur dikatakan dapat menyebabkan bengkak pada kaki manusia jika terkena, dan luka yang timbul sulit disembuhkan.[3][4][5]

Asu Panting hidup berkelompok dengan pejantan dominan yang disebut Tu Mappilelea, yang artinya “penyebar bencana di malam hari”. Makhluk ini menyukai kegelapan dan sering muncul di malam hari di tempat-tempat yang sepi atau terpencil.[6] Suaranya menyerupai lolongan serigala dan dapat terdengar kecil jika dekat, tetapi menjadi besar jika jaraknya jauh.[7] Selain suara, makhluk ini juga dikenal dengan desiran nafasnya yang mirip dengusan kuda yang kelelahan.[8] Asu Panting dipercaya meninggalkan bulu-bulu sebagai tanda bahwa ia pernah melewati suatu area, namun jejak kakinya hampir tidak terlihat, bahkan ketika melewati tanah basah atau pasir. Asu Panting dikisahkan memiliki kemampuan lari secepat angin dan gesit sehingga sulit ditangkap atau dilihat secara langsung.[9]

Kepercayaan

Dalam tradisi masyarakat Bugis, Asu Panting dikenal sebagai anjing jadi-jadian yang dipelihara oleh orang-orang tertentu, seperti ketua adat, pemimpin persukuan, atau dukun kampung. Makhluk ini biasanya digunakan untuk menegakkan aturan adat, terutama ketika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan tradisional. Dalam konteks tersebut, Asu Panting berfungsi sebagai alat hukuman gaib yang memberi efek jera kepada pelanggar.[10][11] Keberadaannya dalam cerita rakyat juga dikaitkan dengan pengaruh buruk, pertemuan dengan Asu Panting dipercaya membawa pengaruh buruk seperti penyakit atau nasib sial, sehingga makhluk ini sering dipandang sebagai simbol peringatan atau bahaya, khususnya di malam hari.[4]

Referensi

  1. ↑ Fattah, Syahruddin (2021-12-20). Glosari Flona Bugis: (Flora dan Fauna dalam Bahasa Bugis). SEMPUGI. hlm. 218. ISBN 978-623-90562-2-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Upacara tradisional daerah Sulawesi Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Sulawesi Selaten. 1984. hlm. 49.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ NUSANTARA, LENTERA (2020-04-09). BAUSASTRA LELEMBUT. Elex Media Komputindo. hlm. 17. ISBN 978-623-00-0913-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. 1 2 CS, Trio Hantu (2016-07-01). #Hantupedia: Ensiklopedia Hantu-Hantu Nusantara. MediaKita. hlm. 15. ISBN 978-979-794-521-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Liputan6.com (2025-07-03). "Asu Baung dan Asu Panting, Legenda Manusia Serigala Lokal". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-02-14.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  6. ↑ Sistim kesatuan hidup setempat daerah Sulawesi Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1982. hlm. 38.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Dialog : Jurnal Studi Dan Informasi Keagamaan. Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Departemen Agama. 1993. hlm. 179.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Nusantara, Lentera (2020-04-19). Bausastra Lelembut (The Encyclopedia of Indonesian Ghost): 3 Languages (dalam bahasa Jepang). Lentera Nusantara. hlm. 13.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ↑ Hamid, Abu (2012). Kebudayaan Bugis. Bidang Sejarah dan Purbakala, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan, Provinsi Sulawesi Selatan. hlm. 50.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ↑ Nirwana, Andi (2018-07-02). Local Religion: To Wani To Lotang, Patuntung dan Aluk to Dolo di Sulawesi Selatan. Bahasa dan Sastra Arab, UIN Sunan Gunung Djati. hlm. 32. ISBN 978-602-52105-2-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ↑ Hasil penelitian organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Propinsi Sulawesi Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1987. hlm. 37.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan