Rabu, 23 September 2026
18:08 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Bambu hitam

Bambu hitam

bambu berwarna hitam-ungu untuk membuat alat musik

Bambu Hitam
250px-Gigantoc_atrov_151222-0002_kng.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bambu hitam, Gigantochloa atroviolacea
dari Dukuhmaja, Luragung, Kuningan
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monocots
Klad: Commelinids
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Gigantochloa
Spesies:
G. atroviolacea
Nama binomial
Gigantochloa atroviolacea
Sinonim
  • Gigantochloa atter var. nigra Gamble

Sumber: The Plant List[3]

Bambu hitam [4] (Gigantochloa atroviolacea) adalah sejenis bambu yang acap dipakai sebagai bahan untuk membuat alat musik, furnitur dan perkakas rumah tangga. Bambu ini semula hanya didapati ditanam orang di Jawa, tetapi kini telah tersebar ke banyak tempat. Dalam bahasa daerah, ia disebut awi hideung, awi wulung (Sd.); pring ireng, pring wulung, pring ulung (Jw.).[1][2][5] Dalam bahasa Inggris ia disebut black bamboo,[6] Java black bamboo atau tropical black bamboo.[7]

Pengenalan

250px-Gigantoc_atrov_151222-0003_kng.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pangkal rumpun buluh

Bambu yang merumpun, padat dan tegak. Rebungnya hijau kehitaman dengan ujung jingga, tertutup oleh bulu-bulu miang berwarna cokelat hingga hitam. Buluhnya lurus dan tegak, mencapai tinggi 15 m; garis tengahnya 6-8 cm dan ruas-ruasnya sepanjang 40–50 cm, tebal dinding buluh lk. 8 mm; hijau gelap ketika muda, berubah menjadi ungu kehijauan hingga kecokelatan gelap, dengan lampang berupa cincin berwarna pucat atau keputihan pada buku-bukunya; buku-buku dekat tanah dengan sedikit akar udara. Percabangan muncul tinggi, lk. 2–3 m di atas tanah; biasanya dengan banyak cabang, yang salah satunya lebih besar daripada yang lain.[6][8]

Pelepah buluh mudah rontok, kecuali yang terbawah yang agak bertahan; panjang lk. 16–20 cm, berbulu miang berwarna cokelat gelap pada sisi luarnya. Daun pelepah buluh bentuk bundar telur atau lonjong menyegitiga dengan pangkal menyempit, lk. 4–9 cm panjangnya, terkeluk balik. Kuping pelepah membulat hingga membulat dengan ujung sedikit melengkung keluar, lebar 4 mm dan tinggi 3–5 mm, dengan bulu kejur 7 mm; ligula (lidah-lidah) menggerigi tak beraturan, tinggi 2 mm, lokos.[6][8]

Daun pada ranting bentuk lanset, 20-28 × 2–5 cm, lokos; pelepah daun tertutupi oleh rambut-rambut keputihan ketika muda; kuping pelepah kecil, hingga 1 mm, lokos; ligula menggerigi, tinggi lk. 2 mm, lokos.[6]

Perbungaan berupa malai pada ranting yang berdaun, dengan kelompok-kelompok hingga 18 spikelet pada masing masing bukunya. Spikelet bentuk lanset bulat telur, 8-11 × 3 mm, berisi 4 floret yang sempurna dan satu floret ujung yang tak sempurna.[6]

Agihan dan ekologi

250px-Gigantoc_atrov_151222-0024_kng.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buluh yang baru dipanen

Bambu hitam menyebar di wilayah Asia tropis: India, dan kawasan Malesia,[9] semuanya dari pertanaman; asal-usulnya tidak diketahui dengan pasti.[6] Yang jelas, bambu ini banyak ditanam orang di wilayah perdesaan Jawa, terutama di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, serta berhasil dikembangkan di Sumatra bagian selatan.[1] Dari Jawa, bambu hitam dibawa ke India pada paruh kedua abad XIX untuk ditanam di Kebun Raya Kolkata; dan belakangan bambu ini juga diintroduksi ke Australia serta Thailand[1] dan Filipina.[6]

Bambu ini terutama hidup di wilayah dataran rendah tropis yang lembap, pada daerah dengan curah hujan antara 1.500-3.700 mm pertahun, lengas udara relatif lebih dari 70% dan rataan temperatur 20—32 °C. Di Jawa, bambu ini umumnya tumbuh di atas tanah-tanah latosol dan laterit merah dan cokelat kemerahan, akan tetapi lebih menyukai tanah berkapur yang lebih kering.[6]

Manfaat

Bambu hitam biasanya dipanen pada usia sekitar 3–4 tahun untuk dimanfaatkan batangnya, karena pada usia tersebut bambu sudah cukup keras dan kuat.Bambu hitam acap dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan alat-alat musik tradisional seperti calung, angklung, gambang, dan celempung.[1] Bambu ini baik pula dipakai untuk membuat perlengkapan rumah tangga seperti furnitur, balai-balai, dan kerajinan tangan seperti pelbagai jenis anyaman (keranjang dll.).[6] Berat jenis buluh yang masih basah antara 0,37—0,48; menjadi 0,65 tatkala kering tanur. Kadar air buluh kering udara lk. 16,8%.[6]

Rebungnya kerap dimasak sebagai sayuran.[5][6]

Kerabat dekat

Sebelumnya Gigantochloa atroviolacea tergabung ke dalam satu jenis besar G. verticillata Willd., bersama-sama dengan G. atter (Hassk.) Kurz (bambu ater), G. pseudoarundinacea (Steudel) Widjaja (bambu gombong), dan G. robusta Kurz (bambu mayan). Kini masing-masing jenis itu dianggap sebagai spesies yang tersendiri.[6]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Widjaja, E.A. 1987. "A revision of Malesian Gigantochloa (Poaceae - Bambusoideae)." Reinwardtia 10(3): 323. [1987]
  2. 1 2 Ohrnberger, D. 1999. The Bamboos of the World: Annotated Nomenclature and Literature of the Species and the Higher and Lower Taxa: 297-8 Amsterdam :Elsevier.
  3. The Plant List: Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz
  4. KBBI daring: bambu
  5. 1 2 Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I: 343 [sebagai Gigantochloa verticillata Munro]. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda -1922- I: 281-4.)
  6. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Widjaja, E.A. 1995. "Gigantochloa atroviolacea Widjaja" Diarsipkan 2016-08-18 di Wayback Machine. in Soejatmi Dransfield & E.A. Widjaja (Eds). Plant Resources of South-East Asia No. 7 Bamboos: 102-4. Bogor:PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation. [Internet] Record from Proseabase. Accessed 22-Apr-2016
  7. Guadua Bamboo: Gigantochloa atroviolacea Diarsipkan 2016-05-05 di Wayback Machine.
  8. 1 2 Widjaja, E.A. 2001. Identikit jenis-jenis bambu di Jawa: 50. Gb. 16 dan L.f. 16. Bogor: Puslitbang Biologi LIPI.
  9. GrassBase: Gigantochloa atroviolacea

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Gigantochloa atroviolacea.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan