Sabtu, 24 Oktober 2026
04:42 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Bakiyaruq

Bakiyaruq

Sultan kekaisaran Seljuk ke-5 (1094-1105)

Bagikan:
  • Berkyaruq
  • برکیارق
Sultan
Shahanshah
330px-BarkiyaruqPainting.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Adegan pelantikan Berkyaruq, dari buku abad ke-14 Jami' al-tawarikh
Sultan Kekaisaran Seljuk
Berkuasa1094–1105
PendahuluMahmud I
PenerusMalik Syah II
Lahir1079/80
Isfahan
Meninggal1105 (umur 25)
Borujerd
AyahMalik-Syah I
IbuZubayda Khatun
KeturunanMalik-Syah II
Zubayda Khatun
Nama lengkap
Rukn al-Din Abu'l-Muzaffar Berkyaruq bin Malikshah
WangsaWangsa Seljuk
AgamaIslam Sunni

Rukn al-Din Abu'l-Muzaffar Berkyaruq bin Malikshah (bahasa Persia:ابو المظفر رکن الدین برکیارق بن ملکشاه, translit. Rukn al-Dīn Abuʿl-Moẓaffar Berkyāruq bin Malik-Šāh; 1079/80 – 1105), atau Bakiyarug, atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan nama Berkyaruq (برکیارق), adalah sultan[a] kelima Kekaisaran Seljuk dari tahun 1094 hingga 1105.

Putra dan penerus Malik-Shah I (m. 1072–1092), ia memerintah selama tahap awal kemunduran dan perpecahan kekaisaran, yang menandai munculnya atabegate dan kerajaan Turkoman, yang pada akhirnya membentang dari Kirman hingga Anatolia dan Suriah. Pemerintahannya ditandai oleh pertikaian internal, terutama terhadap pangeran Seljuk lainnya. Menjelang kematiannya pada tahun 1105, otoritasnya sebagian besar telah lenyap. Putranya yang masih bayi, Malik-Syah II, menggantikannya untuk sementara waktu, hingga ia dibunuh oleh saudara tiri Berkyaruq sekaligus saingannya, Muhammad I Tapar (m. 1105–1118).

Asal nama

Berkyaruq dalam Bahasa Turki berarti "cahaya yang teguh dan tak tergoyahkan.[2] Berbeda dengan pendahulu mereka dari bangsa Ghaznawiyah, yang sebagian besar telah meninggalkan warisan Turkik demi budaya Persia, bangsa Seljuk justru mempertahankan dan bangga akan asal-usul mereka, dengan menggunakan nama-nama Turkik seperti Berkyaruq, Arslan Arghu, atau Sanjar.

Latar belakang

Lahir sekitar tahun 1079 atau 1080[3] di ibukota Seljuk, Isfahan,[4] Bakiyaruq adalah anak tertua dari Malik-Syah I (m. 1072–1092) dan sepupunya putri dari Seljuk, Zubayda Khatun.[5][6][7] Bakiyaruq baru berumur 13 tahun saat ayahnya mangkat pada Bulan November 1092, yang berarti tidak ada pangeran yang cukup umur untuk menjadi penerusnya.[8][9] Ini yang membuatnya selalu dianggap belum cukup umur oleh pesaing dan musuh-musuhnya.[10] Saudara tirinya, Muhammad Tapar malah baru berumur 11 tahun dan Mahmud baru berumur 4 tahun. Saudara lainnya, Tutush I, yang berkuasa di Suriah, atas nama saudara-saudaranya, mengklaim tahta sebagai satu-satunya yang sudah dewasa, tapi kurang mendapat dukungan dari para elit Turki. [11]

Kematian Malik-Syah menjadi awal dari pudar dan pecahnya kekaisaran Seljuk, dengan para amir dan elit istana mulai berusaha mendukung masing-masing pangeran untuk menjadi penerus. .[11][8] Ini berakibat munculnya banyak keatabegan dan kepangeranan, mulai dari daerah Kirman, hingga Anatolia dan Suriah.[8]

Salah satu istri Malik-Syah, Terken Khatun, bekerjasama dengan wazir Taj al-Mulk, mendudukkan Mahmud yang masih berusia 4 tahun di kursi kekuasaan di Baghdad.[12] Untuk memuluskan jalannya, ia berusaha meyakinkan Kalifah Abassiyah, al-Mustazhir (m. 1094–1118) untuk mendukung klaim mereka dengan memperdengarkan kutbah Jumat dengan mengatas namakan Mahmud, dan mengirim pasukan di bawah Qiwam al-Dawla Kirbuqa untuk mencaplok Isfahan dan menangkap Bakiyaruq.[11]

Sementara itu, keluarga dan pendukung almarhum wazir Seljuk, Nizam al-Mulk, didukung oleh ghulam (komandan Bakiyarugg. Mereka menyelundupkan Bakiyaruq keluar dari Isfahan dan mengirim ke atabeg pelindungan di Saveh dan Aveh, yang memahkotainya di Ray.[13][12]

Penentangan dan konsolidasi kekuasaan

250px-Seljuk_Empire_locator_map.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Kekaisraan Seljuk saat kematian Malik-Syah pada tahun 1092

Walau Bakiyarug awalnya didukung oleh kaum Nizamiyyah, sejarawan modern Clifford Edmund Bosworth menyatakan bahwa "hal ini tidak serta merta menunjukkan bahwa kelompok Nizamiyya memiliki kebijakan kolektif yang baik, karena tidak ada satu pun putra Nizam al-Mulk yang kemampuannya setara dengan ayah mereka, dan sikap oportunisme serta faktor pribadi tampaknya sering memengaruhi mereka." .[14]Kelompok Nizamiyyah terlihat sekali hanya berusaha menuntut balas dendam terhadap Taj al-Mulk, yang diyakini berada di balik kematian saingannya, Nizam al-Mulk, yang menurut sejarawan modern Andrew Peacock, kemungkinan kecurigaan ini sebagian benar.[11][14][15]

Sebuah pertempuran terjadi antara kedua faksi tersebut pada bulan Januari 1093, yang mengakibatkan kekalahan para pendukung Mahmud dan penangkapan Taj al-Mulk. Bakiyaruq, yang menyadari kecakapan birokrasi Taj al-Mulk, malah mengangkatnya sebagai wazir.[15] Taj al-Mulk bahkan sempat berhasil menenangkan sebagian dari kelompok Nizamiyyah melalui suap. Namun, hal itu tetap tidak cukup: kelompok Nizamiyyah yang terbakar nafsu balas dendam berhasil memastikan eksekusinya pada tanggal 12 Februari..[15][16] Terken Khatun segera memanggil pangeran Seljuk, Ismail ibn Yaquti, untuk menyerang Bakiyaruq. Meskipun Ismail telah mengumpulkan pasukan Turkmen dari Azerbaijan dan Arran, ia dikalahkan dan dieksekusi oleh atabeg Bakiyaruq, Gumush-Tegin. [16] Terken Khatun kemudian mencoba mendekati Tutush I, tetapi ia tiba-tiba meninggal dunia pada tahun 1094, disusul oleh putranya yang sakit-sakitan, Mahmud, yang meninggal sebulan kemudian.[11][16]

Bakiyaruq terpaksa membuat kesepakatan dengan Tutush I, yang menginvasi Jazirah Arab dan barat Iran, mencaplok kota Ray. Hanya saja ia kemudian terbunuh oleh pasukan Bakiyaruq di dekat kota tersebut pada tanggal 25 Februari 1095.[11][7] Bakiyaruq mengkonsolidasikan kekuasaannya atas barat Iran dan Irak, dan diakui oleh Kalifah al-Mustahzir sebagai Sultan. [11][8] Dalam kekacauan berikutnya, saudara Malik-Syah, Arhun Aslan menguasai sebagian besar Khorasan (kecuali Nishapur), untuk membangun kepangeranannya sendiri di provinsi tersebut. Bakiyaruq mengum pasukan di bawah komando pamannya, Bori-Bars bin Alp-Arslan pada tauhn 1095 untuk merebut kembali Khorasan, tapi tertangkap dan dibunuh. Ia mengirim lagi pasukan di bawah komando saudara tirinya Ahmad Sanjar pada tahun 1097, tapi Arghun Arslan sudah terbunuh duluan oleh salah satu komandan ghulamsnya, karena kepemimpinannya yang kejam. Bakiyaruq menunjuk Ahmad Sanjar sebagai penguasa vassal (malik) atas Khorasan, memberinya seorang atabeg, Amir Qumai, dan wazir bertnama al-Tughrai.[17][18][19]

Geophysical map of southern Central Asia (Khurasan and Transoxiana) with the major settlements and regions
Peta Khurasan dan Transoxiana

Bakiyaruq memimpin ekspedisi ke timur, sampai Tirmidh, di mana ia mengakui kekuasaan kaum Qarakhaniyah di bawah Sulayman-tegin dan Mahmud-tegin sebagai vasal di Transoxiana.[20] Ia juga menunjuk Qutb al-Din Muhammad sebagai gubernur di Khwarazm, yang kemudian berkembang menjadi dinasti Khwarazmianiyah.[21][22] Ia menghabiskan waktu tujuh bulan di Balkh, dan kembali ke barat.[23] Setelah ia pergi, daerah timur ini kembali memberontak terus-menerus, termasuk salah satu pangeran Seljuk, Dawlatshah. Nama Bakiyaruq mulai dihilangkan dari koin yang dicetak di Nishapur, yang memperlihatkan memudarnya kekuasaannya di Khorasan. Karena konflik internal tanpa henti, Bakiyaruq tak mampu lagi melawan invasi pasukan salib pada tahun 1097 di Suriah. Pasukan salib mengepung Antioka, dan mengusir penguasanya, Ma'arrat al-Nu'man. Selanjutnya, Bakiyaruq tak lagi memiliki alasan untuk membantu sisa-sisa kekuasaan Seljuk di Suriah, yang sudah sibuk saling berperang, membuat negeri ini terpecah-belah. Bagian utara dikuasai Fakhr al-Mulk Ridwan, dan bagian selatan dipimpun Shams al-Muluk Duqaq. Saat pasukan salib memasuki Suriah, Ridwan berkhianat dan bersekutu dengan Kalifah Fatimiyah. [20]

Konflik dengan Muhammad I Tapar dan kematian

330px-Muhammad_I_Tapar.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Investiture scene of Muhammad I Tapar, from the 14th-century book Jami' al-tawarikh

Tantangan paling sulit yang dihadapi Berkyaruq adalah pemberontakan saudara tirinya, Muhammad I Tapar, pada tahun 1098 atau 1099. Pemberontakan tersebut didorong oleh putra Nizam al-Mulk, Mu'ayyid al-Mulk, yang sebelumnya pernah mengabdi kepada Berkyaruq dan memainkan peran penting dalam kekalahan Tutush. Setelah dipecat oleh Berkyaruq, ia masuk ke dalam pelayanan Muhammad, yang mengangkatnya sebagai wazir (perdana menteri). Mu'ayyid al-Mulk memanfaatkan posisi barunya untuk membalas dendam terhadap saingan-saingannya, hal ini menjadi lebih mudah karena Muhammad belum mencapai usia dewasa (sekitar 17 tahun pada saat itu). Kelompok Nizamiyyah dan keluarga-keluarga terkemuka Isfahan juga bergabung dengan Muhammad, sehingga menghalangi Berkyaruq untuk memasuki kota tersebut.[24] Pemberontakan itu diluncurkan dari basis Muhammad di kota Ganja di Arran, yang telah diberikan kepadanya sebagai iqta' (hibah tanah) oleh Bakiyaruq pada tahun 1093.[25]

Keberhasilan Muhammad I Tapar menguasai Ray memperlihatkan kelemahan di dalam kepemimpinan Bakiyaruq. Sa'd al-Dawla Gawhara'in, shihna (administrator militer) dari Bagdad, segera bergabung dengan Muhammad, yang secara praktis membuat kota tersebut juga masuk ke dalam wilayah kekuasaannya. Meskipun demikian, perang lima tahun itu terus berlanjut tanpa hasil yang pasti, dengan Bagdad berulang kali berpindah tangan. Bahkan dengan dukungan dari Sanjar, yang membenci Berkyaruq, Muhammad I Tapar tetap tidak mampu mengalahkan rivalnya. Kekuasaan Berkyaruq terus melemah, dan pada tahun 1104, dengan perbendaharaan yang habis, ia terpaksa meminta perdamaian.[26] Sebuah perjanjian kemudian dibuat, yang mengakui Muhammad sebagai penguasa Irak selatan, Iran utara, Diyar Bakr, Mosul, dan Suriah, sementara Bakiyaruq diakui sebagai penguasa untuk sisa wilayah Iran lainnya, termasuk Isfahan dan Bagdad. Namun, perjanjian tersebut kemungkinan besar tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Pada tahun berikutnya (1105), tidak ada lagi pencetakan koin yang mencantumkan nama Bakiyaruq di wilayah pusat kekuasaan Islam.[27]

Ia kemudian berusaha pindah ke Isfahan, dan meninggal akibat TBC pada umur 25 di sekitar kota Borujerd. Penerusnya adalah anaknya yang masih terlalu muda, Malik-Syah II.[28] Baghdad kemudian berulangkali dikuasai oleh Muhammad, yangkemudian membunuh Malik-Syah II. .[27]

Catatan

  1. ↑ Selain sultan, gelar Persia kuno Raja segala Raja (shahanshah) juga digunakan oleh Seljuk.[1]

Sumber

Bacaan lebih lanjut

Didahului oleh:
Malik-Shah I
Sultan Kekaisaran Seljuk
1094–1105
Diteruskan oleh:
Malik Shah II
  1. ↑ Tor 2012, hlm. 150 (see also note 24).
  2. ↑ Bosworth 2001, hlm. 305.
  3. ↑ Bosworth 1968, hlm. 220–221.
  4. ↑ Özaydın 1992, hlm. 514.
  5. ↑ Van Donzel 1994, hlm. 464.
  6. ↑ Bosworth 1968, hlm. 77.
  7. 1 2 Tetley 2008, hlm. 128.
  8. 1 2 3 4 Bosworth 1988, hlm. 800–801.
  9. ↑ Cahen 1960, hlm. 1051.
  10. ↑ Aizid, Rizem (Juni 2023). Selayang Pandang Dinasti Seljuk. Yogyakarta: DIVA Press. hlm. 46. ISBN 978-623-189-221-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. 1 2 3 4 5 6 7 Peacock 2015, hlm. 76.
  12. 1 2 Bosworth 1968, hlm. 103.
  13. ↑ Tetley 2008, hlm. 105.
  14. 1 2 Bosworth 1968, hlm. 104.
  15. 1 2 3 Bosworth 1997, hlm. 12–13.
  16. 1 2 3 Bosworth 1968, hlm. 105.
  17. ↑ Peacock 2015, hlm. 76–77.
  18. ↑ Bosworth 1968, hlm. 105–106.
  19. ↑ Tetley 2008, hlm. 131.
  20. 1 2 Peacock 2015, hlm. 77.
  21. ↑ Bosworth 1986, hlm. 140.
  22. ↑ Bosworth 1978, hlm. 1067.
  23. ↑ Richards 2014, hlm. 291.
  24. ↑ Peacock 2015, hlm. 78.
  25. ↑ Tetley 2008, hlm. 148.
  26. ↑ Peacock 2015, hlm. 78–79.
  27. 1 2 Peacock 2015, hlm. 80, 133.
  28. ↑ Özaydın 1992, hlm. 516.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan