Senin, 21 September 2026
05:24 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Badai api

Badai api

Badai api adalah sebuah fenomena kobaran api meluas secara masif akibat bahan mudah terbakar dan angin panas di alam. Badai ini umumnya terjadi di hutan kering, semak layu dan dedaunan atau benda-benda lain.[1][2] Pada beberapa kasus api tidak hanya bergerak ke satu arah melainkan ke seluruh arah mata angin yang seakan mengembang dari sebuah titik. Faktor lain yang menyebabkan peristiwa ini adalah ledakan bom atom,[3] gas letusan gunung, perang mesiu, sambaran petir halilintar dan radiasi nuklir.[4]

250px-Firestorm_thermal_column.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Siklus Badai api.

Peristiwa badai api terparah pernah terjadi di Berlin pada 27 Juli 1943 yang menewaskan lebih dari 40.000 orang dari serangan udara bertubi-tubi Royal Air Force dan United States Army Air Forces dari Sekutu di Perang Dunia Kedua.[5]

250px-Braunschweig15101944.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Badai api yang membakar Braunschweig pada tahun 1944

Referensi

  1. Fire Following Earthquake - Google Books
  2. "PROBLEMS OF FIRE IN NUCLEAR WARFARE (1961)" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-02-18. Diakses tanggal 2016-01-16.
  3. OSTI
  4. "Exploratory analysis of Firestorms." (PDF). Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-08. Diakses tanggal 2016-01-16.
  5. Remnants from world war II in Hamburg
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan