Selasa, 22 September 2026
00:13 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Astaman

Astaman

Aktor Indonesia (1910-1970)

Untuk pemain sepak bola, lihat Ponaryo Astaman.

Astaman (juga dikenal dengan nama Tirtosari; lahir ca Sidoarjo, Hindia Belanda, 16 Mei 1903 - wafat 20 Agustus 1980) adalah seorang aktor Indonesia yang aktif sejak 1910-an sampai pertengahan 1970-an. Ia adalah aktor ternama di grup sandiwara Dardanella dan memiliki karier akting di 43 film. Karier aktingnya diawali di film Kartinah pada tahun 1940.

Astaman
250px-Astaman%2C_Bintang_Soerabaia_advertisement%2C_Tokio_Gekidjo%2C_Djakarta%2C_1942_%28reverse%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Astaman, 1942
Lahir
Tirtosari

(1903-05-16)16 Mei 1903
Meninggal20 Agustus 1980(1980-08-20) (umur 77)
PekerjaanAktor
Masa aktif1910-1974
Anak5

Biografi

Astaman lahir pada 16 Mei 1903[1] di Sidoarjo, Jawa Timur, Hindia Belanda, sebagai putra dari seorang aktor bernama Wagimin dan istrinya yang juga aktris. Ia bersekolah dasar di sana, tetapi keluar pada tahun ketiga.[2] Pada usia 10 tahun, Astaman bergabung dengan grup sandiwara ayahnya Wagimin & Keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua sepupunya. Astaman pertama menjual tiket, kemudian berakting dan tur di pedesaan Jawa Timur bersama mereka.[1] Ia keluar sekitar tahun 1915, kemudian bergabung dengan Theater se Souvenir, lalu Constantinople Opera.[2]

250px-Astaman_p21.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Astaman, dalam foto promosi Dardanella

Tahun berikutnya, Astaman keluar dari Constantinople dan bergabung dengan Dardanella,[2] yang dijalankan oleh aktor kelahiran Penang keturunan Rusia, Willy A. Piedro, dan istri pribuminya, Dewi Dja'.[3] Grup yang sangat sukses dan sudah keliling Asia Tenggara ini mendongkrak ketenaran Astaman. Ia memainkan beberapa tokoh bersama mereka dan membintangi beberapa pementasan mereka, termasuk Dr Samsi karya Andjar Asmara dan adaptasi panggung Boenga Roos dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay. Dalam wawancara tahun 1964 bersama majalah Varia, ia mengatakan bahwa setiap kali ia memerankan raja, penonton Eropa akan tertawa terbahak-bahak. Astaman kemudian mengetahui kostumnya menyerupai matador.[4]

250px-Astaman_in_1930s.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Astaman tahun 1930an

Astaman dikaruniai seorang putra, Lilik Sudjio, pada tahun 1930. Lilik kelak menjadi sutradara.[5] Pada tahun 1936, Astaman bergabung dengan tur Dardanella di India dengan harapan bisa membuat film Dr Samsi. Rencana ini gagal dan Dardanella bubar:[3] Piedro dan Dja' pindah ke Amerika Serikat, sedangkan Andjar dan Ali Yugo membentuk grup sandiwaranya sendiri dan pulang ke Hindia Belanda. Astaman pulang secara terpisah, tepatnya ke Kediri. Setelah menolak bergabung di grup Njoo Cheong Seng, Fifi Young's Pagoda, Astaman bergabung dengan Tuan Mannuk.[4]

Pasca kesuksesan Terang Boelan karya Albert Balink tahun 1937, banyak aktor teater yang pindah ke perfilman – termasuk Astaman.[6] Ia tampil perdana pada tahun 1940.[7] Ia dan mantan aktris Dardanella, Ratna Asmara, membintangi Kartinah besutan Andjar. Di sana ia berperan sebagai dokter yang jatuh cinta dengan perawatnya meski sudah menikah.[8] Tahun berikutnya, Astaman bermain di tiga film buatan Java Industrial Film milik The Teng Chun. Setelah studio ini ditutup akibat pendudukan Jepang di Hindia Belanda tahun 1942,[9] Astaman kembali ke dunia teater.[2] Selama masa pendudukan, ia berperan di satu film saja, film propaganda Djatoeh Berkait.[7]

250px-Astaman_in_1964.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Astaman tahun 1964

Tahun 1949, menjelang akhir Revolusi Nasional Indonesia, Astaman masuk studio Bintang Surabaya milik Fred Young dan berakting di film-filmnya.[2] Penampilan perdananya ada di film Saputangan tahun 1949.[7] Ia dikontrak Persari milik Djamaluddin Malik pada tahun 1951 sampai 1958. Setelah itu, ia berfokus di dunia teater, tetapi tetap berakting di beberapa rumah produksi sampai akhir 1970-an.[2][7] Menjelang akhir hayatnya, ia ambil bagian di beberapa film televisi.[2]

Pada tanggal 20 Agustus 1980, Astaman meninggal dunia di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintohardjo, Tanah Abang, Jakarta Pusat setelah dirawat karena penyakit hipertensi yang dideritanya selama 7 tahun dan menyebabkan pendarahan otak pada usia 77 tahun. Jenazahnya dibaringkan di rumah putranya, Asmadi, di Perumnas Depok 1, Depok, Jawa Barat, tempat ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di sana.

Filmografi

Astaman bermain di 43 film selama 34 tahun. Pada masa itu, ia juga menulis skenario untuk dua film.[7]

Aktor

  • Kartinah (1940)
  • Noesa Penida (1941)
  • Elang Darat (1941)
  • Ratna Moetoe Manikam (1941)
  • Djatoeh Berkait (1944; film pendek)
  • Saputangan (1949)
  • Bintang Surabaja 1951 (1950)
  • Damarwulan (1950)
  • Djembatan Merah (1950)
  • Harumanis (1950)
  • Ratapan Ibu (1950)
  • Terang Bulan (1950)
  • Bakti Bahagia (1951)
  • Djiwa Pemuda (1951)
  • Pahlawan (1951)
  • Rumah Hantu (1951)
  • Pengorbanan (1952)
  • Rodrigo de Villa (1952)
  • Solo Di Waktu Malam (1952)
  • Ajah Kikir (1953)
  • Asam Digunung Garam Dilaut 1953)
  • Bagdad (1953)
  • Leilani (1953)
  • Bintang Baru (1954)
  • Air Pasang (1954)
  • Kasih Sajang (1954)
  • Lewat Djam Malam (1954)
  • Siapa Ajahku (1954)
  • Tarmina (1954)
  • Berdjumpa Kembali (1955)
  • Rindu Damai (1955)
  • Buruh Bengkel (1956)
  • Djandjiku (1956)
  • Harta Angker (1956)
  • Saodah (1956)
  • Ibu Mertua (1960)
  • Menudju Bintang (1960)
  • Asmara dan Wanita (1961)
  • Melati Dibalik Terali (1961)
  • Petir Sepandjang Malam (1967)
  • Lorong Hitam (1971)
  • Putri Solo (1974)
  • Paul Sontoloyo (1974)

Kru

  • Hidup Baru (1951)
  • Tarmina (1954)

Referensi

Daftar pustaka

  • "Astaman | Filmografi" [Astaman | Filmography]. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2013-01-26. Diakses tanggal 26 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Astaman (Tirtosari)" (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: National Library of Indonesia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2013-01-26. Diakses tanggal 26 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa [History of Film 1900–1950: Making Films in Java] (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • "Dardanella". Encyclopedia of Jakarta. Jakarta City Government. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2012-09-04. Diakses tanggal 4 September 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Kartinah". filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2012-07-25. Diakses tanggal 25 Juli 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Riwajat Astaman" [Tale of Astaman]. Varia (dalam bahasa Indonesia) (305): 15, 29, 30. 19 Februari 1964.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • "Tarmina". Filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2013-04-18. Diakses tanggal 18 April 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan