Jumat, 06 November 2026
21:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Apanase

Apanase

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Apanase" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Mei 2023)
250px-16th-century_unknown_painters_-_Philip_the_Bold_-_WGA23677.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pada awalnya adalah penitipan suatu wilayah yang diambil dari tanah milik raja dan diberi oleh raja kepada Putra bungsunya, yang tidak akan menggantikannya sebagai raja karena Tahta akan jatuh ke Putra sulung. Kata apa nage berasal dari bahasa latin akhir Ad panem, yang berarti untuk memberi roti maksudnya agar Si Pangeran bungsu kedapatan nafkah.

Apanase (bahasa Prancis: apanage) atau daerah lungguh, pada awalnya adalah penitipan suatu wilayah yang diambil dari tanah milik raja dan diberi oleh raja kepada putera bungsunya, yang tidak akan menggantikannya sebagai raja karena takhta akan jatuh ke putera sulung. Kata apanage berasal dari bahasa Latin akhir ad panem, yang berarti "untuk memberi roti" (panem), maksudnya agar si pangerang bungsu kedapatan nafkah.[1]

Sistem apanase sempat main peranan yang cukup penting dalam sejarah kerajaan Prancis. Sistem ini berkembang dengan meluasnya kewibawaan kerajaan sejak abad ke-13. Kemudian sistem apanase menghilang dengan ditegaskannya kewibawaan khusus raja sejak akhir Abad Pertengahan. Apanase berdampak atas pembangunan wilayah kerajaan, yang terlihat pada lambang banyak provinsi Prancis.[1]

Apanase Bourgogne adalah asal-muasal negara Belgia, yang duc menikmati kedudukan khusus terhadap raja Prancis.

Di Indonesia

Menurut Nagarakretagama, tokoh Rajasawardhana menyandang gelar "Bhre Matahun" (Matahun adalah nama lama Bojonegoro). Dia adalah suami Indu Dewi, yang juga dikenal dengan gelar Bhre Lasem. Sebagai saudara raja Hayam Wuruk dari Majapahit, mereka diberi kekuasaan atas tanah Matahun dan Lasem. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa Rajasawardhana dan Indu Dewi mendapat tanah tersebut sebagai apanase. Istilah Bhre adalah singkatan dari bhatara i, yang berarti "tuan di".[1]

Referensi

Kutipan

  1. 1 2 3 Sururi, M. Muchsin. "Mengenal Sistem Apanage: Tanah Lungguh dan Bekel dalam Sejarah Agraria Nusantara - Neo Historia - Halaman 2". Mengenal Sistem Apanage: Tanah Lungguh dan Bekel dalam Sejarah Agraria Nusantara - Neo Historia - Halaman 2. Diakses tanggal 2025-09-25.

Sumber


Ikon rintisan

Artikel bertopik politik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan