Selasa, 13 Oktober 2026
13:33 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM

Antihumanisme

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Misantropi.

Dalam teori sosial dan filsafat, antihumanisme atau anti-humanisme adalah sebuah pandangan yang bersikap kritis terhadap humanisme tradisional, termasuk gagasan-gagasan lama tentang kemanusiaan dan kondisi manusia.[1] Inti dari antihumanisme adalah penolakan terhadap antropologi filosofis[2] beserta konsep-konsepnya seperti "hakikat manusia", "manusia", atau "kemanusiaan", yang dianggap tak lebih dari konstruksi yang relatif secara sejarah, bersifat ideologis, atau metafisis.[3]

Asal-usul

Pada akhir abad ke-18 dan ke-19, filsafat humanisme menjadi pilar utama Abad Pencerahan. Sejarah manusia dipandang sebagai buah dari pikiran dan tindakan manusia, yang dapat dipahami melalui kategori "kesadaran", "agensi", "pilihan", "tanggung jawab", dan "nilai moral". Manusia dipandang memiliki hakikat yang sama dan bersifat esensial.[4] Dari keyakinan akan adanya inti moral universal itu, lahirlah pandangan bahwa setiap orang pada dasarnya bebas dan setara. Bagi kaum humanis liberal seperti Immanuel Kant, hukum universal dari rasio diyakini sebagai penuntun menuju emansipasi penuh dari segala bentuk tirani.[5]

Namun, sejak abad ke-19, humanisme mulai dikritik sebagai gagasan yang terlalu idealistis. Bagi Friedrich Nietzsche, humanisme tak lebih dari sebuah ungkapan hampa[6]—versi sekuler dari teisme. Max Stirner bahkan lebih dahulu mengungkapkan posisi serupa dalam bukunya The Ego and Its Own. Dalam Genealogy of Morals, Nietzsche berargumen bahwa hak asasi manusia hanyalah sarana bagi yang lemah untuk membatasi yang kuat; hakikatnya bukan membebaskan kehidupan, melainkan menyangkalnya.[7]

Karl Marx muda kadang dianggap sebagai seorang antihumanis, sebab ia menolak gagasan hak asasi manusia sebagai gejala dari dehumanisasi yang justru ingin dilawannya. Menurut Marx, kapitalisme memaksa individu bertindak secara egoistis, sehingga mereka saling berbenturan dan membutuhkan hak-hak untuk melindungi diri. Emansipasi sejati, katanya, hanya bisa dicapai melalui pendirian komunisme, yang menghapuskan hak milik pribadi.[8] Bagi banyak antihumanis seperti Louis Althusser, Marx pada periode matang melihat "kemanusiaan" sebagai abstraksi yang menutupi konflik kelas. Karena hak-hak manusia bersifat abstrak, maka keadilan dan kesetaraan yang dijanjikannya pun bersifat abstrak—sementara ketidakadilan nyata tetap berlangsung.[9]

Pada abad ke-20, pandangan tentang manusia sebagai makhluk rasional yang otonom diguncang oleh Sigmund Freud, yang melihat manusia terutama digerakkan oleh hasrat tak sadar yang irasional.[10]

Martin Heidegger memandang humanisme sebagai filsafat metafisis yang menganggap manusia memiliki hakikat universal dan menempatkannya di atas bentuk keberadaan lain. Bagi Heidegger, humanisme menjadikan kesadaran sebagai paradigma filsafat, sehingga melahirkan subjektivisme dan idealisme yang harus ditolak. Seperti halnya Hegel, Heidegger menolak gagasan otonomi ala Kant, dengan menegaskan bahwa manusia adalah makhluk historis sekaligus sosial, bukan kesadaran yang menciptakan dunia. Dalam filsafatnya, Ada (Sein) dan Ada-manusia (Dasein) merupakan kesatuan pokok. Segala dikotomi—subjek dan objek, kesadaran dan keberadaan, manusia dan alam—hanyalah turunan yang tidak autentik.[11] Dalam Surat tentang Humanisme (1947), Heidegger bahkan menjauhkan diri dari humanisme maupun eksistensialisme. Ia berargumen bahwa eksistensialisme tidak berhasil melampaui metafisika, karena hanya membalikkan tesis metafisis bahwa esensi mendahului eksistensi. Menurutnya, kategori-kategori metafisis ini harus dibongkar sepenuhnya.[12]

Referensi

  1. ↑ J. Childers/G. Hentzi eds., The Columbia Dictionary of Modern Literary and Cultural Criticism (1995) p. 140-1
  2. ↑ Soper, Kate (1986). Humanism and Anti-Humanism. London: Hutchinson. hlm. 12. ISBN 0-09-162-931-4.
  3. ↑ Childers, p. 100
  4. ↑ Soper, Kate (1986). Humanism and Anti-Humanism. London: Hutchinson. hlm. 11–12. ISBN 0-09-162-931-4.
  5. ↑ Childers, p. 95-6
  6. ↑ Tony Davies, Humanism (1997) p. 37
  7. ↑ "Chapter III §14". On the Genealogy of Morality.
  8. ↑ G. Gutting ed., The Cambridge Companion to Foucault (2003) p. 243
  9. ↑ G. Gutting ed., The Cambridge Companion to Foucault (2003) p. 244
  10. ↑ Peter Gay, Freud (1989) p. 449
  11. ↑ Soper, Kate (1986). Humanism and Anti-Humanism. London: Hutchinson. hlm. 57. ISBN 0-09-162-931-4.
  12. ↑ Soper, Kate (1986). Humanism and Anti-Humanism. London: Hutchinson. hlm. 59. ISBN 0-09-162-931-4.

Bacaan lanjutan

  • Roland Barthes, Image: Music: Text (1977)
  • L.S. Cattarini, Beyond Sartre and Sterility (2018) includes essay against humanism
  • Michel Foucault, Madness and Civilisation (1961)
  • Michel Foucault, Birth of the Clinic (1963)
  • Michel Foucault, The Order of Things (1966)
  • Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge (1969)
  • Michel Foucault, Discipline and Punish (1975)
  • Michel Foucault, The History of Sexuality (1976)
  • Stefanos Geroulanos, An Atheism That Is Not Humanist Emerges in French Thought (2010)
  • Martin Heidegger, "Letter on Humanism" (1947) reprinted in Basic Writings
  • Karl Marx, "On the Jewish Question" (1843) reprinted in Early Writings
  • Friedrich Nietzsche, On the Genealogy of Morals (1887)

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik filsafat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan