Selasa, 27 Oktober 2026
09:07 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Antiadrenergik

Antiadrenergik

Bagikan:
250px-Two_state_model_CB1_antagonists.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Definisi visual antagonis, yang dibandingkan dengan agonis dan agonis terbalik.

Antiadrenergik atau antagonis adrenergik adalah obat yang menghambat fungsi reseptor adrenergik. Ada lima reseptor adrenergik, yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok reseptor pertama adalah reseptor adrenergik beta (β). Ada reseptor β1, β2, dan β3. Kelompok kedua berisi adrenoreseptor alfa (α). Hanya ada reseptor α1 dan α2. Reseptor adrenergik terletak di dekat jantung, ginjal, paru-paru, dan saluran pencernaan.[1] Ada juga reseptor α-adreno yang terletak pada otot polos pembuluh darah.[2]

Antagonis mengurangi atau memblokir sinyal agonis. Antagonis dapat berupa obat-obatan, yang ditambahkan ke tubuh untuk alasan terapeutik, atau ligan endogen. Antagonis α-adrenergik memiliki efek yang berbeda dari antagonis β-adrenergik.

Golongan

Berdasarkan tempat kerjanya obat - obat ini dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:

Bloker adreno reseptor

Bloker adrenoreseptor adalah obat yang bekerja menempati reseptor adrenergik sehingga menghambat interaksi obat adrenergik dengan reseptornya dan mengakibatkan kerja adrenergik pada sel efektornya dihambat. Dengan demikian, obat - obat ini menghambat respons sel efektor adrenergik terhadap perangsangan saraf simpatik dan terhadap obat adrenergik eksogen.[3]

Bloker saraf adrenergik

Bloker saraf adrenergik menghambat aktivitas saraf adrenergik dengan mengganggu sintesis, penyimpanan dan pembebasan norepinefrin dan epinefrin di terminal saraf adrenergik. Obat yang termasuk golongan ini adalah guanetidin dan derivatnya, dan reserpin.[3]

Bloker adrenergik sentral

Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah klonidin dan metildopa yang bekerja dengan menghambat perangsangan neuron adrenergik sentral di sistem saraf pusat yang mengatur aktivitas simpatik perifer. Penggunaan utama obat ini ialah sebagai antihipertensi.[3]

Contoh

Penghalang alfa

Penghalang beta

aksi campuran

Referensi

  1. ↑ Wiysonge, CS; Volmink, J; Opie, LH (2007). "Beta-blockers and the treatment of hypertension: it is time to move on". Cardiovasc J Afr. 18 (6): 351–2. PMC 4170499. PMID 18092107.
  2. ↑ Giovannitti JA, Thoms SM, Crawford JJ (2015). "Alpha-2 adrenergic receptor agonists: a review of current clinical applications". Anesth Prog. 62 (1): 31–9. doi:10.2344/0003-3006-62.1.31. PMC 4389556. PMID 25849473.
  3. 1 2 3 Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI (2004). Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. hlm. 368. ISBN 978-979-448-831-7.
  4. 1 2 3 4 5 Wiysonge, Charles S.; Bradley, Hazel A.; Volmink, Jimmy; Mayosi, Bongani M.; Opie, Lionel H. (20 Januari 2017). "Beta-blockers for hypertension". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 1: CD002003. doi:10.1002/14651858.CD002003.pub5. ISSN 1469-493X. PMC 5369873. PMID 28107561.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Stereospecific Pharmacokinetics and Pharmacodynamics of Beta-Adrenergic Blockers in Humans, Mehvar, R., & Brocks, D. R. (2001). Stereospecific pharmacokinetics and pharmacodynamics of beta-adrenergic blockers in humans.

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik kimia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik farmasi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan