Minggu, 20 September 2026
22:01 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Ahmad bin Syuaib An-Nasa'i

Ahmad bin Syuaib An-Nasa'i

Perawi dan ahli hadis

Infobox orangimam Suntingan nilai di Wikidata
Ahmad bin Syuaib An-Nasa'i
rahimahullah Suntingan nilai di Wikidata
330px-Al_Nasa%27i.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Biografi
Kelahiran829 (Kalender Masehi Gregorius) Suntingan nilai di Wikidata
Nisa, Turkmenistan Suntingan nilai di Wikidata
Kematian915 (Kalender Masehi Gregorius) Suntingan nilai di Wikidata (85/86 tahun)
Palestina Suntingan nilai di Wikidata
Tempat pemakamanYerusalem Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
AgamaIslam dan Islam Sunni Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
SpesialisasiUlum hadis dan Fikih Suntingan nilai di Wikidata
Pekerjaanmuhaddits,Qadi,Faqih,Islamicist (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Murid dariAbu Dawud, Ishaq bin Rahawaih, Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal (en) Terjemahkan, Abu Ya'la al-Maushili, ʻAli ibn Harb (en) Terjemahkan dan Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam Suntingan nilai di Wikidata
MuridIbnu Hibban Suntingan nilai di Wikidata
Karya kreatif
Karya terkenal

Imam An-Nasa'i (Arabic : أحمد بن شعيب النسائي) dengan nama lengkapnya Abu Abdirrahman Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr Al Khurasany, terkenal dengan nama An-Nasa'i karena dinisbatkan dengan kota Nasa'i salah satu kota di Khurasan. Ia dilahirkan pada tahun 215 Hijriah / 829 M, demikian menurut Adz Dzahabi dan meninggal dunia pada hari Senin tanggal 13 Shafar 303 Hijriah / 915 M di Palestina lalu dikuburkan di Baitul Maqdis.[1]

Ia hidup pada masa Khalifah Abbasiyah dari Al-Ma'mun sampai Al-Muqtadir, saat Abbasiyah transisi dari puncak kejayaan menuju era penurunannya.

Kehidupan

An-Nasa'i menerima Hadits dari Sa'id, Ishaq bin Rawahaih dan ulama-ulama lainnya selain itu dari kalangan tokoh ulama ahli hadits yang berada di Khurasan, Hijaz, Irak, Mesir, Syam, dan Jazirah Arab. Ia termasuk di antara ulama yang ahli di bidang ini dan karena ketinggian sanad hadtsnya. Ia lebih kuat hafalannya menurut para ulama ahli hadits dari Imam Muslim dan kitab Sunan An Nasa`i lebih sedikit hadits dhaifnya (lemah) setelah Hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Ia pernah menetap di Mesir.

Para guru dia yang nama harumnya tercatat oleh pena sejarah antara lain; Qutaibah bin Sa`id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abi Dawud), serta Imam Abu Isa al-Tirmidzi (penyusun al-Jami`/Sunan al-Tirmidzi).[2]

Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramah dia, antara lain; Abu al-Qasim al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu`jam), Abu Ja`far al-Thahawi, al-Hasan bin al-Khadir al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby, dan Abu Bakr bin Ahmad al-Sunni. Nama yang disebut terakhir, di samping sebagai murid juga tercatat sebagai “penyambung lidah” Imam al-Nasa`i dalam meriwayatkan kitab Sunan al-Nasa`i.[3]

Sudah mafhum dikalangan peminat kajian hadis dan ilmu hadis, para imam hadis merupakan sosok yang memiliki ketekunan dan keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah, para imam hadis kerap kali menghasilkan karya tulis yang tak terhingga nilainya.

Tidak ketinggalan pula Imam al-Nasa`i. Karangan-karangan dia yang sampai kepada kita dan telah diabadikan oleh pena sejarah antara lain; al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra (kitab ini merupakan bentuk perampingan dari kitab al-Sunan al-Kubra), al-Khashais, Fadhail al-Shahabah, dan al-Manasik. Menurut sebuah keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn al-Atsir al-Jazairi dalam kitabnya Jami al-Ushul, kitab ini disusun berdasarkan pandangan-pandangan fiqh mazhab Syafi`i.

Untuk pertama kali, sebelum disebut dengan Sunan al-Nasa`i, kitab ini dikenal dengan al-Sunan al-Kubra. Setelah tuntas menulis kitab ini, dia kemudian menghadiahkan kitab ini kepada Amir Ramlah (Wali kota Ramlah) sebagai tanda penghormatan. Amir kemudian bertanya kepada al-Nasa`i, “Apakah kitab ini seluruhnya berisi hadis shahih?” Dia menjawab dengan kejujuran, “Ada yang shahih, hasan, dan adapula yang hampir serupa dengannya”.

Kemudian Amir berkata kembali, “Kalau demikian halnya, maka pisahkanlah hadis yang shahih-shahih saja”. Atas permintaan Amir ini, dia kemudian menyeleksi dengan ketat semua hadis yang telah tertuang dalam kitab al-Sunan al-Kubra. Dan akhirnya dia berhasil melakukan perampingan terhadap al-Sunan al-Kubra, sehingga menjadi al-Sunan al-Sughra. Dari segi penamaan saja, sudah bisa dinilai bahwa kitab yang kedua merupakan bentuk perampingan dari kitab yang pertama.

Imam al-Nasa`i sangat teliti dalam menyeleksi hadis-hadis yang termuat dalam kitab pertama. Oleh karenanya, banyak ulama berkomentar “Kedudukan kitab al-Sunan al-Sughra dibawah derajat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Di dua kitab terakhir, sedikit sekali hadis dhaif yang terdapat di dalamnya”. Nah, karena hadis-hadis yang termuat di dalam kitab kedua (al-Sunan al-Sughra) merupakan hadis-hadis pilihan yang telah diseleksi dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan al-Mujtaba. Pengertian al-Mujtaba bersinonim dengan al-Maukhtar (yang terpilih), karena memang kitab ini berisi hadis-hadis pilihan, hadis-hadis hasil seleksi dari kitab al-Sunan al-Kubra.

Di samping al-Mujtaba, dalam salah satu riwayat, kitab ini juga dinamakan dengan al-Mujtana. Pada masanya, kitab ini terkenal dengan sebutan al-Mujtaba, sehingga nama al-Sunan al-Sughra seperti tenggelam ditelan keharuman nama al-Mujtaba. Dari al-Mujtaba inilah kemudian kitab ini kondang dengan sebutan Sunan al-Nasa`i, sebagaimana kita kenal sekarang. Dan tampaknya untuk selanjutnya, kitab ini tidak akan mengalami perubahan nama seperti yang terjadi sebelumnya.

Pandangan Ulama

Abu Ali Al-Husain bin Ali Al-Hafizh berkata, "fmam An-Nasa'i adalah imam kaum muslimin dan imam dalam bidang hadits."

Adz-Dzahabi berkata, "Imam An-Nasa'i selain mempunyai ilmu yang sangat dalam, dia juga seorang yang mutqin, pandai, kritikus perawi hadits dan mempunyai karya dengan susunan yang baik. Dia menuntut ilmu di Khurasan, Hijaz, Mesir, Irak, Syam dan Tsaghur dan pada akhimya menetap di Mesir, sehingga banyak ulama huffazh yang mengunjunginya. Pada masanya, tidak ada orang yang menyamai kedalamam ilmunya dalam bidang hadits."[1]

Kritik Ibnu al-Jauzy

Kita perlu menilai jawaban Imam al-Nasa`i terhadap pertanyaan Amir Ramlah secara kritis, di mana dia mengatakan dengan sejujurnya bahwa hadis-hadis yang tertuang dalam kitabnya tidak semuanya shahih, tetapi adapula yang hasan, dan ada pula yang menyerupainya. Ia tidak mengatakan bahwa di dalamnya terdapat hadis dhaif (lemah) atau maudhu (palsu). Ini artinya dia tidak pernah memasukkan sebuah hadispun yang dinilai sebagai hadis dhaif atau maudhu`, minimal menurut pandangan dia.

Apabila setelah hadis-hadis yang ada di dalam kitab pertama diseleksi dengan teliti, sesuai permintaan Amir Ramlah supaya dia hanya menuliskan hadis yang berkualitas shahih semata. Dari sini bisa diambil kesimpulan, apabila hadis hasan saja tidak dimasukkan kedalam kitabnya, hadis yang berkualitas dhaif dan maudhu` tentu lebih tidak berhak untuk disandingkan dengan hadis-hadis shahih.

Namun, Ibn al-Jauzy pengarang kitab al Maudhuat (hadis-hadis palsu), mengatakan bahwa hadis-hadis yang ada di dalam kitab al-Sunan al-Sughra tidak semuanya berkualitas shahih, namun ada yang maudhu` (palsu). Ibn al-Jauzy menemukan sepuluh hadis maudhu` di dalamnya, sehingga memunculkan kritik tajam terhadap kredibilitas al-Sunan al-Sughra. Seperti yang telah disinggung dimuka, hadis itu semua shahih menurut Imam al-Nasa`i. Adapun orang belakangan menilai hadis tersebut ada yang maudhu`, itu merupakan pandangan subyektivitas penilai. Dan masing-masing orang mempunyai kaidah-kaidah mandiri dalam menilai kualitas sebuah hadis. Demikian pula kaidah yang ditawarkan Imam al-Nasa`i dalam menilai keshahihan sebuah hadis, tampaknya berbeda dengan kaidah yang diterapkan oleh Ibn al-Jauzy. Sehingga dari sini akan memunculkan pandangan yang berbeda, dan itu sesuatu yang wajar terjadi. Sudut pandang yang berbeda akan menimbulkan kesimpulan yang berbeda pula.

250px-%D9%85%D8%AF%D8%AE%D9%84_%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AC%D8%B1%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%8A_%D9%8A%D9%88%D8%AC%D8%AF_%D9%81%D9%8A%D9%87%D8%A7_%D9%82%D8%A8%D8%B1_%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%85%D8%A7%D9%85.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lokasi Makam an-Nasa'i.

Kritikan pedas Ibn al-Jauzy terhadap keautentikan karya monumental Imam al-Nasa`i ini, tampaknya mendapatkan bantahan yang cukup keras pula dari pakar hadis abad ke-9, yakni Imam Jalal al-Din al-Suyuti, dalam Sunan al-Nasa`i, memang terdapat hadis yang shahih, hasan, dan dhaif. Hanya saja jumlahnya relatif sedikit. Imam al-Suyuti tidak sampai menghasilkan kesimpulan bahwa ada hadis maudhu` yang termuat dalam Sunan al-Nasa`i, sebagaimana kesimpulan yang dimunculkan oleh Imam Ibn al-Jauzy. Adapun pendapat ulama yang mengatakan bahwah hadis yang ada di dalam kitab Sunan al-Nasa`i semuanya berkualitas shahih, ini merupakan pandangan yang menurut Muhammad Abu Syahbah_tidak didukung oleh penelitian mendalam dan jeli. Kecuali maksud pernyataan itu bahwa mayoritas (sebagian besar) isi kitab Sunan al-Nasa`i berkualitas shahih.

Kontroversi

Penemuan ini terlepas dari keyakinan dan madzhab yang diikuti Imam An-Nasa'i, misalnya Imam An-Nasa'i telah meriwayatkan hadits riwayat Al-Juzjani. Sementara hadits Al-Juzjani ada yang melenceng dari Ali bin Abi Thalib dan penduduk Kufah. yang demikian itu karena Imam An-Nasa'i berkecenderungan membela mereka. Walau demikian, Imam An-Nasa'i juga telah meriwayatkan hadits riwayat Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash Al-Madani yang diketahui bersama bahwa ia adalah pemimpin pasukan pembunuhan Al-Husain bin Ali. Begitu pula halnya, dia telah menganggap Asad bin Wada'ah sebagai perawi tsiqah, padahal ia adalah seorang Nashibi yang militan.

Dia juga telah mencantumkan hadits dari Al-Ajlah dalam Amal Al-Yaum wa Al-Iailah, padahal ia seorang pengikut syiah yang ekstrim sebagaimana dia mencamtumkan hadits dari Syamr bin Athiyah Al-Asadi yang mendahulukan keutamaan Utsman bin Affan atas Ali bin Abi Thalib. Imam An-Nasa'i telah banyak mengambil hadits dari para perawi kaum syiah yang menurutnya hafizh dan dhabith biarpun mereka berlaku' israf (bertebih-lebihan), khususnya ketika membicarakan Ali bin Abi Thalib. Kenyataan ini dapat kita jumpai dari keterangan Kutub Ar-Rijal.[1]

Karyanya

  1. Al-Khasha'ish
  2. Sunan al-Kubra
  3. Fadhail Ash-Shahabah
  4. Al-Mujtaba
  5. Tafsir an-Nasa'i

Tutup Usia

250px-%D9%82%D8%A8%D8%B1_%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%85%D8%A7%D9%85_%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%B3%D8%A7%D8%A6%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%85%D9%84%D8%A9-%D9%81%D9%84%D8%B3%D8%B7%D9%8A%D9%86.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Makam An-Nasa'i.

Setahun menjelang kemangkatannya, dia pindah dari Mesir ke Damsyik. Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggal dia. Al-Daruqutni mengatakan, dia di Makkah dan dikebumikan di antara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-`Uqbi al-Mishri.

Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam al-Nasa`i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Yunus, Abu Ja`far al-Thahawi (murid al-Nasa`i) dan Abu Bakar al-Naqatah. Hal ini disebabkan karena ia dipukuli di Damaskus akibat perselisihan isi kitabnya berkaitan dengan konflik Muawiyah-Ali.[1] Menurut pandangan terakhir ini, Imam al-Nasa`i meninggal pada tahun 303 H/915M dan dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina.

Abad ke-3 H
Imam Asy-Syafi'i (wafat 204 H)   Imam Ahmad (wafat 241 H)   Imam Bukhari (wafat 256 H)   Imam Abu Dawud (wafat 275 H)   Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H)   Syeikh Juneid al-Bagdadi (wafat 298 H)
Abad ke-4 H
Imam An-Nasa'i (wafat 303 H)   Abu Hasan al Asy'ari (wafat 324 H)   Ibnul Haddad (wafat 345 H)   Ar-Razi (wafat 347 H)   Ibnul Qathan (wafat 359 H)   Ibnul Bahran (wafat 361 H)   Al-Qaffal al-Kabir (wafat 366 H)   Ad-Daruquthni (wafat 385 H)   Al-Isma'ili (wafat 392 H)   Al-Qadhi Al-Jurjani (wafat 392 H)   As-Susi (wafat 396 H)   Ibnu Laal (wafat 398 H)
Abad ke-5 H
Al-Lalika'i (wafat 416 H)   Al-Mawardi (wafat 450 H)   Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)
Abad ke-6 H
Imam Al-Ghazali (wafat 505 H)   Imam Al-Baghawi (wafat 516 H)   Ibnu Asakir (wafat 576 H)   Abu Syuja (wafat 593 H)
Abad ke-7 H
Al-Mundziri (wafat 656 H)   Imam An-Nawawi (wafat 676 H)   Imam Ar-Rafi'i (wafat 623 H)   Ibnu Malik (wafat 672 H)   Al-Baidhawi (wafat 691 H)   Syaikh Ibrahim ad Dasuqi (wafat 696 H)   Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H)
Abad ke-8 H
Ibnu Katsir (wafat 774 H)   Ibnu Daqiq al-Ied (wafat 702 H)   Quthbuddin asy-Syirazi (wafat 710 H)   Taqiyuddin as-Subki (wafat 756 H)   Az-Zarkasyi (wafat 794 H)
Abad ke-9 H
Ibnu Al-Mulaqqin (wafat 804 H)   Ibnu Ruslan (wafat 844 H)   Ibnu Hajar Al 'Asqalani (wafat 852 H)   Jalaluddin al-Mahalli (wafat 864 H)   Imamul Kamiliyah (wafat 874 H)
Abad ke-10 H
Jamaluddin An-Nasyiri (wafat 911 H)   Imam As-Suyuthi (wafat 911 H)   Jalaluddin al-Karaki (wafat 912 H)   Ibnu Abi Syarif (wafat 923 H)   Abul Fatah al-Mishri (wafat 963 H)   Hasanuddin (wafat 964 H)   Ibnu Qassim al-'Ubaidi (wafat 994 H)   Mirza Makhdum (wafat 995 H)
Abad ke-11 H
Nuruddin al-Raniri (wafat 1068 H)   Syamsuddin as-Syaubari (wafat 1069 H)   Syihabuddin al-Qaliyubi (wafat 1070 H)   Abdul Birri al-Ajhuri (wafat 1070 H)   Al-'Urdli (wafat 1071 H)   Ibnu Jamal al-Makki (wafat 1072 H)   Al-Qinai (wafat 1073 H)   Ibrahim al-Marhumi (wafat 1073 H)   Muhammad al-Bathini (wafat 1075 H)   Muhammad al-Kurani (wafat 1078 H)   Ibrahim al-Maimuni (wafat 1079 H)   Abdul Qadir as-Shafuri (wafat 1081 H)   Ibnu Jam'an (wafat 1083 H)   Ibrahim al-Khiyari (wafat 1083 H)   Al Kurdi (wafat 1084 H)   'Al al-Ayyubi (wafat 1086 H)   Muhammad al-Bakri (wafat 1087 H)   Abdul Rauf al-Fanshuri (wafat 1094 H)
Abad ke-12 H
Abdullah bin Alawi al-Haddad (wafat 1123 H)   Muhammad al-Kurani (wafat 1145 H)   Al 'Ajaluni (wafat 1148 H)   Hasan al-Bani (wafat 1148 H)   As-Safar Jalani (wafat 1150 H)   Ad-Diri (wafat 1151 H)   As-Suwaidi (wafat 1143 H)   Zainuddin ad-Dirbi (wafat 1155 H)   Al-Busthami (wafat 1157 H)   Athaulah al-Azhari (wafat 1161 H)
Abad ke-13 H
Abdus Shamad al-Falimbani (wafat 1203 H)   Muhammad Arsyad al-Banjari (wafat 1227 H)   Al-Yamani (wafat 1201 H)   Ahmad al-Khalifi (wafat 1209 H)   Al-Baithusyi (wafat 1211 H)   At-Takriti (wafat 1211 H)   Ibnu Jauhari (wafat 1215 H)  Ad-Damanhuri (wafat 1221 H)
Abad ke-14 H
Abdul Karim Tebuwung (wafat 1313 H)   Nawawi al-Bantani (wafat 1315 H)   Ahmad Khatib al-Minangkabawi (wafat 1334 H)   Muhammad Saad Munqa (wafat 1339 H)   Syeikh Muhammad Saleh al-Minankabawi (wafat 1351 H)   Syeikh Khatib 'Ali (wafat 1353 H)   Muhammad Jamil Jaho (wafat 1360 H)   Hasjim Asy'ari (wafat 1367 H)   Abdul Wahid Tabek Gadang (wafat 1369 H)   Musthafa Husein al-Mandili (wafat 1370 H)   Dimyathi Syafi'ie (wafat 1378 H)   Abdul Qadir bin Abdul Mutalib al-Mandili (wafat 1385 H)   Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (wafat 1388 H)   Habib Salim bin Djindan (wafat 1389 H)   Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1390 H)   Abdul Wahab Hasbullah (wafat 1391 H)   Al-Habib Ali bin Husein al-Attas (wafat 1396 H)
Abad ke-15 H
Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani (wafat 1410 H)   Muhammad Zaini Abdul Ghani (wafat 1426 H)   Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa (wafat 1434 H)   Sahal Mahfudz (wafat 1435 H)   Wahbah al-Zuhayli (wafat 1436 H)
Cetak tebal adalah yang sangat terkemuka di zamannya, metode penentuan abad seorang ulama dengan tahun kematiannya, Lihat Panduan Penggunaan
  1. 1 2 3 4 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692
  2. Amin, Ahmad Syadzirin (1989). Mengenal ajaran Tarjumah Syaikh H. Ahmad Rifa'ie Rh. dengan madzhab Syafi'i dan i'tiqad ahlissunnah wal jama'ah. Jamaah Masjid Baiturrahman.
  3. an-Nasa’i), Abu Abdurrahman Ahmad (Imam (2023-01-05). Sunan an-Nasai jilid 1. Gema Insani. ISBN 978-623-458-146-1.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan