 Ahalya adalah salah satu anggota Pancakanya, lima tokoh perempuan teladan dalam mitologi Hindu. Berbagai sastra Hindu mengisahkan legenda tentang pernikahannya dengan Maharesi Gotama, godaan Indra (raja para dewa) pascanikah, kutukan suami atas ketidaksetiaannya, serta pembebasannya dari kutukan tersebut oleh Dewa Rama. Diciptakan oleh dewa Brahma sebagai wanita berparas paling jelita, Ahalya dinikahkan dengan Gotama yang usianya jauh lebih tua. Dalam versi yang paling awal dikisahkan bahwa ketika Indra datang menyamar sebagai suaminya, Ahalya mengetahui hal itu tapi tetap menerima rayuannya. Versi-versi yang muncul belakangan kerap menceritakannya luput dari kesalahan, dengan menggambarkannya sebagai korban tipu muslihat Indra. Dalam semua versi, Ahalya dan Indra dikutuk oleh Gotama. Kutukan tersebut bervariasi antara satu kitab dengan kitab lainnya, tapi hampir seluruh versi mengisahkan Rama sebagai figur penting yang memberi kebebasan dan penebusan dosa baginya. Meskipun versi awal mengisahkan Ahalya harus menebus dosa dengan menjalankan tapa berat dalam kondisi tak kasatmata dan hanya dapat dibebaskan oleh Rama, dalam variasi-variasi yang berkembang seiring berjalannya waktu, Ahalya dikutuk menjadi batu dan kembali wujud semula setelah tersentuh kaki Rama. (Selengkapnya...) |
 Perjanjian Baljuna adalah sebuah sumpah yang diikrarkan pada pertengahan tahun 1203 oleh Temüjin—khan suku Mongol yang kemudian menjadi Jenghis Khan—dan sekelompok kecil sahabatnya, yang kemudian dikenal sebagai kaum Baljunatu. Temüjin membangun kekuatannya saat mengabdi pada khan suku Kereit, Toghrul, pada akhir abad ke-12. Pada awal tahun 1203, Toghrul diyakinkan oleh putranya, Senggum, bahwa usulan Temüjin mengenai aliansi pernikahan antara keluarganya dan keluarga mereka adalah upaya untuk merebut kekuasaan mereka. Setelah lolos dari dua penyergapan beruntun yang dilakukan oleh suku Kereit, Temüjin akhirnya terpojok dan berhasil dikalahkan secara komprehensif pada Pertempuran Gurun Pasir Qalaqaljid. Temüjin lalu mengumpulkan kembali sisa-sisa pasukannya yang tersebar dan mundur ke Baljuna, sebuah sungai atau danau yang belum teridentifikasi di tenggara Mongolia. Di sana, ia dan para sahabat terdekatnya bersumpah setia satu sama lain, berjanji untuk berbagi penderitaan dan kejayaan. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1206, setelah menaklukkan seluruh musuhnya di wilayah padang rumput, Temüjin mengambil gelar Jenghis Khan bagi dirinya sendiri dalam sebuah kurultai dan menganugerahi kaum Baljunatu dengan penghargaan tertinggi dari Kekaisaran Mongol barunya. (Selengkapnya...) |