Jumat, 09 Oktober 2026
17:12 WIB
TERKINI
Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah

Vaksin difteri

Bagikan:
Vaksin difteri
Deskripsi vaksin
TargetCorynebacterium diphtheriae
Jenis vaksintoksoid
Data klinis
MedlinePlusa607027
Rute
pemberian
Suntikan intramuskular
Kode ATC
Pengenal
ChemSpider
  • none
 ☒NcheckY (what is this?)  (verify)

Vaksin difteri merupakan vaksin yang diberikan untuk melawan Corynebacterium diphtheriae, yaitu bakteri yang menyebabkan penyakit difteri.[1] Penggunaannya telah mengurangi lebih 90% kasus difteri di seluruh dunia dari tahun 1980 hingga 2000.[2] Dosis pertama sebaiknya diberikan untuk bayi berusia enam minggu dengan dua dosis tambahan masing-masing dalam rentang waktu minimal empat minggu, dan selepas itu vaksin ini memiliki tingkat kemujaraban sebesar 95%.[2] Tiga dosis tambahan disarankan pada masa kanak-kanak.[2] Dosis penguat setiap sepuluh tahun tidak lagi disarankan.[2]

Vaksin difteri sangat aman.[2] Efek samping yang parah sangat jarang terjadi.[2] Rasa sakit mungkin muncul di tempat suntikan.[2] Benjol mungkin terbentuk di tempat suntikan yang berlangsung selama beberapa minggu.[3] Vaksin ini aman digunakan semasa hamil dan untuk mereka yang mempunyai fungsi imun yang lemah.[3]

Vaksin ini tersedia dalam bentuk vaksin gabungan,[4] termasuk gabungan dengan vaksin tetanus (dikenali sebagai vaksin dT atau DT) dan dengan vaksin tetanus dan pertusis yang dikenali sebagai vaksin DPT.[2] Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan penggunaannya semenjak tahun 1974.[2] Kira-kira 84% penduduk dunia sudah divaksinasi.[5] Vaksin ini disuntikkan ke dalam otot.[2] Vaksin ini perlu disimpan di tempat yang sejuk tetapi tidak dibekukan.[3]

Vaksin difteri dikembangkan pada tahun 1923.[6] Vaksin ini masuk ke dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia.[7] Biaya grosiran versi vaksin yang mengandungi vaksin tetanus di negara berkembang berkisar antara 0,12 hingga 0,99 dolar Amerika per dosis pada tahun 2014.[8] Di Amerika Serikat, harganya kurang daripada 25 dolar Amerika.[9]

Referensi

  1. ↑ "MedlinePlus Medical Encyclopedia: Diphtheria immunization (vaccine)". Diarsipkan dari asli tanggal Maret 2, 2009. Diakses tanggal 2009-03-07.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 "Diphtheria vaccine: WHO position paper- August 2017" (PDF). Weekly epidemiological record. 92: 417–436. Agustus 4, 2017. PMID 28776357. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal September 8, 2017.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 Atkinson, William (Mei 2012). Diphtheria Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Edisi 12). Public Health Foundation. hlm. 215–230. ISBN 9780983263135. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-09-15.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Centre for Disease Control and Prevention. "Diphtheria Vaccination". Department of Health and Human Services. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 November 2011. Diakses tanggal 8 November 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "Diphtheria". who.int. 3 September 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 27 Maret 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Macera, Caroline (2012). Introduction to Epidemiology: Distribution and Determinants of Disease. Nelson Education. hlm. 251. ISBN 9781285687148. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-03-05.
  7. ↑ "WHO Model List of Essential Medicines (19th List)" (PDF). World Health Organization. April 2015. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 13 Desember 2016. Diakses tanggal 8 Desember 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ "Vaccine, Diphtheria-Tetanus". International Drug Price Indicator Guide. Diakses tanggal 6 Desember 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Hamilton, Richart (2015). Tarascon Pocket Pharmacopoeia 2015 Deluxe Lab-Coat Edition. Jones & Bartlett Learning. hlm. 313. ISBN 9781284057560.
Ikon rintisan

Artikel bertopik kedokteran atau medis ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan