Senin, 12 Oktober 2026
19:45 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Rumpun bahasa Tibet

Rumpun bahasa Tibet

kelompok bahasa Bod yang dituturkan oleh suku Tibet di Dataran Tinggi Tibet Timur dan di wilayah utara anak benua India

Bagikan:
Tibet
Tibetik
Bod Tengah
WilayahTiongkok (Wilayah Otonom Tibet, Qinghai, Sichuan, Gansu, Yunnan); India (Ladakh, Sikkim, Uttarakhand, Himachal Pradesh, Arunachal Pradesh, Assam); Pakistan (Gilgit-Baltistan); Nepal; Bhutan
EtnisBangsa Tibet, Bhutan, Suku Sikkim, Ladakh, Ngalop, Sherpa, Jirel, Purigpa, Balti, Yolmo
Penutur
Bentuk awal
Kode bahasa
ISO 639-3–
Glottologoldm1245
Lokasi penuturan
500px-Tibet_provinces.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pembagian Daerah Budaya Tibet
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak

Rumpun bahasa Tibet adalah segala bahasa yang diturunkan dari bahasa Tibet Kuno (abad ke-7 M hingga ke-9 M).[1] Menurut Tournadre (2014), terdapat sekitar 50 bahasa, yang terbagi menjadi lebih dari 200 dialek atau dapat dikelompokkan menjadi 8 dialek yang saling bersambung.[1] Bahasa-bahasa ini dituturkan di Dataran Tinggi Tibet dan Pegunungan Himalaya yang mencakup wilayah Gilgit-Baltistan, Aksai Chin, Ladakh, Nepal, Himachal Pradesh, Uttarakhand, dan Bhutan. Bahasa Tibet Klasik adalah bahasa sastra utama, terutama untuk penggunaannya dalam keagamaan Buddha.

Bahasa Tibet dituturkan oleh sekitar 6 juta jiwa, tidak semuanya bersuku Tibet.[2] Dengan penyebaran Buddha Tibet di seluruh dunia, bahasa Tibet telah menyebar ke dunia barat dan dapat ditemukan di banyak naskah-naskah Buddha dan kitab doa; dengan beberapa siswa barat belajar bahasa untuk terjemahan naskah-naskah berbahasa Tibet. Di luar Lhasa sendiri, bahasa Tibet Lhasa dituturkan sebanyak 200.000 jiwa perantau di India dan penjuru dunia lainnya. Bahasa-bahasa Tibet juga dituturkan oleh suku minoritas di Tibet yang telah tinggal berdekatan dengan suku Tibet selama berabad-abad, tetapi tetap mempertahankan bahasa dan budaya jati mereka sendiri.

Meskipun beberapa masyarakat Qiang di Kham dikategorikan oleh Pemerintah Tiongkok sebagai bagian dari suku Tibet (lihat Rumpun bahasa Gyalrongik; Suku Gyalrong dikategorikan sebagai 'Tibet' di Tiongkok), tetapi bahasa Qiang dan serumpun terdekatnya bukanlah bagian dari Tibet, melainkan membentuk cabang tersendiri dalam rumpun bahasa Tibet-Burma.

Bahasa Tibet Klasik bukan bahasa bernada, tetapi bahasa turunannya seperti Tibet Tengah dan Tibet Kham telah mengembangkan pembeda nada. Bahasa Tibet Amdo dan Ladakh-Balti bukan juga bahasa bernada. Morfologi bahasa Tibet umumnya dapat digambarkan sebagai aglutinatif.

Asal

500px-The_origin_and_spread_of_the_Sino-Tibetan_language_family.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Setelah menerapkan metode perbandingan ke pangkalan data linguistik yang dikembangkan oleh Laurent Sagart pada tahun 2019 untuk mengenal persesuaian dan kata kerabat, metode filogenetika digunakan untuk menyimpulkan hubungan antara bahasa-bahasa ini dan memperkirakan usia asal dan urheimat leluhur dari rumpun bahasa ini.[3]

Marius Zemp (2018)[4] berhipotesis bahwa bahasa Tibet awalnya merupakan pidgin yang dipengaruhi oleh Zhangzhung dan bahasa-bahasa Himalaya Barat sebagai superstratum, serta Rgyalrongik sebagai substratum (dua bahasa tersebut juga merupakan bagian dari rumpun bahasa Sino-Tibet). Demikian pula, Tamangik juga merupakan superstratum Himalaya Barat, tetapi substratumnya dipengaruhi dari cabang Sino-Tibet lainnya.[1]

Penggolongan

250px-thumbnail.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta etnolinguistik Tibet.

Bahasa yang lebih berbeda dituturkan di utara dan timur, kemungkinan karena kontak bahasa dengan Qiangik, Rgyalrongik. Perbedaan yang ditunjukkan dalam bahasa Tibet Khalong mungkin juga karena peralihan bahasa. Selain itu, ada bahasa Baima, yang mempertahankan substratum Qiangik, dan memiliki beberapa lapisan serapan dari bahasa Tibet Amdo, Tibet Kham, dan Tibet Zhongu, tetapi tidak sesuai dengan cabang Tibet mana pun yang mapan.[5]

Dua bahasa Tibet utama yang digunakan untuk penyiaran di Tiongkok adalah Tibet Baku dan Tibet Amdo.

Tournadre (2014)

Tournadre (2014)[1] menggolongkan rumpun bahasa Tibet yang terdiri dari delapan kesinambungan dialek, yang terdiri lagi atas sekitar 50 bahasa dan 200 dialek. Penggolongan ini adalah versi terbaru dari karya ilmiahnya pada tahun 2008.[6] Cabang Timur dan Tenggara memiliki kesalingpahaman yang lebih rendah, tetapi lebih terbatas di cabang Barat Laut dan antara bahasa Tibet Kham. Kesinambungan dialek itu tersebar di lima negara dengan satu pengecualian, yatu Sangdam, sebuah dialek Tibet Kham di Kachin, Myanmar.

Tournadre (2005, 2008)

Tournadre (2005)[8] membagi rumpun bahasa Tibet sebagai berikut:

Bahasa-bahasa lainnya (Thewo-Chone, Zhongu, Khalong, Dongwang, Gserpa, Zitsadegu, Drugchu, Baima) tidak saling dipahami, sehingga tidak cukup dikenal untuk digolongkan.

Tournadre (2013) menambahkan Tseku dan Khamba sebagai bagian dari Kham, dan mengelompokkan Thewo-Chone, Zhongu, Baima sebagai cabang Tibet Timur.

Bradley (1997)

Menurut Bradley,[9] cabang-cabang bahasa dan dialek (rujukan dari Tibetan Dialects Project oleh Universitas Bern) sebagai berikut:

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 3 4 Tournadre, Nicolas. 2014. "The Tibetic languages and their classification." In Trans-Himalayan linguistics, historical and descriptive linguistics of the Himalayan area. Berlin: Mouton de Gruyter.
  2. ↑ Tournadre, Nicolas (2014). "The Tibetic languages and their classification". Dalam Owen-Smith, Thomas; Hill, Nathan W. (ed.). Trans-Himalayan Linguistics: Historical and Descriptive Linguistics of the Himalayan Area. De Gruyter. hlm. 103–129. ISBN 978-3-11-031074-0. (preprint)
  3. ↑ Sagart et al. (2019), hlm. 10319–10320.
  4. ↑ Zemp, Marius. 2018. On the origins of Tibetan. Proceedings of the 51st International Conference on Sino-Tibetan Languages and Linguistics (2018). Kyoto: Kyoto University.
  5. ↑ Katia Chirkova, 2008, "On the position of Báimǎ within Tibetan", in Lubotsky et al. (eds), Evidence and Counter-Evidence, vol. 2.
  6. ↑ Tournadre, Nicolas (2008). "Arguments against the Concept of 'Conjunct'/'Disjunct' in Tibetan" (PDF). Dalam B. Huber; M. Volkart; P. Widmer; P. Schwieger (ed.). Chomolangma, Demawend und Kasbek: Festschrift für Roland Bielmeier zu Seinem 65. Geburtstag, Vol. 1 (PDF). Halle: International Institute for Tibetan and Buddhist Studies. hlm. 282–283. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-07-20.
  7. ↑ Sun, Jackson T.-S. 2021. Gser-Rdo: A New Tibetic Language Across the Rngaba-Dkarmdzes Border.
  8. ↑ N. Tournadre (2005) "L'aire linguistique tibétaine et ses divers dialectes." Lalies, 2005, n°25, p. 7–56
  9. ↑ Bradley (1997)

Daftar pustaka

Pranala luar

Himalaya bagian barat
(Himachal, Uttarakhand, Nepal, Sikkim)
Magarik Raya
Himalaya bagian timur
(Tibet, Bhutan, Arunachal)
Myanmar dan perbatasan India-Myanmar
"Naga"
Sal
Asia Timur dan Tenggara
Burma-Qiangik
(independen, isolat, atau diragukan) (?)
Siangik Raya
(kelompok yang diusulkan)
Bahasa proto
  • Huruf miring menunjukkan bahasa tunggal yang juga dianggap sebagai cabang yang terpisah.
  • Huruf tebal menunjukkan rumpun bahasa yang memiliki penutur lebih dari 5 juta jiwa.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan