Rabu, 28 Oktober 2026
05:54 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Tentara permanen

tentara permanen, terkadang profesional

Bagikan:

Tentara permanen, adalah tentara selamanya yang sering kali profesional dan tidak seperti pasukan cadangan. Tentara permanen terdiri dari tentara penuh waktu (yang bisa jadi tentara karier atau wajib militer) dan tidak dibubarkan selama masa damai. Tentara permanen berbeda dengan pasukan cadangan yang terdaftar untuk jangka panjang, tetapi hanya diaktifkan selama perang atau bencana alam, dan berbeda pula dengan tentara sementara, yang diambil dari penduduk sipil hanya selama perang atau adanya ancaman perang dan dibubarkan begitu perang atau ancaman berakhir. Istilah tentara permanen berasal dari sekitar tahun 1600, meskipun fenomena yang digambarkannya jauh lebih tua.[1]

Sejarah

Sejarah kuno

Mesopotamia

Raja Tiglath-Pileser III dari Asyur (berkuasa 745–727 SM) menciptakan pasukan permanen pertama Asyur.[2][3] Tiglath-Pileser III membubarkan milisi dan sebagai gantinya membayar tentara profesional atas jasa mereka. Tentaranya terdiri dari pasukan besar Asyur tetapi dilengkapi dengan tentara bayaran asing dan negara bawahan. Tentara tetap yang ia ciptakan adalah institusi administratif dan ekonomi paling canggih pada masanya, dan merupakan mesin perekonomian Asyur yang memanfaatkan peperangan.[4]

Yunani kuno

Tentara permanen pertama yang diketahui di Eropa berada di Yunani kuno. Laki-laki Sparta kuno berfungsi sebagai tentara permanen, tidak seperti semua negara-kota (polis) lainnya, yang pasukannya adalah milisi warga. Keberadaan populasi Helot yang diperbudak membebaskan Sparta dari kebutuhan untuk bekerja mencari nafkah, memungkinkan mereka untuk memfokuskan waktu dan energi mereka pada pelatihan bela diri. Philip II dari Makedonia melembagakan tentara profesional pertama, dengan tentara dan kavaleri yang dibayar untuk layanan mereka sepanjang tahun, daripada milisi pria yang kebanyakan mencari nafkah dengan bertani dan kadang-kadang dikumpulkan untuk kampanye pertempuran.[5]

Romawi kuno

Di bawah pemerintahan Augustus, kaisar Romawi pertama, pasukan profesional terbentuk di Kekaisaran Romawi yang secara bertahap dilembagakan, dengan gaji yang teratur. Kekuatan profesional legiun ini mahal untuk dipertahankan, tetapi mendukung otoritas kekaisaran, tidak hanya sebagai pasukan tempur tetapi juga sebagai pasukan polisi provinsi, insinyur Romawi, dan penjaga.[6] Para legiun adalah sukarelawan dari warga negara yang berhak atas hadiah bebas setelah 25 tahun menjalani masa dinas dengan terhormat; pasukan pelengkap legiun adalah auxilia, pasukan tambahan yang terdiri dari non-warga di provinsi yang biasanya memperoleh kewarganegaraan sebagai hadiah atas masa tugasnya.[6]

Sejarah setelah zaman klasik

Kekaisaran Ottoman

Tentara permanen modern pertama di Eropa adalah Yanisari dari Kekaisaran Ottoman yang dibentuk pada abad ke-14.[7][8]

Spanyol

Tercio Kekaisaran Spanyol adalah merupakan unit berdiri Spanyol pertama yang terdiri dari tentara profesional. Komposisi tombak dan tembakan memastikan dominasi di medan perang Eropa dari abad ke-16 hingga paruh pertama abad ke-17. Walaupun kekuatan lainnya menerapkan formasi tercio, pasukan mereka tidak sebanding dengan reputasi Spanyol yang menakutkan, yang di mana initi dari pasukan profesional memberikan mereka sebuah ujung yang negara lainnya sulit untuk ditandingi.[9]

Kerajaan Majapahit

Thalasokrasi Majapahit dicatat oleh pengamat Tiongkok dengan mempunyai 30,000 pasukan profesional permanen, yang prajurit dan komandannya dibayar emas. Hal in menunjukkan keberadaan sebuah tentara tetap, sebuah keberhasilan yang hanya dapat dicapai oleh segelintir kerajaan di Asia Tenggara.[10]: 185 [11]: 467  Sebagai tambahan untuk tentara-tentara permanen ini, Majapahit diperkuat oleh pasukan dari negara-negara bawahan dan para pemimpin daerah.[12]: 277  Seperti yang lazim terjadi di Asia Tenggara, Majapahit juga menerapkan sistem retribusi, nyatanya pasukan Majapahit mayoritas adalah retribusi.[13]: 111–113 

Referensi

  1. ↑ Standing army, Dictionary.com; accessed 2012.03.22.
  2. ↑ Howard, Michael (2002). Transnationalism in Ancient and Medieval Societies: The Role of Cross-Border Trade and Travel. McFarland. hlm. 36. ISBN 978-0786468034. Diakses tanggal 21 Maret 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Schwartzwald, Jack (2014). The Ancient Near East, Greece and Rome: A Brief History. McFarland. hlm. 24. ISBN 978-0786478064.
  4. ↑ Axelrod, Alan (2019-08-26). 100 Turning Points in Military History (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-4930-3746-9.
  5. ↑ Roy, Kaushik (2015-06-03). Warfare in Pre-British India – 1500 BCE to 1740 CE (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 9781317586913.
  6. 1 2 Christopher J. Fuhrmann, Policing the Roman Empire: Soldiers, Administration, and Public Order (Oxford University Press, 2012), pp. 104–05, 239–40.
  7. ↑ Lord Kinross (1977). Ottoman Centuries: The Rise and Fall of the Turkish Empire. New York: Morrow Quill Paperbacks, 52. ISBN0-688-08093-6.
  8. ↑ Goodwin, Jason (1998). Lords of the Horizons: A History of the Ottoman Empire. New York: H. Holt, 59,179–181. ISBN0-8050-4081-1.
  9. ↑ Lynch, John. The Hispanic World in Crisis and Change, 1578–1700 Cambridge: Blackwell, 1992. Page 117.
  10. ↑ Miksic, John M. (2013). Singapore and the Silk Road of the Sea, 1300-1800. NUS Press. ISBN 9789971695583.
  11. ↑ Miksic, John N.; Goh, Geok Yian (2017). Ancient Southeast Asia. London: Routledge.
  12. ↑ Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. ISBN 981-4155-67-5.
  13. ↑ Oktorino, Nino (2020). Hikayat Majapahit - Kebangkitan dan Keruntuhan Kerajaan Terbesar di Nusantara. Jakarta: Elex Media Komputindo. ISBN 978-623-00-1741-4.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan