Sabtu, 07 November 2026
12:19 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Yanisari

Yanisari

Pasukan elit milik Kesultanan Utsmaniyah (1363-1826)

Bagikan:
Janissari
Tentara Baru
250px-Battle_of_Vienna.SultanMurads_with_janissaries.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aktif1363–1826 (1830 untuk Algier)
Aliansi Kekaisaran Ottoman
Tipe unitInfantri
Jumlah personel1,000 (1400)
Ibu pejabat[butuh rujukan]Adrianople (Edirne), Constantinople (Istanbul)
PelindungHajji Bektash Wali
Warna seragamBiru, Merah dan Hijau
PertempuranPertempuran Kosovo, Pertempuran Nicopolis, Pertempuran Ankara, Pertempuran Varna, Pertempuran Chaldiran, Pertempuran Mohács, Pengepungan Vienna, Penaklukan Konstantinopel, dan lain-lain
Tokoh
PertamaMurad I
TerakhirMahmud II

Yanisari (berasal dari Turki Utsmaniyah: يڭيچرى (yeniçeri) yang berarti "pasukan baru") adalah anggota unit infanteri elit yang membentuk pasukan Sultan Utsmani, pengawal, dan tentara permanen modern pertama di Eropa.[1] Nama ini diberikan oleh seorang ulama mukmin pada masa kesultanan Orkhan yang bernama Haji Baktasy. Pasukan ini adalah infanteri atau pasukan reguler yang dibentuk dari pasukan para mujahid serta para pemimpin dan komandan Romawi yang masuk Islam untuk siap siaga dalam medan pertempuran juga kedamaian serta sebagai pengawal pribadi sultan Utsmaniyah. Pasukan ini didirikan pada masa kesultanan yang kedua yaitu kesultanan Orkhan Bin Utsman/Osman anak dari Sultan Ertugrul. Pasukan ini muncul pada abad ke-14.

Asal Muasal

Yanisari dapat dilacak hingga kepada era rezim Orkhan penguasa Ottoman Kedua .[2] Dari tahun 1327-an hingga ke tahun 1360 sistem perekrutan dilakukan melalui sistem Islami.

Kisah Yanisari dimulai sebagai sekelompok elit budak yang terdiri dari anak-anak lelaki Kristen yang diambil oleh kesultanan atau dipersembahkan oleh keluarganya agar di beri kehidupan mulia dan kemudian masuk Islam (rata rata Syiah Alawiyah), yang dikenal dengan sistem devşirme dan menjadi terkenal karena jiwa korsa yang terbentuk dengan disiplin dan ketertiban. Berbeda dengan budak seperti umumnya, mereka dibayar secara teratur. Yanisari boleh menikah dan terlibat dalam perdagangan, tetapi mereka diharapkan mempunyai loyalitas penuh kepada sultan. Yanissari dikenal terutama karena kemampuan memanahnya, tetapi pada abad ke-16 mereka juga menjadi kontingen daya tembak yang tangguh. Namun pada abad ke-17, karena peningkatan kebutuhan akan pasukan Utsmaniyah secara drastis maka kebijakan rekrutmen korps yang awalnya ketat menjadi longgar. Warga sipil membeli jalan untuk menjadi yanisari demi mendapatkan manfaat peningkatan status sosial ekonomi kepada yanisari. Akibatnya, korps secara bertahap kehilangan karakter militernya, menjalani proses yang digambarkan sebagai 'sipilisasi'.[3] Korps Yanissari dihapuskan oleh Sultan Mahmud II pada tahun 1826 setelah 135.000 yanisari memberontak terhadap sultan. Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan ada 6.000 yanisari lebih yang dieksekusi. [4]

Referensi

  1. ↑ Balfour & Kinross 1977, hlm. 52. sfn error: tanpa target: CITEREFBalfourKinross1977 (bantuan)
  2. ↑ Kafadar, Cemal (2019). Muhammad Al Fatih. Ali Muhammad Ash Salabi Press. hlm. 71. ISBN 978-602-6563-82-4.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: checksum
  3. ↑ Ágoston, Gábor (2014). "Firearms and Military Adaptation: The Ottomans and the European Military Revolution, 1450–1800". Journal of World History. 25: 119–20.
  4. ↑ Balfour & Kinross 1977, hlm. 456-457. sfn error: tanpa target: CITEREFBalfourKinross1977 (bantuan)

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Janissaries.


Ikon rintisan

Artikel bertopik militer ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan