Minggu, 27 September 2026
10:22 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Zaman Taishō

Zaman Taishō

Bagian dari seri artikel mengenai
Sejarah Jepang
330px-Emperor-Go-Daigo-by-Ogata-Gekko-1904.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Periode
Paleolitiksebelum 14.000 SM
Jōmon14.000–300 SM
Yayoi300 SM – 250 M
Kofun250–538
Asuka538–710
Nara710–794
794–1185
1185–1333
1336–1573
1573–1603
1603–1868
1868–1912
1912–1926
Shōwa 1926–1989
1989–2019
2019–sekarang
"Taisho" dan "Taishō" dialihkan ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Taisho (disambiguasi).

Zaman Taishō (大正) atau Periode Taishō (30 Juli 1912–25 Desember 1926) adalah salah satu nama zaman pemerintahan Kaisar Jepang sewaktu Kaisar Taishō (Yoshihito) memerintah Jepang, sesudah zaman Meiji dan sebelum zaman Shōwa. Kaisar Yoshihito tidak berada dalam kondisi kesehatan yang baik, sehingga terjadi pergeseran kekuatan politik dari negarawan senior (genrō) ke Parlemen Jepang dan partai-partai politik. Oleh karena itu, periode ini juga disebut masa gerakan liberal yang disebut demokrasi Taishō. Istilah demokrasi Taishō dipakai untuk membedakan periode ini dari kekacauan zaman Meiji dan paruh pertama zaman Shōwa ketika Jepang jatuh ke dalam militerisme.

Peninggalan zaman Meiji

Setelah Kaisar Meiji wafat pada 30 Juli 1912, Putra Mahkota Yoshihito naik takhta sebagai Kaisar Jepang yang baru dan dimulai zaman baru yang disebut zaman Taishō. Akhir zaman Taishō ditandai dengan besarnya investasi pemerintah di dalam negeri dan luar negeri, serta proyek-proyek pertahanan yang hampir menguras kas negara, dan kurangnya devisa untuk membayar utang.

Di bidang kebudayaan, pengaruh kebudayaan Barat yang dirasakan Jepang pada zaman Meiji terus berlanjut. Kobayashi Kiyochika menerapkan gaya-gaya lukisan barat untuk ukiyo-e, sementara Okakura Kakuzō terus mempertahankan seni lukis tradisional Jepang. Mori Ōgai dan Natsume Sōseki ditugaskan belajar di negara Barat, dan membawa pulang pemikiran yang lebih modern.

Restorasi Meiji tahun 1868 tidak hanya membawa perubahan besar dalam bidang ekonomi dan politik di Jepang, namun tanpa harus menjadi korban kolonialisme seperti halnya negara-negara lain di Asia. Selain itu, Restorasi Meiji juga meletakkan landasan bagi pemikiran-pemikiran baru di Jepang seiring dengan perkembangan sosialisme dan proletarianisme di dunia internasional. Kalangan sayap kiri mengumandangkan tuntutan hak suara universal bagi laki-laki, kesejahteraan sosial, hak-hak buruh, dan unjuk rasa tanpa kekerasan. Penindasan kegiatan sayap kiri di Jepang menyebabkan aksi sayap kiri yang semakin radikal, dan berakibat pemerintah mengambil tindakan yang makin keras. Peristiwa ini berpuncak dengan dibubarkannya Partai Sosialis Jepang (日本社会党 Nihon Shakaitō) hanya setahun setelah partai ini didirikan pada tahun 1906 dan menandai kegagalan gerakan sosialis.

Awal zaman Taishō ditandai oleh krisis politik 1912-1913. Ketika Saionji Kinmochi mencoba memotong anggaran militer, Menteri Angkatan Darat mengundurkan diri, dan berakibat pada jatuhnya kabinet Rikken Seiyūkai. Yamagata Aritomo dan Saionji keduanya menolak untuk meneruskan jabatan mereka. Para negarawan senior (genrō) juga tidak dapat menemukan pemecahan masalah. Kemarahan publik atas manipulasi kabinet yang dilakukan militer, dan dipanggil kembalinya Katsura Tarō sebagai Perdana Menteri untuk ketiga kalinya membuat rakyat menuntut diakhirinya permainan politik para genrō. Walaupun ditentang oleh politikus yang ingin mempertahankan sistem lama, kalangan konservatif membentuk sebuah partai politik sendiri pada tahun 1913. Partai politik konservatif yang diberi nama Rikken Dōshikai tersebut memenangi mayoritas kursi parlemen pada akhir 1914 dari Rikken Seiyūkai.

Pada 12 Februari 1913, Yamamoto Gonbei menggantikan Katsura Tarō sebagai perdana menteri Jepang. Pada April 1914, Ōkuma Shigenobu diangkat sebagai perdana menteri sebagai pengganti Yamamoto.

Rujukan

Jepang

Artikel bertopik Jepang ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan