Minggu, 04 Oktober 2026
03:33 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Cool Japan

Bagikan:

Cool Japan (クールジャパン, Kūru Japan, arti harfiah: Jepang Keren), bersama "Gross National Cool" (Kekerenan Nasional Bruto) adalah ungkapan baru yang diciptakan pada tahun 2002 untuk mengekspresikan status Jepang yang sedang berkembang menjadi adikuasa budaya. Istilah ini diekspos secara luas oleh media massa dan akademisi. Merek Cool Japan telah diadopsi oleh Pemerintah Jepang beserta badan-badan perdagangan yang bermaksud mengomersialkan industri budaya Jepang. Konsep Cool Japan diartikan sebagai salah satu bentuk kekuasaan lunak, yakni "kemampuan untuk secara tidak langsung memengaruhi perilaku dan minat melalui cara-cara ideologis atau budaya."[1][2]

Asal usul

Dalam sebuah artikel berjudul "Japan's Gross National Cool" yang diterbitkan di Foreign Policy pada tahun 2002, Douglas McGray menulis tentang "reinventing superpower" (perekaciptaan ulang adikuasa) oleh Jepang seiring dengan pengaruh budayanya yang meluas secara internasional, meskipun di negara tersebut terjadi masalah politik dan ekonomi yang dikenal sebagai "dekade yang hilang". Setelah melakukan survei terhadap budaya remaja dan peran manga, anime, busana, film, elektronika konsumen, arsitektur, masakan, J-pop, dan fenomena kawaii seperti Hello Kitty, McGray menyoroti kekuasaan lunak, dan mengajukan pertanyaan mengenai pesan apa yang akan disampaikan oleh negara ini. Ia juga berargumentasi kalau resesi Jepang mungkin telah mendorong kekerenan nasionalnya, sehubungan telah diragukannya sebagian dari kekakuan hierarki sosial yang lama dan jalur karier di perusahaan besar.[3][4][5]

Pengadopsian

Setelah disorot media internasional, termasuk harian New York Times yang memuat retrospeksi "Year in Ideas: Pokemon Hegemon" (Tahun Ide: Hegemoni Pokemon),[6] pejabat pemerintah dan pemimpin bisnis di Jepang sadar pembaruan yang jumlahnya makin bertambah, mulai membicarakan soal "kekerenan nasional bruto" negara tersebut dan mengadopsi slogan tidak resmi "Cool Japan".[7][8][9] Pada konferensi pers tahun 2005, Menteri Luar Negeri Jepang menghubungkan ide Cool Japan dengan konsep Bhutan mengenai kebahagiaan nasional bruto.[10]

Frasa Cool Japan mendapat sorotan lebih besar pada pertengahan tahun 2000-an setelah NHK memulai seri Cool Japan Hakkutsu: Kakkoii Nippon! yang ketika berakhir pada tahun 2009 telah mencapai lebih dari seratus episode.[11] Di antara inisiatif akademik termasuk pendirian proyek riset "Cool Japan" di Massachusetts Institute of Technology,[12] sementara beberapa universitas di Barat melaporkan bahwa terjadi peningkatan dalam jumlah calon mahasiswa Kajian Jepang akibat dampak "Jepang keren".[13]

Kritik

Membandingkan budaya populer Jepang dengan fenomena Amerika seperti McDonald's, McGray berargumentasi bahwa budaya pop Jepang tampak dangkal sebagai pembanding,[3] sementara kepala Badan Urusan Kebudayaan Jepang tidak menyokong konsep [Cool Japan] ini.[14] McGray juga menggarisbawahi sulitnya kuantifikasi,[3] sementara akademisi telah menyelidiki kesulitan inheren yang dialami pembuat kebijakan dalam "penyediaan secara selektif" produk-produk budaya untuk tujuan nasional dan diplomasi budaya.[15]

Sebaliknya, sebuah editorial di harian Yomiuri Shimbun pada tahun 2010 menyatakan Pemerintah Jepang tidak berbuat cukup dalam memajukan kepentingan bisnis negara, membiarkan munculnya Korea Selatan sebagai kompetitor. Editorial tersebut juga menyoroti inefisiensi struktural dengan adanya Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri mempromosikan Cool Japan, sementara Kementerian Luar Negeri mengurusi pertukaran budaya, dan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengurusi promosi makanan Jepang.[16][17][18] Dosen Roland Kelts juga telah menyatakan bahwa kegagalan dalam sepenuhnya membedakan, memberi merek, dan mengikutsertakan partisipan dan pasar di luar Jepang dapat berarti "tamatnya" Cool Japan.[19][20]

Linimasa berbagai upaya penting

2013

Pendirian Cool Japan Fund Inc. berdasarkan Undang-Undang Cool Japan Fund Inc. (Undang-Undang No. 51 Tahun 2013).

2014

Kerajinan tradisional Jepang dipamerkan di Maison & Objet, pameran dagang terbesar di dunia untuk produk dan desain interior, guna mempromosikan budaya manufaktur Jepang.[21] WakuWaku Japan, saluran televisi satelit Jepang yang menyiarkan program-program Jepang bagi pemirsa luar negeri di Asia.[22] Saluran ini didirikan melalui usaha patungan dengan penyiar SKY Perfect JSAT, yang memberikan kontribusi sebesar ¥6,6 miliar dari total modal ¥11 miliar. Namun, saluran tersebut tidak berhasil memperluas jangkauannya ke berbagai pasar maupun memperoleh jumlah penonton yang signifikan, sehingga mengalami kerugian yang mencapai hampir ¥4 miliar hingga tahun 2017.[23]

2015

METI memperkenalkan Nippon Quest, sebuah platform daring yang bertujuan memperkenalkan berbagai produk khas dari daerah-daerah di Jepang yang masih belum banyak dikenal oleh masyarakat dunia.[24]

2016

Isetan The Japan Store merupakan hasil kerja sama dengan Isetan yang bertujuan mendirikan toserba berlantai lima di Kuala Lumpur, Malaysia. Toko tersebut didirikan untuk mempromosikan berbagai produk dan layanan dari Jepang.[22] Namun, rendahnya permintaan menyebabkan usaha ini mengalami kerugian sekitar US$4,5 juta. Akibatnya, seluruh saham Cool Japan Fund kemudian dijual kepada Isetan Mitsukoshi Holdings.[25]

2018

Investasi pertama yang dilakukan setelah pergantian manajemen sebesar US$12,5 juta ditanamkan pada Tastemade dengan status sebagai pemegang saham minoritas. Investasi tersebut ditujukan untuk mendukung produksi konten yang mempromosikan kuliner dan berbagai destinasi wisata di Jepang.[26]

Kantor promosi industri kreatif

Pemerintah Jepang telah mengidentifikasi industri budaya sebagai salah satu dari lima bidang pertumbuhan potensial.[27] Pada Juni 2010, Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri mendirikan kantor baru bernama Kantor Promosi Industri Kreatif yang bertugas memajukan industri kreatif dan industri budaya sebagai sektor strategis "di bawah konsep tunggal, jangka panjang Cool Japan, mengoordinasikan berbagai fungsi badan pemerintah, dan bekerja sama dengan sektor swasta."[28] Komite Promosi Cool Japan didirikan pada 26 Februari 2013. Komite ini bertugas mempertimbangkan arah kebijakan "Strategi Cool Japan" yang memasarkan budaya khas Jepang seperti anime, permainan video, dan konten lainnya, serta makanan Jepang. Ketua Komite ini bernama Tomomi Inada. Anggota komite dari nonpolitikus di antaranya Produser AKB48 Yasushi Akimoto dan perancang busana Junko Koshino, dan Sen Sōshitsu (iemoto) dari Urasenke.[29]

Wakil kepala Kantor Promosi Industri Kreatif menjelaskan misinya dalam "memasang merek pada produk-produk Jepang dengan keunikan budaya Jepang".[14][30] Untuk tahun 2011, kantor ini memiliki anggaran belanja ¥19 miliar.[30] Pada tahun fiskal 2008, belanja publik Korea Selatan untuk aktivitas budaya sebesar ¥116,9 miliar; RRC ¥477,5 miliar, sedangkan Jepang hanya ¥101,8 miliar, atau secara berturut-turut 0,79%, 0,51%, and 0,12% dari total belanja pemerintah.[14]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Yano, Christine R. (2009). "Wink on Pink: Interpreting Japanese Cute as It Grabs Global Headlines". The Journal of Asian Studies. 68 (3). Cambridge University Press: 681–688 [683]. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Nagata, Kazuaki, "Exporting culture via 'Cool Japan'[pranala nonaktif permanen]", The Japan Times, 15 May 2012, p. 3
  3. 1 2 3 McGray, Douglas (1 Mei 2002). "Japan's Gross National Cool". Foreign Policy. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-12-16. Diakses tanggal 11 September 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ McGray, Douglas (1 Mei 2002). "Japan's Gross National Cool (harus berlanggangan)". Foreign Policy. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Allison, Anne (5 Oktober 2007). "J-brand: What image of youth is getting sold in Japan's "gross national cool"?" (PDF). University of California, Berkeley. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-02-17. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Talbot, Margaret (15 Desember 2002). "The Year in Ideas; Pokemon Hegemon". The New York Times. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "Japan counts on cool culture". BBC. 13 Desember 2004. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Faiola, Anthony (27 Desember 2003). "Japan's Empire of Cool". Washington Post. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)
  9. ↑ Frederick, Jim (4 Agustus 2003). "Forget about salarymen, gridlocked politics and zombie corporations". Time. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2004-04-03. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ "Press Conference 27 September 2005 - III". Ministry of Foreign Affairs of Japan. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ ""Cool Japan" Goes Global" (PDF). Government of Japan. November 2009. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-03-23. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ "Cool Japan Research Project". Massachusetts Institute of Technology. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Corbyn, Zoe (5 Oktober 2007). ""Cool Japan" suffers from cruel cuts". The Times. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. 1 2 3 "Promoting "Cool Japan"". The Japan Times. 15 Agustus 2010. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)
  15. ↑ Daliot-Bul, Michal (2009). "Japan Brand Strategy: The Taming of "Cool Japan" and the Challenges of Cultural Planning in a Postmodern Age". Social Science Japan Journal. 12 (2): 247–266. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ "Time to capitalise on "Cool Japan" boom". Yomiuri Shimbun. 30 Agustus 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2011-07-04. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ "South Korea, China overtaking Japan in "cool" culture battle". Asahi Shimbun. 26 Juli 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2010-07-28. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. ↑ Yasumoto, Seiko (2006). "Japan and Korea as a Source of Media and Cultural Capital" (PDF). University of Sydney. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ Kelts, Roland (17 Mei 2010). "Japanamerica: Why "Cool Japan" is over". 3:AM Magazine. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ Kelts, Roland (5 Juni 2010). "The Politics of Popular Culture - Panel 2" (PDF). Temple University. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2010-12-31. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. ↑ "Traditional Japanese Crafts will be Showcased to the World as a Result of the Cool Japan Initiative". 経済産業省 Ministry of Economy, Trade and Industry. Diakses tanggal 27 Februari 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. 1 2 "After four years Cool Japan is Y4.4 bil in the hole and continuing to show few results". Japan Today. 4 Mei 2018. Diakses tanggal 28 Oktober 2018.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. ↑ Yuta Saito (6 November 2017). "Cool Japan Fund's big ambitions mostly fall flat". Nikkei Asian Review. The Nikkei. Diakses tanggal 28 Oktober 2018.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. ↑ "METI to Start NIPPON QUEST". 経済産業省 Ministry of Economy, Trade and Industry. Diakses tanggal 27 Februari 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. ↑ "Cool Japan Fund drops Malaysia store". newsonjapan.com. 12 Juni 2018. Diakses tanggal 28 Oktober 2018.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. ↑ Yuji Nitta (24 Oktober 2018). "Cool Japan Fund invests $12.5m in Tastemade food video service". Nikkei Asian Review. The Nikkei. Diakses tanggal 28 Oktober 2018.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. ↑ Amano, Tomomichi (14 Juni 2010). "How to Promote "Cool Japan"". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. ↑ "Establishment of the Creative Industries Promotion Office". Ministry of Economy, Trade and Industry. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-09-04. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  29. ↑ "クールジャパン会議新設 秋元康氏らを民間議員に起用". Sponichi Annex. 2013-2-26. Diakses tanggal 2013-07-15.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  30. 1 2 Mackay, Mairi (19 November 2010). "Can Japan profit from its national "cool"?". CNN. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-04-08. Diakses tanggal 18 Maret 2011.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan