Senin, 12 Oktober 2026
06:05 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka

Sulfonilurea

Bagikan:

Sulfonilurea adalah salah satu golongan obat antidiabetik oral (ADO) yang digunakan untuk pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2, yang tidak dapat dikontrol hanya dengan diet dan latihan fisik.[1] Sulfonilurea telah digunakan untuk pengobatan diabetes melitus tipe 2 sejak tahun 1950-an.[2]

Sejarah

Sulfonilurea ditemukan pada tahun 1942, ketika ahli kimia Marcel Janbon dan kawan-kawannya mengamati bahwa beberapa sulfonamida menghasilkan hipoglikemia pada hewan percobaan. Dari pengamatan ini, karbutamid (1-butil-3-sulfonilurea) disintesis. Karbutamid adalah sulfonilurea pertama yang digunakan untuk mengobati diabetes, tetapi kemudian ditarik dari pasaran karena efeknya yang merugikan pada sumsum tulang.[3]

Mekanisme kerja

Golongan obat ini bekerja dengan merangsang sekresi insulin dari granul sel-sel β Langerhans pankreas. Rangsangannya melalui interaksinya dengan ATP-sensitive K channel pada membran sel-sel β yang menimbulkan depolarisasi membran dan akan membuka kanal Ca sehingga ion Ca++ akan masuk sel β, merangsang granula yang berisi insulin dan terjadilah sekresi insulin dengan jumlah yang seimbang dengan peptida-C. Oleh karena itu, golongan obat ini bisa disebut sebagai insulin secretagogues. Pada penggunaan jangka panjang atau dosis besar dapat menyebabkan hipoglikemia.[1]

Golongan

Dikenal 2 generasi sulfonilurea, generasi pertama terdiri dari tolbutamid, tolazamid, asetoheksimid, dan klorpropamid.[1]

Sedangkan, generasi kedua yang memiliki efek hipoglikemik lebih besar yaitu glibenklamid/gliburid, glipizid, gliklazid, glimepirid, dan glikuidon.[4]

Efek samping

Pada generasi pertama, insidens efek samping yang timbul sekitar 4%, dan lebih rendah untuk generasi kedua. Efek samping lain yaitu hipoglikemia hingga koma. Reaksi ini lebih sering terjadi pada pasien usia lanjut dengan gangguan fungsi hepar atau ginjal terutama pada pemakaian jangka panjang, dan dapat disebabkan karena dosis yang tidak tepat.[1]

Reaksi alergi yang jarang terjadi yaitu mual, muntah, diare, gejala hematologik, susunan saraf pusat, mata, dan sebagainya. Gejala hematologik seperti leukopenia dan agranulositosis. Gejala susunan saraf pusat berupa vertigo, bingung, ataksia, dan sebagainya.[1]

Efek samping lain yaitu gejala hipotiroidisme, ikterus obstruktuf, yang bersifat sementara dan lebih sering timbul akibat klorpropamid.[1]

Interaksi

Obat yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia sewaktu penggunaan sulfonilurea yaitu insulin, alkohol, fenformin, sulfonamida, salisilat dosis besar, fenilbutazon, oksifenbutazon, probenesid, dikumarol, kloramfenikol, penghambat MAO, guanetidin, steroid anabolik, fenfluramin, dan klofibrat.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 Suherman, Suharti K (2016). Farmakologi dan Terapi Edisi 6. Jakarta: FKUI. hlm. 499–501. ISBN 9789791610414.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Decroli, Eva (2019). Diabetes Melitus Tipe 2. Padang: FK Unand. hlm. 34. ISBN 9786021332252.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Sola, Daniele; Rossi, Luca; Schianca, Gian Piero Carnevale; Maffioli, Pamela; Bigliocca, Marcello; Mella, Roberto; Corlianò, Francesca; Fra, Gian Paolo; Bartoli, Ettore (2015-08-12). "Sulfonylureas and their use in clinical practice". Archives of Medical Science : AMS. 11 (4): 840–848. doi:10.5114/aoms.2015.53304. ISSN 1734-1922. PMC 4548036. PMID 26322096.
  4. ↑ Andrajati, Retnosari (2008). ISO Farmakoterapi. Jakarta Barat: PT. ISFI. hlm. 28–29. ISBN 9789791851411.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)


Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan