Minggu, 04 Oktober 2026
00:16 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Klaim luar biasa memerlukan bukti luar biasa

Klaim luar biasa memerlukan bukti luar biasa

Bagikan:
250px-Sagan_large.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Carl Sagan, tampak di sini bersama model pendarat Viking, memopulerkan aforisme tersebut.

"Klaim luar biasa memerlukan bukti luar biasa" (bahasa Inggris: "Extraordinary claims require extraordinary evidence", kadang disingkat ECREE),[1] yang juga dikenal sebagai standar Sagan, adalah sebuah aforisme yang dipopulerkan oleh komunikator sains Carl Sagan. Ia menggunakan frasa tersebut dalam bukunya tahun 1979, Broca's Brain, dan dalam program televisi tahun 1980, Cosmos. Frasa ini digambarkan sebagai hal yang mendasar bagi metode ilmiah dan dianggap merangkum prinsip-prinsip dasar skeptisisme ilmiah.

Konsep ini serupa dengan pisau cukur Occam karena kedua heuristik tersebut lebih menyukai penjelasan yang lebih sederhana mengenai suatu fenomena dibandingkan penjelasan yang lebih rumit. Dalam penerapannya, terdapat beberapa ambiguitas mengenai kapan suatu bukti dianggap cukup "luar biasa". Prinsip ini sering kali digunakan untuk mempertanyakan data dan temuan ilmiah, atau untuk mengkritik klaim pseudosains. Beberapa kritikus berpendapat bahwa standar ini dapat menekan inovasi dan memperkuat bias konfirmasi.

Filsuf David Hume menggambarkan prinsip ini dalam esainya tahun 1748, "Of Miracles". Pernyataan serupa pernah disampaikan oleh tokoh-tokoh seperti Thomas Jefferson pada tahun 1808, Pierre-Simon Laplace pada tahun 1814, dan Théodore Flournoy pada tahun 1899. Formulasi "klaim luar biasa memerlukan pembuktian luar biasa" pernah digunakan setahun sebelum Sagan oleh seorang skeptis ilmiah, Marcello Truzzi.

Penerapan

Sebuah perdebatan menarik telah berlangsung di dalam [Federal Communications Commission] antara mereka yang berpikir bahwa semua doktrin yang berbau pseudosains harus dilawan dan mereka yang percaya bahwa setiap masalah harus dinilai berdasarkan bobotnya masing-masing, tetapi beban pembuktian harus ditanggung sepenuhnya oleh mereka yang mengajukan usulan tersebut. Saya mendapati diri saya berada di kelompok yang kedua. Saya percaya bahwa hal yang luar biasa tentu harus dikejar. Namun, klaim luar biasa memerlukan bukti luar biasa.[a]

Carl Sagan dalam bukunya tahun 1979, Broca's Brain[2]

Aforisme "klaim luar biasa memerlukan bukti luar biasa", menurut psikolog Patrizio Tressoldi, "berada di jantung metode ilmiah, dan menjadi model untuk berpikir kritis, pemikiran rasional, dan skeptisisme di mana saja".[3][4][5] Frasa ini juga digambarkan sebagai "prinsip mendasar dari skeptisisme ilmiah".[6] Frasa ini sering digunakan dalam konteks klaim paranormal dan pseudosains lainnya.[7][8][9] Prinsip ini juga sering kali diajukan dalam literatur ilmiah untuk mempertanyakan proposal penelitian,[10] seperti spesies baru tapir Amazon,[6] pewarisan biparental DNA mitokondria,[11] atau "mega-tsunami" Holosen.[12]

Konsep ini berkaitan dengan pisau cukur Occam karena, menurut heuristik tersebut, penjelasan yang lebih sederhana lebih disukai daripada penjelasan yang lebih rumit. Hanya dalam situasi di mana bukti luar biasa itu ada, sebuah klaim luar biasa dapat menjadi penjelasan yang paling sederhana.[7] Prinsip ini juga muncul dalam pengujian hipotesis, di mana hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada bukti bagi fenomena yang diajukan—yang dikenal sebagai "hipotesis nol"—lebih diutamakan. Argumen formalnya melibatkan pemberian prior Bayesian yang lebih kuat terhadap penerimaan hipotesis nol dibandingkan dengan penolakannya.[13]

Asal-usul dan pendahulu

Potret filsuf David Hume
Filsuf David Hume mungkin menjadi orang pertama yang secara penuh menguraikan prinsip-prinsip dari standar Sagan.

Komunikator sains Carl Sagan memopulerkan aforisme ini dalam bukunya tahun 1979, Broca's Brain,[2][14] dan dalam acara televisi tahun 1980-nya, Cosmos, yang merujuk pada klaim tentang kunjungan makhluk luar angkasa ke Bumi.[15] Sagan pertama kali menyatakan standar eponim tersebut dalam sebuah wawancara tahun 1977 dengan The Washington Post.[16] Namun, skeptis ilmiah Marcello Truzzi menggunakan formulasi "klaim luar biasa memerlukan pembuktian luar biasa" dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Parapsychology Review pada tahun 1975,[16] serta dalam artikel Zetetic Scholar pada tahun 1978.[17] Dua artikel pada tahun 1978 mengutip fisikawan Philip Abelson—saat itu menjabat sebagai editor jurnal Science—yang menggunakan frasa yang sama dengan Truzzi.[18][19]

Dalam esainya tahun 1748, "Of Miracles", filsuf David Hume menulis bahwa jika "fakta tersebut ... mengandung unsur luar biasa dan menakjubkan ... bukti tersebut ... mengalami pengurangan, besar atau kecil, sebanding dengan seberapa tidak biasanya fakta tersebut".[20] Deming menyimpulkan bahwa ini merupakan penguraian lengkap pertama dari standar tersebut. Berbeda dengan Sagan, Hume mendefinisikan hakikat dari kata "luar biasa": ia menulis bahwa yang dimaksud adalah magnitudo bukti yang besar.[20][21]

Tokoh-tokoh lain juga telah mengemukakan gagasan yang sangat serupa. Quote Investigator mengutip pernyataan serupa dari Benjamin Bayly (pada tahun 1708), Arthur Ashley Sykes (1740), Beilby Porteus (1800), Elihu Palmer (1804), dan William Craig Brownlee (1824).[16] Cendekiawan Prancis Pierre-Simon Laplace, dalam esai-esai (1810 dan 1814) tentang stabilitas Tata Surya, menulis bahwa "bobot bukti untuk sebuah klaim yang luar biasa harus seimbang dengan keanehannya".[5][16] Thomas Jefferson dalam sebuah surat tahun 1808 menyampaikan skeptisisme kontemporer terhadap meteorit sebagai berikut: "Ribuan fenomena tampak setiap hari yang tidak dapat kita jelaskan, tetapi ketika fakta-fakta yang diajukan tidak memiliki analogi dengan hukum alam yang kita ketahui sejauh ini, kebenarannya memerlukan bukti-bukti yang sebanding dengan tingkat kerumitannya."[22][23]

Analisis dan kritik

Sagan tidak menjelaskan parameter konkret atau kuantitatif mengenai apa yang menyusun "bukti luar biasa", yang menimbulkan pertanyaan apakah standar ini dapat diterapkan secara objektif.[5][14][24] Akademisi dan penentang perubahan iklim David Deming mencatat bahwa "tidak mungkin mendasarkan semua pemikiran rasional dan metodologi ilmiah pada sebuah aforisme yang maknanya sepenuhnya subjektif". Ia justru berpendapat bahwa "bukti luar biasa" harus dianggap sebagai jumlah bukti yang cukup, alih-alih bukti yang dianggap berkualitas luar biasa.[25] Tressoldi mencatat bahwa ambang batas bukti biasanya ditentukan melalui konsensus. Masalah ini kurang terlihat dalam kedokteran klinis dan psikologi, di mana hasil statistik dapat menentukan kekuatan bukti.[5]

Deming juga mencatat bahwa standar ini dapat "menekan inovasi dan mempertahankan ortodoksi".[25] Pakar lain, seperti Etzel Cardeña, mencatat bahwa banyak penemuan ilmiah yang memicu pergeseran paradigma pada awalnya dianggap "luar biasa" dan kemungkinan tidak akan diterima secara luas jika bukti luar biasa diwajibkan.[26][27] Penolakan seragam terhadap klaim-klaim luar biasa dapat memperkuat bias konfirmasi di sub-sub bidang ilmiah.[27] Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa ketika diterapkan secara tidak konsisten, standar ini memperburuk bias rasial dan gender.[28] Psikolog Richard Shiffrin berpendapat bahwa standar ini tidak boleh digunakan untuk menghalangi publikasi penelitian, melainkan untuk memastikan apa penjelasan terbaik bagi suatu fenomena.[29] Sebaliknya, psikolog matematis Eric-Jan Wagenmakers menyatakan bahwa klaim luar biasa sering kali salah dan publikasinya "mencemari literatur".[30] Untuk memberi kualifikasi pada publikasi klaim-klaim tersebut, psikolog Suyog Chandramouli menyarankan penilaian sejawat mengenai kelayakannya atau kurasi terlampir dari evaluasi sejawat pascapublikasi.[27]

Ilmuwan kognitif dan peneliti kecerdasan buatan Ben Goertzel percaya bahwa frasa tersebut digunakan sebagai "meme retoris" tanpa pemikiran kritis. Filsuf Theodore Schick berpendapat bahwa "klaim luar biasa tidak memerlukan bukti luar biasa" jika klaim tersebut memberikan penjelasan yang paling memadai.[9] Selain itu, penganut teisme dan apologet Kristen seperti William Lane Craig berpendapat bahwa tidak adil untuk menerapkan standar ini pada mukjizat keagamaan, karena klaim-klaim lain yang kecil kemungkinannya sering kali diterima hanya berdasarkan bukti kesaksian yang terbatas, seperti seseorang yang mengaku memenangkan lotre.[31][32]

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Kutipan asli: An interesting debate has gone on within the [Federal Communications Commission] between those who think that all doctrines that smell of pseudoscience should be combated and those who believe that each issue should be judged on its own merits, but that the burden of proof should fall squarely on those who make the proposals. I find myself very much in the latter camp. I believe that the extraordinary should certainly be pursued. But extraordinary claims require extraordinary evidence.

Referensi

Sitasi

  1. ↑ Kaufman (2012), hlm. 124.
  2. 1 2 Sagan (1979), hlm. 62.
  3. ↑ Kiely et al. (2019), hlm. 1475.
  4. ↑ Lineweaver (2022).
  5. 1 2 3 4 Tressoldi, hlm. 1.
  6. 1 2 Voss et al. (2014), hlm. 893.
  7. 1 2 Smith (2011)
  8. ↑ Tressoldi, hlm. 1–3.
  9. 1 2 Evidence for Psi (2015), hlm. 292.
  10. ↑ McMahon (2020), hlm. 117.
  11. ↑ Salas et al. (2020).
  12. ↑ Pinter et al. (2008), hlm. 37–38.
  13. ↑ Matthews (2010), hlm. 6.
  14. 1 2 Deming (2016), hlm. 1320.
  15. ↑ Sagan (1980), 0:01:24.
  16. 1 2 3 4 Quote Investigator (2021).
  17. ↑ Truzzi (1978), hlm. 11.
  18. ↑ U.S. News & World Report (1978), hlm. 41–42.
  19. ↑ Rao (1978), hlm. 41–42.
  20. 1 2 Deming (2016), hlm. 1328.
  21. ↑ Pigliucci (2013), hlm. 500.
  22. ↑ Berkes (2008).
  23. ↑ "Letter to Daniel Salmon".
  24. ↑ The Library of Congress.
  25. 1 2 Deming (2016), hlm. 1319–1320.
  26. ↑ Cardeña (2018), hlm. 673.
  27. 1 2 3 Shiffrin et al. (2021), hlm. 266.
  28. ↑ Shiffrin et al. (2021), hlm. 272.
  29. ↑ Shiffrin et al. (2021), hlm. 265.
  30. ↑ Shiffrin et al. (2021), hlm. 265–266.
  31. ↑ Larmer (2015), hlm. 125.
  32. ↑ Craig (2008) [1994], hlm. 273.

Karya yang dikutip

Buku

Artikel jurnal

Media lainnya

Pranala luar

Karier ilmiah
Carl Sagan
Buku
Sains
Fiksi
Media
Keluarga
Penghargaan Sagan
Pengakuan
Lainnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan