Selasa, 20 Oktober 2026
16:09 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari

Sri Jayawarsa

Bagikan:

Sri Jayawarsa merupakan seorang raja yang memiliki kerajaan (kekuasaan) otonom yang terletak di sekitar wilayah Madiun dan Ponorogo, Jawa Timur. Nama gelar abhisekanya ialah Sri Maharaja Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu.

Tidak diketahui dengan pasti kapan Sri Jayawarsa naik takhta. Peninggalan sejarahnya yang ditemukan adalah Prasasti Mruwak tahun 1108 (1186 M) Saka di Desa Mruwak Dagangan, Kabupaten Madiun berisi penetapan Desa Mruwak sebagai desa sima dan Prasasti Sirah Keting di Desa Sirah Keting, Ponorogo tahun 1126 Saka (1204 M), yang berisi pengesahan Desa Marjaya sebagai tanah perdikan atau sima swatantra.

Dalam Prasasti Sirah Keting lebih berani dalam menyebut gelar rajanya, yaitu dengan nama Sri Jayawarsa Digjaya Sasastraprabhu, Sri jayawarsa juga menyebutkan dirinya sebagai anak-cucu dari Sang Apanji Wijayamertawarddhana yang kemudian bergelar abhiseka sebagai Sri Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa. Jika melihat gelarnya yang mengandung unsur Iśāna Dharmawangsa Teguh adalah keturunan dari Mpu Sindok. Keterangan terkait Dharmawangsa Teguh mulai muncul dalam dasawarsa terakhir dari abad ke-10 Masehi dengan pusat kerajaan ada di sebelah utara Maospati, Kabupaten Madiun, Jawa timur (sekarang). Beberapa prasasti juga menyebutkan bahwa Raja Airlangga menyebut dirinya masih anggota keluarga dari Raja Dharmawangsa Teguh.

Dalam Prasasti Sirah Keting juga disebutkan adanya dampa blaḥ karajyan yang diartikan ‘pembagian tahta kerajaan’. Dengan demikian bila Śri Jayawarsa Digwijaya Śastraprabhu memperoleh tahta dari buyutnya, kerajaannya terpisah dari Kerajaan Kadiri, itu berarti buyut Śri Jayawarsa Digwijaya Śastraprabhu adalah anak-cucu satu-satunya dari Dharmawangsa Teguh dan itulah sebabnya kekuasaan Sri Jayawarsa Digwijaya Śastraprabhu terpisah dari Kadiri. Kekuasaan Śrī Jaya Prabhu atau Sri Jayawarsa Digwijaya Śastraprabhu ini semasa dengan Śrī Kameswara Triwikramāwatāra Aniwaryyawiryya Parākrama Digjayotungga Dewa yang merupakan raja dari Kerajaan Kadiri, terlepas dari kekuasaan Kadiri dan memiliki kerajaan (kekuasaan) otonom, yaitu terletak di wilayah sekitar Madiun dan Ponorogo, Jawa Timur (sekarang) meskipun kekuasaannya tidak sebesar Kerajaan Kadiri.

Nama Sri Jayawarsa juga di tulis dalam Kakawin Kresnayana dan Kakawin Sumanasantaaka. Mpu Triguna dalam epilog Kresnayana menjelaskan hubungannya dengan Sri Jayawarsa di umpamakan sebagai Mpu Kanwa dan Airlangga. Sedangkan Mpu Monaguna mempersembahkan Kakawin Sumanasantaka sebagai air suci berwujud puisi di bawah kaki raja.

Lihat pula


Referensi

1. http://satriotomo-gombal.blogspot.com/2015/11/prasasti-mruwak-dan-peradaban-purbakala.html?m=1

Kepustakaan

  • Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan