Minggu, 04 Oktober 2026
04:13 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Shiritori

Bagikan:

Shiritori (しりとり atau 尻取り, arti harfiah: mengambil bagian belakang) adalah permainan kata bahasa Jepang yang pemainnya secara bergiliran mengucapkan kata (nomina) yang dimulai dari kana (mora) terakhir dari kata yang diucapkan pemain sebelumnya. Permainan segala usia ini dimainkan oleh dua orang atau lebih.

Pemain dinyatakan kalah kalau mengucapkan kata yang berakhiran dengan n, seperti: kirin, raion, atau mikan. Pemain berikutnya tidak dapat melanjutkan karena kosakata bahasa Jepang tidak ada yang dimulai dengan konsonan nasal n.

Contoh: ringo りんご → gorira ゴリラ → rappa らっぱ → panda パンダ → dachou だちょう → ushi うし (sapi) → shika しか (rusa) → karasu からす → suzume スズメ → medamayaki めだまやき → kirin きりん.
Pemain yang mengucapkan "kirin" dinyatakan kalah.

Meskipun peraturan permainan ini pada prinsipnya sederhana, peraturan permainan dapat dibuat menjadi lebih terinci oleh kelompok orang yang memainkannya. Penafsiran mengenai mora terakhir dari sebuah kata juga dapat berbeda-beda.[1]

Peraturan dasar

  • Kata yang sudah diucapkan tidak boleh diulang.
  • Untuk versi resmi lengkap dari aturan permainan, lihat.[2]
  • Permainan dimulai oleh salah seorang peserta yang mengucapkan sebuah kata pilihannya (boleh dimulai dari kata apa saja), meski ada peraturan yang mengatakan permainan dimulai dengan kata shiritori.
  • Pemain kalah bila:
    • mengucapkan kata yang berakhir dengan mora n (ん) karena tidak ada kata dalam bahasa Jepang yang dimulai dengan konsonan nasal n (kata serapan yang dimulai dengan n diabaikan).
      Contoh: sakura (さくら) → rajio (ラジオ) → onigiri (おにぎり) → risu (りす) → sumou (すもう) → udon (うどん)
    • mengucapkan kata yang persis sama dengan kata yang sudah diucapkan sebelumnya, misalnya:
      neko ねこ → koi こい → ine いね → neko ねこ.
  • Nama diri tidak boleh dipakai.[1]
  • Bila sebuah kata berakhir dengan vokal panjang, maka mora terakhir adalah vokal terakhir atau diabaikan sama sekali:
    sutaa すたー dapat dilanjutkan tanuki タヌキ atau aisukurimu アイスクリーム
  • Kata yang berakhir dengan yōon/sokuon a, i, u, e, o, ya, yu, yo (ぁ、ぃ、ぅ、ぇ、ぉ、ゃ、ゅ、ょ) dapat dilanjutkan dengan あ、い、う、え、お、や、ゆ、よ atau aksara sebelumnya.
    kaisha かいしゃ → yakyuu やきゅう atau shachi シャチ

Peraturan lokal

  • Kata yang diucapkan dibatasi hanya pada topik tertentu, misalnya: nama bunga, nama binatang, nama stasiun kereta api, nama kota, atau nama negara.
  • Pemain kalah bila tidak dapat menemukan kata untuk diucapkan setelah waktu yang diberikan habis.
  • Nomina majemuk (frasa) yang dibentuk dengan bantuan to (... と ...) atau no (... の ...) tidak dipakai, kecuali telah menjadi kosakata kamus:[1]
sakura no ki (pohon sakura) tidak boleh dipakai, namun kodomo no hi (Hari Anak-Anak) atau nama hari libur lainnya boleh dipakai.
sutoobu ストーブ dapat dikuti dengan buranko ブランコ atau furuutsu フルーツ atau puuru プール.
  • Kata yang berakhiran dengan di ぢ dan du づ masing-masing dapat diganti dengan ji じ dan zu ず, misalnya: hanadi はなぢ 鼻血 (mimisan) dilanjutkan dengan jigoku じごく 地獄 (neraka).
  • Permainan dimulai kembali dengan tidak menyertakan pemain yang kalah.

Strategi

Pemain dapat mencecar pemain berikutnya dengan mengucapkan kata-kata berakhiran nu (ぬ), ri (り) dan ru (る). Hanya sedikit kata-kata dalam bahasa Jepang yang dimulai dengan ketiga mora tersebut, misalnya:[3]

  • nu ぬ: numa ぬま (rawa), nushi ぬし (tuan), nuno ぬの (kain), nugaa ヌガー (nougat), nuigurumi ぬいぐるみ (boneka kain)
  • ri (り): riku りく (darat), ringo りんご (apel), ryoushi りょうし (nelayan), rindou りんどう (jalan setapak), ryouri りょうり (masakan)
  • ru (る): rusu るす (absen), rubii ルビー (mirah), ruukii ルーキー (rookie), ruuretto ルーレット (roulette).

Referensi

  1. 1 2 3 Shinohara, Kazuko. "Designing Language Games" (PDF). Special Issue of Japanese Society for the Science of Design. 16–2 (62). Diakses tanggal 7 Oktober 2012.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Aturan resmi Shiritori (Bahasa Indonesia)
  3. ↑ "しりとりで勝ためのコツ". 100tenmaru. Ichishin. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-11-14. Diakses tanggal 2012-10-12.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan