Sabtu, 10 Oktober 2026
21:58 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober

Penyakit serum

Reaksi terhadap penyuntikan serum

Bagikan:

Penyakit serum adalah keadaan subakut dari reaksi anafilaksis.[1] Terjadi sebagai reaksi terhadap penyuntikan, misalnya penyuntikan serum antitetanus atau serum antidifteri.[1] Serum tersebut berasal dari kuda sehingga mengandung protein asing bagi tubuh manusia.[1] Gejala klinis dapat timbul beberapa menit, jam, atau 7-14 hari setelah penyuntikan serum tersebut.[1] Gejala yang timbul dapat berupa gatal (biasanya timbul di pinggang) dan edema angioneurotik (biasanya mengenai muka, bibir, lidah dan daerah rongga mulut).[1] Di samping itu dapat menyebabkan demam, radang sendi, dan bila mengenai susunan saraf pusat akan menimbulkan nyeri di kepala, gelisah, kejang-kejang, kesadaran menurun, sampai koma.[1] Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian antihistamin dan dapat ditambah dengan pemberian kortikosteroid.[1]

Penyebab

Protein di dalam tubuh salah mengenali antigen (protein dalam anti-serum) sebagai zat yang berbahaya.[2][3] Hal ini menyebabkan sistem imun memproduksi antibodi.[2] Lalu, antibodi tersebut mengikat antigen dan membangun lapisan sel di jantung, pembuluh darah, pembuluh getah bening dan rongga tubuh lainnya sehingga menyebabkan inflamasi.[2] Saat ini penyebab utama dari penyakit serum adalah antibiotik penisilin.[2] Penyebab lainnya adalah antibiotik yang mengandung sefalosporin, fluoksetin, obat tidur, aspirin, antiserum ular, dan sengatan lebah.[2]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 Ichtiar Baru Van Hoeve; Hassan Shadily. Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7 (edisi khusus). Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  2. 1 2 3 4 5 "Serum sickness". Diakses tanggal 20 Juni 2014.
  3. ↑ "Serum sickness". Diakses tanggal 20 Juni 2014.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan