Senin, 21 September 2026
05:26 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Wisnuwardhana

Wisnuwardhana

raja Tumapel

Wiṣṇuwardhana
Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana
(ꦯꦿꦶꦗꦪꦮꦶꦱ꧀ꦤꦸꦮꦂꦢ꧀ꦝꦤꦱꦁꦩꦥꦚ꧀ꦗꦶꦱꦺꦩꦶꦤꦶꦁꦫꦠ꧀ꦱꦿꦶꦱꦏꦭꦏꦭꦤꦏꦸꦭꦩꦝꦸꦩꦂꦢꦤꦏꦩꦭꦺꦏ꧀ꦱꦤ)
250px-013_King_Wisnuwardhana_%2838617993410%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Arca Amoghapasa perwujudan Wisnuwardhana sebagai Buddha Awalokiteswara dari Candi Jago, Tumpang, Malang.
Raja Singhasari ke 3
Berkuasa1248 - 1268
PendahuluAnusapati
PenerusKertanagara
LahirIstana Tumapel
Meninggal1270/1272
Istana Singhasari
Pemakaman
AyahAnusapati
PasanganJayawardhani
Keturunan
(dan lain-lain)
Nama lengkap
Nama takhta
narāryya sminiŋrāt śrī yawadwīpa samastarājā diwiśeṣānindita saṅgrāma parakrama digwijayāniwāryyawīryyasnahanāmottuṅgadewa
Nama anumerta
Bhaṭāra Parameśwara
WangsaRajasa
AgamaHindu-Buddha

Wisnuwardhana atau Jayawisnuwardhana (wafat: Singhasari, 1270/1272), bernama asli Seminingrat, adalah raja Kerajaan Tumapel yang kemudian terkenal dengan nama Kerajaan Singhasari. Ia memerintah pada tahun 1248 - 1268 bergelar Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana (menurut prasasti Maribong, 1248).

Versi Pararaton

Menurut Pararaton, nama asli Wisnuwardhana adalah Ranggawuni putra Anusapati putra Tunggul Ametung. Pada tahun 1249 Anusapati tewas oleh kudeta yang dilakukan adik tirinya, bernama Tohjaya putra Ken Arok dari selir Ken Umang.

Pada tahun 1250 Tohjaya dihasut pembantunya yang bernama Pranaraja supaya menyingkirkan kedua keponakannya, Ranggawuni dan Mahisa Campaka, yang dianggap bisa menjadi musuh berbahaya. Tohjaya kemudian memerintahkan pengawalnya, bernama Lembu Ampal untuk melaksanakan eksekusi.

Lembu Ampal gagal melaksanakan tugas karena kedua pangeran tersebut dilindungi oleh seorang pegawai istana bernama Panji Patipati. Karena takut mendapat hukuman dari Tohjaya, Lembu Ampal memilih bergabung dengan kelompok Ranggawuni.

Lembu Ampal kemudian melakukan adu domba di dalam tubuh angkatan perang Singhasari sehingga tercipta kekacauan. Karena tidak mampu mendamaikan kerusuhan tersebut, Tohjaya berniat menghukum mati para pemimpin tentaranya. Mendengar keputusan itu, para perwira segera bergabung dengan kelompok Ranggawuni, tentu saja atas ajakan Lembu Ampal.

Setelah mendapat dukungan dari kaum tentara, Ranggawuni dan Mahisa Campaka memberontak terhadap kekuasaan Tohjaya. Tohjaya terluka parah dan akhirnya meninggal dalam pelariannya di desa Katang Lumbang.

Setelah pemberontakan tersebut, Ranggawuni naik takhta menjadi raja Tumapel (raja Singhasari) bergelar Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya (raja Kadiri) bergelar Narasinghamurti. Adapun Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng, atau cucu Ken Arok.

Pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti diibaratkan dua ular dalam satu liang, dan dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian antara keluarga Tunggul Ametung dan keluarga Ken Arok.

Pemerintahan Wisnuwardhana berakhir tahun 1272, setahun setelah peresmian pelabuhan Canggu di daerah Mojokerto sekarang.

Versi Nagarakertagama

Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 juga menyebutkan adanya pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti yang diibaratkan seperti Wisnu dan Indra. Namun bedanya, Wisnuwardhana naik takhta menggantikan Anusapati tahun 1248, bukan menggantikan Tohjaya tahun 1250.

Berita dalam Nagarakretagama bahwa Wisnuwardhana naik takhta tahun 1248 terbukti dengan ditemukannya prasasti Maribong. Prasasti ini dikeluarkan oleh Wisnuwardhana pada tanggal 23 September 1248.

Pada tahun 1250, setelah mengalahkan Tohjaya, menurut prasasti Mula Malurung, Wisnuwardhana dan Narasinghamurti putra Parameswara, mempersatukan kembali Kerajaan Tumapel dengan Kadiri. Berita ini tidak pernah disinggung dalam Pararaton ataupun Nagarakretagama. Kiranya sepeninggal Ken Arok terjadi perpecahan yang menyebabkan Kadiri pisah dari Tumapel. Selain itu, prasasti Mula Malurung (1255) juga menyebutkan bahwa Tohjaya bukan raja Tumapel atau Singhasari, melainkan raja Kadiri.

Pada tahun 1252, menurut Nagarakretagama ataupun Pararaton mengisahkan Wisnuwardhana menghancurkan "pemberontakan Linggapati" di Mahibit.

Pada tahun 1254 Wisnuwardhana meresmikan Singhasari sebagai ibu kota Kerajaan Tumapel. Sebelumnya, nama ibu kota kerajaan ini adalah Kutaraja. Seiring berjalannya waktu, nama Kerajaan Singhasari justru lebih populer daripada Kerajaan Tumapel.

Pada tahun 1254 Wisnuwardhana juga mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai raja muda (yuwaraja) di Kediri.

Pada tahun 1268, Wisnuwardhana turun takhta, kemudian digantikan oleh anaknya, Kertanagara.

Berita dalam Nagarakretagama bahwa Kertanagara putra Wisnuwardhana naik takhta tahun 1254 terbukti keliru, karena dalam prasasti Mula Malurung pada tahun 1255 Kertanagara masih menjabat sebagai raja muda di Kadiri, sementara Tumapel atau Singhasari tetap dipimpin Wisnuwardhana. Mungkin yang dimaksud Kertanagara naik takhta tahun 1254 adalah sebagai yuwaraja (raja muda), bukan sebagai maharaja. Berdasarkan analisis bukti prasasti, Kertanagara sudah menjadi raja penuh sekitar tahun 1268. Prasasti-prasastinya yang berangka tahun 1267 masih menyebut Kertanagara sebagai raja muda. Wisnuwardhana sendiri akhirnya meninggal dunia tahun 1270.

Akhir Hayat

Tahun kematian Wisnuwardhana menurut Pararaton adalah 1272, sedangkan menurut Nagarakretagama adalah 1270. Kedua naskah menyebutkan Wisnuwardhana dicandikan di Waleri (Candi Mleri), Srengat, Blitar sebagai Siwa dan di Jajagu (Candi Jago) Tumpang, Malang sebagai Buddha.

Asal-usul dan Nama asli Wisnuwardhana

Nagarakretagama tidak menyebutkan siapa nama asli Wisnuwardhana. Nama Ranggawuni sendiri tidak pernah dijumpai dalam prasasti apa pun sehingga diduga merupakan nama ciptaan Pararaton.

Dalam Prasasti Mula Malurung (1255) disebutkan kalau ayah dari Kertanagara bernama Seminingrat. Nama Seminingrat juga ditemukan dalam Prasasti Maribong (1248) sebagai nama lain Wisnuwardhana. Selain itu dalam tafsir Prof. Slamet Muljana, Prasasti Mula Malurung juga menyebutkan kalau ibu Kertanagara bernama Waning Hyun (putri Bhatara Parameswara) yang merupakan sepupu Seminingrat sendiri. Dalam Prasasti Wurare (1289), Kertanagara menyebut ibunya bernama Jayawardhani. Jadi, nama Jayawardhani merupakan gelar resmi dari Waning Hyun.

Namun hal ini dapat disanggah karena tidak ada penyebutan bahwa hubungan Seminingrat dan Waning Hyun adalah suami-istri. Adapun terjemahan asli dari kutipan teks prasasti di atas ialah: “serta pada saat pembangunan [candi untuk] paman beliau sekaligus menjadi mertua beliau. Yaitu yang meninggal di kebun agung. Ayahnya Narārya Waning Hyun. Kakeknya anak beliau. Yaitu Śrī Kṛtānagara.” Kata “beliau” dalam kalimat di atas merujuk kepada Narārya Smining Rāt, yaitu raja yang mengeluarkan prasasti Mūla-Malurung.

Artinya, tokoh yang meninggal di kebun agung adalah paman sekaligus mertua Narārya Smining Rāt, serta kakek dari anak Narārya Smining Rāt yang bernama Śrī Kṛtānagara. Sementara itu, Narārya Waning Hyun hanya disebut sebagai anak tokoh yang meninggal di kebun agung, tanpa menyebut hubungannya dengan Narārya Smining Rāt. Dalam kamus Jawa Kuno – Inggris yang disusun P.J. Zoetmulder (1982) dibantu S.O. Robson, tertulis arti kata “narārya” ialah “noble among men” (yang mulia di antara para laki-laki). Gelar “narārya” adalah gabungan dari kata “nara” dan “ārya”.

Berdasarkan bukti prasasti tersebut, dapat disimpulkan bahwa, nama asli Wisnuwardhana adalah "Seminingrat", sedangkan Ranggawuni hanyalah nama ciptaan pengarang Pararaton. Dan juga disimpulkan bahwa Nararya Waning Hyun bukanlah istri Seminingrat dan Ibu dari Kertanegara.

Kepustakaan

  • R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan. Yogyakarta: LKIS
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  • Poesponegoro, M.D. dkk. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Hadi Sidomulyo. 2007. Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca. Cetakan pertama. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.


Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Anusapati
Raja Tumapel / Singhasari
1248—1268
Diteruskan oleh:
Kertanagara
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan