Kamis, 08 Oktober 2026
14:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Selat Muria

Selat Muria

bekas selat di Indonesia

Bagikan:
Selat Muria
330px-Selat_Muria_di_abad_ke-16.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Selat Muria pada masa Sultan Trenggana (1521–1546). Pada tahun 1657, selat ini telah menyusut atau menghilang.
osm-intl,10,a,a,264x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Selat_Muria&revid=28458552&groups=_c781506a500825bd9d8c31b07f2c64eb980c711a&parser=parsoid
Peta interaktif Selat Muria
Jenis perairanBekas selat
Aliran masuk utamaLaut Jawa
Aliran keluar utamaLaut Jawa
Terletak di negaraIndonesia
Kedalaman rata-rata0 meter (0 ft)
KepulauanKepulauan Sunda Besar

Selat Muria merupakan selat yang pernah ada dan menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Muria. Selat ini dulunya merupakan daerah perdagangan yang ramai, dengan kota-kota perdagangan seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana. Pada sekitar tahun 1657, endapan sungai yang bermuara di selat ini terbawa ke laut sehingga selat ini semakin dangkal dan menghilang, sehingga Pulau Muria menyatu dengan Pulau Jawa.[1]

Geografi

Selat Muria saat ini termasuk dalam dataran non-struktural utama, yang berarti bahwa diperkirakan pada suatu masa pada masa lalu, daerah tersebut merupakan lautan.[2]

Pulau Muria

Pada saat Selat Muria terdapat sebuah pulau yang bernama Pulau Muria. Bentang alam Pulau Muria sendiri terdiri dari Gunung Muria yang terletak di bagian tengah. Sedangkan di bagian selatan terdapat perbukitan Patiayam yang terbentuk dari aktivitas vulkanik Gunung Muria pada masa lampau (beberapa contohnya adalah Maar Bambang, Maar Gunungrowo, dan Maar Gembong).[3]

Catatan paleontologi menyatakan bahwa kawasan perbukitan Patiayam memiliki berbagai fosil kerbau purba (Bos bubalis paleokarbau), banteng (Bos bibos paleosondaicus, keluarga rusa/Cervidae (Cervus zwaani), keluarga babi hutan, gajah, gajah stegodon, kuda nil, harimau, kura-kura dan fosil-fosil moluska.[4]

Di pulau ini juga terdapat ibu kota kabupaten di pesisir utara Jawa, seperti Jepara, Kudus, dan Pati.

Daerah Bekas Selat Muria

  1. Kabupaten Kudus
  2. Kabupaten Jepara

Pelabuhan

Pada masanya di tepian Selat Muria terdapat pelabuhan-pelabuhan perdagangan dengan berbagai komoditas seperti kain tradisional dari Jepara, garam dan terasi dari Juwana, dan beras dari pedalaman Jawa dan Pulau Muria.[5] Selain itu, keberadaan selat tersebut juga menjadikan kawasan Selat Muria sebagai lokasi galangan kapal yang memproduksi kapal-kapal jukung Jawa yang terbuat dari kayu jati yang banyak ditemukan di Pegunungan Kendeng yang terletak di sebelah selatan selat.[6] Keberadaan industri galangan kapal menjadikan daerah ini lebih kaya dibandingkan dengan pusat Kerajaan Majapahit, sehingga daerah ini yang didominasi oleh para pedagang muslim yang dijuluki oleh Tomé Pires (penulis Portugis) sebagai "penguasa kapal jung".[7]: 182 

Pada awalnya, kawasan ini terdiri dari pelabuhan-pelabuhan kecil di sekitar selat dengan Demak sebagai pelabuhan utama, namun akibat konflik politik, komoditas yang berasal dari daerah sekitar Selat Muria (Pulau Muria dan Pegunungan Kendeng) bergeser ke Pelabuhan Sunda Kelapa.[8] Selain itu, sebuah laporan pada tahun 1657 menyatakan bahwa endapan fluvial dari sungai-sungai yang bermuara di Selat Muria seperti Sungai Serang, Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi mengakibatkan pendangkalan sehingga selat tersebut tidak dapat dilalui kapal-kapal besar. Pusat perdagangan pun dipindahkan ke Jepara.[9][10] Karena pendangkalan ini, Tumenggung Natairnawa dari Pati memerintahkan untuk menggali endapan di selat tersebut, tetapi endapan tersebut semakin lama semakin cepat menutup Selat Muria.[11] Pada masa-masa terakhir keberadaan Selat Muria terdapat sebuah saluran air yang dapat dilalui oleh perahu-perahu kecil yang sekarang disebut Kalilondo.

Kondisi saat ini

Sisa dari Selat Muria dapat dilihat dari sebuah sungai bernama Kali Londo yang membentang dari Juwana di sebelah timur hingga Ketanjung di sebelah barat.[12] Beberapa sungai juga terbentuk dari bekas Selat Muria seperti Sungai Silugonggo yang melintasi wilayah Kabupaten Pati.[13] Di daerah ini sering ditemukan bangkai-bangkai perahu, kapal, dan meriam yang menjadi bukti adanya selat di daerah ini.[14]

Selain itu, daerah yang dulunya merupakan Selat Muria ini sering dilanda banjir saat musim hujan.[15][16]

Referensi

  1. ↑ Dagh-register gehouden int Casteel Batavia: vant passerende daer ter plaetse als over geheel Nederlandts-India (1656-1657), hlm. 27 via www.sejarah-nusantara.anri.go.id
  2. ↑ Van Bemmelen, Reinout Willem (1949). Geology of Indonesia. Den Haag: Government Printing Office. ISBN 9789024711741.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal
  3. ↑ Masruri, Ahmad Bukhori (2021) [2021]. "Jati, Juwana, dan Jung Jawa: Geohistoris Pegunungan Kendeng dan Selat Muria". Dalam Masruri, Bukhori (ed.). Benantara, Bentang Alam dalam Gelombang Sejarah Nusantara (dalam bahasa Indonesia) (Edisi 1). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 82. ISBN 9786024816551.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  4. ↑ Siswanto; Noerwidi, Sofwan (2016). "Posisi Fauna Situs Patiayam dalam Biostratifigasi Jawa" (PDF). Jurnal Sangkhakala. 19 (2): 149–166. doi:10.24832/sba.v19i2.31. Diakses tanggal 16 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Cortesão, Armando (1944). The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512–1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515 volume I. London: The Hakluyt Society. ISBN 9784000085052.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  6. ↑ Masruri, Ahmad Bukhori (2021) [2021]. "Jati, Juwana, dan Jung Jawa: Geohistoris Pegunungan Kendeng dan Selat Muria". Dalam Masruri, Bukhori (ed.). Benantara, Bentang Alam dalam Gelombang Sejarah Nusantara (Edisi 1). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 82. ISBN 9786024816551.
  7. ↑ Cortesão, Armando (1944). The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512–1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515 volume I. London: The Hakluyt Society. ISBN 9784000085052.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  8. ↑ Singgih, Tri Sulistiyono.(2017). Peran Pantai Utara Jawa Dalam Jaringan Perdagangan Rempah, Dalam Rempah Mengubah Dunia, makalah elektronik, eprints.undip.ac.id/60531 diakses 27 Juni 2021.
  9. ↑ Cortesão, Armando (1944). The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512–1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515 volume I. London: The Hakluyt Society. ISBN 9784000085052.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  10. ↑ Tundjung; Hidayat, Arief (2018). "Politik Dinasti Dalam Perspektif Ekonomi Dari Kerajaan Demak". Alur Sejarah: Jurnal Pendidikan Sejarah. 3 (1). Diakses tanggal 16 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Dagh-register gehouden int Casteel Batavia: vant passerende daer ter plaetse als over geheel Nederlandts-India (1656-1657), hlm. 27 via www.sejarah-nusantara.anri.go.id
  12. ↑ "Selat Muria, Sejarah Yang Terlupakan". 8 Oktober 2017. Diakses tanggal 16 November 2021 – via aliansirakyatnews.com.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Fatimah, Nurul; Taufiq, Muhammad (2021). "Vitalitas Pelabuhan Juwana Sebagai Proses Perdagangan dan Islamisasi abad XVI-XVII". FIHROS: Jurnal Sejarah Dan Budaya STAI Syekh Jangkung Pati. 5 (1). Diakses tanggal 16 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ "Selat Muria, Sejarah Yang Terlupakan". 8 Oktober 2017. Diakses tanggal 16 November 2021 – via aliansirakyatnews.com.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ Rasyid, Shani (9 Februari 2021). "42 Desa di Pati Terendam Banjir, Ini 3 Faktanya". Diakses tanggal 16 November 2021 – via merdeka.com.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ Kusuma, Roy (22 Januari 2017). "Korban Banjir Bandang Wonosoco Ditemukan Tewas Di Kali Londo". Diakses tanggal 1 Januari 2020 – via radiosuarakudus.com.
Samudra
Laut
Selat
Teluk
Laguna
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan