Selasa, 27 Oktober 2026
06:42 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Sel badai

Sel badai

Bagikan:
Massa udara dengan arus vertikal naik dan turun dalam sirkulasi konvektif sebagai suatu kesatuanTemplat:SHORTDESC:Massa udara dengan arus vertikal naik dan turun dalam sirkulasi konvektif sebagai suatu kesatuan
250px-Storm_Cell_over_the_Gold_Coast.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sel badai di wilayah Queensland, Australia

Sel badai adalah suatu massa udara yang mengandung arus udara naik dan turun dalam sirkulasi konvektif serta bergerak dan bertindak sebagai satu kesatuan yang berfungsi sebagai bagian terkecil dari sebuah sistem atmosfer yang menghasilkan badai. Sekumpulan struktur awan guntur biasanya dipandang sebagai bentuk kumpulan sel badai dengan arus naik dan turunnya yang bersifat independen atau saling mempengaruhi.[1]

Ciri-ciri

Suatu sel badai dapat terlihat seperti awan kumulonimbus yang membentang seluas puluhan kilometer persegi dan dapat berlangsung dalam rentang waktu 30 menit atau lebih.[2] Saat arus udara naik dan geser angin di suatu wilayah berada dalam kondisi yang selaras, ukuran suatu sel badai dapat membesar dan umur sel badai dapat berdurasi lebih lama hingga menyebabkan terjadinya supersel.[3] Pergerakan yang lambat dari suatu atau sekumpulan sel badai dapat mengakibatkan curah hujan yang tinggi yang kemudian dapat memicu terjadinya banjir, banjir bandang, hujan es, bahkan angin puting beliung.[3] Selain itu, sel badai dapat terbentuk dari aliran keluar dari suatu sel badai sebelumnya yang dapat memicu sistem konvektif skala menengah atau badai guntur multisel.

Siklus hidup

250px-Typical_Lifecycle_of_a_Single_Cell_Thunderstorm.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Siklus hidup sebuah sel badai

Terdapat setidaknya tiga tahapan pertumbuhan suatu sel badai, yakni[2][3]

  • Fase pembentukan, arus vertikal naik meningkat tajam dan memicu kondensasi uap air dari massa udara yang naik. Fase ini membentuk awan kumulus kongestus yang kemudian matang menjadi awan kumulonimbus dengan kandungan kristal es di puncaknya yang kemudian menyebar secara horizontal saat berada di tropopause.
  • Fase kematangan, arus vertikal turun mulai terjadi dan di fase ini mulai muncul petir, guntur, hujan, dan pada kasus tertentu hujan es.
  • Fase peluruhan, kolam udara dingin di awan pada fase ini mulai turun menjalar ke permukaan bumi. Penurunan kolam udara dingin ini juga menjadi pemicu terhentinya arus vertikal naik.

Lihat pula

Rujukan

  1. ↑ "A Comprehensive Glossary of Weather Terms For Storm Spotters". NOAA Technical Memorandum NWS SR-145 (dalam bahasa Inggris). NOAA. Diakses tanggal 2020-02-19.
  2. 1 2 "Cell". Meteorological Glossary (dalam bahasa Inggris). American Meteorological Society. Diakses tanggal 2020-02-19.
  3. 1 2 3 "Cellule orageuse". Glossaire météorologique (dalam bahasa Prancis). Météo-France. Diakses tanggal 2020-02-19..
Ikon rintisan

Artikel bertopik meteorologi dan klimatologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan