Sabtu, 24 Oktober 2026
05:35 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Skafisme

Bagikan:

Skafisme, (bahasa Inggris:scaphism) juga dikenal sebagai perahu, adalah metode eksekusi kuno Persia yang dirancang untuk menimbulkan kematian yang menyiksa. Metode eksekusi ini telah dilaporkan dalam sumber-sumber sejarah. Namanya sendiri berasal dari bahasa Yunani σκάφη, skáphe, yang berarti "apapun yang menggali (atau dilubangi) keluar". Menurut sebuah sumber (yang mungkin tidak dapat diandalkan), eksekusi ini memerangkap korban di dalam dua kapal yang ditangkupkan, memberi mereka makan serta menutupinya dengan susu dan madu, kemudian membiarkannya dimakan oleh serangga dan tubuhnya membusuk oleh belatung.

Metode

Menurut Jacob F. Field dalam One Bloody Thing After Another: The World's Gruesome History. Korban yang dieksekusi ditelanjangi dan kemudian diikat kuat di dalam ruang interior dua perahu dayung sempit (atau batang pohon yang telah dilubangi) dan menangkupkan kedua perahu menutupi badan, dengan kepala, tangan dan kaki tetap bebas agar tetap hidup. Penerima hukuman mati dipaksa untuk menelan banyak susu dan madu untuk menginduksi diare pada terdakwa, lebih banyak madu akan dituangkan ke korban untuk menarik serangga. Madu dan susu terutama dituangkan pada pada mata, telinga, mulut, wajah, alat kelamin, dan anus. Dalam beberapa kasus, algojo akan mencampur susu dan madu serta menuang campuran itu ke seluruh tubuh korban. Korban kemudian dibiarkan mengambang di kolam kotor yang menggenang atau dibiarkan ditanah terkena sinar matahari. Kotoran manusia yang tak berdaya itu akan menumpuk di dalam wadah perahu tadi, menarik lebih banyak serangga yang akan makan dan berkembang biak di dalam daging korban yang terpapar—serangga yang menggali ke dalam tubuh mengakibatkan gangguan suplai darah—hal ini memicu pembentukan gangren. Individu itu akan terbaring telanjang, tertutup dari kepala sampai kaki dengan susu, madu, dan kotorannya sendiri. Dalam beberapa kasus terdakwa akan diberi makan beberapa kali sehari untuk memperpanjang penyiksaan, sehingga dehidrasi atau kelaparan fatal tidak terjadi. Kematian, ketika akhirnya terjadi, mungkin disebabkan oleh kombinasi dehidrasi, kelaparan, dan syok infeksi. Delirium biasanya akan terjadi setelah beberapa hari.[1]

Referensi

  1. ↑ One Bloody Thing After Another: The World's Gruesome History - Jacob Field - 2012 & 2016 - Michael O'Mara Books

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan