| Ruqaiya Sultan Begum رقیه سلطان بیگم | |
|---|---|
| Zan-i-Kalan Shahzadi dari Kekaisaran Mughal Permaisuri Kekaisaran Mughal | |
| Periode | 11 Februari 1556 – 27 Oktober 1605 |
| Lahir | Shahzadi Ruqaiya Sultan Begum 1542 Afghanistan |
| Meninggal | 19 Januari 1626 (umur 84)[1] Agra, Kekaisaran Mughal |
| Pemakaman | |
| Ayah | Shahzada Abu'l Nasir Muhammad Hindal Mirza |
| Ibu | Sultanam Begum |
| Pasangan | Jalaluddin Muhammad Akbar |
| Wangsa | Timurid |
| Agama | Islam |
Ruqaiya Sultana Begum (bahasa Persia:رقیه سلطان بیگم; juga dieja sebagai Ruqayya, Ruqayyah) (1542 – 19 Januari 1626) adalah istri pertama dan utama kaisar Mughal ketiga, Akbar.[2][3][4] Ia juga merupakan Permaisuri Mughal yang paling lama menjabat dengan masa jabatan selama 49 tahun.[5] Namun, ia tidak pernah menyandang gelar Padshah Begum.[6]
Pada era pemerintahan Kaisar Akbar, gelar ini tidak diberikan kepada istri pertamanya, melainkan dipegang secara mutlak oleh ibunda kaisar, Hamida Banu Begum (bergelar Mariam Makani), hingga beliau wafat pada tahun 1604.[7] Setelah kematian Hamida Banu, Kaisar Jahangir meneruskan gelar tersebut kepada istri-istrinya, Saliha Banu Begum dan kemudian Nur Jahan.[8]
Keluarga dan garis keturunan
| Keluarga Akbar dan Ruqaiya Sultan Begum | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Ruqaiya Sultan Begum terlahir sebagai putri kekaisaran (Shahzadi) dan putri satu-satunya dari Abu'l Nasir Muhammad atau yang lebih terkenal dengan gelarnya Hindal Mirza.
Ayahnya, Hindal Mirza adalah putra termuda Babur. Hindal Mirza juga paman termuda Akbar dari pihak ayah.[4] Jadi, Ruqaiya merupakan cucu dari Kaisar Babur, pendiri Kekaisaran Mughal dan keponakan dari Kaisar Humayun.
Ibunya, Sultanam Begum merupakan putri dari Muhammad Musa Khwaja. Kakaknya, Mahdi Khwaja, menikah dengan Khanzada Begum, saudari sulung Kaisar Babur. Sultanam dibesarkan oleh Putri Khanzada yang tidak memiliki keturunan. Dia juga satu-satunya istri Hindal Mirza.
Sebagai permaisuri
Kematian Hindal Mirza dalam pertempuran melawan Kamran Mirza pada tahun 1551 membuat Humayun sangat berduka.[9] Setelah masa berkabung berakhir, Humayun mengangkat Akbar yang saat itu berusia sembilan tahun sebagai gubernur Provinsi Ghazni serta mengalihkan kepadanya para pengikut, tanah, dan komando militer yang sebelumnya berada di bawah Hindal Mirza.[10][11] Pada waktu yang hampir bersamaan, Humayun mengatur pertunangan Akbar dengan putri Hindal, Ruqaiya Sultan Begum.[12] Pernikahan mereka baru dilangsungkan beberapa tahun kemudian di dekat Jalandhar, Punjab, ketika keduanya berusia sekitar 14 tahun, tidak lama setelah Akbar naik takhta sebagai Kaisar Mughal. Dalam perjalanan menuju Punjab, Ruqaiya didampingi oleh Hamida Banu Begum, Gulbadan Begum, dan sejumlah perempuan lain dari keluarga kekaisaran.[13]
Ruqaiya tetap tidak memiliki anak sepanjang pernikahannya. Meski tidak memiliki anak, Akbar mengabulkan keinginan Ruqaiya mengasuh cucunya, Khurram yang kemudian naik takha sebagai Shah Jahan. Jahangir memercayakan pengasuhan putri sulung Shah Jahan, Parhez Banu Begum kepadanya.
Ruqaiya tetap menjadi salah satu permaisuri utama Akbar sejak pernikahan mereka pada tahun 1557 hingga kematiannya pada tahun 1605. Hal ini terutama disebabkan oleh garis keturunannya yang agung, menjadi putri Hindal Mirza, seorang putri Mughal serta istri pertama Akbar.[14]
Nur Jahan pernah menjadi pelayan Ruqaiya selama lebih dari empat tahun sebelum menikah dengan Jahangir dan menjadi permaisurinya. Ruqaiya juga menjadi Permaisuri Mughal dengan masa jabatan terlama hampir setengah abad.
Pada tahun 1607, Jahangir mengadakan perjalanan berburu ke Kabul dengan ditemani haremnya. Ruqaiya dalam perjalanan ini, untuk pertama kalinya memberi penghormatan kepada makam ayahnya, Hindal Mirza, dan kemudian juga dimakamkan di sampingnya di Taman Babur di Kabul.
Keluarga
- Ayah : Shahzada Abu'l Nasir Muhammad Hindal Mirza
- Kakek : Babur
- Kakek buyut : Umar Shaikh Mirza II
- Nenek buyut : Qutlugh Nigar Khanum
- Nenek : Dildar Aga Begum
- Kakek : Babur
- Ibu : Sultanam Begum Sahiba
- Kakek : Muhammad Musa Khwaja
- Suami : Akbar yang Agung (m. 1552 - 1605)
Dalam kebudayaan populer
- Permaisuri Ruqaiya adalah karakter utama dalam novel sejarah yang memenangkan penghargaan karya Indu Sundaresan, The Twentieth Wife (2002), serta sekuelnya, The Feast of Roses (2003).[15]
- Ruqaiya juga merupakan karakter utama dalam serial sejarah Ekta Kapoor, Jodha Akbar. Karakternya diperankan oleh Lavina Tandon.[16]
Referensi
- ↑ Gulbadan Begum, Annette Susannah Beveridge (1902). Humayun Nama. Sang-e-Meel Publications. hlm. 274.
- ↑ Burke, S. M. (1989). Akbar, the greatest Mogul. Munshiram Manoharlal Publishers. hlm. 142.
- ↑ Lal, Ruby (2005). Domesticity and Power in the Early Mughal World. Cambridge University Press. hlm. 205. ISBN 9780521850223.
- 1 2 Emperor Jahangir (1999). The Jahangirnama : memoirs of Jahangir, Emperor of India. Oxford University Press. hlm. 437. ISBN 0195127188.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|coauthors=diabaikan (|author=disarankan) - ↑ Her tenure, from 11 February 1556 to 27 October 1605, was 49 years and 259 days
- ↑ Misra, Rekha (1967). Women in Mughal India (1526-1748). Munshiram Manoharlal. hlm. 67. Sangat jarang terjadi (hanya pada kasus-kasus pengecualian) bahwa dokumen resmi seperti Hukum, Sanad, Nishan, dan Parwana dikeluarkan oleh seorang Ratu atau Putri. Hak istimewa yang luar biasa ini hanya diberikan kepada mereka yang memegang kedudukan tertinggi di harem Kekaisaran, seperti Hamida Banu Begam, Maryam-uz-Zamani, Nurjahan, dan Jahanara.
- ↑ Findly, Ellison Banks (1993). Nur Jahan: Empress of Mughal India. Oxford University Press. hlm. 94. ISBN 978-0-19-507488-8. Perempuan bangsawan yang masuk ke dalam zanana (keputren/harem) sering kali diberi gelar baru sebagai tanda kehormatan atau hak istimewa yang khusus. [...] Akbar memberi ibunya gelar Maryam Makani [...] dan ibu Jahangir dikenal sebagai Maryamuzzamani [...]. Namun, gelar yang paling penting di dalam zanana adalah Padshah Begam, "Kaisar Wanita" atau "Ibu Negara" kerajaan.
- ↑ Findly, Ellison Banks (1993). Nur Jahan: Empress of Mughal India. Oxford University Press. hlm. 125. ISBN 978-0-19-507488-8. Saliha Banu, putri Qaim Khan [...] Selama sebagian besar masa pemerintahan Jahangir, ia adalah Padshah Banu Begam, yang juga disebut Padshah Mahal, dan ketika ia meninggal pada tahun 1620, gelar tersebut diteruskan kepada Nur Jahan.
- ↑ Erskine, William (1854). A History of India Under the Two First Sovereigns of the House of Taimur, Báber and Humáyun. Vol. 2. Longman, Brown, Green, and Longmans. hlm. 403–404.
- ↑ Abu'l-Fazl (1907). Beveridge, Henry (ed.). The Akbarnama of Abu'l Fazl. Vol. 1. Royal Asiatic Society. hlm. 584.
- ↑ Ferishta, Mahommed Kasim (2013). History of the Rise of the Mahomedan Power in India, Till the Year AD 1612. Cambridge University Press. hlm. 169. ISBN 978-1-108-05555-0.
- ↑ Mehta, Jaswant Lal (1986). Advanced Study in the History of Medieval India. Sterling Publishers Pvt. Ltd. hlm. 189. ISBN 81-207-1015-0.
- ↑ Gulbadan Begum (1902). The History of Humāyūn (Humāyūn-Nāma). Diterjemahkan oleh Beveridge, Annette S. Billing and Sons Ltd. hlm. 56–57.
- ↑ Nath, Renuka (1957). Notable Mughal and Hindu Women in the 16th and 17th Centuries A. D. Inter- India publications. hlm. 58.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Kaur, Balwinder (April 15, 2012). "The power behind the throne". The Tribune. Diakses tanggal Juni 28, 2013.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Chaya Unnikrishnan (2013-06-26). "So far, so good". dnaindia.com. Diakses tanggal 2013-12-04.