Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Raja Israel Sinaga" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR (Agustus 2026) |
| Raja Israel Sinaga | |
|---|---|
Potret Raja Israel Sinaga pada sekitar tahun 1890. | |
| Berkuasa | ca 1890—1940 |
| Pendahulu | Raja Ompu Bangbang Sinaga Prapat (Raja Galumbang Laut Tawar) |
| Penerus | Tuan Saul Sinaga |
| Lahir | Galung Sinaga 1869 (1869) Parapat |
| Meninggal | 1940 di Parapat |
| Pemakaman | Kompleks Pemakaman Sinaga Sidabariba Parapat Girsang Sipangan Bolon |
| Ayah | Raja Ompu Togadolok Sinaga |
| Ibu | boru Gultom |
| Pasangan | 2 (keduanya boru Manurung) |
| Keturunan Detail |
|
Tuan Galung Sinaga (dikenal sebagai Raja Israel Sinaga) adalah seorang penguasa terkenal dari marga Sinaga di daerah Parapat, Sumatera Utara. Ia dikenal sebagai penguasa pertama di Parapat yang memeluk agama Kristen. Raja Israel Sinaga menjalin persahabatan dengan misionaris Ludwig Ingwer Nommensen.[1] Nama "Israel" diberikan kepadanya setelah ia di baptis ulang menurut aliran HKBP. Bukti keyakinan nya yang kuat terhadap Kekristenan, ia menghadiahkan sebidang tanahnya untuk ikut membangun gereja. Sekarang gereja itu adalah gereja HKBP Parapat. Selain pembangunan gereja HKBP, ia juga memberikan tanahnya untuk membangun Gereja Katolik Parapat serta keturunannya juga memberikan tanahnya untuk membangun Masjid Taqwa Parapat. Ia merupakan anak terakhir (ketujuh) dari Raja Ompu Togadolok Sinaga yang merupakan penguasa/raja di daerah/kampung Parapat.
Latar belakang & Keluarga
Bagian ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan Bagian ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Raja Ompu Joara Bulan Sinaga merupakan anak dari Raja Ompu Tainni Sinaga (yang merupakan turunan asli klan Sinaga Bonor Tiang Ditonga dari Urat, Samosir). Raja Ompu Joara Bulan Sinaga adalah penguasa pertama (bukan pendiri) dari wilayah Girsang Sipangan Bolon dan Parapat. Sesuai musyawarah adat dan tokoh bius saat itu, ia ditunjuk dan dipilih serta memiliki wewenang penuh untuk mengurus, menguasai dan menjadi pengambil keputusan untuk wilayah yang dipimpinnya. Ia menikah dengan boru Manurung (yang menjadi Puang Bolon pertama ) dan memiliki dua orang putera, yaitu Raja Ompu Togadolok Sinaga dan Ompu Mangalusak Sinaga.
Raja Ompu Togadolok Sinaga merupakan putra sulung dari Raja Ompu Joara Bulan Sinaga, setelah Raja Ompu Joara Bulan Sinaga wafat, maka Raja Ompu Togadolok menjadi penguasa daerah Girsang Sipangan Bolon dan Parapat selanjutnya. Dimasanya lah dibangun Rumah Bolon Raja Sinaga Parapat tepat di tepi Danau Toba (kini menjadi kawasan Hotel Wisata Bahari Parapat). Raja Ompu Togadolok Sinaga memiliki 7 Putra dari dua istri (Puang) yaitu boru Ambarita menjadi Puang Bolon atau Permaisuri dan boru Gultom menjadi Puang Poso atau istri muda. Ketujuh anaknya yaitu: Tuan Ompu Togadolog Sinaga, Ompu Am Jaugan, Ompu Am Jamauli, Ompu Raja Bangbang Sinaga, Ompu Goling, Ompu Mudol, dan Tuan Galung Sinaga.
Setelah meninggal, putra pertamanya Tuan Oppu Togadolog Sinaga menjadi penguasa kampung Parapat. Namun karena meninggal dalam usia yang cukup muda, tahta diserahkan ke adiknya Raja Oppu Bangbang Sinaga (yang dikenal juga bergelar Raja Galumbang Laut Tawar). Setelah Raja Oppu Bangbang Sinaga wafat, maka kekuasaan dilanjutkan ke adiknya Oppung Raja Galung (Israel) Sinaga. Setelah masuknya Kekristenan di Parapat dan sekitarnya, Raja Galung Sinaga dan kakaknya Raja Ompu Bangbang Sinaga akhirnya memeluk agama Kristen dengan nama baptis baru yaitu "Israel" dan untuk kakaknya diberi nama "Johannes".
Raja Israel Sinaga dikenal karena keadilan dalam mengambil keputusan selama berkuasa di Parapat. Ia juga menjalin kerjasama yang baik dengan Tuan dan Raja lainnya di daerah Sumatera Timur saat itu, seperti Sultan Asahan, Sultan Serdang, Tuan Sinaga Tanah Jawa, Tuan Purba, dan Tuan Damanik Sipolha. Saat pemerintahan kolonial Belanda berkuasa, terjadi restrukturisasi administrasi wilayah kerajaan di Simalungun. Awalnya wilayah Girsang Sipangan Bolon dan Parapat dimasukkan ke wilayah Kerajaan Tuan Sinaga Tanoh Jawa dan menjadi kerajaan bawahan, Raja Israel Sinaga menolak masuk ke wilayah kerajaan tersebut. Karena penolakan tersebut, maka areal kekuasaannya diperkecil menjadi wilayah desa Sibaganding dan kota Parapat saja yang menjadi kekuasaannya sedangkan wilayah Girsang Sipangan Bolon dipilih Tuan yang baru dan masuk wilayah kekuasaan Sinaga Tanoh Jawa. Ia juga menolak statusnya yang diturunkan menjadi Tuan oleh Belanda saat itu (walaupun secara administrasi Belanda ia tetap ditulis bergelar Tuan Parapat) karena hal itulah sehingga timbul slogan "Sinaga Parapat bukan Sinaga Simalungun" yang sampai saat ini menjadi bahan diskusi di adat dan penelitian budaya. Karena penolakan Raja Israel tersebut, ternyata memiliki efek kedepannya oleh kolonialisme. Dimana Rumah Bolon Raja Sinaga Parapat dipindahkan secara paksa ke areal sudut perbukitan tepi jalan masuk kota Parapat (kini seberang Pantai Bebas Parapat). Hal itu terjadi dikarenakan menurut pemerintah Belanda areal Rumah Bolon tersebut cocok untuk tempat bertepi nya kapal distribusi barang dan pos senjata angkatan laut Belanda. Kini rumah bolon tersebut sudah tidak ada dikarenakan terkena bencana longsor pada awal 1990an. Raja Israel Sinaga bersahabat dekat dengan Nommensen (misionaris terkemuka di tanah Batak) asal Jerman, dan sering berdiskusi tentang budaya, bahasa, politik dan spiritual. Setelah memeluk Kekristenan, ia diberi gelar "Sintua" dari Dewan Gereja HKBP.
Raja Israel Sinaga memiliki 8 putra dan 1 putri dari dua istri yang keduanya boru Manurung. Dari istri pertama, hanya melahirkan 1 putra saja, yaitu Gani Sinaga. Yang merantau ke daerah Kisaran dan memeluk Islam. Dari istri kedua, yang menjadi Puang Bolon, lahir 8 anak yaitu : Alexander Sinaga (Pejabat masa pemerintahan Belanda - Sekda Residen), Gidion Sinaga (Menjadi Lurah Pertama di Kampung Parapat), Markus Sinaga, Sophia Jinim br Sinaga (putri satu-satunya) Putrinya – Jinim Sophia br Sinaga menjadi Puang Bolon/Permaisuri Tuan Labuhan Asmin Damanik, Jambur Na Bolag Sipolha. Ia menjadi Permaisuri di kampung Sipolha, selanjutnya Tiopulus Sinaga (pegawai Dinas Kehutanan Kabupaten Simalungun), Johan Sinaga (politikus dan Anggota Dewan Pariwisata Indonesia) beliau ini merupakan sahabat Adam Malik (Wakil Presiden Republik Indonesia masa Presiden Soeharto), Marinus Sinaga (Pejabat Beacukai Propinsi Riau) dan Rajaidin Paulus Sinaga (apoteker).
Setelah Raja Israel Sinaga wafat, ia dan kakaknya serta leluhurnya dikebumikan di Kompleks Pemakaman Sinaga Sidabariba Parapat atau dikenal juga dengan Parbiusan. Kompleks ini berada tepat diatas bukit yang menghadap ke jalan utama kota Parapat. Setelah ia wafat, sesuai kesepakatan adat, tidak ada dari semua anaknya yang diangkat menjadi Penguasa/Bius. Penguasa dikembalikan ke keturunan pertama kakaknya Raja Israel Sinaga yaitu anaknya Ompung Tuan Togadolog Sinaga yang bernama Tuan Saul Sinaga Parapat. Setelah Tuan Saul Sinaga wafat, dilanjutkan dengan anaknya yaitu Tuan Sintua Jaminta Sinaga sebagai Tuan Parapat terakhir, ia tidak lama berkuasa karena pecahnya Revolusi Sosial di Sumatera pada tahun 1946 setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri.
Sekarang Sistem penguasa di Parapat diatur dalam aturan negara dengan sistem pemerintahan yang sekarang dipimpin oleh Lurah. Dan keluarga Sinaga di wilayah Parapat berperan sebagai tokoh adat.
Dari semua keturunannya Raja Israel Sinaga, Gani Sinaga meninggal dan dimakamkan di daerah Asahan sedangkan Alexander Sinaga, Gidion Sinaga, Markus Sinaga, Tiopulus Sinaga dan Johan Sinaga dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sinaga Parbiusan Parapat. Marinus Sinaga meninggal dan dimakamkan di Jakarta dan Rajaidin Paulus Sinaga meninggal dan dimakamkan di Pematang Siantar. Putrinya Sophia Jinim br Sinaga dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja Damanik Jambur Nabolag Sipolha karena statusnya yang pernah menjadi Permaisuri / Ibu Negeri Sipolha. Semua keturunan mereka sekarang telah berpencar ke seluruh Indonesia bahkan ada yang di Luar Negeri, sedangkan yang di Parapat dan sekitarnya semua keturunannya tetap menjadi pemangku adat dan dihormati sebagai keluarga penguasa dahulu seperti di daerah lain yang memiliki historis. Sekarang Parapat dibawah sistem pemerintahan Indonesia menjadi salah satu kota utama destinasi wisata Danau Toba.
Silsilah Sinaga Parapat
Bagian ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan Bagian ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Marga Sinaga merupakan salah satu marga tertua dalam etnis masyarakat Batak di Indonesia bahkan Dunia, termasuk dalam arus utama di Batak Toba. Menurut catatan dan angka populasi marga Sinaga di Indonesia mencapai 220.000 - 350.000 orang
Sejarah
Marga Sinaga atau Toga Sinaga merupakan anak sulung dari Raja Lontung yang merupakan generasi ke-empat dari Si Raja Batak yang melahirkan tujuh anak laki-laki (cikal bakal marga) dan dua anak perempuan. Sebagai anak sulung Toga Sinaga menetap dan tinggal di Desa Urat Pulau Samosir (yang sekarang masuk dalam Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir, Propinsi Sumatera Utara. Toga Sinaga memiliki tiga putra, yaitu: Raja Bonor, Raja Ompu Ratus, dan Raja Hasagian
Sinaga di Parapat
Karena cepatnya perkembangan populasi marga Sinaga di kampung ulayat Desa Urat, banyak keturunan Toga Sinaga pindah atau merantau ke daerah lain di sekitar Danau Toba untuk membuka kampung baru atau menciptakan "Sinaga baru" di etnis lain hasil pernikahan dengan marga lainnya. Parapat merupakan salah satu kota wisata yang terkenal di tepi Danau Toba yang dihuni banyak marga Sinaga. Kota ini merupakan salah satu tempat dimana marga Sinaga merantau dari Pulau Samosir dan membuka Perkampungan. Menurut sejarah, marga Sinaga di Parapat berawal di desa Sibaganding yang masuk ke wilayah Girsang Sipangan Bolon lalu bermerger ke Kampung Simandalahi. Wilayah pertama Desa Sibaganding dihuni oleh turunan dari Raja Sinaga Bonor Tiang Ditonga. Sedangkan untuk Desa Simandalahi dari Raja Sinaga Uruk Datu Hurung. Dari kedua desa ini juga menjadi akar cikal bakal marga Sinaga di Simalungun hingga timbulnya kerajaan atau partuanon Sinaga Tanoh Jawa.
Berikut silsilah utama marga Sinaga yang bermukim dan menjadi penguasa di Parapat:
- Si Raja Batak
- Guru Tatea Bulan
- Si Raja Lontung
- Toga Sinaga
- Raja Bonor Sinaga
- Raja Tiang Ditonga Sinaga (bergelar Sahang Matanibulan)
- Raja Parultop Sinaga
- Raja Mamontang Dilaut Sinaga (gelar Namartua Sinaga Sirikki)
- Ompu Raja Hapoltahon Sinaga
- Ompu Raja Halibuntongan Sinaga (gelar Sidadar Mataniari)
- Ompu Raja Taribanban Sinaga
- Raja Ompu Jongka Sinaga
- Raja Guru Manesem Sinaga (Sinaga pertama yang tiba di desa Sibaganding)
- Raja Hatoguan Nabolon Sinaga
- Raja Ompu Tuan Nabolon Sinaga (penemu desa Parapat)
- Raja Ompu Tainni Sinaga
- Raja Ompu Joara Bulan Sinaga (ditunjuk sebagai penguasa atau "bius" dikampung Parapat dengan Permaisuri boru Manurung) bergelar (Ompu Goraha)
- Raja Ompu Togadolok (penguasa yang memimpin seluruh Parapat dan Girsang Sipangan Bolon) Raja adat yang berkuasa dengan luas kekuasaan dari kampung Sibaganding sampai Sipangan Bolon. Dengan dua istri (Boru Ambarita dan Boru Gultom) melahirkan 7 putera yang 3 diantaranya menjadi penguasa di Parapat:
- 1. Tuan Ompu Togadolog Sinaga (putra pertama Raja Ompu Togadolok Sinaga dengan istri Puang Bolon boru Ambarita)
- 2. Raja Ompu Bangbang Sinaga (bergelar Raja Galumbang Laut Tawar) (putra ke empat Raja Ompu Togadolok Sinaga dengan istri Puang Poso boru Gultom)
- 3. Raja Galung Sinaga (bergelar Raja Israel Sinaga) Raja Agama Kristen Pertama di pesisir Danau Toba (putra ketujuh Raja Ompu Togadolok Sinaga dengan istri Puang Poso boru Gultom) dikenal juga sebagai Raja Batak pertama dari areal Danau Toba yang membuka Pelabuhan, yaitu Pelabuhan Tigaraja Parapat (sebelum pelabuhan Ajibata).
Setelah Raja Israel Sinaga wafat, kekuasaan Parapat diteruskan kepada keturunan hak anak sulung dari Tuan Togadolog Sinaga, yaitu puteranya Tuan Saul Sinaga (Putera Tuan Ompu Togadolog Sinaga) memerintah tidak lama (1940-1944) dan meninggal karena sakit. Lalu diteruskan oleh puteranya Tuan Saul yaitu Tuan Sintua Jaminta Sinaga (Tuan Parapat terakhir sampai berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan penguasa adat pecah akibat Revolusi Sosial Sumatera Timur) di tahun 1946.
Perlu diperhatikan bahwa masa penguasaan yang luas saat dipimpin oleh Raja Ompu Togadolok Sinaga hanya sebentar, karena pada masa puteranya saat Raja Israel Sinaga berkuasa, Kolonial Belanda memasukkan wilayah Girsang Sipangan Bolon dan Parapat pada kekuasaan Tuan Sinaga Tanoh Jawa dan status nya diturunkan pada kelas Tuan. Raja Israel Sinaga menolak gabung ke partuanon Sinaga Tanoh Jawa dan akhirnya wilayah Parapat saja yang dikuasai olehnya.
Berikut silsilah marga Sinaga yang ada di Parapat, silsilah ini masuk pada cabang Sinaga Parapat dari Samosir (Batak Toba) dengan turunan Sinaga Tiang Ditonga, walaupun secara administratif masuk wilayah Kabupaten Simalungun.
Catatan
Referensi
- ↑ van Bemmelen, Sita T. (2018). Christianity, Colonization, and Gender Relations in North Sumatra. Leiden: Brill. hlm. 266. ISBN 978-90-04-34575-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)