Penyulingan efek garam atau distilasi efek garam (bahasa Inggris:salt-effect distillation) adalah metode penyulingan ekstraktif di mana suatu garam dilarutkan Garam tersebut bertindak sebagai agen pemisah dengan meningkatkan keteruapan relatif campuran serta memecah azeotrop yang mungkin terbentuk. Teknik ini pertama kali disebutkan dalam tulisan-tulisan mengenai alkohol yang dikaitkan dengan Jabir bin Hayyan (abad ke-9 M).
Pengaturan
Garam dimasukkan ke dalam kolom penyulingan dengan laju yang konstan melalui aliran refluks di bagian atas kolom. Garam akan larut dalam fase cair dan, karena bersifat non-volatil, akan keluar bersama aliran bawah yang lebih berat. Aliran bawah tersebut kemudian diuapkan sebagian atau seluruhnya untuk memulihkan garam sehingga dapat digunakan kembali.
Penggunaan
Penyulingan ekstraktif lebih mahal dibandingkan penyulingan fraksional biasa karena adanya biaya yang berkaitan dengan pemulihan agen pemisah. Salah satu keunggulan penyulingan efek garam dibandingkan jenis penyulingan azeotropik lainnya adalah potensi pengurangan biaya yang terkait dengan penggunaan energi. Selain itu, ion-ion garam memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap volatilitas campuran yang akan disuling dibandingkan agen pemisah berbentuk cair lainnya.[1] Penggunaan komersial penyulingan efek garam meliputi penambahan magnesium nitrat ke dalam larutan asam nitrat berair untuk meningkatkan konsentrasinya lebih lanjut. Selain itu, kalsium klorida ditambahkan ke dalam campuran aseton–metanol serta air–isopropanol untuk mempermudah proses pemisahan.[2]
Referensi
- ↑ Smallwood, Ian McN. (2002), Solvent Recovery Handbook (Edisi Second), CRC Press, hlm. 166–167, ISBN 0-8493-1602-2, diakses tanggal 24 Juli 2026
- ↑ "Salt-effect distillation", McGraw-Hill Dictionary of Scientific and Technical Terms, McGraw-Hill, 2003, diakses tanggal 24 Juli 2026
Lihat pula
| Prinsip | ||
|---|---|---|
| Proses industri | ||
| Metode laboratorium | ||
| Teknik | ||