Minggu, 01 November 2026
22:32 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pemberantasan dracunculiasis

Pemberantasan dracunculiasis

Bagikan:
250px-Guinea_worm.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Grafik yang menunjukkan penurunan jumlah kasus dracunculiasis pada periode 1989–2017. Data diambil dari Guinea Worm Eradication Program.[1]

Dracunculiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing guinea.[2] Pada tahun 1986, diperkirakan terdapat 3,5 juta kasus infeksi cacing guinea di 20 negara di Asia di Afrika.[3] Di Ghana sendiri terdapat 180.000 kasus pada tahun 1989. Semenjak itu, upaya untuk memberantas penyakit ini telah digalakkan, dan jumlah kasusnya pun turun drastis sebesar 99,999% menjadi hanya 22 kasus saja pada tahun 2015.[4] Saat ini masih ada lima negara endemik yang tersisa di Afrika, yaitu Sudan Selatan, Chad, Mali, Etiopia, dan Angola.

Referensi

  1. ↑ "Number of Reported Cases of Guinea Worm Disease by Year: 1989–2017*" (PDF). Guinea Worm Eradication Program. Diakses tanggal 2018-01-21.
  2. ↑ "Dracunculiasis (guinea-worm disease) Fact sheet N°359 (Revised)". World Health Organization. Maret 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Maret 2014. Diakses tanggal 18 Maret 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Guinea Worm Eradication Program". Carter Center. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-03-18. Diakses tanggal 2011-03-01.
  4. ↑ "Archived copy" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2014-06-03. Diakses tanggal 2014-06-10.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link)
Pemberantasan
penyakit manusia
Berhasil
Sedang berlangsung
(global)
Sedang berlangsung
(regional)
250px-Dracunculiasis_and_Poliomyelitis_cases_per_year.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemberantasan
penyakit hewan
Berhasil
Sedang berlangsung
Program
Pemberantasan
Global
Regional
Topik terkait
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan