Minggu, 08 November 2026
19:21 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Dracunculus medinensis

Dracunculus medinensis

Bagikan:
Cacing Guinea
250px-Dracunculus_medinensis_larvae.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Fotomikrograf larva
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Nematoda
Kelas: Secernentea
Ordo: Camallanida
Famili: Dracunculidae
Genus: Dracunculus
Spesies:
D. medinensis
Nama binomial
Dracunculus medinensis
Sinonim

Gordius medinensis Linnaeus, 1758

Dracunculus medinensis atau cacing Guinea adalah nematoda yang menyebabkan dracunculiasis.[1] Penyakit ini disebabkan oleh cacing betina;[2] dengan panjang yang bisa mencapai 800 mm,[3] cacing ini merupakan salah satu nematoda terpanjang yang dapat menginfeksi manusia.[4] Di sisi lain, cacing Guinea jantan terpanjang yang pernah ada hanya berukuran 40 mm.[3]

Sejarah

Dracunculus medinensis (naga kecil dari Medina) sudah dikenal oleh masyarakat Mesir Kuno paling tidak dari abad ke-15 SM, dan kemungkinan adalah "ular tedung" yang disebutkan dalam Alkitab.[5]

Siklus hidup

Larva D. medinensis dapat ditemui di air tawar, dan larva ini ditelan oleh copepoda dari genus Cyclops. Di dalam tubuh copepoda ini, larva D. medinensis tumbuh hingga ke tahap infektif dalam waktu 14 hari.[6] Setelah copepoda yang terinfeksi ditelan oleh mamalia, copepoda ini akan terlarut oleh asam lambung, dan larva D. medinensis lalu pindah ke dinding usus mamalia dan menjadi dewasa. Dalam waktu 100 hari, D. medinensis jantan dan betina akan bertemu dan bereproduksi di dalam jaringan inangnya. Cacing jantan mati di jaringan inang, sementara cacing betina pindah ke hipodermis. Sekitar setahun setelah infeksi, cacing betina ini mengakibatkan pembentukan lepuhan di kulit, biasanya di bagian bawah. Setelah lepuhan ini pecah, cacing betina secara perlahan keluar dalam kurun waktu beberapa hari atau minggu.[6] Hal ini sangat menyakitkan bagi inangnya. Ketika inang memasukkan bagian tubuhnya ke dalam air untuk meringankan nyeri dan "rasa terbakar", si cacing betina akan mengeluarkan ribuan larva ke dalam air. Dari situ, larva ini kembali menginfeksi copepoda dan mengulang siklus yang sama.[6]

Program pemberantasan

Kasus cacing guinea setiap tahunnya[7]
TahunKasus yang dilaporkanNegara
19863.500.00021 [8]
1989892.05515 [9]
1992374.20215 [9]
1995129.85219 [9]
200075.22316 [9]
200163.71716 [9]
200254.63814 [9]
200332.19313 [9]
200416.02613 [9]
200510.67412 [9]
200625.217 [a]10 [9]
20079.5859 [9]
20084.6197 [9]
20093.1905
20101.7974 [11] (6 [12])
20111.0604 [13]
20125424
20131485
20141264 [14]
2015224
2016253 [8]
2017302 [15]

Catatan

  1. ↑ Peningkatan kasus disebabkan oleh bertambahnya jumlah laporan dari Sudan Selatan seusai kesepakatan perdamaian pada tahun 2005.[10]

Referensi

  1. ↑ Stefanie Knopp; Ignace K. Amegbo; David M. Hamm; Hartwig Schulz-Key; Meba Banla; Peter T. Soboslay (Maret 2008). "Antibody and cytokine responses in Dracunculus medinensis patients at distinct states of infection". Transactions of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene. 102 (3): 277–283. doi:10.1016/j.trstmh.2007.12.003. PMID 18258273.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Langbong Bimi (2007). "Potential vector species of Guinea worm (Dracunculus medinensis) in Northern Ghana". Vector-Borne and Zoonotic Diseases. 7 (3): 324–329. doi:10.1089/vbz.2006.0622. PMID 17767406.
  3. 1 2 G. D. Schmidt; L S. Roberts (2009). Larry S. Roberts; John Janovy, Jr. (ed.). Foundations of Parasitology (Edisi 8th). McGraw-Hill. hlm. 480–484. ISBN 978-0-07-128458-5.
  4. ↑ Talha Bin Saleem; Irfan Ahmed (2006). ""Serpent" in the breast" (PDF). Journal of Ayub Medical College Abbottabad. 18 (4): 67–68. PMID 17591014.
  5. ↑ "Dracunculiasis: Historical background". World Health Organization. Diakses tanggal 27 April 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 3 "Dracunculiasis: About Guinea-Worm Disease". World Health Organization. Diakses tanggal 20 Desember 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "Guinea Worm Case Totals". The Carter Center.
  8. 1 2 Jeff Martin (Januari 11, 2017). "Carter: Guinea Worm disease reported in 3 countries in 2016". Associated Press. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-01-12. Diakses tanggal 2017-01-11.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 "Dracunculiasis Epidemiological Data (1989-2008)" (PDF). World Health Organization. Diakses tanggal 2009-09-14.
  10. ↑ "Progress Toward Global Eradication of Dracunculiasis, January 2005--May 2007". MMWR. 56 (32): 813–817. Agustus 17, 2007. Diakses tanggal 2011-03-16.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ "Guinea Worm Countdown: The Road to Eradication". The Carter Center. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-09-06. Diakses tanggal 2018-07-22.
  12. ↑ "Monthly report on dracunculiasis cases, January–December 2010" (PDF). Weekly Epidemiology Record. 86 (10). WHO: 92. 4 Maret 2011. Diakses tanggal 2011-03-04.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ WHO Collaborating Center for Research, Training and Eradication of Dracunculiasis (Januari 9, 2012). "Guinea Worm Wrap-up #209" (PDF) – via The Carter Center.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ "Carter Center: 126 Cases of Guinea Worm Disease Remain Worldwide". The Carter Center. Januari 11, 2015. Diakses tanggal 2015-05-09.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ "Announcement for 2017 Guinea Worm Disease Case Totals". The Carter Center (Rilis pers). Januari 19, 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-01-20. Diakses tanggal 2018-07-22.{{cite press release}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan