Minggu, 27 September 2026
16:41 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Patuxai

Patuxai

Peringatan perang in Vientiane, LaosTemplat:SHORTDESC:Peringatan perang in Vientiane, Laos
Patuxay
ປະຕູໄຊ
330px-Patuxai1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Patuxai&revid=29190400&groups=_db47eec52a1ab1992e815fca56bfdfa522345b0f&parser=parsoid
Peta interaktif area Patuxay
Nama sebelumnyaAnousavary/Anousavali
(bahasa Lao: ອານຸສາວະລີ)
EtimologiGapura Kemenangan
Informasi umum
JenisPeringatan perang
Gaya arsitekturLaos
LokasiVientiane, Laos
AlamatJalan Lang Xang
Koordinat17°58′14″N 102°37′07″E / 17.97056°N 102.61861°E / 17.97056; 102.61861
Mulai dibangun1957;69 tahun lalu (1957)
Selesai dibangun1968;58 tahun lalu (1968)
Diresmikan2010 (perayaan 450 tahun Vientiane menjadi ibu kota Laos)
Biaya63 juta kip
KlienLaos
PemilikPemerintah Laos
Data teknis
Sistem strukturBeton
Jumlah lantaiTujuh
Desain dan konstruksi
ArsitekTham Sayasithsena

Patuxai (bahasa Lao:ປະຕູໄຊ, Lao pronunciation: [pā.tùːsáj]; terj. har. 'Gerbang Kemenangan') atau sebelumnya Monumen Anousavary adalah monumen perang di pusat kota Vientiane, ibu kota Laos. Patuxai dibangun antara tahun 1957 dan 1968 sebagai monumen peringatan pejuang kemerdekaan. Patuxai juga kerap disebut Lengkungan Patuxai atau Arc de Triomphe Vientiane karena menyerupai Arc de Triomphe di Paris. Namun, desainnya tetap memiliki sentuhan tradisional Laos, contohnya dekorasi makhluk mitologis seperti kinnari (setengah wanita, setengah burung).[1][2] [3][4][5][6]

Sejarah

Nama Patuxai terdiri dari dua kata: 'Patuu' atau 'patu' yang berarti "pintu" atau "gerbang" dan 'Xai', turunan dari kata Sanskerta 'jaya', yang berarti "kemenangan". Sehingga, Patuxai dapat diartikan sebagai Gerbang Kemenangan.[3][7] Patuxai dibangun selama periode yang penuh gejolak dalam sejarah Laos. Dibangun ketika negara Laos masih berbentuk monarki konstitusional, monumen ini dikenal sebagai "Anousavali" (terj. har. 'Monumen'). Monumen ini didedikasikan untuk mengenang para tentara Laos yang gugur selama Perang Dunia II dan perang kemerdekaan dari Prancis pada tahun 1949.

Monumen ini dibangun menggunakan dana dan semen dari Amerika Serikat, yang ingin agar bantuan tersebut digunakan untuk membangun lapangan udara baru yang dapat digunakan oleh Angkatan Udara AS.[8] Namun, Pemerintah Kerajaan Laos malah membangun monumen tersebut, yang membuatnya mendapat julukan "landasan pacu vertikal".[3][4]

Monumen tersebut dirancang oleh "tentara, mantan jurnalis, dan pematung otodidak" Laos[9] Tham Sayasthsena. Pada tahun 1957, rancangannya terpilih, mengalahkan rancangan yang diajukan oleh Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Teknik Militer, dan banyak arsitek swasta. Tham menerima 30.000 kip untuk karyanya. Biaya pembangunan diperkirakan mencapai 63 juta kip.[1]

Pada Mei 1975, Partai Komunis Pathet Lao menggulingkan pemerintah dan merebut kekuasaan, menggulingkan Raja Sisavang Vatthana, dan mengakhiri riwayat monarki. Pihak komunis tidak menghancurkan monumen tersebut; sebaliknya, mereka mengganti namanya menjadi Patuxai untuk menghormati kemenangan yang mereka raih bersama Tentara Rakyat Vietnam.[6][7][10]

Geografi

250px-Vientiane_Patouxai_Laos.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemandangan kota dari Patuxai (sebelum renovasi 2024)

Patuxai terletak di ujung Jalan Lane Xang di jantung kota Vientiane. Taman Patuxai mengelilingi monumen tersebut.[1][3][4]

Arsitektur

250px-Patuxai_%2815037844079%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Loteng sentral di lantai dasar memiliki hiasan dewata Wisnu, Brahma, dan Indra (dari atas, berlawanan arah jarum jam)

Monumen ini terdiri dari lima menara yang mewakili lima prinsip hidup berdampingan antarbangsa di dunia. Menara-menara ini juga mewakili lima prinsip Buddhisme yaitu “keramahan yang bijaksana, fleksibilitas, kejujuran, kehormatan, dan kemakmuran”.[1]

Monumen ini memiliki gerbang di keempat sisinya yang menghadap ke empat arah mata angin. Gerbang timur-barat terbuka ke Jalan Lane Xang, yang digunakan selama parade nasional seremonial. Di depan setiap gerbang, terdapat sebuah kolam. Keempat kolam tersebut melambangkan bunga teratai (melambangkan penghormatan rakyat Laos kepada para pejuang pemberani). Empat sudut gerbang dihiasi dengan patung Raja Naga (simbol mitologis Laos), dengan dilengkapi semburan air (menyimbolkan alam, kesuburan, kesejahteraan, dan kebahagiaan) ke dalam kolam di tanah.[1] Dua tangga beton dibangun berkelok-kelok dari dalam struktur utama, melewati setiap lantai, hingga ke puncak monumen. Dek pengamatan terdapat di lantai atas. Lantai pertama sebagian besar berisi kantor manajemen monumen; kios-kios yang menjual perlengkapan wisata (artefak, suvenir, dan minuman) juga berada di lantai ini. Lantai dua merupakan area penting tempat museum berada, yang memajang patung dan gambar para pahlawan beserta pahlawan wanita ikonik negara tersebut. Desain atapnya juga terinspirasi oleh Taj Mahal di India.[11]

Tingkat selanjutnya adalah ruang terbuka tempat empat menara dibangun di keempat sudut. Menara-menara ini dihiasi lukisan dinding dedaunan. Menara-menara tersebut juga dilengkapi dengan lampu listrik, yang dinyalakan pada hari nasional dan festival penting lainnya. Menara-menara kecil, dengan ornamen seperti kuil, dirancang dalam gaya Laos dan dilengkapi dengan puncak menara. Setiap menara memiliki tangga. Selain empat menara sudut, ada menara pusat yang lebih besar di atas lantai ini, yang juga memiliki tangga yang mengarah ke lantai atas yang memiliki dek pengamatan tempat pemandangan sekitaran Vientiane dapat dilihat. Sebuah teleskop juga dipasang di tingkat itu untuk melihat pemandangan kota. Pemasangan lift di dua sudut diagonal monumen telah direncanakan, yang diharapkan siap pada tahun 2010 ketika peringatan 450 tahun Vientiane sebagai ibu kota Laos akan dirayakan. Pada kesempatan ini, seluruh monumen diusulkan untuk dihiasi dengan bunga dan diterangi.[1] Bangunan monumental tersebut hingga kini belum sepenuhnya selesai, meskipun pemerintah Laos telah berulang kali menetapkan anggaran baru.[8]

Sistem air mancur musikal yang dipasang di taman elegan yang baru dibangun tersebut merupakan sumbangan dari Tiongkok. Ini menjadi destinasi populer bagi pengunjung dan warga setempat yang mengunjungi monumen di sore hari.[12][13]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 "Patuxay Monument Revisited". Vientiane Times. 2009-11-02.
  2. ↑ Atiyah, Jeremy; Rough Guides (2002). Rough guide to Southeast Asia. Rough Guides. hlm. 565. ISBN 1-85828-893-2.
  3. 1 2 3 4 "Patuxay Arch in Vientiane Laos". Lonely Planet. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-11-24.
  4. 1 2 3 fay, Kim (2005). To Asia with love: a connoisseurs' guide to Cambodia, Laos, Thailand & Vietnam. Things Asian Press. hlm. 65–67. ISBN 0-9715940-3-1.
  5. ↑ "Patuxay Monument is expected to draw big crowds". Laos Voices. 2009-08-08. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-02-25.
  6. 1 2 White, Daniel (2010). Frommer's Cambodia & Laos. Frommer's. hlm. 230–232. ISBN 978-0-470-49778-4.
  7. 1 2 "Patuxay In Vientiane".
  8. 1 2 "Vientiane - Patou Say" (dalam bahasa German). Sgoldbach.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  9. ↑ Roger Nelson, “Phnom Penh's Independence Monument and Vientiane's Patuxai: Complex Symbols of Postcolonial Nationhood in Cold War-Era Southeast Asia." In Monument Culture: International Perspectives on the Future of Monuments in a Changing World, edited by Laura A. Macaluso, London: Rowman & Littlefield, 2019, 35-48 (37).
  10. ↑ Laos Diplomatic Handbook. Int'l Business Publications. 2007. hlm. 138. ISBN 978-1-4330-2885-4.
  11. ↑ First IMPRESSION of LAOS | Cheapest Country in Asia ? (dalam bahasa Inggris)
  12. ↑ "China-aided Lao capital downtown's lighting system launched". ecns.cn.
  13. ↑ Burke, Andrew; Justine Vaisutis (2007). Laos. Lonely Planet. hlm. 97. ISBN 978-1-74104-568-0. patuxai.

Pranala luar

Laos Travel Guide.com Patuxai 17°58′14″N 102°37′07″E / 17.97056°N 102.61861°E / 17.97056; 102.61861

Wikimedia Commons memiliki media mengenai
Patuxai
.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan