Senin, 02 November 2026
11:42 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Partai Pangeran Mahkota

Partai Pangeran Mahkota

Bagikan:
Partai Pangeran Mahkota
Hanzi tradisional: 太子黨
Hanzi sederhana: 太子党
Makna harfiah: Faksi Putra Mahkota
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Tàizǐdǎng
Yue (Kantonis)
- Jyutping: taai3 zi2 dong2

Partai Pangeran Mahkota (Hanzi:太子党), atau juga dikenal dengan sebutan Putra Mahkota Partai adalah kader Partai Komunis Tiongkok yang berasal dari keturunan "ningrat", pada umumnya merupakan anak atau cucu dari tokoh partai terkenal dan senior di Tiongkok. Ini adalah kategorisasi informal, dan sering kali merendahkan, untuk menandakan mereka yang diyakini mendapat manfaat dari kronisme dan nepotisme, dengan analogi dengan putra mahkota dalam monarki turun-temurun. Banyak anggotanya telah menduduki jabatan politik dan bisnis tingkat tinggi di eselon atas kekuasaan.

Pangeran-Pangeran Terkemuka

Dalam Tiongkok modern, "Pangeran" adalah keturunan dari pemimpin senior Partai Komunis Tiongkok (PKT/CCP) dan telah bangkit menjabat di berbagai jabatan tinggi partai. Jika orang tua mereka merupakan generasi pertama dari revolusioner PKT, maka mereka disebut "Generasi Merah kedua", "Pewaris Merah" atau "Bangsawan Merah". "Pangeran" dan "Putri" juga dirujuk kepada keturunan pemimpin selanjutnya, termasuk tokoh seperti Jiang Zemin, Hu Jintao dan Li Peng.[1] "Pangeran" menggunakan pengaruh mereka di negara ini dengan cara menduduki peran-peran penting dalam aparatur partai-negara, yang meliputi partai, pemerintah, dan dinas militer, atau dengan mengendalikan perusahaan-perusahaan milik negara yang besar.[2] Peluang tersedia bagi para pangeran yang tidak tersedia bagi orang biasa. Dengan menggunakan koneksi mereka yang kuat, mereka memiliki kesempatan untuk memperoleh peluang yang menguntungkan bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Para pangeran yang lebih agresif telah mengumpulkan kekayaan ratusan juta dolar.[3] Namun, tidak ada kohesi politik yang terlihat dalam kelompok tersebut, dan karena itu mereka tidak dapat dibandingkan dengan berbagai faksi lain seperti Kelompok Shanghai atau Tuanpai yang menyerupai faksi-faksi intra-partai yang memiliki tingkat kesamaan tertentu pada isu-isu kebijakan.

Di Republik Rakyat Tiongkok, sebutan ini pertama kali digunakan untuk merujuk kepada anak Lin Biao, Lin Liguo dan teman-teman dekatnya beserta sekutu politik mereka yang dipromosi bersamanya ke jabatan elit di Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat yang awalnya divisikan menjadi "Generasi Merah ketiga" di PKT. Pada 1966, akibat Revolusi Kebudayaan, banyak anak-anak elit partai dikirim ke daerah. Mereka tinggal di desa dan belajar di desa bersama dengan anak-anak rakyat jelata lainnya.[1] Setelah beberapa tahun, banyak di antara mereka kembali pulang (biasanya daerah seperti Beijing atau Shanghai). Namun periode waktu yang krusial ini telah menyebabkan banyak di antara mereka menjalin persahabatan/kemitraan seumur hidup.[1]

Setelah Lin Liguo meninggal di kudeta yang gagal dan kelompoknya disingkirkan, untuk sementara waktu istilah ini tidak pernah dipakai sampai pada tahun 1980an untuk memberi label kepada anak-anak Delapan Sesepuh Partai Komunis Tiongkok dan berbagai pejabat Generasi Pertama dan Kedua yang semakin dipromosikan dalam partai dan menentang upaya para reformis seperti Hu Yaobang dan Zhao Ziyang untuk memberantas korupsi dan kronisme. Pangeran masa kini yang terkemuka adalah tokoh seperti Xi Jinping (putra Xi Zhongxun) yang menjadi pemimpin Tiongkok dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok dan Bo Xilai (putra Bo Yibo), mantan Sekretaris PKT di Chongqing yang juga anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok. Pengaruh politik para pangeran telah melemah selama kepemimpinan Xi Jinping, yang telah mengecualikan mereka dari kepemimpinan puncak.[4]

Sejarah

Awalnya sebutan ini diberikan kepada putra Yuan Shikai (yang mendeklarasikan diri sebagai kaisar), Yuan Keding dan kroninya. Ini kemudian menjadi sebutan untuk kerabat empat keluarga nasionalis; keluarga Chiang Kai-shek, keluarga Soong May-ling, keluarga Chen Lifu dan keluarga H.H. Kung. Setelah 1950, sebutan ini diarahkan ke Chiang Ching-kuo dan teman-temannya. Pada masa kini, ini ditujukan kepada kader Partai Komunis Tiongkok di Tiongkok Daratan. Generasi pertama sebutan ini ditujukan kepada mereka yang berketurunan dari para revolusioner. Anak-anak ini awalnya dibesarkan di lingkungan di mana kualitas hidup mereka jauh melampaui warga negara Tiongkok biasa, sering kali dekat dengan bangsawan lain dan pejabat senior partai untuk mengembangkan jaringan pengaruh.[1] Banyak pemimpin senior sering melobi secara langsung atau tidak langsung agar keturunan dan kerabat mereka menggantikan mereka.

Contoh

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 Zhang, Tony Huiquan (Juli 2019). "The Rise of the Princelings in China: Career Advantages and Collective Elite Reproduction". Journal of East Asian Studies (dalam bahasa Inggris). 19 (2): 169–196. doi:10.1017/jea.2019.11. ISSN 1598-2408.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Ho, Wing-Chung (September 2013). "The New 'Comprador Class': the re-emergence of bureaucratic capitalists in post-Deng China". Journal of Contemporary China (dalam bahasa Inggris). 22 (83): 812–827. doi:10.1080/10670564.2013.782128. ISSN 1067-0564.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ David Barboza (Oktober 25, 2012). "Billions in Hidden Riches for Family of Chinese Leader". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 27, 2012. Diakses tanggal Oktober 27, 2012.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "How China's political clans might determine its future". The Economist. 4 April 2024. ISSN 0013-0613. Diakses tanggal 2024-04-04.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "中國太子黨的崛起:紅二代真正的大佬葉選寧". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-07-13. Diakses tanggal 2016-07-23.
  6. ↑ "Profiles: China's new leaders". BBC News. 15 November 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 November 2013. Diakses tanggal 26 Oktober 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Children of the Revolution Diarsipkan 2018-07-01 di Wayback Machine, Jeremy Page, The Wall Street Journal, 26 November 2011.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan