Selasa, 29 September 2026
06:11 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto
Obskurantisme

Obskurantisme

250px-Johannes_Reuchlin_-_Imagines_philologorum.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cendekiawan humanis Johannes Reuchlin (1455–1522) secara aktif menentang obskurantisme yang bersifat religius.

Obskurantisme adalah tindakan yang dengan sengaja menyajikan informasi dengan cara yang berkesan kabur dan sukar dimengerti dengan tujuan agar tidak ada yang mencoba bertanya atau memahami lebih lanjut.[1] Istilah ini juga dapat mengacu kepada pembatasan pengetahuan secara sengaja agar pengetahuan tersebut tidak menyebar.

Istilah ini berasal dari judul satir Epistolæ Obscurorum Virorum yang berasal dari tahun 1515–19. Isi satir tersebut didasarkan pada perdebatan intelektual antara humanis Jerman Johann Reuchlin melawan biarawan Johannes Pfefferkorn dari Ordo Dominikan mengenai apakah semua buku Yahudi harus dibakar akibat bidaah terhadap agama Kristen. Awalnya, pada tahun 1509, biarawan Pfefferkorn telah mendapatkan izin dari Maximilian I, Kaisar Romawi Suci (1486–1519), untuk membakar semua salinan Talmud di Kekaisaran Romawi Suci. Epistolæ Obscurorum Virorum merupakan satir argumen-argumen sang biarawan yang berupaya mendukung pembakaran karya-karya yang tidak sesuai dengan ajaran Kristen.

Pada abad ke-18, para filsuf Abad Pencerahan menggunakan istilah "obskurantis" untuk semua musuh pencerahan intelektual dan penyebaran pengetahuan. Pada abad ke-19, untuk membedakan antara ragam-ragam obskurantisme di dalam bidang metafisika dan teologi dari obskurantisme yang lebih "halus" di dalam filsafat kritis Immanuel Kant, Friedrich Nietzsche berkata: "Unsur penting dalam seni hitam obskurantisme bukanlah upaya untuk menggelapkan pemahaman individual, tetapi ingin menggelapkan gambaran kita atas dunia, serta menggelapkan gagasan kita mengenai eksistensi."[2]

Catatan kaki

  1. ↑ Oxford English Dictionary (Edisi 3rd). Oxford University Press. 2004. Opposition to inquiry, enlightenment, or reform ...{{cite book}}: |work= diabaikan
  2. ↑ Nietzsche, F. (1878) Human, All Too Human Vol. II, Part 1, 27. Cambridge University Press; 2 edition (13 November 1996). ISBN978-0-521-56704-6
Ikon rintisan

Artikel bertopik filsafat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan