Sabtu, 03 Oktober 2026
22:56 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Nyadran

Nyadran

tradisi

Bagikan:
250px-Nyadran_Perdamaian.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nyadran di Dusun Krecek, Kaloran, Temanggung, yang diikuti oleh masyarakat Jawa yang beragama Kejawen, Islam, Buddha, dan Katolik.
250px-Pesta_laut_Kendal.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nyadran Tawang Laut di Desa Gempolsewu, Rowosari, Kendal, Jawa Tengah.

Nyadran adalah serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah.[1] Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan.[2] Nyadran adalah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan.[2] Dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artinya ruwah syakban.[1] Nyadran / Sadranan adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.[3]

Pelaksanaan

250px-Plabengan_nyadran_Cultural_02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nyadran di Temanggung, Jawa Tengah.

Nyadran merupakan salah satu tradisi dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.[4] Kegiatan yang biasa dilakukan saat Nyadran, Sadranan atau Ruwahan adalah:

  • Menyelenggarakan kenduri, dengan pembacaan ayat Al-Quran, zikir, tahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama.[1]
  • Melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan.[1]
  • Melakukan upacara ziarah kubur, dengan mendoakan keluarga atau kerabat dan para leluhur terdahulu yang telah meninggal di area makam.[1]

Nyadran biasanya dilaksanakan pada setiap hari ke-10 bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya'ban.[4] Dalam ziarah kubur, biasanya peziarah membawa bunga, terutama bunga telasih. Bunga telasih digunakan sebagai lambang adanya hubungan yang akrab antara peziarah dengan arwah yang diziarahi.[1] Para masyarakat yang mengikuti Nyadran biasanya berdoa untuk leluhur kakek-nenek, bapak-ibu, serta saudara-saudari mereka yang telah meninggal.[4] Seusai berdoa, masyarakat menggelar kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan yang telah digelari tikar dan daun pisang atau bisa juga di Masjid mengirim doa untuk leluhur secara bersama-sama.[4] Tiap keluarga yang mengikuti kenduri harus membawa makanan sendiri.[4] Makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, prekedel, tempe dan tahu bacem, atau mentahan dan lain sebagainya.[4]

Sejarah

Nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha.[1] Sejak abad ke-15 para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima.[2] Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agama Islam yang dinilai musyrik.[1] Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa.[1] Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.[2]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Nyadran Upacara Kenduri Masyarakat Jawa". wartamadani.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-28. Diakses tanggal 26 Mei 2014.23.30.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  2. 1 2 3 4 "Nyadran, Persembahan Rasa Sayang dan Kesetiaan". Kratonpedia.com. Diakses tanggal 27 Mei 2014.
  3. ↑ "Tradisi 'Nyadran' Masih Semarak di Pedesaan". pikiran-rakyat.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-19. Diakses tanggal 27 Mei 2014.
  4. 1 2 3 4 5 6 "Tradisi Nyadran, Jalin Kerukunan dengan Sesama". regional.kompas.com. Diakses tanggal 27 Mei 2014.
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Nyadran.
Ikon rintisan

Artikel bertopik tradisi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan