Rabu, 30 September 2026
18:53 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh

Ngejot

Bagikan:

Ngejot adalah tradisi memberikan makanan kepada para tetangga sebagai wujud rasa terima kasih.[1] Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat penganut agama Hindu dan Islam di Bali. Bagi umat Hindu, tradisi Ngejot biasanya digelar menjelang Hari Raya Galungan, Nyepi, dan Hari Raya Kuningan. Sementara itu, bagi umat Islam, tradisi tersebut dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Fitri.[2]

Umat Islam di Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng, melestarikan tradisi ini dengan berbagi makanan dan minuman kepada tetangga sekitar rumah, begitu pula sebaliknya dengan umat Hindu. Makanan yang diberikan kepada tetangga biasanya sudah dalam bentuk siap saji, aneka kue, serta buah-buahan. Umat Hindu umumnya memberikan makanan berupa urap, lawar, dan daging babi, sedangkan umat Islam memberikan makanan khas Lebaran seperti opor ayam.[1]

Tradisi Ngejot menjadi simbol kerukunan antarumat beragama yang menjaga hubungan antarmasyarakat tetap mesra dan harmonis. Hal ini sekaligus menjadi wujud nyata eratnya tali persaudaraan antara umat Hindu dan Islam di tanah Dewata.[1] Praktik saling berbagi bagi pemeluk agama Islam di Bali ini masih terus terjaga hingga saat ini, khususnya di daerah-daerah pedesaan.[2]

Referensi

  1. 1 2 3 "Tradisi Ngejot". detikcom. 31 Juli 2013. Diakses tanggal 9 Juni 2014.[pranala nonaktif permanen]
  2. 1 2 "Lebaran Berbagi Melalui Tradisi Ngejot di Bali". kebudayaanindonesia.net. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-14. Diakses tanggal 9 Juni 2014.
Ikon rintisan

Artikel bertopik tradisi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan