Kamis, 05 November 2026
18:57 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Notonindito

Notonindito

Bagikan:
250px-Perindra_second_congress_1939.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Notonindito pernah aktif di Parindra karena kesamaan ideologi.

Dr. Notonindito alias Raden Pandji Wirasmo Notonindito (lahir mungkin sekitar tahun 1900) adalah seorang priyayi Jawa, cendekiawan, dan politikus Indonesia pada zaman Pergerakan Kemerdekaan, sekaligus pendiri dari Partai Fasis Indonesia (PFI).[1][2]

Riwayat hidup

Notonindito adalah putra dari seorang bangsawan dari Rembang, Jawa Tengah bernama Raden Pandji Notomidjojo. Pada 1918 ia lulus dari sekolah kolonial Meer Uitgebreid Lager Onderwijs dan melanjutkan pendidikannya ke Telefoon Cursus di Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta).[3]

Setelah tamat sekolah ia bekerja sebagai pegawai pemerintah kolonial di Gouvernement Telefoon Dienst. Pada 1921, ia berangkat ke Belanda untuk belajar ekonomi dan perdagangan. Pada 1923 ia lulus dan meraih gelar adjunc accountant dan bekerja di Amsterdam, Belanda. Pada 1924, ia berangkat ke Berlin, Jerman untuk melanjutkan studi ekonominya dan meraih gelar doktor dalam ilmu ekonomi dengan judul tesis Sedjarah pendek Tentang Perniagaan, Pelajaran dan Indoestri Boemipoetra di Poelaoe Djawa.[3]

Setelah mendapatkan gelar akademik tersebut, dia pulang ke Indonesia dan bergabung dengan partai bentukan Soekarno, Partai Nasional Indonesia (PNI). Namun, ketika Adolf Hitler memenangkan Pemilu di Jerman, Notonindito memutuskan untuk mendirikan partai sendiri, Partai Fasis Indonesia (PFI).[3]

Pemikiran

Sebagai seorang pengagum Adolf Hitler dan "separuh" pengikut Nazisme, Notonindito sadar betul bahwa dirinya tidak akan bisa masuk kedalam Partai Nazi di Jerman, maupun cabang-cabang Partai Nazi di Indonesia yang berisi orang-orang Jerman asli yang tinggal di Hindia Belanda saat itu.[4] Ia juga sadar bahwa dirinya juga tidak akan bisa masuk partai fasis yang didirikan oleh Anton Mussert, Nationaal-Socialistische Beweging (NSB), tentu saja karena faktor ras dan etnisnya, yang merupakan seorang asli Jawa, oleh karena itu kemudian, Notonindito mengkonsepsikan sendiri mengenai "fasisme' dan "nasionalisme" tentu saja berlandaskan nilai-nilai Jawa.[5]

Pemikiran Notonindito pada dasarnya mengikuti sebuah organisasi nasionalis Jawa, yang bernama Komite Nasionalis Jawa yang dibentuk pada 1914. Ide pokok pemikiran Notonindito itu antara lain:

  1. Mendapatkan kemerdekaan Jawa dan kemudian diangkat seorang raja yang tunduk pada grondwet dan raja itu adalah keturunan dari Panembahan Senopati.[6]
  2. Membangun Statenbond (perserikatan atau federasi) dari kerajaan-kerajaan di Indonesia merdeka, dimana terhitung juga tanah-tanah raja.[7]

Pokok-pokok pemikiran itulah kemudian yang menjadi dasar tujuan ideologis Partai Fasis Indonesia (PFI).

Mendirikan PFI

Notonindito saat mendirikan Partai Fasis Indonesia (PFI) ia memang terinspirasi oleh Adolf Hitler dengan Partai Nazi-nya dan juga ideologi Nazisme, namun ia tidak punya niatan untuk melakukan penjajahan terhadap etnis lain yang ada di Nusantara, apapun itu termasuk Sunda yang terkenal rivalitasnya dengan Jawa karena sejarah Perang Bubat.[8]

Notonindito tidak penah memikirkan untuk menaklukkan Pasundan, ia justru mengusulkan agar setiap etnis di Nusantara mendirikan kerajaan sendiri dan bergabung dalam sebuah federasi antar-kerajaan yang semuanya harus dipimpin oleh pribumi. Meskipun begitu, ia tetap menginginkan yang menjadi pusat dari federasi adalah Jawa, karena Notonindito mengadopsi ide Jawanisasi atau menjadikan supremasi Jawa sebagai dasar nilai.[8]

Banyak tokoh pergerakan seperti Soekarno, Hatta, M. H. Thamrin, dan sebagainya menganggap ide Notonindito terlalu feodal, reaksioner, dan chauvinis. Menuai kontroversi dari kaum pergerakan, maka Notonindito mendapatkan perlawanan dari kanan dan kiri. Karena mendapatkan banyak penentangan, Partai Fasis Indonesia sendiri tidak bertahan lama dalam kacah politik Pergerakan Kemerdekaan Indonesia saat itu.[9]

Referensi

  1. ↑ Arif Arianto dan Sudrajat. "Priyayi Jawa Terinspirasi Ras Aria". Majalah Detik, ed. 105, 2-8 Desember 2013.
  2. ↑ Pratomo, Angga Yudha. Fadillah, Ramadhian (ed.). "Terinspirasi Partai Nazi Indonesia, orang Jawa buat partai fasis". Merdeka.com. Diakses tanggal 03-11-2017.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  3. 1 2 3 Wilson, Orang dan Partai Nazi di Indonesia, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008) hal. 119
  4. ↑ Nino Oktorino, Nazi di Indonesia - Sebuah Sejarah yang Terlupakan, (Jakarta: Elex Media Komputindo) hal. 10
  5. ↑ Pratomo, Angga Yudha. Fadillah, Ramadhian (ed.). "Terinspirasi Partai Nazi Indonesia, orang Jawa buat partai fasis". Merdeka.com. Diakses tanggal 2017-11-03.
  6. ↑ Wilson, Orang dan Partai Nazi di Indonesia, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008) hal. 120
  7. ↑ Wilson, Orang dan Partai Nazi di Indonesia, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008) hal. 120
  8. 1 2 Wilson, Orang dan Partai Nazi di Indonesia, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008) hal. 118
  9. ↑ Nino Oktorino, Nazi di Indonesia - Sebuah Sejarah yang Terlupakan, (Jakarta: Elex media Komputindo,2015) hal. 37
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan