Jumat, 09 Oktober 2026
10:35 WIB
TERKINI
Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP

Noerdin Pandji

Bagikan:
Noerdin Pandji
Informasi pribadi
Lahir(1924-11-17)17 November 1924
Meninggal5 Juli 1998(1998-07-05) (umur 73)
Suami/istriFatimah
HubunganDodi Reza Alex Noerdin (cucu)
Anak7 (termasuk Alex Noerdin)
Karier militer
PihakIndonesia
Dinas/cabang40px-Insignia_of_the_Indonesian_Army.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail TNI Angkatan Darat
Pangkat40px-Pdu_mayortni_komando.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Mayor
Pertempuran/perangRevolusi Nasional Indonesia

Noerdin Pandji (17 November 1924 – 5 Juli 1998) adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Sumatera Selatan.[1] Pada saat Proklamasi Kemerdekaan yang diikuti oleh revolusi fisik, Noerdin Pandji berada dalam jajaran Pejuang Kemerdekaan di Sumatera Selatan dengan pangkat Mayor. Berbagai jabatan di embannya antara lain Komandan Batalyon Mobil dalam Komandemen Sub Teritorial Lampung (STL) dan sekaligus Komandan Front Utara STL di Kotabumi, Lampung Utara.

Kehidupan

Noerdin Pandji lahir pada 3 November 1924 di Gunung Meraksa Kecamatan Pendopo, Kabupaten Lahat dan anak dari putera H. Pangeran Ibrahim dari Gunung Meraksa dan Hj Fatimah. Istri Noerdin Panji juga merupakan putri dari Pangeran Abdul Hamid yang berasala dari Sekayu Ibu kota Marga Menteri Melayu di Kabupaten Musi Banyuasin.

Bagi Alex Noerdin, pihak ayah maupun ibu berasal dari keluarga yang pernah menduduki jabatan tertinggi dalam sistem pemerintahan marga yang tradisional. Tidak hanya pesirah atau pangeran yang menjadi panutan bagi warganya tetapi juga para keluarga terutama anak-anak sedapat mungkin menjadi contoh keteladanan pula dalam masyarakat.

Pada Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang pada Januari 1947, Noerdin Pandji berperan dalam memberikan bantuan militer kepada pasukan Republik yang mempertahankan Palembang. Pada hari keempat pertempuran, pasukan bantuan dari Lampung tiba di Palembang di bawah komando Mayor Noerdin Pandji, bersamaan dengan kedatangan pasukan dari Lahat yang dipimpin Harun Sohar. Kedatangan pasukan tersebut ditujukan untuk memperkuat pertahanan Republik menghadapi serangan Belanda.[2]

Keterlibatan Noerdin Pandji dalam perjuangan di Palembang juga menunjukkan adanya hubungan militer antara wilayah Sumatera Selatan dan Lampung selama revolusi fisik. Pasukan dari Lampung yang dipimpinnya dikirim ke Palembang untuk membantu menghadapi serangan Belanda dalam Pertempuran Lima Hari Lima Malam. Mobilisasi tersebut menunjukkan bahwa pertahanan terhadap Belanda tidak hanya dilakukan oleh pasukan yang berada di Palembang, tetapi juga melibatkan bantuan dari wilayah lain di Sumatera bagian selatan.[2]

Karier Militer

Pengalaman militer Noerdin Pandji telah dimulai sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Pada masa pendudukan Jepang, ia disebut bergabung dengan Giyugun dan memperoleh pengalaman dalam organisasi militer. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bekal yang digunakannya ketika terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sumatera Selatan setelah 1945.[3]

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Noerdin Pandji terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sumatera Selatan. Kedatangan pasukan Sekutu dan Belanda ke Palembang menjadi salah satu faktor yang mendorong keterlibatannya dalam perjuangan bersenjata. Pada periode tersebut, Noerdin Pandji tercatat sebagai bagian dari kekuatan militer Divisi I/Subkoss yang berkedudukan di Lahat.[4]

Dalam karier kemiliterannya, beliau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Divisi I Lahat, Sumatera Selatan. Kemudian Staf hubungan Komandan Sumatera Utara, Kepala Staf Resimen XI, Resimen 41 Lampung, Kepala Staf Brigade Garuda Hitam, Sub Teritorium Lampung dan terakhir Komandan Batalyon 205 Teritorium II Sriwijaya. Kemudian, pada tahun 1961 beliau mengundurkan diri dari kemiliteran atas permintaan sendiri dengan pangkat terakhir mayor infantri.

Karier Politik

Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Palembang, Noerdin Pandji menjalankan tugas militer di wilayah Palembang bagian selatan. Strategi yang digunakan dalam menghadapi kekuatan Belanda mencakup sistem pertahanan teritorial dan perang gerilya yang dikaitkan dengan strategi wehrkreise. Strategi tersebut menggabungkan pertahanan wilayah dengan perlawanan gerilya terhadap pasukan Belanda.[4]

Setelah keluar dari bidang kemiliteran, Noerdin Pandji aktif dalam berbagai kegiatan seperti anggota DPRD Sumatera Selatan[4] pada tahun 1960. Kemudian, beliau menjabat Ketua DPRD Sumsel pada tahun 1965-1966 dan Anggota MPRS Utusan Daerah pada tahun 1968.[5] Dia juga menjabat sebagai Ketua IV Dewan Harian Nasional Angkatan 45 tahun 1971-1976. Pada tahun 1974-1979, beliau juga sempat menjabat menjadi Ketua IV Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia. Selanjutnya, pada tahun 1979 beliau menjadi Kabat IDPOL dan anggota pimpinan pusat Legiun Veteran hingga menjabat Kepala Bagian Bina Patusi pimpinan pusat Legiun Veteran RI. Jiwa dan semangat serta pengabdian terhadap kehidupan masyarakat bangsa dan negara tecermin pula dari upayanya untuk menjadi orang nomor satu di Sumatera Selatan dengan ikut mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Selatan berturut-turut pada pemilihan tahun 1963, 1967 dan 1978 walaupun impiannya belum pernah tercapai.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Palembang berdampak terhadap kondisi militer, politik, ekonomi, dan sosial masyarakat. Penarikan pasukan dari sejumlah wilayah, kerusakan akibat pembumihangusan, serta gangguan terhadap kehidupan ekonomi dan sosial menjadi bagian dari kondisi Palembang pada masa revolusi fisik.[4]

Tanda Penghargaan

Nama Noerdin Pandji digunakan sebagai nama salah satu jalan di Kota Palembang, yaitu Jalan H.M. Noerdin Pandji. Jalan tersebut menjadi bagian dari jaringan jalan perkotaan di Palembang dan telah menjadi objek kajian mengenai kinerja persimpangan lalu lintas.[6]

Sebagai seorang Pejuang Kemerdekaan, ayah Alex Noerdin ini juga dianugerahi berbagai penghargaan atau tanda jasa antara lain: Bintang Gerilya (Era Revolusi Fisik), Satyalancana Peristiwa Perang Kemerdekaan I saat Belanda melakukan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947, Satyalancana Perang Kemerdekaan Dua (ketika Agresi Militer II pada 19 Desember 1948). Satyalancana Wira Dharma, Satyalancana Penegak. Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Urusan Veteran RI Nomor 276/MUV/1962 Noerdin Pandji diakui sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI Golongan A.

Kehidupan Pribadi

Gubernur_Sumatra_Selatan_Alex_Noerdin.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Bupati Musi Banyuasin (2001—2008) dan Gubernur Sumatera Selatan (2008—2018) Alex Noerdin yang merupakan anak dari Noerdin Panji dan ayah dari Dodi Reza Alex Noerdin, cucu Noerdin Pandji.

Setelah berakhirnya masa revolusi fisik, Noerdin Pandji melanjutkan kiprahnya di bidang pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan. Ia tercatat pernah menjadi anggota DPRD Sumatera Selatan dan kemudian menjabat sebagai Ketua DPRD Sumatera Selatan pada 1965–1966. Pada 1968 ia menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara sebagai utusan daerah. Noerdin Pandji juga aktif dalam organisasi veteran, termasuk Dewan Harian Nasional Angkatan 45 dan Legiun Veteran Republik Indonesia.[7]

Dalam lingkup keluarga, Noerdin Pandji adalah seorang pembina panutan dan contoh teladan terutama bagi putera-puterinya. Kedisiplinan ditanamkan sejak dini. Satu contoh kecil yang pernah dikemukakan sendiri oleh Alex Noerdin dan tetap dipatuhi oleh anak-anak bahkan cucunya adalah tidak merokok. Kebiasaan ini pula yang dibawa Alex Noerdin dalam lingkungan tugasnya kemudian sehingga dalam lingkungan kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Musi Banyuasin dapat dikatakan bebas asap rokok.

Sikap setia dan mencintai keluarga juga masyarakat tecermin dari wasiatnya sebelum meninggal pada 5 Juli 1998. Dari tanda penghargaan, terutama bintang gerilya, sebenarnya Noerdin Pandji dapat saja dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Akan tetapi, Noerdin Pandji minta dikuburkan satu liang kubur dengan isterinya, Hj Fatimah, yang telah wafat pada 24 November 1981 di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta.

Riwayat jabatan

  • Kepala Staf Divisi I di Lahat
  • Kepala Staf Resimen 41 Lampung
  • Kepala Staf Brigade Garuda Hitam Sub-Teritorium Lampung
  • Komandan Batalion 205 Teritorium II Sriwijaya.
  • Anggota DPRD-GR Sumatera Selatan (1960)
  • Ketua DPRD-GR Sumatera Selatan (1965-1966)
  • Anggota MPRS Utusan Daerah (1968)
  • Ketua IV Dewan Harian Nasional Angkatan 45 (1971—1976)
  • Ketua IV Pimpinan Pusat Legiun Veteran RI (1974—1979)
  • Kabat IDPOL dan anggota Pimpinan Pusat Legiun Veteran
  • Kepala Bagian Bina Patusi Pimpinan Pusat Legiun Veteran RI

Tanda Jasa

Referensi

  1. ↑ Wulandari, Melisa. "Mengenal Sosok HM Noerdin Panji Tokoh Dibalik Nama Jalan Akses Bandara SMB II Palembang". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2019-02-12.
  2. 1 2 "Palagan Palembang: Pertempuran Lima Hari Lima Malam – Museum TNI AD" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-08-23.
  3. ↑ koranpalpos.com. "Bukan Sekadar Nama Jalan, Ini Sejarah dan Perjuangan HM Noerdin Pandji di Sumatera Selatan". koranpalpos.com. Diakses tanggal 2026-08-23.
  4. 1 2 3 4 Sari, Arleta Okta (17 Sep 2020). "PERANAN MOHAMMAD NOERDIN PANDJI DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA DI PALEMBANG PADA TAHUN 1945-1949". Muhammadiyah Palembang.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "Ketua DPRD Prov. Sumsel – DPRD PROV SUMSEL". Diakses tanggal 2022-01-12.
  6. ↑ Gamara, M. Rizky Rewa; Rosyad, Farlin; Syarifudin, Achmad; Mulyati, Ely (2025-10-12). "ANALISIS KINERJA SIMPANG DI JALAN H.M NOERDIN PANDJI". Ensiklopedia of Journal. 8 (1): 184–193. ISSN 2654-8399.
  7. ↑ Semarang, Universitas STEKOM. "Noerdin Pandji | S1 | Terakreditasi | Universitas STEKOM Semarang". p2k.stekom.ac.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-08-23.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan