Jumat, 16 Oktober 2026
05:54 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Negara suapan

Bagikan:

Negara satelit atau negara suapan adalah sebuah istilah politik yang digunakan untuk menyebutkan suatu negara yang secara resmi merdeka, namun berada di bawah pengaruh dan kontrol politik dan ekonomi dari negara lain. Istilah ini diciptakan dengan menganalogikan planet yang mengorbit benda langit yang lebih besar, seperti bulan yang berputar di sekeliling planet. Istilah ini terutama sekali merujuk pada negara-negara Eropa Tengah dan Eropa Timur yang menjadi anggota dari Pakta Warsawa selama Perang Dingin, atau Mongolia antara tahun 1924 dan 1990.[1] Untuk kasus Eropa Tengah dan Timur, negara-negara tersebut merupakan "satelit" yang berada di bawah hegemoni Uni Soviet. Dalam beberapa konteks, istilah ini juga dapat mengacu pada negara-negara lain yang berada dalam lingkup pengaruh Soviet selama Perang Dingin seperti Korea Utara (khususnya saat terjadinya Perang Korea), dan Kuba (setelah bergabung dengan Comecon). Di Dunia Barat, istilah ini jarang digunakan untuk menyebut negara-negara selain yang menjadi satelit Soviet. Sedangkan di Soviet sendiri, istilah ini mengacu pada negara-negara yang mengorbit Jerman Nazi dan Italia Fasis sebelum Perang Dunia II.[butuh rujukan]

Dalam masa-masa perang atau ketegangan politik, negara-negara satelit kadang-kadang juga berfungsi sebagai penyangga antara negara musuh dan negara yang mengontrol negara satelit tersebut.[2] Istilah "negara satelit" sendiri masih diperdebatkan oleh beberapa pakar terkait dengan penggunaannya untuk menggambarkan [dugaan] subordinasi dari satu negara terhadap negara lainnya. Istilah lainnya yang juga digunakan di antaranya negara boneka dan neo-koloni. Secara umum, istilah "negara satelit" berarti kesetiaan ideologi dan militer yang mendalam terhadap kekuatan hegemonik, sedangkan negara boneka lebih menyiratkan pada ketergantungan politik dan militer, dan neo-koloni menyiratkan ketergantungan ekonomi. Tergantung pada aspek ketergantungan yang ditekankan, suatu negara dapat digolongkan ke dalam lebih dari satu kategori di atas.

Negara satelit Uni Soviet

500px-Location_Warsaw_Pakt.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Soviet dan negara-negara satelitnya pada era Perang Dingin.

Pasca-Perang Dunia I

Pasca-Perang Dunia II

Afganistan juga dapat dianggap sebagai negara satelit Soviet, dari tahun 1978 sampai 1992 pemerintah pusat di Kabul dikuasai oleh komunis, dan didukung langsung oleh kekuatan militer Soviet antara tahun 1979 dan 1989.[6]

Pasca-Perang Dingin

Para pakar terkadang menyatakan kekhawatiran bahwa intervensi militer dan diplomatik Amerika Serikat di Timur Tengah dan negara lainnya mungkin akan, atau telah menyebabkan munculnya negara satelit Amerika Serikat.[7][8] William Pfaff memperingatkan bahwa kehadiran permanen Amerika Serikat di Irak akan "mengubah Irak menjadi negara satelit Amerika."[9] Istilah negara satelit juga digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Lebanon dan Suriah, setelah Suriah dituduh campur tangan dalam urusan politik Lebanon.[10]

Lihat juga

Catatan kaki

  1. ↑ Source: NATO website 2nd Footnote at bottom
  2. ↑ Wood, Alan. [r=Routledge Stalin and Stalinism]. hlm. 62. ISBN 978-0-415-30732-1.{{cite book}}: Periksa nilai |url=
  3. ↑ Rao, B. V. (2006), History of Modern Europe A.D. 1789–2002, Sterling Publishers Pvt. Ltd.
  4. ↑ Sergey Radchenko (Juni 26, 2020). "Russia Still Treats Mongolia Like a Soviet Satellite". Foreign Policy.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Клинов, Анатолий Сергеевич (2019-04-15). "Пакт о нейтралитете между Японской империей и Союзом Советских Социалистических Республик, заключенный в Москве 13 апреля 1941 г., и вступление Советского Союза в войну против Японии". Общество: философия, история, культура (4): 50–56. doi:10.24158/fik.2019.4.8. ISSN 2221-2787.
  6. ↑ Olsen 2000, hlm. 19
  7. ↑ http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg10704.html
  8. ↑ http://www.stateofnature.org/normanFinkelstein.html
  9. ↑ Cooley, John (Juni 18, 2008). "How to silence that Iran war drumbeat". Christian Science Monitor. Diakses tanggal 2009-11-09.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Wachter, Paul (Januari 26, 2002). "Who killed Elie Hobeika?". Salon. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-05-23. Diakses tanggal 2009-11-09.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Referensi

  • Langley, Andrew (2006), The Collapse of the Soviet Union: The End of an Empire, Compass Point Books, ISBN 0-7565-2009-6
  • Merkl, Peter H. (2004), German Unification, Penn State Press, ISBN 0-271-02566-2
  • Olsen, Neil (2000), Albania, Oxfam, ISBN 0-85598-432-5
  • Rajagopal, Balakrishnan (2003), International law from below: development, social movements, and Third World resistance, Cambridge University Press, ISBN 0-521-01671-1{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  • Rao, B. V. (2006), History of Modern Europe Ad 1789-2002: A.D. 1789-2002, Sterling Publishers Pvt. Ltd, ISBN 1-932705-56-2
  • Wettig, Gerhard (2008), Stalin and the Cold War in Europe, Rowman & Littlefield, ISBN 0-7425-5542-9
  • Wood, Alan (2005), Stalin and Stalinism, Routledge, ISBN 978-0-415-30732-1
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan