Selasa, 06 Oktober 2026
18:52 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan
Nahunan

Nahunan

Ritual agama Kaharingan, Agama asli Suku Dayak

Bagikan:
Nahunan
250px-Peralatan_Ritual_Nahunan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peralatan Nahunan berupa mangkok tambak, mangkok tawur, piring malawen untuk tempat sesajen, piring kecil untuk darah ayam dan babi, gelas untuk tapung tawar, dan batu asah
JenisRitual pemberian nama bayi dalam agama Kaharingan
LokasiKalimantan Tengah
Tahun aktifDulu - Sekarang
PesertaUmat beragama Kaharingan
Badan pelindung
  • Majelis Agama Kaharingan Indonesia (MAKI)
  • Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MDA-HK)
  • Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBA-HK)
Tokoh
  • Mantir
  • Basir
(pemuka agama Kaharingan)

Nahunan adalah upacara keagamaaan Kaharingan yang dilakukan oleh suku Dayak di provinsi Kalimantan Tengah, khususnya di kalangan suku Dayak Ngaju yang tujuannya untuk memberikan nama kepada bayi pada usia 1-2 tahun.[1][2]

Upacara Nahunan merupakan salah satu dari beberapa ritual besar agama Kaharingan dikalangan suku Dayak Kalimantan Tengah, selain beberapa ritual lainnya seperti upacara ritual Mampakanan Sahur dan upacara Manyanggar. Masyarakat Dayak, hingga kini masih setia melestarikan aset leluhur mereka itu. Selain sebagai bentuk menghargai warisan leluhur, suku Dayak meyakini bahwa keseimbangan antara manusia, alam dan sang Pencipta merupakan suatu hubungan sinergis yang harus senantiasa tetap terjaga.[3][4]

Syarat-syarat

Syarat-syarat upacara Nahunan adalah hewan kurban (ayam dan babi), manik-manik (manas), batang sawang, rotan, rabayang, tunas kelapa, tambak, beras tawur, sesajen, abu perapian, patung (hampatung) pasak, tanggul layah/tanggul dare, batu asah, dan lain-lain.[5]

Makna

Upacara Nahunan mempunyi beberapa makna yaitu:

  1. . Upacara dilaksanakan dengan maksud sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada bidan kampung atau dukun bayi karena telah membantu proses kelahiran agar ibu dan bayi lahir dengan selamat
  2. . Sebagai sanjungan atas kelahiran bayi yang sangat didambakan dalam kehidupan berumah tangga.
  3. . Makna yang terakhir dan yang terpenting yaitu pemberian nama untuk sang bayi agar dikenal oleh masyarakat dalam pergaulan keseharian.[1]

Perlengkapan

Untuk melaksanakan upacara Nahunan tersebut, disiapkan berbagai perlengkapan upacara Nahunan baik perlengkapan untuk sang bayi maupun perlengkapan bidan. Untu sang bayi, disiapkan sebuah keranjang pakaian guna menyimpan pakaian sang bayi. Tuyang atau ayunan untuk menidurkan ketika upacara sedang dilangsungkan. Tuyang ini terbuat dari kulit kayu nyamu dan dihias dengan mainan sederhana terbuat dari botol bekas yang dirangkai sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yang unik.[1] Kemudian untuk melengkapi perlengkapan upacara, terdapat sangku besar berbentuk seperti mangkuk besar digunakan untuk memandikan bayi tak lupa Garantung untuk pijakan bayi ketika keluar.[1] Untuk perlengkapan sang bidan, terdapat sebuah Tanggul layah. sebuah topi yang digunakan sang bidan sebagai menutup kepala ketika membawa dan memandikan sang bayi ke sungai. ditambah lagi benda-benda yang sering digunakan seperti

Benda-benda Sakral

Selain perlengkapan diatas, juga terdapat benda-benda sakral sebagi perlengkapan upacara Nahunan yang utama yaitu:

Semua upacara dan perlengkapan ini tak lepas dari tujuan upacara Nahunan itu sendiri yakni menghargai daur kehidupan dari kelahiran hingga kematian. Masyarakat Dayak sangat memahami bahwa kehidupan mempunyai makna yang sangat dalam, semua tertuang dalam berbagai upacara yang diadakan, termasuk upacara Nahunan.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 "cubetangasi.com". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-04-11. Diakses tanggal 2015-04-11.
  2. ↑ "balaitradisional". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-04-17. Diakses tanggal 2021-05-15.
  3. ↑ "mirror.unpad.ac.id" (PDF). 23 Oktoer 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2015-04-13. Diakses tanggal 11 April 2015.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  4. ↑ "worldcat.org".
  5. ↑ "budaya-indonesia.org".
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan