Sabtu, 10 Oktober 2026
04:22 WIB
TERKINI
Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah

Muhammad al-Taqi

Bagikan:

Abu al-Husain Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Isma'il (Arab: أَبُو ٱلْحُسَيْن أَحْمَد ٱبْن عَبْد ٱللَّٰه ٱبْن مُحَمَّد ٱبْن إسْماعِيل, alih aksara: Abū al-Ḥusayn Aḥmad ibn ʿAbd Allāh ibn Muḥammad ibn Ismāʿīl; sekitar 790–840), yang umum dikenal sebagai Muhammad al-Taqi (Arab: مُحَمَّد ٱلْتَقِيّ, alih aksara: Muḥammad al-Taqī, har. 'Muhammad yang Saleh'), adalah Imam Ismailiyah kesembilan yang menggantikan ayahnya, Ahmad al-Wafi (meninggal 828).

Seperti ayahnya, ia terutama tinggal di Salamiyah, dan Abdullah bin Maymun al-Qaddah, kepala pendakwah, terus bertindak sebagai hijab ('penutup') baginya. Dikenal dengan gelar Sahib al-Rasa'il ('penguasa surat-surat'), al-Taqi disebut telah menyusun bersama para pengikutnya sebuah karya ensiklopedis berjudul Ensiklopedia Ikhwan al-Safa (Rasa'il Ikhwan al-Safa). Ia meninggal pada 840 di Salamiyah dan digantikan oleh putranya, al-Husain.

Biografi

Ahmad bin Abdullah lahir pada 174 H/790 M.[1] Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin kedua dakwah Ismailiyah dan, seperti ayahnya, hidup sebagai seorang pedagang di Salamiyah, Suriah.[2][3] Hujjah-nya adalah Abdullah bin Maymun al-Qaddah, kepala da'i, yang terus bertindak sebagai hijab ('penutup') baginya.[4][1][5] Al-Taqi kemungkinan hidup pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga Hijriah.[6] Ia memiliki reputasi sebagai sosok yang sangat berilmu.[7]

Al-Taqi dikenal sebagai pedagang Hasyimiyah terkemuka, sehingga banyak orang datang ke kediamannya.[1][8][7] Hal ini menimbulkan kecurigaan gubernur Suriah, yang kemudian melaporkannya kepada khalifah Abbasiyah al-Ma'mun (memerintah 813–833). Sang khalifah memerintahkan penangkapan al-Taqi, tetapi ia telah lebih dahulu meninggalkan Salamiyah selama beberapa tahun.[1][8] Selain menyebarkan ajarannya melalui para da'i, al-Taqi juga aktif terlibat dalam persoalan sosial dan filsafat pada masanya.[9]

Menurut cendekiawan Arab abad ke-10 Ibnu al-Nadim (meninggal 995), al-Taqi mengirim da'i al-Husain al-Ahwazi ke wilayah sekitar Kufah.[2][10] Tokoh tersebut kemudian berhasil mengislamkan Hamdan Qarmat dan mendirikan sekte "Qarmatiyah" di Irak.[11][10] Penulis anti-Ismailiyah Akhu Muhsin (meninggal 965) mengklaim bahwa al-Taqi mengarahkan da'i Abu Abdallah al-Shi'i ke Maghrib pada 279 H/892–893 M dan dengan demikian meletakkan dasar bagi kekuasaan Fatimiyah di sana.[2]

Literatur sektarian mengaitkan kepadanya penerbitan Ensiklopedia Ikhwan al-Safa (Rasa'il Ikhwan al-Safa'), yang membuatnya dikenal dengan gelar Sahib al-Rasa'il ('penguasa surat-surat').[12][13][14] Beberapa sumber Ismailiyah bahkan melaporkan bahwa penyusunan Rasa'il mungkin sudah dimulai sejak masa Imam Ja'far al-Sadiq sendiri dan diteruskan oleh tiga penerus Imam tersembunyinya.[14] Judul tersebut menggambarkan karya itu sebagai hasil kelompok "Ikhwan al-Safa" atau "Persaudaraan Kemurnian", sebuah perkumpulan yang berkembang di Basra dan membahas sastra, agama, filsafat, serta ilmu pengetahuan.[7][15] Dalam karya tersebut, kebijaksanaan pra-Islam seperti filsafat Helenistik dan astrologi Babilonia dipadukan dengan gagasan-gagasan Ismailiyah.[9]

Risalah-risalah itu disusun secara rahasia di dalam sebuah gua, dan setelah jumlah salinannya cukup banyak, semuanya ditempatkan secara serentak di masjid-masjid utama wilayah Abbasiyah.[9][15][14] Dalam risalah ke-44 terdapat sebuah pernyataan mengenai Yesus (Isa) yang dianggap unik dalam literatur Islam.[16] Penerbitan Rasa'il memicu kegelisahan terhadap Ismailiyah; karena itu, al-Taqi mengambil langkah berjaga-jaga dengan terus berpindah-pindah antara Daylam, Kufah, dan Askar Mukram — kampung halaman ayahnya — selalu dengan menyamar sebagai seorang pedagang.[17][2]

Menurut tradisi Ismailiyah, khalifah al-Ma'mun sangat ingin mengetahui sumber Rasa'il Ikhwan al-Safa dan mengumpulkan sekelompok cendekiawan untuk membahas teks tersebut; seorang wakil al-Taqi yang populer disebut Da'i al-Tirmidhi ikut serta dalam diskusi itu.[9][8] Al-Ma'mun berpura-pura telah sepenuhnya menerima doktrin Ismailiyah dan menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan al-Taqi. Ia berkata, "Aku adalah pecinta setia Imam [al-Taqi]. Aku memiliki keinginan untuk menyerahkan kekhalifahanku kepada Imam ketika aku melihatnya dan akan melayaninya dengan sepenuh hati".[8] Namun, al-Tirmidhi meragukan ketulusan permintaan tersebut dan, demi melindungi al-Taqi, ia mengatakan bahwa dirinya sendirilah sang Imam.[9] Al-Ma'mun segera memerintahkan pemenggalan kepala al-Tirmidhi.[18][19][9]

Al-Taqi dilaporkan meninggal pada 225 H/840 M di Salamiyah setelah mewariskan jabatan Imamah kepada putranya, al-Husain yang bergelar Abdullah al-Radi.[20][13][17] Putranya yang lain, Muhammad Abu'l-Shalaghlagh yang bergelar Sa'id al-Khayr, memiliki keturunan yang tinggal di Salamiyah dan dibunuh oleh kaum Qarmatiyah pada 290 H/902 M.[20]

Referensi

  1. 1 2 3 4 Tajddin 2009, hlm. 30.
  2. 1 2 3 4 Halm 1984.
  3. ↑ Tajddin 2009, hlm. 29.
  4. ↑ Ivanow 1942, hlm. 250.
  5. ↑ Rahim 2004, hlm. 839–4.
  6. ↑ Hollister 1953, hlm. 207, 208.
  7. 1 2 3 Hollister 1953, hlm. 208.
  8. 1 2 3 4 Tajddin 1997, hlm. 186.
  9. 1 2 3 4 5 6 Rahim 2004, hlm. 840.
  10. 1 2 Madelung & Halm 2016.
  11. ↑ Daftary 2007, hlm. 107.
  12. ↑ Tajddin 1997, hlm. 185, 186.
  13. 1 2 Daftary 2007, hlm. 100.
  14. 1 2 3 Leaman 2015, hlm. 239.
  15. 1 2 Tajddin 2009, hlm. 31.
  16. ↑ Hollister 1953, hlm. 208, 209.
  17. 1 2 Hollister 1953, hlm. 209.
  18. ↑ Ivanow 1942, hlm. 252.
  19. ↑ Tajddin 1997, hlm. 187.
  20. 1 2 Tajddin 1997, hlm. 198.

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan