Kamis, 01 Oktober 2026
04:48 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Metode cendekia

Metode cendekia

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Metode ilmiah atau Beasiswa.
330px-Gerbrand_van_den_Eeckhout_003.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Scholar and His Books oleh Gerbrand van den Eeckhout

Metode cendekia (bahasa Inggris: scholarly method) atau kecendekiaan (bahasa Inggris: scholarship) merupakan sekumpulan prinsip dan praktik yang digunakan oleh para cendekiawan dan akademisi agar klaim mereka tentang subjek keahlian mereka dapat dibuktikan dan dipercaya semaksimal mungkin, serta agar klaim tersebut diketahui oleh khalayak cendekia. Ini terdiri dari metode yang secara sistematis memajukan pengajaran, penelitian, dan praktik bidang studi cendekia atau akademis melalui penyelidikan yang ketat. Kecendekiaan bersifat kreatif, dapat didokumentasikan, dapat direplikasi atau dielaborasi, dan dapat ditinjau oleh rekan sejawat melalui berbagai metode.[1] Metode cendekia mencakup subkategori metode ilmiah, yang digunakan para ilmuwan untuk mendukung klaim mereka, dan metode historis, yang digunakan para sejarawan untuk memverifikasi klaim mereka.[2]

Metode

Metode sejarah meliputi teknik dan pedoman yang digunakan sejarawan untuk meneliti sumber-sumber primer dan bukti-bukti lain, lalu menulis sejarah . Pertanyaan tentang hakikat, dan juga kemungkinan, metode sejarah yang baik diajukan dalam filsafat sejarah sebagai pertanyaan tentang epistemologi. Pedoman sejarah yang umum digunakan oleh para sejarawan dalam pekerjaan mereka meliputi kritik eksternal, kritik internal, dan sintesis.

Metode empiris secara umum diartikan sebagai pengumpulan data yang dijadikan dasar hipotesis atau menarik kesimpulan dalam sains. Ini adalah bagian dari metode ilmiah, tetapi sering kali keliru diasumsikan sebagai sinonim dengan metode lain. Metode empiris tidak didefinisikan dengan jelas dan sering kali dipertentangkan dengan ketepatan eksperimen yang kemunculan datanya dari manipulasi variabel secara sistematis. Metode percobaan menyelidiki hubungan kausal antara variabel. Eksperimen merupakan landasan pendekatan empiris untuk memperoleh data tentang dunia dan digunakan dalam ilmu pengetahuan alam dan ilmu sosial. Suatu eksperimen dapat digunakan untuk membantu memecahkan masalah-masalah praktis dan untuk mendukung atau meniadakan asumsi-asumsi teoritis.

Metode ilmiah mengacu pada serangkaian teknik untuk menyelidiki fenomena, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan mengintegrasikan pengetahuan sebelumnya. Agar dapat disebut ilmiah, suatu metode penyelidikan harus didasarkan pada pengumpulan bukti-bukti yang dapat diamati, empiris, dan dapat diukur sesuai dengan prinsip-prinsip penalaran tertentu.[3] Metode ilmiah terdiri dari pengumpulan data melalui observasi dan eksperimen, serta perumusan dan pengujian hipotesis.[4]

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ "Defining Scholarship for the Discipline of Nursing". American Association of Colleges of Nursing. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-02-06. Diakses tanggal 2012-10-15.
  2. ↑
    • "Historical Methods". Faculty of History: University of Oxford (dalam bahasa Inggris).
    • Andersen, Hanne; Hepburn, Brian (2021). "Scientific Method". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University.
  3. ↑ Isaac Newton (1687, 1713, 1726). "[4] Rules for the study of natural philosophy", Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, Third edition. The General Scholium containing the 4 rules follows Book 3, The System of the World. Reprinted on pages 794-796 of I. Bernard Cohen and Anne Whitman's 1999 translation, University of California Press ISBN0-520-08817-4, 974 pages.
  4. ↑ "scientific method". Merriam-Webster Dictionary.

Templat:Kebijaksanaan

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan