Sabtu, 10 Oktober 2026
16:10 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober
Maudu Lompoa

Maudu Lompoa

Bagikan:
250px-TRADISI_MAUDU_LOMPOA_TAKALAR.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tradisi Maudu Lompoa
250px-Raiyani_Muharramah_Maudu_Lompoa_DSC_4932.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perahu (julung-julung) yang sudah dihias diangkut dengan gotong royong menuju sungai Cikoang

Maudu Lompoa adalah prosesi peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan budaya suku Makassar. Secara etimologi Maudu Lompoa berasal dari bahasa Makassar, terdiri dari dua kata yaitu maudu dan lompoa. Maudu berarti maulid dan lompoa berarti besar, jadi Maudu Lompoa berarti Maulid Besar.[1] Maudu Lompoa merupakan peringatan tahunan khas suku Makassar di Kabupaten Takalar yang berpusat di Sungai Cikoang.

Tradisi Maudu Lompoa ini dahulu dipelihara oleh keluarga Sayyid Bafaqih Al'-Aidid. Diperingati setiap tahun di desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar dengan luas wilayah 566,51 km² dan penduduk ± 250.000 jiwa, berada provinsi Sulawesi Selatan.[2]

Rangkaian kegiatan peringatan kelahiran Nabi Muhammad ini sudah berlangsung satu minggu sebelumnya. Masyarakat mempersiapakan segala kebutuhan mulai dari kapal kayu, kain sarung, aneka telur, kertas warna warni serta berbagai bahan makanan yang nanti akan disusun dan ditata dalam sebuah kapal kayu. Puncak acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad inilah yang disebut Maudu Lompoa[3]

Puncak acara berpusat di sekitar sungai Cikoang. Aneka kapal berhias warna warni serta alunan gendang tradisional saling bertabuh di sepanjang jalan desa Cikoang. Maudu Lompoa menjadi salah satu bukti meleburnya dua unsur yang berbeda, yaitu agama dan kebudayaan lokal Makassar yang membentuk sebuah tradisi budaya yang dipelihara dengan baik. Semua jenis lapisan masyarakat turut serta dengan sukacita dan antusias ikut bergabung bekerja dan bergotong-royong dalam merayakan tradisi Maudu Lompoa. Tradisi yang telah turun temurun berlangsung adalah sebagai bentuk ekspresi nyata masyarakat Kabupaten Takalar terhadap Nabi Muhammad SAW berserta keluarga Nabi[4]

250px-Raiyani_Muharramah_Maudu_lompoa_DSC_4841.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Acara maudu lompoa berakhir di sungai Cikoang dengan mandi bersama

Banyak hal menarik yang bisa kita saksikan pada tradisi Maudu Lompoa yaitu kapal kayu yang disebut julung-julung oleh masyarakat takalar akan dihias semenarik mungkin. Di dalam kapal yang dihias tersebut akan diisi dengan berbagai macam bahan pokok antara lain yang paling banyak ditemukan adalah telur yang diwarnai aneka warna hingga tampil mencolok dan meriah, dihias juga dengan hasil bumi berupa padi, ubi, sayur dan buah-buahan dari wilayah sekitar Kabupaten Takalar. Selain telur dan hasil bumi. Segala keperluan dan perlengkapan yang disiapkan di julung-julung merupakan simbolisasi ajaran Islam dahulu masuk ke wilayah desa Cikoang dibawa oleh jalur perdagangan. Aneka pernak-pernik melengkapi setiap julung-julung seperti bakul besar yang terbuat dari anyaman daun lontar, masyarakat setempat menyebutnya dengan Baku Maudu. Bakul besar diisi dengan nasi setengah matang dilengkapi juga dengan lauk ayam kampung. Julung-julung ini nantinya akan dikumpulkan di sebuah titik yang telah ditentukan disekitar sungai Cikoang. Keseruan masyarakat mengangkat julung-julung adalah pemandangan unik yang bisa disaksikan. Karena sangat terlihat bentuk kentalnya gotong-royong yang terjalin pada masyarakat, dari menghias, mempersiapkan, menggotong, hingga tiba di sungai Cikoang. Puncak acara diisi dengan ceramah keagamaan di atas Baruga di pinggir sungai Cikoang, sebelumnya diisi pula dengan pembacaan syair-syair atau shalawat pada Nabi Muhammad SAW yang biasa di sebut Rate', serta atraksi Akmanca' yaitu atraksi pencak silat oleh para tetua dan muda-muda kabupaten Takalar dan sekitarnya[5]

250px-Silsilah_Manuskrip_Nasab_Baharullah_Bafagih_Sulteng.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Silsilah Nasab Sayyid

Sejarah

Pada abad ke 17 seorang tokoh keturunan Nabi Muhammad SAW ke 29, beliau juga cicit dari Sultan Mahkota Alam di Aceh(ibu dari ibunya adalah putri aceh). Sementara ayahnya yang memiliki garis keturunan dari Al-Imam Sayyid Abdullah Bafaqih bin Muhammad Maula Aidid(Shahib Aidid) Imam dan Pemimpin Kota Aidid di Arab Hadramaut di Arab Selatan yang adalah Ahlulbait Nabi dari Sayyidina Husain. beliau adalah Sayyid Alwi Jalaluddin bin Ahmad(kunyah muhammad wahid) bin Abubakar Bafaqih Al’ Aidid tiba di kerajaan Gowa. Saat itu masa pemerintahan kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Alauddin.

250px-Sayyid_Jalaluddin_Bafaqih_Al-Aidid.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Ilustrasi Sayyid Jalaluddin berdasar dari lukisan salahsatu keturunannya Sayyid Maluddin bin Abubakar[6]

Berjalan waktu Sayyid Jalaluddin bin Ahmad Bafaqih Al' Aidid diangkat menjadi Mufti kerajaan oleh Sultan Alauddin dan Putra Mahkota Kerajaan diberinya nama Muhammad al-Baqir I Mallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin.

Beliau menikahi seorang putri bangsawan Kerajaan Gowa bernama I Acara’ Daeng Tamami Binti Sultan Abdul Kadir Alauddin. Beberapa waktu kemudian, Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al'Aidid pamit pada Sombaya di Gowa dan kemudian menitipkan istrinya I Acara’ Daeng Tamami Binti Sultan Abdul Kadir Alauddin di Balla Lompoa, Gowa.

Beliau meninggalkan Balla Lompoa dengan berbekal sehelai sajadah sebagai kendaraan pribadinya dan sebuah tempat air wudhu (cerek) menemaninya. Tidak memerlukan waktu yang lama Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al'Aidid tiba disebelah utara pulau Tanakeke, dilanjutkan ke sebelah utara Sungai Bontolanra, Parappa, Sanrobone, dan Sungai Maccinibaji.[7]

Pada saat yang sama di sebelah utara hulu sungai yaitu muara sungai Cikoang(Kerajaan Cikoang Laikang di Takalar), I Bunrang Karaeng Ngemba(bangsawan sekaligus kesatria Cikoang) memasang kuala. Lalu, di sebelah selatan hulu sungai, I Danda Karaeng Masse (bangsawan sekaligus kesatria Cikoang) juga memasang kuala. Esoknya, I Danda Karaeng Masse dan I Bunrang Karaeng Ngemba melihat sebuah benda berbentuk kapal laut besar lewat di sebelah utara Tompo’tanah, kemudian kapal besar tersebut berubah bentuk menjadi sebuah benda yang mengeluarkan cahaya. Kedua bangsawan kesatria Cikoang itu bergegas mendayung perahu mereka mendekat, keduanya kemudian tercengang ternyata benda bercahaya itu adalah wujud seorang manusia duduk bersila mengenakan imamah(surban), baju jubah, dengan kitab-kitab Islam dan sebuah cerek untuk air wudhu disisinya dan duduk di atas sajadah yang berjalan atau bergerak diatas disungai, beliau Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al'Aidid yang telah tiba di Cikoang. Akhirnya Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al'Aidid diajak ke perahu I Danda Karaeng Masse dan I Bunrang Karaeng Ngemba(dengan masing-masing kakinya menginjak kedua perahu) menuju tepi sungai Cikoang dan akhirnya menjadikan I Danda Karaeng Masse dan I Bunrang Karaeng Ngemba menjadi murid terdekatnya Sayyid Djalaluddin Bafaqih Al'Aidid(dimasa itu Syaikh Yusuf Al-Makassari sebagai murid terdekatnya yang terakhir belum berguru kepadanya). Sejalan waktu Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al'Aidid mengutus I Danda Karaeng Masse dan I Bunrang Karaeng Ngemba untuk menjemput istri tercintanya yaitu I Acara’ Daeng Tamami Binti Sultan Abdul Kadir Alauddin di Balla Lompoa Gowa. Akhirnya Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al'Aidid menetap di Cikoang, Mengislamkan Sulawesi Selatan diujung Selatan yaitu Takalar(termasuk Cikoang didalamnya yang sebelumnya menolak Islam tapi menerima Islam saat datangnya Sayyid), mengajarkan Halaqah Ilmu (Fiqih Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma'rifat berdasar Ahlu Sunnah berfaham Baharunnur Baalawi, Qadiriyah wa Khalwatiyah) dan memimpin jamaah masyarakat Cikoang dalam Keagamaan.

Beliau menurunkan keturunan yang melanjutkan nasab & kafa'ah keturunannya yaitu Sayyid Umar(gelarnya Tuanta Toayya/Tuan yang sulung), Syarifah Fatimah Nur & Sayyid Syahabbuddin(gelarnya Tuanta Loloa/Tuan yang bungsu) yang kemudian melanjutkan ajarannya.

Sebelum pelaksanaan Peringatan Majelis Shalawat Maulid Nabi Muhammad atau dalam Bahasa Makassarnya di sebut Maudu Lompoa, dilaksanakanlah Tradisi Mandi Syafar mulai dilakukan pertama kali oleh Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al'Aidid pada 10 Syafar 1041 H yaitu saat memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad yang jatuh pada 1041 Hijriah atau 1632 Masehi[8]

Persiapan acara

250px-Raiyani_Muharramah-Proses_menghias_telur_untuk_acara_maudu_lompoa_DSC_4491.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Warga sedang mempersiapkan hiasan telur untuk acara maudu lompoa

Pelaksanaan perayaan Maudu Lompoa memerlukan persiapan 40 hari sebelum acara puncak. Persiapan diawali dengan je'ne-je'ne Sappara (mandi pada bulan Syafar) oleh masyarakat Cikoang yang dipimpin sesepuh atau guru adat. Selanjutnya, mempersiapkan ayam kampung yang akan dihidangkan pada puncak acara, yang harus dikurung selama 40 hari di tempat bersih dan diberi makan beras bagus.Pada saat yang sama, masyarakat juga mulai melakukan prosesi angnganang baku yaitu membuat bakul beras dari daun lontar. Selanjutnya, masyarakat menjemur padi dalam lingkaran pagar, dilanjutkan adengka ase, yakni menumbuk padi dengan lesung. Setelah itu, warga setempat mengupas kelapa utuh yang ditanam sendiri

Referensi

  1. ↑ Haris, Muh. "Maudu Lompoa, Akulturasi Budaya Makassar dengan Islam yang Memukau". Kompasiana. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-01-31. Diakses tanggal 2019-09-23.
  2. ↑ "Salinan arsip" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-04-15. Diakses tanggal 2019-04-15.
  3. ↑ Abdurrahman, Muhammad Nur. "Uniknya Peringatan Maulid Nabi 'Maudu Lompoa' di Cikoang Sulsel". detiknews. Diakses tanggal 2019-04-15.
  4. ↑ https://www.antaranews.com/berita/1181631/maudu-lompoa-cikoang-sedot-pengunjung-luar-provinsi
  5. ↑ https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/
  6. ↑ Sila, Muhammad Adlin. Maudu' (dalam bahasa Inggris). ANU Press. doi:10.22459/M.11.2015. ISBN 978-1-925022-71-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  7. ↑ "Salinan arsip" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-01-02. Diakses tanggal 2019-04-15.
  8. ↑ Kaya, Indonesia. "Maudu Lompoa: Ketika Peringatan Agama Islam Bercampur dengan Kearifan Lokal - Situs Budaya Indonesia". IndonesiaKaya (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2019-04-15.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan