Kamis, 29 Oktober 2026
06:39 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Mardi Luhung

Bagikan:

Mardi Luhung (lahir 5 Maret 1965) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan salah satu penerima anugerah sastra Kusala Sastra Khatulistiwa, pada tahun 2010 melalui kumpulan puisinya, BUWUN/Bawean. Namanya masuk dalam Angkatan 2000 dalam buku karya Korrie Layun Rampan.[1][2][3]

Latar belakang

Mardi Luhung lahir dan tumbuh dia Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sejak duduk di SMP, dia sudah menulis puisi. Dan ketika di SMA (tahun 1984), beberapa puisinya sudah dimuat di majalah remaja HAI (Jakarta). Dia menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Jember. Ia memiliki bahasa ungkap cukup unik dalam puisi-puisinya, dan kerap bersentuhan dengan sastra wacan, semacam tradisi sastra macapatan pesisiran khas Gresik, Jawa Timur. Puisinya khas suara-suara pesisir yang berbicara secara terbuka, dan langsung apa adanya dengan menyemburkan diksi maupun imaji yang cenderung dihindari oleh mainstream perpuisian di tanah air karena dianggap kasar atau jorok. Ia, dengan santai, menulis ‘tukang jagal’, ‘kelamin yang dikerat’, ‘mayat gembong’, dan ‘kencing’ serta sederet ungkapan khas lainnya dengan logikanya sendiri, yang mampu membentangkan panorama kehidupan sosial pesisir yang keras. Sebagai penyair, Mardi Luhung tak henti memperluas dirinya sampai ke tapal-batas terjauh, bahkan hingga ke yang mustahil. Puisi-puisinya banyak tersebar di berbagai media, seperti Jurnal Kebudayaan Kalam, TUK Volume II Bertandang dalam Proses, Surabaya Post, HAI, Kuntum, Tebuireng, Memorandum, Kalong, Teras, Buletin DKS Kidung DK-Jatim, dan Karya Darma. Sedangkan buku-buku yang memuat puisinya adalah Antologi Puisi Indonesia 1997 (KSI), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Horison Sastra Indonesia Kitab Puisi (2002), Bapakku telah Pergi (BMS, 1995), dan Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996). Buku puisinya yang telah terbit antara lain Terbelah Sudah Jantungku, Wanita yang Kencing di Semak, Ciuman Bibirku yang Kelabu, dan Buwun. Sedangkan karya drama yang telah ditulisnya adalah Tumpat (1993), Transaksi (1994), dan Dari Tanah ke Tanah (1994).[4]

Karya

  • Terbelah Sudah Jantungku,
  • Wanita yang Kencing di Semak, Ciuman Bibirku yang Kelabu, Buwun/Bawean,
  • Tumpat (1993),
  • Transaksi (1994),
  • Dari Tanah ke Tanah (1994)

Penghargaan

  • Pemenang lomba penulisan esai tingkat nasional pada Sayembara Mengarang tentang Apresiasi Sastra untuk Guru SLTA yang diadakan oleh Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1999)
  • Khatulistiwa Literary Award 2010 lewat Kumpulan Puisi BUWUN/Bawean

Lihat pula

Referensi

Puisi/Nonfiksi
Prosa/Fiksi
Penulis Muda Berbakat
Karya Perdana atau Kedua


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan