Senin, 26 Oktober 2026
13:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung
Iksaka Banu

Iksaka Banu

penulis Indonesia

Bagikan:
Iksaka Banu
250px-Iksaka_Banu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir(1964-10-07)7 Oktober 1964
PekerjaanSastrawan, komikus, praktisi periklanan
Masa aktif1989 - sekarang

Iksaka Banu (lahir 7 Oktober 1964) adalah seniman berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa komik dan prosa yang dipublikasikan ke berbagai media massa. Iksaka Banu merupakan salah satu penerima Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa melalui karyanya, Semua Untuk Hindia, pada tahun 2014, dan Penghargaan Pena Kencana (2008 dan 2009).[1][2][3][4]

Latar belakang

Iksaka Banu lahir di Yogyakarta, 7 Oktober 1964. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Bekerja di bidang periklanan di Jakarta hingga tahun 2006, kemudian memutuskan menjadi praktisi periklanan yang bekerja lepas. Semasa kanak-kanak (1974–1976), ia beberapa kali mengirim tulisan ke rubrik Anak, Harian Angkatan Bersenjata. Karyanya pernah pula dimuat di rubrik Anak Harian Kompas dan Majalah Kawanku. Namun, kegiatan menulis terhenti karena tertarik untuk mencoba melukis komik. Lewat kegiatan melukis komik ini, ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia memperoleh kesempatan membuat cerita bergambar berjudul Samba si Kelinci Perkasa di Majalah Ananda selama tahun 1978.[5]

Proses kreatif

Setelah lulus kuliah, pada tahun 1989 ia mengawali kariernya sebagai seorang pengarah seni di sebuah biro iklan di Jakarta. Enam belas tahun kemudian setelah lima kali berpindah tempat kerja, akhirnya ia memutuskan berkarier sendiri sebagai praktisi iklan dan pekerja lepas di bidang komunikasi visual. Dari dunia iklan, ia memperoleh beberapa penghargaan di ajang Citra Pariwara, di antaranya, medali emas untuk sebuah iklan (TV) mobil pada tahun 1996, medali emas untuk iklan (majalah) sebuah produk susu pada tahun 2001, dan finalis desain kalender pilihan panitia The New York Festival 1993.

Kesibukan di bidang periklanan ternyata benar-benar menyita sebagian besar waktu, sehingga membuatnya nyaris melupakan dunia tulis-menulis. Namun, pada akhir tahun 2000, dalam sebuah jeda cuti panjang, ia mencoba menulis sebuah cerita pendek dan dimuat di Majalah Matra. Sejak itu ia kembali giat menulis. Sejumlah karyanya hadir di majalah Femina, Horison, Media Indonesia, Jurnal Perempuan, serta Koran Tempo. Pada awalnya ia menulis dalam berbagai tema, tetapi akhirnya lebih memilih menulis cerita berlatar sejarah kolonial. Dua buah cerita pendeknya, Mawar di Kanal Macan dan Semua untuk Hindia, berturut-turut terpilih menjadi salah satu dari 20 cerpen terbaik Indonesia versi Pena Kencana tahun 2008 dan 2009. Kumpulan cerita pendek bertema sejarah kolonialnya dibukukan dengan judul Semua untuk Hindia, dan pada tahun 2014 meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori prosa. Karyanya, Teh dan Pengkhianat, juga meraih penghargaan yang sama, pada tahun 2019.[6][7]

Lihat pula

Referensi

Puisi/Nonfiksi
Prosa/Fiksi
Penulis Muda Berbakat
Karya Perdana atau Kedua


Ikon rintisan

Artikel bertopik seni ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan