Sabtu, 17 Oktober 2026
08:02 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super
Lahan basah

Lahan basah

Bagikan:
Ekosistem yang tergenang atau jenuh oleh airTemplat:SHORTDESC:Ekosistem yang tergenang atau jenuh oleh air
Untuk kegunaan lain, lihat Wetland (disambiguation).
Zona dataran tinggi, lahan basah, dan lakustrin
Hutan rawa air tawar di Bangladesh
Rawa gambut merupakan lahan basah air tawar yang berkembang di daerah dengan air tergenang dan kesuburan tanah yang rendah.
Lahan basah Mount Polley di British Columbia, Kanada
Lahan basah memiliki berbagai ukuran dan jenis. Dari kiri atas: zona dataran tinggi, lahan basah, dan lakustrin; hutan rawa air tawar di Bangladesh; rawa gambut merupakan lahan basah air tawar yang berkembang di daerah dengan air tergenang dan kesuburan tanah yang rendah; rawa tumbuhan gelagah air tawar (Typha) yang berkembang dengan air tergenang dan kesuburan tanah yang tinggi.

Lahan basah adalah ekosistem semiakuatik khas yang tutupan lahannya tergenang atau jenuh oleh air, baik secara permanen, selama bertahun-tahun atau beberapa dekade, maupun hanya secara musiman. Penggenangan menyebabkan berlangsungnya proses dengan kandungan oksigen rendah (anoksik), terutama di dalam tanah.[1] Lahan basah membentuk zona transisi antara badan air dan daratan kering, serta berbeda dari ekosistem darat atau perairan lainnya karena akar vegetasinya telah beradaptasi dengan tanah tergenang air yang miskin oksigen.[2] Lahan basah dianggap sebagai salah satu ekosistem yang paling beragam secara biologis, yang menjadi habitat bagi berbagai tumbuhan dan hewan akuatik dan semiakuatik. Lahan basah juga sering meningkatkan kualitas air melalui penyerapan kelebihan nutrien seperti nitrat dan fosfor oleh tumbuhan.

Lahan basah terdapat di setiap benua, kecuali Antarktika.[3] Air di lahan basah dapat berupa air tawar, air payau, atau air laut.[2] Jenis lahan basah yang umum dijelaskan berdasarkan tumbuhan dominan dan sumber airnya. Misalnya, rawa adalah lahan basah yang didominasi vegetasi herba emergen seperti gelagah, lili air, dan teki. Rawa berhutan didominasi vegetasi berkayu, seperti pohon dan semak (meskipun rawa gelagah di Eropa didominasi oleh gelagah, bukan pohon). Hutan mangrove adalah lahan basah yang ditumbuhi mangrove dan tumbuhan berkayu halofit yang telah berevolusi untuk mentoleransi air asin.

Contoh lahan basah yang diklasifikasikan berdasarkan sumber airnya antara lain lahan basah pasang surut, yang sumber airnya adalah pasang surut laut; estuari, yang sumber airnya merupakan campuran air pasang dan air sungai; dataran banjir, yang sumber airnya berasal dari kelebihan air akibat luapan sungai atau danau; serta bog dan kolam vernal, yang sumber airnya berasal dari curah hujan atau air lelehan salju, terkadang melalui mata air air tanah.[1][4] Lahan basah terbesar di dunia meliputi Daerah Aliran Sungai Amazon, Dataran Siberia Barat,[5] Pantanal di Amerika Selatan,[6] dan Sundarbans di delta Gangga–Brahmaputra.[7]

Lahan basah menyediakan banyak jasa ekosistem yang bermanfaat bagi manusia. Jasa tersebut antara lain pemurnian air, stabilisasi garis pantai, perlindungan dari badai, dan pengendalian banjir. Selain itu, lahan basah juga memproses dan mengikat karbon (dalam proses yang disebut fiksasi karbon dan sekuestrasi), serta nutrien dan polutan air lainnya. Lahan basah dapat berfungsi sebagai penyerap maupun sumber karbon, tergantung pada karakteristik lahan basah tertentu. Jika berfungsi sebagai penyerap karbon, lahan basah dapat membantu mitigasi perubahan iklim. Namun, lahan basah juga dapat menjadi sumber signifikan emisi metana akibat dekomposisi anaerobik dari detritus yang terendam, dan beberapa di antaranya juga menghasilkan dinitrogen monoksida.[8][9]

Manusia mengganggu dan merusak lahan basah dengan berbagai cara, termasuk ekstraksi minyak dan gas, pembangunan infrastruktur, penggembalaan berlebihan ternak, penangkapan ikan berlebihan, perubahan lahan basah termasuk pengerukan dan pengeringan, pencemaran nutrien, serta pencemaran air.[10][11] Menurut Millennium Ecosystem Assessment tahun 2005, lahan basah lebih terancam oleh degradasi lingkungan dibandingkan ekosistem lainnya di Bumi.[12] Terdapat berbagai metode untuk menilai kesehatan ekologi lahan basah. Metode-metode ini berkontribusi terhadap konservasi lahan basah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai fungsi yang dapat diberikan oleh lahan basah.[13] Sejak 1971, suatu perjanjian internasional berupaya mengidentifikasi dan melindungi "lahan basah yang memiliki kepentingan internasional".

Templat:TOC level

Definisi dan terminologi

330px-A_somewhat_smoggy_Midtown_Manhattan_skyline_as_seen_from_Jamaica_Bay_-_panoramio_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rawa sering ditemukan sebagai bagian dari lahan basah, seperti yang terlihat di Jamaica Bay Wildlife Refuge di New York City.

Definisi teknis

Definisi sederhana lahan basah adalah "wilayah daratan yang biasanya jenuh dengan air".[14] Secara lebih tepat, lahan basah adalah wilayah di mana "air menutupi tanah, atau terdapat di permukaan atau dekat permukaan tanah sepanjang tahun atau selama periode yang berbeda-beda dalam setahun, termasuk selama musim pertumbuhan".[15] Sebidang tanah yang membentuk genangan air setelah hujan belum tentu dianggap sebagai "lahan basah", meskipun tanah tersebut basah. Lahan basah memiliki karakteristik unik: umumnya dibedakan dari badan air atau bentang alam lainnya berdasarkan tinggi muka air dan jenis tumbuhan yang hidup di dalamnya. Secara khusus, lahan basah dicirikan oleh muka air tanah yang berada pada atau dekat permukaan tanah selama waktu yang cukup lama setiap tahun untuk mendukung tumbuhan akuatik.[16][17]

Definisi yang lebih ringkas adalah komunitas yang tersusun atas tanah hidrik dan hidrofit.[1]

Lahan basah juga digambarkan sebagai ekoton, yang menyediakan transisi antara daratan kering dan badan air.[18] Lahan basah berada "...pada antarmuka antara ekosistem terestrial dan sistem habitat akuatik, sehingga secara inheren berbeda satu sama lain, tetapi sangat bergantung pada keduanya."[11]

Dalam pengambilan keputusan lingkungan, terdapat sejumlah definisi yang disepakati untuk membuat keputusan regulasi dan kebijakan.

Menurut perjanjian internasional Ramsar tentang konservasi lahan basah, lahan basah didefinisikan sebagai berikut:[19]

  • Pasal 1.1: "...lahan basah adalah daerah rawa, fen, lahan gambut atau perairan, baik alami maupun buatan, permanen maupun sementara, dengan air yang tergenang atau mengalir, tawar, payau atau asin, termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya pada saat air surut tidak melebihi enam meter."
  • Pasal 2.1: "[Lahan basah] dapat mencakup zona riparian dan pesisir yang berdekatan dengan lahan basah, serta pulau atau badan air laut yang lebih dalam dari enam meter pada saat air surut yang berada di dalam lahan basah."

Definisi ekologis lahan basah adalah "ekosistem yang muncul ketika penggenangan oleh air menghasilkan tanah yang didominasi proses anaerobik dan aerobik, yang kemudian memaksa biota, khususnya tumbuhan berakar, untuk beradaptasi terhadap penggenangan".[1]

Terkadang definisi hukum yang tepat mengenai lahan basah diperlukan. Definisi yang digunakan untuk regulasi oleh pemerintah Amerika Serikat adalah: 'Istilah "lahan basah" berarti wilayah yang tergenang atau jenuh oleh air permukaan atau air tanah dengan frekuensi dan durasi yang mendukung, dan dalam keadaan normal memang mendukung, dominasi vegetasi yang biasanya beradaptasi untuk hidup dalam kondisi tanah jenuh. Lahan basah umumnya mencakup rawa, marsh, bog, dan wilayah serupa lainnya.'[20]

Untuk setiap definisi tersebut dan definisi lainnya, terlepas dari tujuannya, hidrologi ditekankan (perairan dangkal, tanah tergenang air). Karakteristik tanah serta tumbuhan dan hewan yang dikendalikan oleh hidrologi lahan basah sering menjadi komponen tambahan dalam definisi tersebut.[21]

Jenis

500px-Sunrise_at_viru_bog.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Matahari terbit di Viru Bog, Estonia

Lahan basah dapat berupa pasang surut (tergenang oleh pasang surut) atau nonpasang surut.[15] Air di lahan basah dapat berupa air tawar, air payau, air asin, atau alkali.[2] Ada empat jenis utama lahan basah – marsh, swamp, bog, dan fen (bog dan fen merupakan jenis lahan gambut atau mire). Beberapa ahli juga mengakui padang rumput basah dan ekosistem akuatik sebagai jenis lahan basah tambahan.[1] Subjenisnya meliputi hutan mangrove, carr, pocosin, dataran banjir,[1] lahan gambut, kolam vernal, cekungan, dan banyak lainnya.[22]

Tiga kelompok berikut digunakan di Australia untuk mengklasifikasikan lahan basah berdasarkan jenisnya: lahan basah zona laut dan pesisir, lahan basah pedalaman, dan lahan basah buatan manusia.[23] Di Amerika Serikat, klasifikasi yang paling dikenal adalah sistem klasifikasi Cowardin[24] dan sistem klasifikasi hidrogeomorfik (HGM). Sistem Cowardin mencakup lima jenis utama lahan basah: laut (berasosiasi dengan samudra), estuari (campuran yang berasosiasi dengan laut dan sungai), riverine (di dalam saluran sungai), lakustrin (berasosiasi dengan danau), dan palustrin (habitat pedalaman nonpasang surut).

Lahan gambut

Lahan gambut merupakan jenis lahan basah unik di mana pertumbuhan tumbuhan yang subur dan pembusukan tumbuhan mati yang lambat (dalam kondisi anoksik) menghasilkan akumulasi gambut organik; bog, fen, dan mire merupakan nama berbeda untuk lahan gambut.

Nama lahan basah

Berbagai nama untuk sistem lahan basah:

Beberapa lahan basah memiliki nama lokal yang khas suatu wilayah, seperti prairie pothole di dataran utara Amerika Utara, pocosin, Carolina bay dan baygall[25][26] di Amerika Serikat bagian tenggara, mallines di Argentina, kolam musiman Mediterania di Eropa dan California, turlough di Irlandia, billabong di Australia, dan banyak lainnya.

Lokasi

Berdasarkan zona suhu

250px-MiddleSpring.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahan basah kontras dengan lanskap panas dan gersang di sekitar Middle Spring, Fish Springs National Wildlife Refuge, Utah.

Lahan basah ditemukan di seluruh dunia dalam berbagai iklim.[15] Suhu sangat bervariasi tergantung lokasi lahan basah. Banyak lahan basah di dunia berada di zona beriklim sedang, di antara Kutub Utara atau Selatan dan khatulistiwa. Di zona-zona ini, musim panas hangat dan musim dingin dingin, tetapi suhunya tidak ekstrem. Di lahan basah zona subtropis, seperti di sepanjang Teluk Meksiko, suhu rata-rata dapat mencapai 11 °C (52 °F). Lahan basah di wilayah tropis mengalami suhu yang jauh lebih tinggi selama sebagian besar tahun. Suhu lahan basah di Semenanjung Arab dapat melebihi 50 °C (122 °F) sehingga habitat ini mengalami penguapan yang cepat. Di timur laut Siberia, yang memiliki iklim kutub, suhu lahan basah dapat mencapai −50 °C (−58 °F). Lahan gambut di wilayah Arktik dan subarktik mengisolasi permafrost, sehingga memperlambat atau mencegah pencairannya selama musim panas, sekaligus mendorong pembentukannya.[27]

Berdasarkan jumlah presipitasi

Jumlah curah hujan yang diterima lahan basah sangat bervariasi berdasarkan iklim dan geografi regional. Lahan basah di Wales, Skotlandia, dan Irlandia barat umumnya menerima sekitar 1.500 mm (59 in) per tahun.[28] Di beberapa wilayah yang lebih kering, lahan basah dapat ditemukan dengan curah hujan hanya sekitar 180 mm (7,1 in) per tahun.[29] Di beberapa tempat di Asia Tenggara, tempat hujan lebat terjadi, curah hujannya dapat mencapai 10.000 mm (390 in).[30]

Variasi temporal:[31]: 15 

Aliran permukaan dapat terjadi pada beberapa segmen, sementara aliran bawah permukaan terjadi pada segmen lainnya.

Proses

Lahan basah sangat bervariasi akibat perbedaan topografi, hidrologi, vegetasi, dan faktor lainnya pada tingkat lokal dan regional, termasuk keterlibatan manusia. Faktor penting lainnya meliputi kesuburan, gangguan alami, kompetisi, herbivori, penguburan, dan salinitas.[1] Ketika gambut terakumulasi, bog dan fen terbentuk.

Hidrologi

330px-Wetlands_Cape_May_New_Jersey.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahan basah di Cape May, New Jersey, Amerika Serikat, membentuk jaringan hidrologis luas yang menjadikannya lokasi penting secara ornitologi untuk mempelajari berbagai burung yang menggunakan kawasan tersebut sebagai tempat bersarang.
330px-Mallows_Bay_Park_wetlands.PNG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahan basah di daerah aliran sungai Chesapeake Bay di Mallows Bay Park, Charles County, Maryland, Amerika Serikat.

Faktor terpenting yang menghasilkan lahan basah adalah hidrologi, atau penggenangan. Durasi penggenangan atau kejenuhan tanah yang berkepanjangan oleh air tanah menentukan apakah lahan basah yang terbentuk memiliki vegetasi akuatik, marsh, atau swamp. Faktor penting lainnya meliputi kesuburan tanah, gangguan alami, kompetisi, herbivori, penguburan, dan salinitas.[1] Ketika gambut dari tumbuhan mati terakumulasi, bog dan fen berkembang.

Hidrologi lahan basah berkaitan dengan persebaran spasial dan temporal, aliran, serta karakteristik fisikokimia air permukaan dan air tanah. Sumber aliran hidrologis ke lahan basah terutama adalah presipitasi, air permukaan (air asin atau air tawar), dan air tanah. Air keluar dari lahan basah melalui evapotranspirasi, aliran permukaan, pasang surut, dan aliran air bawah permukaan. Hidrodinamika (pergerakan air melalui dan dari lahan basah) memengaruhi periode hidrologis (fluktuasi temporal tinggi muka air) dengan mengendalikan keseimbangan air dan penyimpanan air dalam lahan basah.[32]

Karakteristik lanskap mengendalikan hidrologi dan kimia air lahan basah. Konsentrasi O2 dan CO2 dalam air bergantung pada suhu, tekanan atmosfer, dan pencampuran dengan udara (akibat angin atau aliran air). Kimia air dalam lahan basah ditentukan oleh pH, salinitas, nutrien, konduktivitas, komposisi tanah, kesadahan, dan sumber air. Kimia air bervariasi di berbagai bentang alam dan wilayah iklim. Lahan basah umumnya bersifat minerotrofik (air mengandung bahan terlarut dari tanah), kecuali bog ombrotrofik yang hanya memperoleh air dari presipitasi.

Karena bog memperoleh sebagian besar airnya dari presipitasi dan kelembapan atmosfer, airnya biasanya memiliki komposisi ion mineral yang rendah. Sebaliknya, lahan basah yang memperoleh air dari air tanah atau pasang surut memiliki konsentrasi nutrien dan mineral terlarut yang lebih tinggi.

Lahan gambut fen menerima air baik dari presipitasi maupun air tanah dalam jumlah yang bervariasi, sehingga kimia airnya berkisar dari asam dengan kadar mineral terlarut rendah hingga alkalis dengan akumulasi kalsium dan magnesium yang tinggi.[33]

Peran salinitas

Salinitas sangat memengaruhi kimia air lahan basah, terutama di lahan basah pesisir[1][34] dan di wilayah kering serta semikering dengan defisit presipitasi yang besar. Salinitas alami diatur oleh interaksi antara air tanah dan air permukaan, yang dapat dipengaruhi oleh aktivitas manusia.[35]

Tanah

Karbon merupakan nutrien utama yang mengalami siklus di dalam lahan basah. Sebagian besar nutrien, seperti sulfur, fosfor, karbon, dan nitrogen, terdapat di dalam tanah lahan basah. Respirasi anaerobik dan aerobik di dalam tanah memengaruhi siklus nutrien karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen,[36] serta kelarutan fosfor,[37] sehingga berkontribusi terhadap variasi kimia airnya. Lahan basah dengan pH rendah dan konduktivitas salin dapat menunjukkan keberadaan sulfat asam,[38] sedangkan lahan basah dengan tingkat salinitas rata-rata dapat sangat dipengaruhi oleh kalsium atau magnesium. Proses biogeokimia di lahan basah ditentukan oleh tanah dengan potensial redoks yang rendah.[39]

Keanekaragaman hayati

Bentuk kehidupan dalam sistem lahan basah meliputi tumbuhan (flora), hewan (fauna), dan mikroba (bakteri dan fungi). Faktor terpenting adalah durasi penggenangan lahan basah.[1] Faktor penting lainnya meliputi kesuburan dan salinitas air atau tanah. Kimia air yang mengalir ke lahan basah bergantung pada sumber air, bahan geologis yang dilaluinya,[40] serta nutrien yang dilepaskan dari bahan organik di tanah dan tumbuhan pada wilayah yang lebih tinggi.[41] Tumbuhan dan hewan dapat berubah secara musiman atau sebagai respons terhadap rezim banjir.

250px-Temperate_wetlands_in_Pennsylvania.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahan basah lembap di Pennsylvania sebelum hujan

Flora

250px-Nelumbo_nucifera_LOTUS_bud.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kuncup teratai air (Nelumbo nucifera), tumbuhan akuatik

Terdapat empat kelompok utama hidrofit yang ditemukan dalam sistem lahan basah di seluruh dunia.[42]

Vegetasi lahan basah terendam dapat tumbuh dalam kondisi air asin maupun air tawar. Beberapa spesies memiliki bunga di bawah air, sementara spesies lainnya memiliki batang panjang yang memungkinkan bunganya mencapai permukaan.[43] Spesies terendam menyediakan sumber makanan bagi fauna asli, habitat bagi invertebrata, dan juga memiliki kemampuan filtrasi. Contohnya adalah lamun dan eelgrass.

Tumbuhan air mengapung atau vegetasi mengapung biasanya berukuran kecil, seperti tumbuhan dalam subfamili Lemnoideae (duckweed).

Vegetasi emergen seperti gelagah (Typha spp.), teki (Carex spp.), dan arrow arum (Peltandra virginica) tumbuh di atas permukaan air.

Ketika pohon dan semak mencakup sebagian besar tutupan tumbuhan di tanah jenuh, wilayah tersebut dalam kebanyakan kasus disebut rawa berhutan.[1] Batas hulu rawa sebagian ditentukan oleh tinggi muka air. Hal ini dapat dipengaruhi oleh bendungan.[44] Beberapa rawa dapat didominasi oleh satu spesies, seperti rawa mapel perak di sekitar Danau-Danau Besar.[45] Rawa lainnya, seperti yang terdapat di Cekungan Amazon, memiliki banyak spesies pohon yang berbeda.[46] Contoh lainnya adalah rawa cemara botak (Taxodium) dan rawa mangrove.

Fauna

250px-Northern_Leopard_Frog_%28Lithobates_pipiens%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Banyak spesies katak hidup di lahan basah, sementara spesies lainnya mengunjunginya setiap tahun untuk bertelur.
250px-Snapping_turtle_3_md.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Snapping turtle merupakan salah satu dari banyak jenis kura-kura yang ditemukan di lahan basah.

Banyak spesies ikan sangat bergantung pada ekosistem lahan basah.[47][48] Tujuh puluh lima persen stok ikan dan kerang komersial Amerika Serikat sepenuhnya bergantung pada estuari untuk bertahan hidup.[49]

Amfibi seperti katak dan salamander membutuhkan habitat darat dan perairan untuk berkembang biak dan mencari makan. Karena amfibi sering menghuni lahan basah berupa cekungan seperti prairie pothole dan Carolina bay, keterhubungan antara lahan-lahan basah yang terisolasi ini merupakan pengendali penting populasi regional.[50] Sementara berudu memakan alga, katak dewasa mencari serangga. Katak terkadang digunakan sebagai indikator kesehatan ekosistem karena kulitnya yang tipis memungkinkan penyerapan nutrien dan racun dari lingkungan sekitar, sehingga meningkatkan tingkat kepunahan dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan dan tercemar.[51]

Reptil seperti ular, kadal, kura-kura, aligator, dan buaya umum ditemukan di lahan basah di beberapa wilayah. Di lahan basah air tawar di Amerika Serikat bagian tenggara, aligator umum ditemukan dan spesies buaya air tawar terdapat di Florida Selatan. Everglades di Florida merupakan satu-satunya tempat di dunia tempat buaya amerika dan aligator amerika hidup berdampingan.[52] Buaya muara menghuni estuari dan hutan mangrove.[53] Snapping turtle juga menghuni lahan basah.[54]

Burung, terutama burung air dan burung perandai, memanfaatkan lahan basah secara luas.[55]

Mamalia lahan basah mencakup banyak spesies berukuran kecil dan sedang seperti vole, kelelawar,[56] muskrat,[57] dan platipus, selain herbivor besar dan predator puncak seperti berang-berang,[58] nutria, kelinci rawa, panter Florida,[59] jaguar,[60] dan moose. Lahan basah menarik banyak mamalia karena melimpahnya biji, buah beri, dan vegetasi lainnya sebagai makanan herbivor, serta populasi invertebrata, reptil kecil, dan amfibi yang melimpah sebagai mangsa predator.[61]

Invertebrata lahan basah mencakup serangga akuatik seperti capung, kepik air dan kumbang, agas, nyamuk, krustasea seperti kepiting, udang karang, udang, mikrokrustasea, moluska seperti kerang, remis, siput, dan cacing. Invertebrata mencakup lebih dari separuh spesies hewan yang diketahui di lahan basah dan dianggap sebagai penghubung utama jaring makanan antara tumbuhan dan hewan tingkat tinggi (seperti ikan dan burung).[62]

Jasa ekosistem

Informasi lebih lanjut: Jasa ekosistem

Bergantung pada lokasi geografis dan topografi lahan basah,[63] fungsi yang dijalankannya dapat mendukung berbagai jasa ekosistem, nilai, atau manfaat. Millennium Ecosystem Assessment Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Konvensi Ramsar menguraikan bahwa lahan basah secara keseluruhan memiliki arti penting bagi biosfer dan masyarakat dalam bidang-bidang berikut:[64]

Menurut Konvensi Ramsar:[butuh rujukan]

Nilai ekonomi jasa ekosistem yang diberikan kepada masyarakat oleh lahan basah yang utuh dan berfungsi secara alami sering kali jauh lebih besar daripada manfaat yang dipersepsikan dari mengubahnya menjadi penggunaan lahan intensif yang dianggap "lebih bernilai" – terutama karena keuntungan dari pemanfaatan yang tidak berkelanjutan sering kali hanya dinikmati oleh relatif sedikit individu atau perusahaan, bukannya dibagikan kepada masyarakat secara keseluruhan.

Untuk menggantikan jasa ekosistem lahan basah tersebut, diperlukan dana yang sangat besar untuk membangun instalasi pemurnian air, bendungan, tanggul, dan infrastruktur keras lainnya, sementara banyak dari jasa tersebut tidak mungkin digantikan.

Waduk penyimpanan dan perlindungan banjir

Dataran banjir dan lahan basah pada cekungan tertutup dapat menyediakan fungsi waduk penyimpanan dan perlindungan banjir. Sistem lahan basah dataran banjir terbentuk dari sungai-sungai besar di bagian hilir dari hulu sungai. "Dataran banjir sungai-sungai besar berfungsi sebagai waduk penyimpanan alami, memungkinkan kelebihan air menyebar ke wilayah yang luas, sehingga mengurangi kedalaman dan kecepatannya. Lahan basah yang berada dekat hulu aliran dan sungai dapat memperlambat limpasan air hujan dan pencairan salju musim semi sehingga air tidak langsung mengalir dari daratan ke saluran air. Hal ini dapat membantu mencegah banjir mendadak yang merusak di wilayah hilir."[49]

Sistem sungai penting yang menghasilkan dataran banjir luas antara lain Sungai Nil, delta pedalaman Sungai Niger, dataran banjir Sungai Zambezi, delta pedalaman Sungai Okavango, dataran banjir Sungai Kafue, dataran banjir Danau Bangweulu (Afrika), Sungai Mississippi (AS), Sungai Amazon (Amerika Selatan), Sungai Yangtze (Tiongkok), Sungai Donau (Eropa Tengah), dan Sungai Murray-Darling (Australia).

Pengisian kembali air tanah

Pengisian kembali air tanah dapat dicapai, misalnya, melalui sistem hidrologi marsh, swamp, serta karst dan gua bawah tanah. Air permukaan yang terlihat di lahan basah hanya merupakan sebagian dari keseluruhan siklus air, yang juga mencakup air atmosfer (presipitasi) dan air tanah. Banyak lahan basah terhubung langsung dengan air tanah dan dapat menjadi pengatur penting baik kuantitas maupun kualitas air yang terdapat di bawah tanah. Lahan basah yang memiliki substrat permeabel seperti batu kapur atau berada di wilayah dengan muka air tanah yang sangat bervariasi dan berfluktuasi memiliki peran yang sangat penting dalam pengisian kembali air tanah atau pengisian ulang air.[65]

Substrat poros memungkinkan air meresap melalui tanah dan batuan di bawahnya menuju akuifer, yang merupakan sumber sebagian besar air minum dunia. Lahan basah juga dapat berfungsi sebagai wilayah pengisian ulang ketika muka air tanah di sekitarnya rendah dan sebagai zona pelepasan ketika muka air tanah tinggi.

Stabilisasi garis pantai dan perlindungan dari badai

Mangrove, terumbu karang, dan rawa asin dapat membantu menstabilkan garis pantai dan memberikan perlindungan dari badai.[66] Sistem lahan basah pasang surut dan interpasang melindungi dan menstabilkan zona pesisir.[67] Terumbu karang menyediakan penghalang pelindung bagi garis pantai. Mangrove menstabilkan zona pesisir dari bagian daratan dan akan bermigrasi mengikuti garis pantai untuk tetap berdekatan dengan batas perairan. Manfaat utama konservasi sistem-sistem ini terhadap badai dan gelombang badai adalah kemampuannya mengurangi kecepatan dan ketinggian gelombang serta air banjir.

Britania Raya telah mulai menerapkan konsep pengelolaan pergeseran garis pantai. Teknik pengelolaan ini memberikan perlindungan garis pantai melalui pemulihan lahan basah alami, bukan melalui rekayasa terapan. Di Asia Timur, reklamasi lahan basah pesisir telah menyebabkan transformasi luas zona pesisir, dan hingga 65% lahan basah pesisir telah hancur akibat pembangunan pesisir.[68][69] Salah satu analisis yang menggunakan dampak badai versus perlindungan badai yang diberikan secara alami oleh lahan basah memperkirakan nilai jasa ini sebesar US$33.000/hektare/tahun.[70]

Pemurnian air

Pemurnian air dapat disediakan oleh dataran banjir, lahan basah cekungan tertutup, dataran lumpur, marsh air tawar, rawa asin, dan mangrove. Lahan basah melakukan siklus terhadap sedimen dan nutrien, terkadang berfungsi sebagai penyangga antara ekosistem darat dan ekosistem akuatik. Fungsi alami vegetasi lahan basah adalah mengambil, menyimpan, dan (untuk nitrat) menghilangkan nutrien yang terdapat dalam air limpasan permukaan dari bentang alam di sekitarnya.[71]

Presipitasi dan limpasan permukaan menyebabkan erosi tanah, yang membawa sedimen tersuspensi ke dalam dan melalui saluran air. Semua jenis sedimen, baik berupa lempung, lanau, pasir, kerikil, maupun batuan, dapat terbawa ke sistem lahan basah melalui erosi. Vegetasi lahan basah berfungsi sebagai penghalang fisik yang memperlambat aliran air dan kemudian menjebak sedimen untuk jangka pendek maupun panjang. Sedimen tersuspensi dapat mengandung logam berat yang juga tertahan ketika lahan basah menjebak sedimen.

Kemampuan sistem lahan basah untuk menyimpan atau menghilangkan nutrien dan menjebak sedimen sangat efisien dan efektif, tetapi setiap sistem memiliki ambang batas. Masukan nutrien yang berlebihan dari limpasan pupuk, efluen air limbah, atau pencemaran non-titik akan menyebabkan eutrofikasi. Erosi di hulu akibat deforestasi dapat membebani lahan basah sehingga ukurannya menyusut dan menyebabkan kehilangan keanekaragaman hayati yang dramatis akibat beban sedimentasi berlebihan.

Pengolahan air limbah

Lahan basah buatan dibangun untuk pengolahan air limbah. Salah satu contoh penggunaan lahan basah alami untuk menyediakan tingkat tertentu pengolahan limbah adalah Lahan Basah East Kolkata di Kolkata, India. Lahan basah ini mencakup 125 kilometer persegi (48 sq mi), dan digunakan untuk mengolah limbah Kolkata. Nutrien yang terkandung dalam air limbah menopang tambak ikan dan pertanian.

Bagian ini adalah sebuah kutipan dari Lahan basah buatan.[sunting]
250px-Flintenbreite_constructed_wetland.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahan basah buatan di permukiman ekologis di Flintenbreite dekat Lübeck, Jerman

Lahan basah buatan adalah lahan basah buatan untuk mengolah limbah, air limbah abu-abu, limpasan air hujan, atau air limbah industri.[72][73] Lahan basah buatan juga dapat dirancang untuk reklamasi lahan setelah penambangan, atau sebagai langkah mitigasi untuk kawasan alami yang hilang akibat pembangunan lahan. Lahan basah buatan adalah sistem rekayasa yang memanfaatkan fungsi alami vegetasi, tanah, dan organisme untuk menyediakan pengolahan sekunder untuk air limbah. Desain lahan basah buatan harus disesuaikan dengan jenis air limbah yang akan diolah. Lahan basah buatan telah digunakan baik dalam sistem air limbah terpusat maupun [[terdesentralisasi]. Pengolahan primer direkomendasikan ketika terdapat sejumlah besar padatan tersuspensi atau bahan organik terlarut (diukur sebagai kebutuhan oksigen biokimia dan kebutuhan oksigen kimia).

Layaknya lahan basah alami, lahan basah buatan juga berfungsi sebagai biofilter dan/atau dapat menyaring berbagai polutan (seperti bahan organik, nutrien, patogen, logam berat) dari air. Lahan basah buatan dirancang untuk menyaring polutan air seperti padatan tersuspensi, bahan organik, dan nutrisi (nitrogen dan fosfor). Semua jenis patogen (yaitu bakteri, virus, protozoa, dan helminth) diharapkan dapat dihilangkan sampai batas tertentu di lahan basah buatan. Lahan basah bawah permukaan memberikan penghilangan patogen yang lebih besar dibandingkan lahan basah permukaan.

Cadangan keanekaragaman hayati

Kekayaan keanekaragaman hayati sistem lahan basah menjadi fokus yang didorong oleh Konvensi Ramsar dan World Wildlife Fund.[74] Dampak pemeliharaan keanekaragaman hayati terlihat pada tingkat lokal melalui penciptaan lapangan kerja, keberlanjutan, dan produktivitas masyarakat. Contoh yang baik adalah DAS Mekong bagian hilir yang mengalir melalui Kamboja, Laos, dan Vietnam serta mendukung lebih dari 55 juta orang.

Salah satu spesies ikan penting yang mengalami penangkapan berlebihan,[75] yaitu lele piramutaba, Brachyplatystoma vaillantii, bermigrasi lebih dari 3.300 km (2.100 mi) dari daerah pembesarannya di dekat muara Sungai Amazon menuju daerah pemijahannya di anak-anak sungai Andes, 400 m (1.300 ft) di atas permukaan laut, dan menyebarkan biji tumbuhan sepanjang jalurnya.

Dataran lumpur intertidal memiliki tingkat produktivitas yang serupa dengan beberapa lahan basah meskipun memiliki jumlah spesies yang rendah. Invertebrata yang melimpah di dalam lumpur merupakan sumber makanan bagi burung air migran.[76]

Dataran lumpur, rawa asin, mangrove, dan padang lamun memiliki tingkat kekayaan spesies dan produktivitas yang tinggi, serta menjadi daerah pembesaran penting bagi banyak stok ikan komersial.

Populasi banyak spesies secara geografis hanya terbatas pada satu atau beberapa sistem lahan basah, sering kali karena lahan basah tersebut telah lama terisolasi secara fisik dari sumber air lainnya. Jumlah spesies endemik di Delta Sungai Selenga di Danau Baikal, Rusia, misalnya, menjadikannya hotspot keanekaragaman hayati dan salah satu lahan basah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.[77]

Produk lahan basah

250px-Broadmoor_Wildlife_Sanctuary_marsh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahan basah di Broadmoor Wildlife Sanctuary di Massachusetts, Amerika Serikat, pada bulan Februari

Lahan basah secara alami menghasilkan berbagai vegetasi dan produk ekologis lainnya yang dapat dipanen untuk penggunaan pribadi maupun komersial.[78] Banyak ikan menjalani seluruh atau sebagian siklus hidupnya dalam sistem lahan basah. Ikan air tawar dan air asin merupakan sumber protein utama bagi sekitar satu miliar orang[79] dan menyumbang 15% asupan protein tambahan bagi 3,5 miliar orang.[80] Komoditas pangan lain yang ditemukan dalam sistem lahan basah adalah beras, serealia populer yang dikonsumsi dengan tingkat yang setara dengan seperlima dari total kalori global. Di Bangladesh, Kamboja, dan Vietnam, tempat sawah mendominasi bentang alam, konsumsi beras mencapai 70%.[81] Beberapa tumbuhan lahan basah asli di Karibia dan Australia dipanen secara berkelanjutan untuk senyawa obat; di antaranya mangrove merah (Rhizophora mangle) yang memiliki sifat antibakteri, penyembuhan luka, antitukak, dan antioksidan.[81]

Produk lain yang berasal dari mangrove meliputi kayu bakar, garam (yang dihasilkan melalui penguapan air laut), pakan ternak, obat tradisional (misalnya dari kulit mangrove), serat untuk tekstil dan pewarna, serta tanin.[82]

Layanan dan penggunaan tambahan lahan basah

Beberapa jenis lahan basah dapat berfungsi sebagai sekat bakar yang membantu memperlambat penyebaran kebakaran hutan kecil. Sistem lahan basah yang lebih besar dapat memengaruhi pola curah hujan lokal. Beberapa sistem lahan basah boreal di daerah hulu tangkapan air dapat membantu memperpanjang periode aliran dan mempertahankan suhu air di hilir yang terhubung.[83] Jasa penyerbukan didukung oleh banyak lahan basah yang dapat menyediakan satu-satunya habitat yang sesuai bagi serangga, burung, dan mamalia penyerbuk di wilayah yang telah banyak dikembangkan.[84]

Gangguan dan dampak manusia

Lahan basah, fungsi dan jasa yang disediakannya, serta flora dan faunanya, dapat dipengaruhi oleh beberapa jenis gangguan.[85] Gangguan tersebut (terkadang disebut sebagai tekanan atau perubahan) dapat disebabkan oleh manusia atau faktor alami, bersifat langsung atau tidak langsung, dapat dipulihkan atau tidak, serta bersifat terisolasi atau kumulatif.

Gangguan mencakup faktor eksogen seperti banjir atau kekeringan.[10] Manusia mengganggu dan merusak lahan basah, misalnya melalui ekstraksi minyak dan gas, pembangunan infrastruktur, penggembalaan berlebihan ternak, penangkapan ikan berlebihan, perubahan lahan basah termasuk pengerukan dan pengeringan, pencemaran nutrien, serta pencemaran air.[10][11] Gangguan menimbulkan tingkat tekanan yang berbeda pada suatu lingkungan, bergantung pada jenis dan durasi gangguan tersebut.[10]

Gangguan utama pada lahan basah meliputi:[86][87]

Gangguan selanjutnya dapat dikategorikan sebagai berikut:

  • Gangguan ringan: Tekanan yang mempertahankan integritas ekosistem.[10]
  • Gangguan sedang: Integritas ekosistem rusak tetapi dapat pulih seiring waktu tanpa bantuan.[10]
  • Kerusakan atau gangguan berat: Intervensi manusia mungkin diperlukan agar ekosistem dapat pulih.[10]

Pencemaran nutrien berasal dari masukan nitrogen ke dalam sistem perairan dan secara drastis memengaruhi kandungan nitrogen terlarut di lahan basah, meningkatkan ketersediaan nutrien yang kemudian menyebabkan eutrofikasi.[88]

Hilangnya keanekaragaman hayati terjadi dalam sistem lahan basah melalui perubahan penggunaan lahan, kerusakan habitat, pencemaran, eksploitasi sumber daya, dan spesies invasif. Misalnya, introduksi eceng gondok, tumbuhan asli Amerika Selatan, ke Danau Victoria di Afrika Timur, serta duckweed ke wilayah nonasli di Queensland, Australia, telah menguasai seluruh sistem lahan basah, mengalahkan habitat dan mengurangi keanekaragaman tumbuhan serta hewan asli.[butuh rujukan]

Konversi menjadi lahan kering

Untuk meningkatkan produktivitas ekonomi, lahan basah sering diubah menjadi lahan kering dengan tanggul dan saluran drainase dan digunakan untuk keperluan pertanian. Pembangunan tanggul dan bendungan memiliki konsekuensi negatif bagi lahan basah secara individual maupun seluruh daerah aliran sungai.[1]: 497  Kedekatannya dengan danau dan sungai menyebabkan lahan basah sering dikembangkan menjadi permukiman manusia.[89] Setelah permukiman dibangun dan dilindungi oleh tanggul, permukiman tersebut menjadi rentan terhadap penurunan muka tanah dan risiko banjir yang terus meningkat.[1]: 497  Delta Sungai Mississippi di sekitar New Orleans, Louisiana, merupakan contoh yang terkenal;[90] sedangkan Delta Donau di Eropa merupakan contoh lainnya.[91]

Pencemaran air merupakan pendorong utama lainnya dalam konversi lahan basah menjadi lahan kering. Karena lahan basah cenderung menahan air dengan pemasukan atau pengeluaran yang lebih rendah dibandingkan badan air lainnya, lahan basah dapat dengan cepat mengonsentrasikan zat beracun yang berasal dari polutan.[92] Akumulasi zat beracun ini menyebabkan perubahan keanekaragaman hayati lahan basah, terutama karena zat tersebut berbahaya bagi spesies akuatik asli.[93] Hilangnya keanekaragaman hayati lahan basah berkaitan dengan degradasi lahan basah, sebagaimana ditunjukkan oleh kasus lahan basah alpen.[94]

Drainase dataran banjir

Drainase dataran banjir atau kegiatan pembangunan yang mempersempit koridor dataran banjir (seperti pembangunan tanggul) mengurangi kemampuan sistem sungai–dataran banjir yang saling terhubung untuk mengendalikan kerusakan akibat banjir. Hal ini karena sistem yang telah dimodifikasi dan menjadi kurang luas tetap harus mengelola jumlah curah hujan yang sama, sehingga puncak banjir menjadi lebih tinggi atau lebih dalam dan air banjir mengalir lebih cepat.

Perkembangan teknik pengelolaan air pada masa lalu telah menyebabkan degradasi lahan basah dataran banjir melalui pembangunan tanggul buatan seperti dyke, tanggul tanah, levee, bendungan gerak, bendung, baraj, dan bendungan. Semua struktur tersebut memusatkan air ke saluran utama, sementara air yang secara historis menyebar secara perlahan di wilayah yang luas dan dangkal kini terkonsentrasi. Hilangnya dataran banjir lahan basah menyebabkan banjir menjadi lebih parah dan merusak. Dampak manusia yang katastrofik di dataran banjir Sungai Mississippi terlihat dari kematian ratusan orang dalam jebolnya tanggul di New Orleans akibat Badai Katrina. Tanggul buatan manusia di sepanjang dataran banjir Sungai Yangtze menyebabkan saluran utama sungai lebih rentan terhadap banjir yang lebih sering dan merusak.[95] Beberapa dampak dari peristiwa tersebut meliputi hilangnya vegetasi riparian, kehilangan 30% tutupan vegetasi di seluruh daerah aliran sungai, penggandaan persentase lahan yang terdampak erosi tanah, serta berkurangnya kapasitas waduk akibat penumpukan lumpur di danau dataran banjir.[49]

Penangkapan ikan berlebihan

Penangkapan ikan berlebihan merupakan masalah besar dalam pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan. Kekhawatiran berkembang terhadap beberapa aspek perikanan budi daya, yang memanfaatkan lahan basah dan saluran air alami untuk memanen ikan bagi konsumsi manusia. Akuakultur terus berkembang pesat di kawasan Asia-Pasifik, terutama di Tiongkok, tempat 90% dari total jumlah usaha akuakultur berada dan menyumbang 80% nilai global.[81] Beberapa kegiatan akuakultur telah menghilangkan wilayah lahan basah yang sangat luas melalui praktik seperti penghancuran mangrove oleh industri budi daya udang. Meskipun dampak merusak budi daya udang skala besar terhadap ekosistem pesisir di banyak negara Asia telah lama diakui, dampak tersebut sulit dikurangi karena kurangnya alternatif pekerjaan bagi masyarakat. Selain itu, meningkatnya permintaan udang secara global telah menyediakan pasar yang besar dan siap menerima produk tersebut.[96]

Konservasi

Artikel utama: Konservasi lahan basah
330px-Hommik_Mukri_rabas.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kabut yang naik di atas rawa Mukri dekat Mukri, Estonia. Rawa tersebut memiliki luas 2.147 hektare (5.310 ekar) dan telah dilindungi sejak 1992.

Secara historis, lahan basah sering dikeringkan secara besar-besaran untuk pembangunan (real estat atau pertanian), serta dibanjiri untuk membuat danau rekreasi atau menghasilkan hidroelektrisitas. Beberapa wilayah pertanian terpenting di dunia merupakan lahan basah yang telah diubah menjadi lahan pertanian.[97][98][99][100] Sejak tahun 1970-an, perhatian lebih besar diberikan pada pelestarian lahan basah untuk fungsi alaminya. Sejak tahun 1900, 65–70% lahan basah dunia telah hilang.[101] Untuk mempertahankan lahan basah dan menopang fungsinya, perubahan dan gangguan yang berada di luar kisaran variasi normal harus diminimalkan.

Menyeimbangkan konservasi lahan basah dengan kebutuhan manusia

Lahan basah merupakan ekosistem vital yang meningkatkan penghidupan jutaan orang yang tinggal di dalam dan di sekitarnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lahan basah dapat dilestarikan sekaligus meningkatkan penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Studi kasus yang dilakukan di Malawi dan Zambia menunjukkan bahwa dambo—lembah atau cekungan berumput yang basah tempat air merembes ke permukaan—dapat ditanami secara berkelanjutan. Hasil proyek mencakup hasil panen yang tinggi, pengembangan teknik pertanian berkelanjutan, serta strategi pengelolaan air yang menghasilkan air yang cukup untuk irigasi.[102]

Konvensi Ramsar

250px-Coverage-of-wetlands_%28OWID_0234%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta dunia yang menunjukkan cakupan lahan basah sebagai persentase dari total luas daratan yang didefinisikan sebagai lahan basah menurut Konvensi Ramsar berdasarkan negara[103]

Konvensi Ramsar (judul lengkap: Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat) adalah perjanjian internasional yang dirancang untuk menangani kekhawatiran global terkait hilangnya dan degradasi lahan basah. Tujuan utama perjanjian ini adalah menetapkan daftar lahan basah yang memiliki kepentingan internasional dan mendorong pemanfaatannya secara bijaksana, dengan tujuan akhir melestarikan lahan basah dunia. Metodenya mencakup pembatasan akses ke beberapa wilayah lahan basah, serta edukasi kepada masyarakat untuk melawan anggapan bahwa lahan basah merupakan lahan terlantar. Konvensi ini bekerja sama erat dengan lima mitra organisasi internasional (IOP), yaitu: BirdLife International, IUCN, International Water Management Institute, Wetlands International, dan World Wide Fund for Nature. Para mitra menyediakan keahlian teknis, membantu melaksanakan atau memfasilitasi studi lapangan, serta memberikan dukungan keuangan.

Restorasi

Artikel utama: Konservasi lahan basah

Restorasi dan ahli ekologi restorasi bertujuan mengembalikan lahan basah ke lintasan alaminya dengan membantu proses alami ekosistem secara langsung.[10] Metode langsung ini berbeda dalam tingkat manipulasi fisik terhadap lingkungan alami dan masing-masing berkaitan dengan tingkat restorasi yang berbeda.[10] Restorasi diperlukan setelah terjadinya gangguan atau perubahan pada lahan basah.[10] Tidak ada satu cara untuk merestorasi lahan basah dan tingkat restorasi yang diperlukan bergantung pada tingkat gangguan, meskipun setiap metode restorasi memerlukan persiapan dan pengelolaan.[10]

Tingkat restorasi

Faktor yang memengaruhi pendekatan yang dipilih dapat mencakup[10] anggaran, keterbatasan skala waktu, tujuan proyek, tingkat gangguan, kendala bentang alam dan ekologi, agenda politik dan administratif, serta prioritas sosial ekonomi.

Regenerasi alami terarah atau terbantu

Dalam strategi ini, tidak dilakukan manipulasi biofisik dan ekosistem dibiarkan pulih hanya berdasarkan proses suksesi.[10] Fokusnya adalah menghilangkan dan mencegah terjadinya gangguan lebih lanjut, dan restorasi jenis ini memerlukan penelitian sebelumnya untuk memahami kemungkinan lahan basah pulih secara alami. Metode ini kemungkinan menjadi pendekatan pertama karena paling sedikit mengganggu dan paling murah, meskipun beberapa manipulasi biofisik nonintrusif mungkin diperlukan untuk meningkatkan laju suksesi hingga tingkat yang dapat diterima.[10] Contoh metode mencakup pembakaran terarah pada area kecil, mendorong mikrobiota tanah dan pertumbuhan tanaman yang spesifik terhadap lokasi melalui penanaman nukleasi, yaitu tanaman menyebar dari lokasi penanaman awal,[104] serta mendorong keragaman relung atau meningkatkan kisaran relung untuk mendorong penggunaan oleh berbagai spesies.[10] Metode-metode ini dapat memudahkan spesies alami berkembang dengan menghilangkan hambatan lingkungan dan dapat mempercepat proses suksesi.

Rekonstruksi parsial

Dalam strategi ini, regenerasi alami dikombinasikan dengan pengendalian lingkungan secara terarah. Hal ini dapat memerlukan beberapa rekayasa dan manipulasi biofisik yang lebih intensif, termasuk penggaruan tanah bawah, penggunaan herbisida atau insektisida, pemasangan mulsa, penyebaran benih secara mekanis, dan penanaman pohon dalam skala besar.[10] Dalam kondisi ini, lahan basah telah mengalami kerusakan dan tanpa bantuan manusia tidak akan pulih dalam jangka waktu yang dapat diterima sebagaimana ditentukan oleh ahli ekologi. Metode restorasi harus ditentukan berdasarkan lokasi karena setiap lokasi memerlukan pendekatan yang berbeda berdasarkan tingkat gangguan dan dinamika ekosistem setempat.[10] Bentuk lain dari rekonstruksi parsial mencakup pemanfaatan lahan basah semialami, seperti sawah yang merupakan dataran pertanian yang digenangi air selama musim tanam.[105] Bantuan manusia diperlukan untuk mempertahankan sawah karena sifatnya sebagai lahan pertanian, tetapi sawah memiliki kemampuan mengurangi banjir di wilayah yang lebih pedalaman.[105]

Rekonstruksi lengkap

Informasi lebih lanjut: Lahan basah buatan

Metode rekonstruksi yang paling mahal dan paling intrusif ini memerlukan rekayasa dan pembangunan kembali dari awal. Karena seluruh ekosistem dirancang ulang, penting untuk mempertimbangkan lintasan alami ekosistem dan memastikan bahwa spesies tumbuhan yang dikembangkan pada akhirnya mengarahkan ekosistem kembali menuju lintasan alaminya.[10]

Di banyak tempat, lahan basah buatan dirancang untuk mengolah limpasan air hujan/air limbah. Lahan basah ini dapat digunakan dalam pembangunan sebagai bagian dari sistem desain perkotaan peka air dan memiliki manfaat seperti mitigasi banjir, penghilangan polutan, penyerapan karbon, penyediaan habitat bagi satwa liar dan keanekaragaman hayati di bentang alam yang sering kali sangat terurbanisasi dan terfragmentasi.[106]

Mekanisme lahan basah dalam mendukung upaya mitigasi banjir bersifat beragam. Karena kemampuannya menampung volume air berlebih selama periode curah hujan tinggi atau aliran air dari daratan, lahan basah mampu mengurangi luas, kedalaman, dan durasi banjir.[107] Selain itu, lahan basah dapat mengurangi kecepatan aliran air dari daratan, yang menjadi mekanisme tambahan dalam mengurangi kerusakan pada ekosistem lokal dan properti di wilayah sekitarnya.[108]

Pengetahuan tradisional

Gagasan dari pengetahuan ekologi tradisional dapat diterapkan sebagai pendekatan holistik untuk restorasi lahan basah.[109] Gagasan ini lebih berfokus pada respons terhadap pengamatan yang terdeteksi dari lingkungan dengan mempertimbangkan bahwa setiap bagian ekosistem lahan basah saling terhubung. Penerapan praktik ini pada lokasi tertentu di lahan basah dapat meningkatkan produktivitas, keanekaragaman hayati, dan ketahanannya. Praktik tersebut mencakup pemantauan sumber daya lahan basah, penanaman propagul, dan penambahan spesies kunci untuk menciptakan ekosistem lahan basah yang dapat mempertahankan dirinya sendiri.[110]

Aspek perubahan iklim

Emisi gas rumah kaca

Di Asia Tenggara, hutan rawa gambut dan tanahnya dikeringkan, dibakar, ditambang, dan digembalakan secara berlebihan, sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim.[111] Akibat drainase gambut, karbon organik yang telah terakumulasi selama ribuan tahun dan biasanya berada di bawah air tiba-tiba terpapar udara. Gambut kemudian terurai dan diubah menjadi karbon dioksida (CO2), yang dilepaskan ke atmosfer. Kebakaran gambut menyebabkan proses yang sama berlangsung dengan cepat dan selain itu menghasilkan awan asap dalam jumlah sangat besar yang melintasi batas negara, yang kini terjadi hampir setiap tahun di Asia Tenggara. Meskipun lahan gambut hanya mencakup 3% daratan dunia, degradasinya menghasilkan 7% dari seluruh emisi CO2.

Page 'Wetland methane emissions' not found

Mitigasi perubahan iklim

Penelitian telah mengidentifikasi secara positif potensi lahan basah pesisir (juga disebut ekosistem karbon biru) untuk memberikan tingkat tertentu mitigasi perubahan iklim melalui dua cara: melalui konservasi, dengan mengurangi emisi gas rumah kaca yang timbul akibat hilangnya dan degradasi habitat tersebut, dan melalui restorasi, untuk meningkatkan penyerapan karbon dioksida dan penyimpanan jangka panjangnya.[112] Namun, penghilangan CO2 melalui restorasi karbon biru pesisir memiliki efektivitas biaya yang dipertanyakan jika hanya dipertimbangkan sebagai tindakan mitigasi iklim, baik untuk pengimbangan karbon maupun untuk dimasukkan dalam Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional.[112]

Ketika lahan basah direstorasi, lahan tersebut memberikan efek mitigasi melalui kemampuannya menjadi penyerap karbon, mengubah gas rumah kaca (karbon dioksida) menjadi materi tumbuhan padat melalui proses fotosintesis, serta melalui kemampuannya menyimpan dan mengatur air.[113][114]

Lahan basah menyimpan sekitar 44,6 juta ton karbon per tahun secara global (perkiraan tahun 2003).[115] Khususnya pada rawa asin dan rawa mangrove, rata-rata laju penyerapan karbon adalah 210 g CO2 m−2 y−1, sedangkan lahan gambut menyerap sekitar 20–30 g CO2 m−2 y−1.[115][116]

Lahan basah pesisir, seperti mangrove tropis dan beberapa rawa asin beriklim sedang, diketahui berfungsi sebagai penyerap karbon yang jika tidak demikian akan berkontribusi terhadap perubahan iklim dalam bentuk gasnya (karbon dioksida dan metana).[117] Kemampuan banyak lahan basah pasang surut untuk menyimpan karbon dan meminimalkan fluks metana dari sedimen pasang surut telah mendorong pendanaan berbagai inisiatif karbon biru yang dimaksudkan untuk meningkatkan proses tersebut.[118][119]

Adaptasi perubahan iklim

Informasi lebih lanjut: Adaptasi perubahan iklim

Restorasi ekosistem karbon biru pesisir sangat bermanfaat bagi adaptasi perubahan iklim, perlindungan pesisir, penyediaan pangan, dan konservasi keanekaragaman hayati.[112]

Sejak pertengahan abad ke-20, perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia telah menghasilkan perubahan yang dapat diamati pada siklus hidrologi global.[120]: 85  Iklim yang semakin hangat membuat kejadian yang sangat basah maupun sangat kering menjadi lebih parah, sehingga menyebabkan banjir dan kekeringan yang lebih parah. Karena alasan ini, beberapa jasa ekosistem yang disediakan lahan basah (misalnya penyimpanan air dan pengendalian banjir, pengisian kembali air tanah, stabilisasi garis pantai, dan perlindungan dari badai) penting bagi langkah-langkah adaptasi perubahan iklim.[121] Di sebagian besar wilayah dunia dan dalam semua skenario emisi, variabilitas siklus air dan kejadian ekstrem yang menyertainya diperkirakan meningkat lebih cepat daripada perubahan nilai rata-ratanya.[120]: 85 

Penilaian

Nilai suatu lahan basah bagi masyarakat setempat biasanya ditentukan dengan terlebih dahulu memetakan lahan basah di suatu wilayah, kemudian menilai fungsi dan jasa ekosistem yang disediakan oleh masing-masing lahan basah secara individual maupun kumulatif, dan akhirnya mengevaluasi informasi tersebut untuk memprioritaskan atau memberi peringkat lahan basah atau jenis lahan basah untuk konservasi, pengelolaan, restorasi, atau pembangunan.[122] Dalam jangka panjang, hal ini memerlukan penyusunan inventaris[123] lahan basah yang diketahui serta pemantauan sampel lahan basah yang representatif untuk menentukan perubahan akibat faktor alami maupun manusia.

Penilaian

Metode penilaian cepat digunakan untuk memberi skor, peringkat, nilai, atau kategori pada berbagai fungsi, jasa ekosistem, spesies, komunitas, tingkat gangguan, dan/atau kesehatan ekologi suatu lahan basah atau kelompok lahan basah.[124] Hal ini sering dilakukan untuk memprioritaskan lahan basah tertentu bagi konservasi (penghindaran) atau menentukan sejauh mana hilangnya atau perubahan fungsi lahan basah harus dikompensasi, misalnya dengan merestorasi lahan basah yang terdegradasi di tempat lain atau memberikan perlindungan tambahan bagi lahan basah yang masih ada. Metode penilaian cepat juga diterapkan sebelum dan sesudah lahan basah direstorasi atau diubah untuk membantu memantau atau memprediksi dampak tindakan tersebut terhadap berbagai fungsi lahan basah dan jasa yang disediakannya. Penilaian biasanya dianggap "cepat" apabila hanya memerlukan satu kunjungan ke lahan basah selama kurang dari satu hari, yang dalam beberapa kasus dapat mencakup interpretasi citra udara dan analisis sistem informasi geografis (SIG) terhadap data spasial yang telah tersedia, tetapi tidak mencakup analisis laboratorium terperinci terhadap sampel air atau biologis setelah kunjungan.

Untuk mencapai konsistensi di antara orang-orang yang melakukan penilaian, metode cepat menyajikan variabel indikator sebagai pertanyaan atau daftar periksa pada formulir data terstandardisasi, dan sebagian besar metode menstandardisasi prosedur penilaian atau pemberian skor yang digunakan untuk menggabungkan jawaban pertanyaan menjadi perkiraan tingkat fungsi tertentu dibandingkan dengan tingkat yang diperkirakan pada lahan basah lain ("lokasi kalibrasi") yang sebelumnya dinilai di suatu wilayah.[125] Metode penilaian cepat, sebagian karena sering menggunakan puluhan indikator kondisi di sekitar lahan basah maupun di dalam lahan basah itu sendiri, bertujuan memberikan perkiraan fungsi dan jasa lahan basah yang lebih akurat dan dapat diulang dibandingkan sekadar mendeskripsikan tipe kelas lahan basah.[13] Kebutuhan terhadap penilaian lahan basah yang cepat terutama muncul ketika lembaga pemerintah menetapkan tenggat waktu untuk keputusan yang memengaruhi lahan basah atau ketika jumlah lahan basah yang memerlukan informasi mengenai fungsi atau kondisinya sangat banyak.

Inventarisasi

Meskipun pengembangan inventarisasi lahan basah global terbukti menjadi pekerjaan yang besar dan sulit, berbagai upaya pada skala yang lebih lokal telah berhasil dilakukan.[126] Upaya saat ini didasarkan pada data yang tersedia, tetapi klasifikasi dan resolusi spasial terkadang terbukti tidak memadai untuk pengambilan keputusan pengelolaan lingkungan pada tingkat regional atau lokasi. Identifikasi lahan basah yang kecil, memanjang, dan sempit dalam bentang alam merupakan hal yang sulit. Banyak satelit penginderaan jauh saat ini tidak memiliki resolusi spasial dan spektral yang memadai untuk memantau kondisi lahan basah, meskipun data multispektral IKONOS[127] dan QuickBird[128] dapat menawarkan resolusi spasial yang lebih baik ketika mencapai 4 m atau lebih. Sebagian besar piksel merupakan campuran beberapa spesies tumbuhan atau tipe vegetasi. Hal ini menyulitkan pemisahan unsur-unsur tersebut, sehingga menyebabkan ketidakmampuan untuk mengklasifikasikan vegetasi yang mendefinisikan lahan basah. Ketersediaan data vegetasi dan topografi 3D dari LiDAR yang semakin meningkat telah membantu mengatasi keterbatasan citra multispektral tradisional, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa studi kasus di seluruh dunia.[129]

Pemantauan dan pemetaan

Lahan basah perlu dipantau[130] dari waktu ke waktu untuk menilai apakah lahan basah berfungsi pada tingkat yang berkelanjutan secara ekologis atau mengalami degradasi.[131] Lahan basah yang terdegradasi akan mengalami penurunan kualitas air, kehilangan spesies yang sensitif, dan fungsi proses geokimia tanah yang tidak normal.

Dalam praktiknya, banyak lahan basah alami sulit dipantau dari darat karena sering kali sulit diakses dan dapat memerlukan paparan terhadap tumbuhan dan hewan berbahaya serta penyakit yang dibawa serangga atau invertebrata lainnya. Penginderaan jauh seperti citra udara dan citra satelit[132] menyediakan alat yang efektif untuk memetakan dan memantau lahan basah di wilayah geografis yang luas dan dari waktu ke waktu. Banyak metode penginderaan jauh dapat digunakan untuk memetakan lahan basah. Integrasi data dari berbagai sumber seperti LiDAR dan foto udara terbukti lebih efektif dalam memetakan lahan basah dibandingkan penggunaan foto udara saja,[129] terutama dengan bantuan metode pembelajaran mesin modern (misalnya pembelajaran mendalam). Secara keseluruhan, penggunaan data digital menyediakan prosedur pengumpulan data yang terstandardisasi dan peluang integrasi data dalam sistem informasi geografis.

Peraturan perundang-undangan

Upaya internasional

Bagian ini adalah sebuah kutipan dari Konvensi Ramsar.[sunting]

Konvensi Ramsar adalah perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan. Nama resmi konvensi ini adalah The Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat. Konvensi Ramsar diratifikasi pemerintah Indonesia pada tahun 1991 melalui Keputusan Presiden RI No. 48 tahun 1991.[133]

Konvensi Ramsar disusun dan disetujui negara-negara peserta sidang di Ramsar, Iran pada tanggal 2 Februari 1971 dan mulai berlaku 21 Desember 1975.

Upaya nasional

Amerika Serikat

Setiap negara dan wilayah cenderung memiliki definisi lahan basah yang dikodifikasikan untuk keperluan hukum. Di Amerika Serikat, lahan basah didefinisikan sebagai "wilayah yang tergenang atau jenuh oleh air permukaan atau air tanah dengan frekuensi dan durasi yang cukup untuk mendukung, dan dalam keadaan normal memang mendukung, keberadaan vegetasi yang biasanya beradaptasi untuk hidup dalam kondisi tanah jenuh. Lahan basah umumnya mencakup rawa, paya, gambut, dan wilayah serupa".[134] Definisi ini telah digunakan dalam penegakan Clean Water Act. Beberapa negara bagian AS, seperti Massachusetts dan New York, memiliki definisi tersendiri yang mungkin berbeda dari definisi pemerintah federal.

Dalam United States Code, istilah lahan basah didefinisikan sebagai "lahan yang (A) didominasi oleh tanah hidrik, (B) tergenang atau jenuh oleh air permukaan atau air tanah dengan frekuensi dan durasi yang cukup untuk mendukung keberadaan vegetasi hidrofit yang biasanya beradaptasi untuk hidup dalam kondisi tanah jenuh, dan (C) dalam keadaan normal mendukung keberadaan vegetasi tersebut". Berkaitan dengan definisi hukum ini, "keadaan normal" diharapkan terjadi selama bagian musim tumbuh yang basah dalam kondisi iklim normal (tidak luar biasa kering atau luar biasa basah) dan tanpa adanya gangguan signifikan. Tidak jarang suatu lahan basah mengering dalam waktu yang lama selama musim tumbuh. Namun, dalam kondisi lingkungan normal, tanah akan tergenang hingga permukaan, menciptakan kondisi anaerob yang bertahan selama bagian musim tumbuh yang basah.[135]

Kanada

Contoh

Lahan basah terbesar di dunia mencakup hutan rawa di Daerah Aliran Sungai Amazon, lahan gambut di Dataran Siberia Barat,[5] Pantanal di Amerika Selatan,[6] dan Sundarbans di delta Gangga–Brahmaputra.[7]

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keddy, P.A. (2010). Wetland ecology: principles and conservation (Edisi 2nd). New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-51940-3. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-17. Diakses tanggal 2020-06-03.
  2. 1 2 3 "Official page of the Ramsar Convention". Diakses tanggal 2011-09-25.
  3. ↑ Davidson, N.C. (2014). "How much wetland has the world lost? Long-term and recent trends in global wetland area". Marine and Freshwater Research. 65 (10): 934–941. Bibcode:2014MFRes..65..934D. doi:10.1071/MF14173. S2CID 85617334.
  4. ↑ "US EPA". 2015. Diakses tanggal 2011-09-25.
  5. 1 2 Fraser, L.; Keddy, P.A., ed. (2005). The World's Largest Wetlands: Their Ecology and Conservation. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-83404-9.
  6. 1 2 "WWF Pantanal Programme". Diakses tanggal 2011-09-25.
  7. 1 2 Giri, C.; Pengra, B.; Zhu, Z.; Singh, A.; Tieszen, L.L. (2007). "Monitoring mangrove forest dynamics of the Sundarbans in Bangladesh and India using multi-temporal satellite data from 1973 to 2000". Estuarine, Coastal and Shelf Science. 73 (1–2): 91–100. Bibcode:2007ECSS...73...91D. doi:10.1016/j.ecss.2006.12.019.
  8. ↑ Bange, H. W. (2006). "Nitrous oxide and methane in European coastal waters". Estuarine, Coastal and Shelf Science. 70 (3): 361–374. Bibcode:2006ECSS...70..361B. doi:10.1016/j.ecss.2006.05.042.
  9. ↑ Thompson, A. J.; Giannopoulos, G.; Pretty, J.; Baggs, E. M.; Richardson, D. J. (2012). "Biological sources and sinks of nitrous oxide and strategies to mitigate emissions". Philosophical Transactions of the Royal Society B. 367 (1593): 1157–1168. doi:10.1098/rstb.2011.0415. PMC 3306631. PMID 22451101.
  10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Clewell, AF; Aronson, J (2013). Ecological restoration (Edisi 2nd). Washington, DC: Island Press.
  11. 1 2 3 Mitsch, William J.; Gosselink, James G. (2007-08-24). Wetlands (Edisi 4th). New York, NY: John Wiley & Sons. ISBN 978-0-471-69967-5.
  12. ↑ Davidson, N.C.; D'Cruz, R. & Finlayson, C.M. (2005). Ecosystems and Human Well-being: Wetlands and Water Synthesis: a report of the Millennium Ecosystem Assessment (PDF). Washington, DC: World Resources Institute. ISBN 978-1-56973-597-8.
  13. 1 2 Dorney, J.; Savage, R.; Adamus, P.; Tiner, R., ed. (2018). Wetland and Stream Rapid Assessments: Development, Validation, and Application. London; San Diego, CA: Academic Press. ISBN 978-0-12-805091-0. OCLC 1017607532.
  14. ↑ "Home: Oxford English Dictionary". www.oed.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-07-08.
  15. 1 2 3 US EPA, OW (2015-09-18). "What is a Wetland?". US EPA (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-07-08.
  16. ↑ "Glossary of Terms". Carpinteria Valley Water District. Diarsipkan dari asli tanggal April 25, 2012. Diakses tanggal 2012-05-23.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ "Glossary". Mapping2.orr.noaa.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-04-25. Diakses tanggal 2012-05-23.
  18. ↑ "Glossary". Alabama Power. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-03-21. Diakses tanggal 2012-05-23.
  19. ↑ "The Ramsar 40th Anniversary Message for November". Ramsar. Diakses tanggal 2011-10-10.
  20. ↑ Environmental Laboratory. (1987). Corps of Engineers wetlands delineation manual. Tech. Rep. Y‐87–1.
  21. ↑ Sharitz, Rebecca R.; Batzer, Darold P.; Pennings, Steven C. (2019-12-31). "Ecology of Freshwater and Estuarine Wetlands: An Introduction". Ecology of Freshwater and Estuarine Wetlands (dalam bahasa Inggris). Berkeley: University of California Press. hlm. 1–22. doi:10.1525/9780520959118-003. ISBN 978-0-520-95911-8. S2CID 198427881.
  22. ↑ "Wetland Types | Department of Environmental Conservation".
  23. ↑ A Directory of Important Wetlands in Australia: Third edition, Chapter 2: Wetland classification system, Criteria for inclusion and Data presentation. Australian Department of the Environment. 2001. Diakses tanggal 30 Maret 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. ↑ "NPWRC :: Classification of Wetlands and Deepwater Habitats of the United States". www.fws.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-21. Diakses tanggal 2018-07-28.
  25. ↑ Watson, G. E. (2006). Big Thicket Plant Ecology: An Introduction. Temple Big Thicket Series #5 (Edisi Third). Denton, Texas: University of North Texas Press. ISBN 978-1-57441-214-7.
  26. ↑ "West Gulf Coastal Plain Seepage Swamp and Baygall". Texas Parks and Wildlife. Ecological Mapping systems of Texas. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-10. Diakses tanggal 7 Juli 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. ↑ "Peatlands, climate change mitigation and biodiversity conservation | The Convention on Wetlands, The Convention on Wetlands". www.ramsar.org.
  28. ↑ Lindsay, R. (1995). Bogs: the ecology, classification and conservation of ombrotrophic mires (Laporan). Scottish Natural Heritage.
  29. ↑ Mitsch, W.; Gosselink, J. (2015). Wetlands, 5th edition. ISBN 978-1-118-67682-0.
  30. ↑ Page, S.; Rieley, J.; Banks, C. (2011). "Global and regional importance of the tropical peatland carbon pool". Global Change Biology. 17: 798–818. doi:10.1111/j.1365-2486.2010.02279.x.
  31. ↑ Guidelines for the Rapid Ecological Assessment of Biodiversity in Inland Water, Coastal and Marine Areas (Laporan). CBD Technical Series Number 22, Ramsar Technical Report No. 1. Montreal, Canada and Gland, Switzerland: Secretariat of the Convention on Biological Diversity and the Secretariat of the Ramsar Convention. 2006. Diakses tanggal 15 Maret 2026.{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  32. ↑ Richardson, J. L.; Arndt, J. L.; Montgomery, J. A. (2001). "Hydrology of wetland and related soils". Dalam Richardson, J. L.; Vepraskas, M. J. (ed.). Wetland Soils. Boca Raton, FL: Lewis Publishers.
  33. ↑ Vitt, D. H.; Chee, W (1990). "The relationships of vegetation to surface water chemistry and peat chemistry in fens of Alberta, Canada". Plant Ecology. 89 (2): 87–106. doi:10.1007/bf00032163. S2CID 25071105.
  34. ↑ Silliman, B. R.; Grosholz, E. D.; Bertness, M. D., ed. (2009). Human Impacts on Salt Marshes: A Global Perspective. Berkeley, CA: University of California Press.
  35. ↑ Smith, M. J.; Schreiber, E. S. G.; Kohout, M.; Ough, K.; Lennie, R.; Turnbull, D.; Jin, C.; Clancy, T. (2007). "Wetlands as landscape units: spatial patterns in salinity and water chemistry". Wetlands, Ecology & Management. 15 (2): 95–103. Bibcode:2007WetEM..15...95S. doi:10.1007/s11273-006-9015-5. S2CID 20196854.
  36. ↑ Ponnamperuma, F. N. (1972). "The chemistry of submerged soils". Advances in Agronomy. 24: 29–96. doi:10.1016/S0065-2113(08)60633-1. ISBN 978-0-12-000724-0.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  37. ↑ Moore, P. A. Jr.; Reddy, K. R. (1994). "Role of Eh and pH on phosphorus geochemistry in sediments of Lake Okeechobee, Florida". Journal of Environmental Quality. 23 (5): 955–964. Bibcode:1994JEnvQ..23..955M. doi:10.2134/jeq1994.00472425002300050016x. PMID 34872208.
  38. ↑ Minh, L. Q.; Tuong, T. P.; van Mensvoort, M. E. F.; Bouma, J. (1998). "Soil and water table management effects on aluminum dynamics in an acid sulphate soil in Vietnam". Agriculture, Ecosystems & Environment. 68 (3): 255–262. Bibcode:1998AgEE...68..255M. doi:10.1016/s0167-8809(97)00158-8.
  39. ↑ Schlesinger, W. A. (1997). Biogeochemistry: An Analysis of Global Change (Edisi 2nd). San Diego, CA: Academic Press. ISBN 978-0-12-625155-5.
  40. ↑ Bedford, B. L. (1996). "The need to define hydrologic equivalence at the landscape scale for freshwater wetland mitigation". Ecological Applications. 6 (1): 57–68. Bibcode:1996EcoAp...6...57B. doi:10.2307/2269552. JSTOR 2269552.
  41. ↑ Nelson, M. L.; Rhoades, C. C.; Dwire, K. A. (2011). "Influences of Bedrock Geology on Water Chemistry of Slope Wetlands and Headwaters Streams in the Southern Rocky Mountains". Wetlands. 31 (2): 251–261. Bibcode:2011Wetl...31..251N. doi:10.1007/s13157-011-0157-8. S2CID 14521026.
  42. ↑ "Blacktown Council wetlands". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-04-10. Diakses tanggal 2011-09-25.
  43. ↑ Hutchinson, G. E. (1975). A Treatise on Limnology. Vol. 3: Limnological Botany. New York, NY: John Wiley.
  44. ↑ Hughes, F. M. R., ed. (2003). The Flooded Forest: Guidance for policy makers and river managers in Europe on the restoration of floodplain forests. FLOBAR2, Department of Geography, University of Cambridge, Cambridge, UK.
  45. ↑ Wilcox, D. A; Thompson, T. A.; Booth, R. K.; Nicholas, J. R. (2007). Lake-level variability and water availability in the Great Lakes. USGS Circular 1311.
  46. ↑ Goulding, M. (1980). The Fishes and the Forest: Explorations in Amazonian Natural History. Berkeley, CA: University of California Press.
  47. ↑ Colvin, S. A. R.; Sullivan, S. M. P.; Shirey, P. D.; Colvin, R. W.; Winemiller, K. O.; Hughes, R. M.; Fausch, K. D.; Infante, D. M.; Olden, J. D.; Bestgen, K. R.; Danehy, R. J.; Eby, L. (2019). "Headwater Streams and Wetlands are Critical for Sustaining Fish, Fisheries, and Ecosystem Services". Fisheries (dalam bahasa Inggris). 44 (2): 73–91. Bibcode:2019Fish...44...73C. doi:10.1002/fsh.10229. S2CID 92052162.
  48. ↑ Sievers, M.; Brown, C. J.; Tulloch, V. J. D.; Pearson, R. M.; Haig, J. A.; Turschwell, M. P.; Connolly, R. M. (2019). "The Role of Vegetated Coastal Wetlands for Marine Megafauna Conservation". Trends in Ecology & Evolution (dalam bahasa English). 34 (9): 807–817. Bibcode:2019TEcoE..34..807C. doi:10.1016/j.tree.2019.04.004. hdl:10072/391960. PMID 31126633. S2CID 164219103.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  49. 1 2 3 "Ramsar Convention Ecosystem Services Benefit Factsheets". Diakses tanggal 2011-09-25.
  50. ↑ Zamberletti, P.; Zaffaroni, M.; Accatino, F.; Creed, I. F.; De Michele, C. (2018). "Connectivity among wetlands matters for vulnerable amphibian populations in wetlandscapes" (PDF). Ecological Modelling (dalam bahasa Inggris). 384: 119–127. Bibcode:2018EcMod.384..119Z. doi:10.1016/j.ecolmodel.2018.05.008. S2CID 90384249.
  51. ↑ "Frogs | Bioindicators". Savethefrogs.com. 2011. Diakses tanggal 2014-01-21.
  52. ↑ Mazzotti, F.J.; Best, G.R.; Brandt, L.A.; Cherkiss, M.S.; Jeffery, B.M.; Rice, K.G. (2009). "Alligators and crocodiles as indicators for restoration of Everglades ecosystems". Ecological Indicators. 9 (6): S137−S149. Bibcode:2009EcInd...9.S137M. doi:10.1016/j.ecolind.2008.06.008.
  53. ↑ Messel, H. (1981). Surveys of tidal river systems in the Northern Territory of Australia and their crocodile populations. Vol. 1. Pergamon Press.
  54. ↑ Piczak, M. L.; Chow-Fraser, P. (2019). "Assessment of critical habitat for common snapping turtles (Chelydra serpentina) in an urbanized coastal wetland". Urban Ecosystems. 22 (3): 525–537. Bibcode:2019UrbEc..22..525P. doi:10.1007/s11252-019-00841-1. S2CID 78091420.
  55. ↑ Milton, W. (1999). Wetland birds: habitat resources and conservation implications. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-511-01136-8. OCLC 50984660.
  56. ↑ Mas, M.; Flaquer, C.; Rebelo, H.; López-Baucells, A. (2021). "Bats and wetlands: synthesising gaps in current knowledge and future opportunities for conservation". Mammal Review. 51 (3): 369–384. Bibcode:2021MamRv..51..369M. doi:10.1111/mam.12243. S2CID 233974999.
  57. ↑ Bomske, C. M.; Ahlers, A. A. (2021). "How do muskrats Ondatra zibethicus affect ecosystems? A review of evidence". Mammal Review. 51 (1): 40–50. Bibcode:2021MamRv..51...40B. doi:10.1111/mam.12218. S2CID 224916636.
  58. ↑ Rosell, F.; Bozser, O.; Collen, P.; Parker, H. (2005). "Ecological impact of beavers Castor fiber and Castor canadensis and their ability to modify ecosystems". Mammal Review. 35 (3–4): 248–276. Bibcode:2005MamRv..35..248R. doi:10.1111/j.1365-2907.2005.00067.x. hdl:11250/2438080. ISSN 0305-1838.
  59. ↑ Kerk, M.; Onorato, D. P.; Hostetler, J. A.; Bolker, B. M.; Oli, M. K. (2019). "Dynamics, Persistence, and Genetic Management of the Endangered Florida Panther Population". Wildlife Monographs. 203 (1): 3–35. Bibcode:2019WildM.203....3V. doi:10.1002/wmon.1041. S2CID 199641325.
  60. ↑ Figel, J. J.; Botero-Cañola, S.; Forero-Medina, G.; Sánchez-Londoño, J. D.; Valenzuela, L.; Noss, R. F. (2019). "Wetlands are keystone habitats for jaguars in an intercontinental biodiversity hotspot". PLOS ONE. 14 (9) e0221705. Bibcode:2019PLoSO..1421705F. doi:10.1371/journal.pone.0221705. PMC 6738587. PMID 31509559.
  61. ↑ "Mammals in Wetlands". NSW Environment, Energy and Science. Department of Planning, Industry and Environment. 2020. Diakses tanggal 2021-10-11.
  62. ↑ Batzer, D. P.; Rader, R. Ben.; Wissinger, S. A. (1999). Invertebrates in freshwater wetlands of North America: ecology and management. New York: Wiley. ISBN 978-0-471-29258-6. OCLC 39747651.
  63. ↑ Adamus, P.R. and L.T. Stockwell. 1983. A Method for Wetland Functional Assessment. Vol. I. Critical Review and Evaluation Concepts. FHWA-IP-82-23. Federal Highway Admin., Washington, DC.
  64. ↑ Millennium Ecosystem Assessment (2005). Ecosystems and human well-being: wetlands and water synthesis: a report of the Millennium Ecosystem Assessment. Washington, DC: World Resources Institute. ISBN 1-56973-597-2. OCLC 62172810.
  65. ↑ van der Kamp, Garth; Hayashi, Masaki (2009-02-01). "Groundwater-wetland ecosystem interaction in the semiarid glaciated plains of North America". Hydrogeology Journal (dalam bahasa Inggris). 17 (1): 203–214. Bibcode:2009HydJ...17..203V. doi:10.1007/s10040-008-0367-1. ISSN 1435-0157. S2CID 129332187.
  66. ↑ Ibarra-Marinas, D.; Belmonte-Serrato, F.; García-Marín, R.; Ballesteros-Pelegrín, G. (2021). "Analysis of Replicability of Conservation Actions across Mediterranean Europe". Land. 10 (6): 598. Bibcode:2021Land...10..598I. doi:10.3390/land10060598.
  67. ↑ Costanza, Robert; Anderson, Sharolyn J.; Sutton, Paul; Mulder, Kenneth; Mulder, Obadiah; Kubiszewski, Ida; Wang, Xuantong; Liu, Xin; Pérez-Maqueo, Octavio; Luisa Martinez, M.; Jarvis, Diane; Dee, Greg (2021-09-01). "The global value of coastal wetlands for storm protection". Global Environmental Change (dalam bahasa Inggris). 70 102328. Bibcode:2021GEC....7002328I. doi:10.1016/j.gloenvcha.2021.102328. hdl:1885/296695. ISSN 0959-3780.
  68. ↑ MacKinnon, J.; Verkuil, Y. I.; Murray, N. J. (2012), IUCN situation analysis on East and Southeast Asian intertidal habitats, with particular reference to the Yellow Sea (including the Bohai Sea), Occasional Paper of the IUCN Species Survival Commission No. 47, Gland, Switzerland and Cambridge, UK: IUCN, hlm. 70, ISBN 978-2-8317-1255-0, diarsipkan dari asli tanggal 2014-06-24
  69. ↑ Murray, N. J.; Clemens, R. S.; Phinn, S. R.; Possingham, H. P.; Fuller, R. A. (2014). "Tracking the rapid loss of tidal wetlands in the Yellow Sea" (PDF). Frontiers in Ecology and the Environment. 12 (5): 267–272. Bibcode:2014FrEE...12..267M. doi:10.1890/130260.
  70. ↑ "FAO". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-09-09. Diakses tanggal 2011-09-25.
  71. ↑ "Letting Nature Do the Job". Wild.org. 2008-08-01. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-01-13. Diakses tanggal 2012-05-23.
  72. ↑ Vymazal, Jan; Zhao, Yaqian; Mander, Ülo (2021-11-01). "Recent research challenges in constructed wetlands for wastewater treatment: A review". Ecological Engineering (dalam bahasa Inggris). 169 106318. doi:10.1016/j.ecoleng.2021.106318. ISSN 0925-8574.
  73. ↑ Arden, S.; Ma, X. (2018-07-15). "Constructed wetlands for greywater recycle and reuse: A review". Science of the Total Environment (dalam bahasa Inggris). 630: 587–599. Bibcode:2018ScTEn.630..587A. doi:10.1016/j.scitotenv.2018.02.218. ISSN 0048-9697. PMC 7362998. PMID 29494968.
  74. ↑ "What is a wetland? And eight other wetland facts". World Wildlife Fund (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-11-18.
  75. ↑ Prestes, Luiza; Barthem, Ronaldo; Mello-Filho, Adauto; Anderson, Elizabeth; Correa, Sandra B.; Couto, Thiago Belisario D'Araujo; Venticinque, Eduardo; Forsberg, Bruce; Cañas, Carlos; Bentes, Bianca; Goulding, Michael (2022-03-02). Aguirre, Windsor E. (ed.). "Proactively averting the collapse of Amazon fisheries based on three migratory flagship species". PLOS ONE (dalam bahasa Inggris). 17 (3) e0264490. Bibcode:2022PLoSO..1764490P. doi:10.1371/journal.pone.0264490. ISSN 1932-6203. PMC 8890642. PMID 35235610.
  76. ↑ Jing, Zhu; Kai, Jing; Xiaojing, Gan; Zhijun, Ma (2007). "Food supply in intertidal area for shorebirds during stopover at Chongming Dongtan, China". Acta Ecologica Sinica (dalam bahasa Inggris). 27 (6): 2149–2159. Bibcode:2007AcEcS..27.2149J. doi:10.1016/S1872-2032(07)60045-6.
  77. ↑ Lane, Charles R.; Anenkhonov, Oleg; Liu, Hongxing; Autrey, Bradley C.; Chepinoga, Victor (2015). "Classification and inventory of freshwater wetlands and aquatic habitats in the Selenga River Delta of Lake Baikal, Russia, using high-resolution satellite imagery". Wetlands Ecology and Management (dalam bahasa Inggris). 23 (2): 195–214. Bibcode:2015WetEM..23..195L. doi:10.1007/s11273-014-9369-z. ISSN 0923-4861. S2CID 16980247.
  78. ↑ Maltby, E. (1986). Waterlogged wealth: why waste the world's wet places?. Earthscan. London: International Institute for Environment and Development. ISBN 978-0-905347-63-9.
  79. ↑ Tidwell, James H; Allan, Geoff L (2001). "Fish as food: aquaculture's contribution: Ecological and economic impacts and contributions of fish farming and capture fisheries". EMBO Reports (dalam bahasa Inggris). 2 (11): 958–963. doi:10.1093/embo-reports/kve236. ISSN 1469-221X. PMC 1084135. PMID 11713181.
  80. ↑ Béné, Christophe; Barange, Manuel; Subasinghe, Rohana; Pinstrup-Andersen, Per; Merino, Gorka; Hemre, Gro-Ingunn; Williams, Meryl (2015-04-01). "Feeding 9 billion by 2050 – Putting fish back on the menu". Food Security (dalam bahasa Inggris). 7 (2): 261–274. doi:10.1007/s12571-015-0427-z. hdl:10568/61842. ISSN 1876-4525. S2CID 18671617.
  81. 1 2 3 "The Ramsar Information Sheet on Wetlands of International Importance". September 18, 2009. Diakses tanggal November 19, 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  82. ↑ Hogarth, Peter J. (2015). The biology of mangroves and seagrasses (Edisi Third). Oxford. ISBN 978-0-19-102590-7. OCLC 907773290.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  83. ↑ Leibowitz, Scott G.; Wigington, Parker J.; Schofield, Kate A.; Alexander, Laurie C.; Vanderhoof, Melanie K.; Golden, Heather E. (2018). "Connectivity of Streams and Wetlands to Downstream Waters: An Integrated Systems Framework". JAWRA Journal of the American Water Resources Association (dalam bahasa Inggris). 54 (2): 298–322. Bibcode:2018JAWRA..54..298L. doi:10.1111/1752-1688.12631. PMC 6071435. PMID 30078985.
  84. ↑ McInnes, Robert J. (2016), "Managing Wetlands for Pollination", dalam Finlayson, C. Max; Everard, Mark; Irvine, Kenneth; McInnes, Robert J. (ed.), The Wetland Book (dalam bahasa Inggris), Dordrecht: Springer Netherlands, hlm. 1–4, doi:10.1007/978-94-007-6172-8_226-1, ISBN 978-94-007-6172-8
  85. ↑ Swindles, Graeme T.; Morris, Paul J.; Mullan, Donal J.; Payne, Richard J.; Roland, Thomas P.; Amesbury, Matthew J.; Lamentowicz, Mariusz; Turner, T. Edward; Gallego-Sala, Angela; Sim, Thomas; Barr, Iestyn D. (2019-10-21). "Widespread drying of European peatlands in recent centuries". Nature Geoscience (dalam bahasa Inggris). 12 (11): 922–928. Bibcode:2019NatGe..12..922S. doi:10.1038/s41561-019-0462-z. hdl:10871/39305. ISSN 1752-0908. S2CID 202908362. Alt URL Diarsipkan 2020-07-27 di Wayback Machine
  86. ↑ Office of Research & Development. "Impacts on quality of inland wetlands of the United States: A survey of indicators, techniques, and applications of community-level biomonitoring data". cfpub.epa.gov. Diarsipkan dari asli tanggal Juli 28, 2018. Diakses tanggal 2018-07-27.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  87. ↑ Adamus, Paul; J. Danielson, Thomas; Gonyaw, Alex (2001-03-24). Indicators for Monitoring Biological Integrity of Inland Freshwater Wetlands: A Survey of North American Technical Literature (1990–2000). 13214. doi:10.13140/rg.2.2.22371.86566.
  88. ↑ Finlay, Jacques C.; Efi Foufoula-Georgiou; Dolph, Christine L.; Hansen, Amy T. (Februari 2018). "Contribution of wetlands to nitrate removal at the watershed scale". Nature Geoscience. 11 (2): 127–132. Bibcode:2018NatGe..11..127H. doi:10.1038/s41561-017-0056-6. ISSN 1752-0908. S2CID 46656300.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  89. ↑ Alexander, David E. (1 Mei 1999). Encyclopedia of Environmental Science. Springer. ISBN 0-412-74050-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  90. ↑ Keddy, P.A.; Campbell, D.; McFalls, T.; Shaffer, G.P.; Moreau, R.; Dranguet, C.; Heleniak, R. (2007). "The Wetlands of Lakes Pontchartrain and Maurepas: Past, Present and Future". Environmental Reviews (dalam bahasa Inggris). 15 (NA): 43–77. Bibcode:2007EnvRv..15...43K. doi:10.1139/a06-008. ISSN 1181-8700.
  91. ↑ Gastescu, P. (1993). "The Danube Delta: geographical characteristics and ecological recovery". GeoJournal. 29 (1): 57–67. Bibcode:1993GeoJo..29...57G. doi:10.1007/BF00806866. JSTOR 41145644.
  92. ↑ US EPA, ORD (2017-11-02). "Wetlands". www.epa.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-07.
  93. ↑ Pal, Swades; Debanshi, Sandipta (2022-07-01). "Exploring the connection of physical habitat health of the wetland with its gas regulating services". Ecological Informatics. 69 101686. Bibcode:2022EcInf..6901686P. doi:10.1016/j.ecoinf.2022.101686. ISSN 1574-9541.
  94. ↑ Qiu, Dongdong; Zhang, Hua; Ren, Yueheng; Zhu, Yanpeng (2024-04-01). "The lost biodiversity and degraded alpine wetlands caused by strong earthquake on the Qinghai–Tibet Plateau did not self-restore in the short term". Global Ecology and Conservation. 50 e02830. Bibcode:2024GEcoC..5002830Q. doi:10.1016/j.gecco.2024.e02830. ISSN 2351-9894.
  95. ↑ Li, Luqian; Lu, XiXi; Chen, Zhongyuan (2007). "River channel change during the last 50 years in the middle Yangtze River, the Jianli reach". Geomorphology (dalam bahasa Inggris). 85 (3–4): 185–196. Bibcode:2007Geomo..85..185L. doi:10.1016/j.geomorph.2006.03.035.
  96. ↑ "Shrimp Market Size, Share & Growth Analysis Report, 2030". www.grandviewresearch.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-11-19.
  97. ↑ Van de Ven, G. P. (2004). Man-Made Lowlands: History of water management and land reclamation in the Netherlands. Utrecht: Uitgeverij Matrijs.
  98. ↑ Wells, Samuel A. (1830). A History of the Drainage of the Great Level of the Fens called Bedford Level 2. London: R. Pheney.
  99. ↑ Dahl, Thomas E.; Allord, Gregory J. "History of Wetlands in the Conterminous United States".
  100. ↑ Lander, Brian (2014). "State Management of River Dikes in Early China: New Sources on the Environmental History of the Central Yangzi Region". T'oung Pao. 100 (4–5): 325–362. doi:10.1163/15685322-10045p02.
  101. ↑ Davidson, Nick C. (2014). "How much wetland has the world lost? Long-term and recent trends in global wetland area". Marine and Freshwater Research (dalam bahasa Inggris). 65 (10): 934. Bibcode:2014MFRes..65..934D. doi:10.1071/MF14173. ISSN 1323-1650.
  102. ↑ "Good practices and lessons learned in integrating ecosystem conservation and poverty reduction objectives in wetlands". The Ramsar Convention on Wetlands. 2008-12-01. Diakses tanggal 10 Mei 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  103. ↑ "Coverage of wetlands". Our World in Data (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 11 Mei 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  104. ↑ Corbin, JD; Holl, KD (2012). "Applied nucleation as a forest restoration strategy". Forest Ecology and Management. 256: 37–46. Bibcode:2012ForEM.265...37C. doi:10.1016/j.foreco.2011.10.013.
  105. 1 2 Osawa, Takeshi; Nishida, Takaaki; Oka, Takashi (2020-07-01). "High tolerance land use against flood disasters: How paddy fields as previously natural wetland inhibit the occurrence of floods". Ecological Indicators. 114 106306. Bibcode:2020EcInd.11406306O. doi:10.1016/j.ecolind.2020.106306. ISSN 1470-160X.
  106. ↑ Functional assessment of wetlands: towards evaluation of ecosystem services. Cambridge: Woodhead Publ. [u.a.] 2009. ISBN 978-1-84569-516-3.
  107. ↑ Tang, Yun; Leon, Arturo S.; Kavvas, M. L. (2020-03-01). "Impact of Size and Location of Wetlands on Watershed-Scale Flood Control". Water Resources Management (dalam bahasa Inggris). 34 (5): 1693–1707. Bibcode:2020WatRM..34.1693T. doi:10.1007/s11269-020-02518-3. ISSN 1573-1650.
  108. ↑ Ferreira, Carla S. S.; Kašanin-Grubin, Milica; Solomun, Marijana Kapović; Sushkova, Svetlana; Minkina, Tatiana; Zhao, Wenwu; Kalantari, Zahra (2023-06-01). "Wetlands as nature-based solutions for water management in different environments". Current Opinion in Environmental Science & Health. 33 100476. Bibcode:2023COESH..3300476F. doi:10.1016/j.coesh.2023.100476. ISSN 2468-5844.
  109. ↑ Inglis, J. T. (1993). Traditional Ecological Knowledge: Concepts and Cases. Ottawa, Canada: International Program on Traditional Ecological and International Development Research Centre. ISBN 978-0-88936-683-1.
  110. ↑ Craft, Christopher (2022-05-12). Creating and Restoring Wetlands: From Theory to Practice (dalam bahasa Inggris). Elsevier. ISBN 978-0-12-823982-7.
  111. ↑ "Wetlands International works to sustain and restore wetlands for people and biodiversity". Wetlands International. Diakses tanggal 2014-01-21.
  112. 1 2 3 Williamson, Phillip; Gattuso, Jean-Pierre (2022). "Carbon Removal Using Coastal Blue Carbon Ecosystems Is Uncertain and Unreliable, With Questionable Climatic Cost-Effectiveness". Frontiers in Climate. 4 853666. Bibcode:2022FrCli...4.3666W. doi:10.3389/fclim.2022.853666. ISSN 2624-9553. 60px-CC_BY_icon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Text was copied from this source, which is available under a Creative Commons Attribution 4.0 International License Diarsipkan 2017-10-16 di Wayback Machine
  113. ↑ Synthesis of Adaptation Options for Coastal Areas. Climate Ready Estuaries Program, EPA 430-F-08-024. Washington, DC: US Environmental Protection Agency. 2009.
  114. ↑ "Coastal Wetland Protection". Project Drawdown (dalam bahasa Inggris). 2020-02-06. Diakses tanggal 2020-09-13.
  115. 1 2 Chmura, G. L. (2003). "Global carbon sequestration in tidal, saline wetland soils". Global Biogeochemical Cycles. 17 (4) 2002GB001917: 1111. Bibcode:2003GBioC..17.1111C. doi:10.1029/2002GB001917. S2CID 36119878.[halaman dibutuhkan]
  116. ↑ Roulet, N. T. (2000). "Peatlands, Carbon Storage, Greenhouse Gases, And The Kyoto Protocol: Prospects And Significance For Canada". Wetlands. 20 (4): 605–615. doi:10.1672/0277-5212(2000)020[0605:pcsgga]2.0.co;2. S2CID 7490212.
  117. ↑ Ouyang, Xiaoguang; Lee, Shing Yip (2020-01-16). "Improved estimates on global carbon stock and carbon pools in tidal wetlands". Nature Communications (dalam bahasa Inggris). 11 (1): 317. Bibcode:2020NatCo..11..317W. doi:10.1038/s41467-019-14120-2. ISSN 2041-1723. PMC 6965625. PMID 31949151.
  118. ↑ "Blue Carbon". Earth Times. 19 Maret 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  119. ↑ Wang, F. (2021). "Global blue carbon accumulation in tidal wetlands increases with climate change". National Science Review. 8 (9) nwaa296. doi:10.1093/nsr/nwaa296. PMC 8433083. PMID 34691731.
  120. 1 2 Arias, P.A., N. Bellouin, E. Coppola, R.G. Jones, G. Krinner, J. Marotzke, V. Naik, M.D. Palmer, G.-K. Plattner, V. Eyring, et al., 2021: Technical Summary Diarsipkan 2022-07-21 di Wayback Machine. Dalam Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change Diarsipkan 2021-08-09 di Wayback Machine [Masson-Delmotte, V., P. Zhai, et al. (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA, hlm. 33–144. doi:10.1017/9781009157896.002.
  121. ↑ "Fact Sheet: Blue Carbon". American University (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 28, 2021. Diakses tanggal 2021-04-28.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  122. ↑ Emerton, Lucy (2016), "Economic Valuation of Wetlands: Total Economic Value", dalam Finlayson, C. Max; Everard, Mark; Irvine, Kenneth; McInnes, Robert J. (ed.), The Wetland Book (dalam bahasa Inggris), Dordrecht: Springer Netherlands, hlm. 1–6, doi:10.1007/978-94-007-6172-8_301-1, ISBN 978-94-007-6172-8
  123. ↑ "A new toolkit for National Wetlands Inventories | Convention on Wetlands". www.ramsar.org. Diakses tanggal 2022-11-28.
  124. ↑ McInnes, R.J.; Everard, M. (2017). "Rapid Assessment of Wetland Ecosystem Services (RAWES): An example from Colombo, Sri Lanka". Ecosystem Services (dalam bahasa Inggris). 25: 89–105. Bibcode:2017EcoSv..25...89M. doi:10.1016/j.ecoser.2017.03.024. S2CID 56403914.
  125. ↑ Adamus, P. (2016). "Manual for the Wetland Ecosystem Services Protocol (WESP)" (PDF). Oregon State University. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2018-07-28. Diakses tanggal Juli 28, 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  126. ↑ "Home | Ramsar Sites Information Service". rsis.ramsar.org. Diakses tanggal 2022-11-28.
  127. ↑ Wei, Anhua; Chow-Fraser, Patricia (2007). "Use of IKONOS Imagery to Map Coastal Wetlands of Georgian Bay". Fisheries (dalam bahasa Inggris). 32 (4): 167–173. doi:10.1577/1548-8446(2007)32[167:UOIITM]2.0.CO;2. ISSN 0363-2415.
  128. ↑ Cook, Bruce D.; Bolstad, Paul V.; Næsset, Erik; Anderson, Ryan S.; Garrigues, Sebastian; Morisette, Jeffrey T.; Nickeson, Jaime; Davis, Kenneth J. (2009-11-16). "Using LiDAR and quickbird data to model plant production and quantify uncertainties associated with wetland detection and land cover generalizations". Remote Sensing of Environment (dalam bahasa Inggris). 113 (11): 2366–2379. Bibcode:2009RSEnv.113.2366C. doi:10.1016/j.rse.2009.06.017.{{cite journal}}: |url-access= memerlukan |url=
  129. 1 2 Xu, Haiqing; Toman, Elizabeth; Zhao, Kaiguang; Baird, John (2022). "Fusion of Lidar and Aerial Imagery to Map Wetlands and Channels via Deep Convolutional Neural Network". Transportation Research Record. 2676 (12): 374–381. doi:10.1177/03611981221095522. S2CID 251780248.
  130. ↑ Stephenson, P. J.; Ntiamoa-Baidu, Yaa; Simaika, John P. (2020). "The Use of Traditional and Modern Tools for Monitoring Wetlands Biodiversity in Africa: Challenges and Opportunities". Frontiers in Environmental Science. 8 61. Bibcode:2020FrEnS...8..61S. doi:10.3389/fenvs.2020.00061. ISSN 2296-665X.{{cite journal}}: Periksa |bibcode= panjang
  131. ↑ Bhatnagar, Saheba; Gill, Laurence; Regan, Shane; Waldren, Stephen; Ghosh, Bidisha (2021-04-01). "A nested drone-satellite approach to monitoring the ecological conditions of wetlands". ISPRS Journal of Photogrammetry and Remote Sensing (dalam bahasa Inggris). 174: 151–165. Bibcode:2021JPRS..174..151B. doi:10.1016/j.isprsjprs.2021.01.012. ISSN 0924-2716. S2CID 233522024.
  132. ↑ Munizaga, Juan; García, Mariano; Ureta, Fernando; Novoa, Vanessa; Rojas, Octavio; Rojas, Carolina (2022). "Mapping Coastal Wetlands Using Satellite Imagery and Machine Learning in a Highly Urbanized Landscape". Sustainability (dalam bahasa Inggris). 14 (9): 5700. Bibcode:2022Sust...14..5700M. doi:10.3390/su14095700. ISSN 2071-1050.{{cite journal}}: Periksa |bibcode= panjang
  133. ↑ "WALHI Menyerukan Perhatian yang Lebih Besar Terhadap Lahan Basah". Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). 13 Oktober 2003. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-03-07. Diakses tanggal 24 Februari. {{cite web}}: Parameter tidak dikenal |accessyear= diabaikan (|access-date= disarankan); Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  134. ↑ "EPA Regulations listed at 40 CFR 230.3(t)". US Environmental Protection Agency. Maret 2015. Diakses tanggal 2014-02-18.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  135. ↑ US Government Publishing Office. (2011) 16 U.S. Code Chapter 58 Subchapter I, § 3801 – Definitions Diarsipkan 2017-02-06 di Wayback Machine. Legal Information Institute, Cornell Law School, Ithaca.
  136. 1 2 Rubec, C. D.A.; Hanson, A. R (2009). "Wetland mitigation and compensation: Canadian experience". Wetlands Ecol Manage. 17 (1): 3–14. Bibcode:2009WetEM..17....3R. doi:10.1007/s11273-008-9078-6. S2CID 32876048.

Pranala luar

  • Media terkait Wetlands di Wikimedia Commons

Templat:Lahan basah Templat:Topik ekosistem akuatik

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan