Senin, 19 Oktober 2026
22:12 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Kukis lumpur

Kukis lumpur

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai kue lumpur.
Kue lumpur
250px-Haitian_Dirt_Biscuits.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kue lumpur yang sedang disiapkan
Nama lainbonbon tè  (Haitian Creole)
Tempat asalHaiti
Bahan utama
Bahan yang umum digunakan
250px-Mud_cookies.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kue lumpur yang dijemur di bawah sinar matahari

Kukis lumpur atau Kue lumpur (Haitian Creole: bonbon tè, har. 'kue tanah', pelafalan[bɔ̃bɔ̃tɛ]) merupakan makanan kelaparan yang dikonsumsi di Haiti, terutama oleh anak-anak dan para ibu hamil.[1] Hidangan ini banyak ditemukan di kawasan permukiman kumuh seperti Cité Soleil. Tanah yang digunakan diambil dari dataran tinggi di bagian tengah negeri, dekat kota Hinche, kemudian diangkut dengan truk menuju pasar (misalnya pasar La Saline) tempat para perempuan membelinya.[2][3][4] Tanah tersebut kemudian diolah menjadi kue di perkampungan liar seperti Fort Dimanche.[4] Mula-mula, tanah disaring untuk memisahkan batu dan gumpalan besar.[4] Setelah itu, tanah dicampur dengan garam (dan sesekali gula) serta mentega sayur atau jenis lemak lainnya.[2][5] Adonan tersebut lalu dibentuk menjadi cakram pipih,[2] kemudian dijemur di bawah matahari.[5] Setelah kering, kue-kue itu dikumpulkan dalam ember dan dijual di pasar atau di pinggir jalan.[3]

Karena kandungan mineralnya, kue lumpur secara tradisional digunakan sebagai suplemen gizi bagi ibu hamil dan anak-anak.[2][5] Banyak warga Haiti percaya bahwa kue ini mengandung kalsium yang berfungsi sebagai antasida sekaligus sumber nutrisi, tetapi para dokter menentang anggapan tersebut dan memperingatkan akan risiko kerusakan gigi, sembelit, serta berbagai komplikasi lainnya.[yang mana?][1][5] Biaya produksinya tergolong murah; tanah untuk membuat seratus kue hanya memerlukan sekitar lima dolar Amerika pada tahun 2008 (sekitar 5 sen per buah), bahkan setelah mengalami kenaikan sebesar 1,5 dolar sejak tahun 2007.[3][4] Kue lumpur juga dipandang sebagai cara untuk menahan rasa lapar di masa paceklik.[2][5] Hal ini terutama terjadi ketika harga pangan dunia melonjak, seperti pada masa krisis harga pangan dunia 2007–08.[3][6]Templat:Update needed

Rasanya digambarkan memiliki tekstur yang lembut namun segera menimbulkan sensasi sepat di mulut, dengan rasa sisa tanah yang kuat dan bertahan selama berjam-jam.[4]

Referensi

  1. 1 2 Haitians eat dirt cookies to survive (Television production). Worldfocus (dalam bahasa Inggris). WNET. 19 Feb 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-21. Diakses tanggal 2021-10-14 – via YouTube.{{cite AV media}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 Clammer, P. (2016). Haiti. Bradt Travel Guides (dalam bahasa Prancis). Bradt Travel Guides. hlm. 71. ISBN 978-1-84162-923-0. Diakses tanggal 2019-12-21.
  3. 1 2 3 4 Agamben, G.; Badiou, A.; Bensaid, D.; Brown, W.; Nancy, J.L.; Rancière, J.; Ross, K.; Žižek, S.; McCuaig, W. (2011). Democracy in What State?. New Directions in Critical Theory. Columbia University Press. hlm. 109. ISBN 978-0-231-52708-8. Diakses tanggal 2019-12-21.
  4. 1 2 3 4 5 "Poor Haitians on a mud diet". Los Angeles Times. 2008-02-03. Diakses tanggal 2019-12-21.
  5. 1 2 3 4 5 Nevins, D. (2015). Haiti: Third Edition. Cultures of the World (Third Edition) Â. Cavendish Square. hlm. 123. ISBN 978-1-5026-0802-4. Diakses tanggal 2019-12-21.
  6. ↑ Feeding Frenzy: Land Grabs, Price Spikes, and the World Food Crisis. Greystone Books. 2014. hlm. 47. ISBN 978-1-77164-014-5. Diakses tanggal 2019-12-21.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan