Kamis, 29 Oktober 2026
02:16 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Krisis Agadir

Krisis Agadir

Bagikan:
Krisis Agadir
Bagian dari Sebab-sebab Perang Dunia I
250px-French_troops_in_Morocco_during_the_Agadir_Crisis%2C_March_30%2C_1912.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tentara Prancis di Maroko selama Krisis Agadir, 30 Maret 1912.
TanggalApril 1911
Lokasi
Hasil Traktat Fez: Maroko menjadi protektorat Prancis (30 Maret 1912)
Pihak yang terlibat

Krisis Agadir (juga disebut Krisis Agadir Kedua atau Panthersprung) adalah krisis internasional yang dipicu oleh pengiriman tentara Prancis dalam jumlah besar ke Maroko pada April 1911. Jerman menanggapi dengan mengirim kapal perang Panther ke pelabuhan Agadir pada 1 Juli 1911.[1] Setelah itu, negosiasi mulai dilakukan, dan pada 30 Maret 1912 Traktat Fez ditandatangani. Dalam traktat tersebut, Jerman menerima kekuasaan Prancis di Maroko, dan sebagai gantinya memperoleh wilayah di Kongo Tengah. Wilayah seluas 275.000 km2 yang disebut Neukamerun ini menjadi bagian dari koloni Jerman di Kamerun.

Akibat krisis ini, Maroko menjadi protektorat Prancis pada 30 Maret 1912, sehingga secara resmi mengakhiri kemerdekaan Maroko. Di sisi lain, krisis ini membuat hubungan Britania menjadi lebih dekat dengan Prancis. Britania mendukung Prancis selama krisis ini, sehingga memperkuat entente antara kedua negara dan juga Kekaisaran Rusia. Selain itu, krisis ini memperburuk hubungan Prancis dan Britania dengan Jerman, sehingga menjadi salah satu cikal bakal Perang Dunia I.

Referensi

  1. ↑ MacMillan, Margaret (2013). The War that Ended Peace: The Road to 1914. Random House, 2013. hlm. 439.
Kekuatan besar
Aliansi
Tren
Perjanjian dan
kesepakatan
Peristiwa
Perang


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan